• Info Terkini

    Friday, March 6, 2015

    Alizar Tanjung: “Aktif di Komunitas Menjaga Semangat Menulis Saya”

    Pengantar:Seminar Online di grup FAM Indonesia merupakan agenda rutin FAM Indonesia. Seminar ini cukup diminati yang dibuktikan ramainya peserta seminar yang mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Begitupun, narasumber yang diundang FAM Indonesia bervariasi, beragam latar keilmuan dan keahlian. Kali ini, FAM Indonesia mengundang Alizar Tanjung (Padang). Berikut kesimpulannya.

    PENGANTAR MODERATOR:
    Assalamualaikum, FAMili. Apa kabar Anda malam ini? Semoga sehat dan selalu semangat menghasilkan karya. Selamat datang di “rumah inspiratif” FAM Indonesia.

    Malam ini FAM Indonesia menghadirkan tamu istimewa di grup FAM Indonesia, yaitu Mas Alizar Tanjung (Padang). Beliau adalah penulis dan penyair yang karya-karyanya banyak diterbitkan koran-koran nasional, seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, dan banyak lainnya.

    Ini kesempatan bagi Anda, khususnya pemula (baik anggota resmi FAM Indonesia maupun anggota grup ini) yang ingin mengetahui kiat-kiat sukses Mas Alizar Tanjung menulis cerpen maupun puisi dan kiat menembus koran-koran nasional. Anda akan menyimak, bertanya-jawab dengan Mas Alizar Tanjung khusus tentang proses kreatifnya dan segala hal tentang kepenulisan. Malam ini kita akan lebih dekat dengan beliau. Masih muda tapi sangat produktif berkarya.

    Nah, karena ini Diskusi (Online), untuk ketertiban acara, diharapkan kepada seluruh peserta diskusi untuk memerhatikan beberapa hal teknis sebagai berikut:

    1. Diskusi akan dimulai pada pukul 20.00 WIB di grup “Forum Aishiteru Menulis” yang ditandai dengan postingan “Selamat Datang Peserta Diskusi Online”.

    2. Diskusi dipandu Moderator “Aishiteru Menulis” (Admin FAM Indonesia) yang diawali dengan menyapa nara sumber dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

    3. Setelah moderator “Aishiteru Menulis” selesai mengajukan pertanyaan pembuka kepada narasumber, moderator memberikan kesempatan kepada peserta diskusi untuk mengajukan pertanyaan.

    4. Peserta diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan pendek dan tidak keluar dari konteks/tema diskusi.

    5. Pertanyaan yang diajukan peserta ditulis di kolom komentar (singkat, padat dan tetap memerhatikan EYD).

    6. Diskusi akan berlangsung selama 2 (dua) jam, berakhir pada pukul 22.00 WIB. Admin FAM akan menghapus hasil diskusi 15 menit kemudian dan diposting di website FAM Indonesia.

    7. Untuk ketertiban diskusi, diharapkan kepada peserta tidak mengajukan pertanyaan yang sudah ditanyakan oleh peserta lainnya.

    Demikian peraturan diskusi online ini dibuat untuk dimaklumi bersama.
    Salam aktif!

    FAM INDONESIA
    Profil Alizar Tanjung:

    Alizar Tanjung, Petani yang telah menyelesaikan Serjana S1 IAIN Imam Bonjol Padang dan sekarang sedang kuliah S2 di Paska IAIN Imam Bonjol Padang. Lahir di Solok, Dusun Karang Sadah, 10 April 1987. Menetap di Solok. Ia sekarang tercatat sebagai alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat. Beralamat di Perumahan Villa Idaman D20, Sei Sapiah, Kecamatan Koto Tangah, Padang.

    Tulisannya berupa cerpen dan puisi termaktub pada beberapa Antologi, Rendezvous di Tepi Serayu (Grafindo Litera Media, 2009), Bukan Perempuan (Grafindo Litera Media, 2010), Puisi Menolak Rupa (Unggun Religi, 2010). Kerdam Cinta Palestina (Felipenol, 2010), Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Triwulan 2010 (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Oktober 2010). Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Triwulan 2010 (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Oktober 2010) Lelaki yang Dibeli (Grafindo Litera Media, 2011) Akulah Musi (Dewan Kesenian Palembang, 2011), Kumpulan Puisi TSI IV Ternate (Ternate, 2011). Narasi Tembuni (Komunitas Sastra Indonesia, 2012)

    Tergabung dalam Nominasi Anugerah pena kategori cerpen dan esai terbaik 2009 (FLP Pusat). Pemenang harapan 6 lomba cerpen LMCR-2009. Nominator lomba cerpen tingkat mahasiswa se-Indonesia 2009, yang diadakan STAIN Purwokerto. Nominator lomba cerpen dan puisi tingkat mahasiswa se-Indonesia 2010, yang diadakan STAIN Purwokerto. Juara I cerpen “Kurungan” dalam lomba cerpen Sumbar yang diadakan Genta Unand tahun 2009.Juara tiga lomba cerpen Islam sekampus IAIN IB Padang 2008. Juara II lomba cerpen Ganto UNP (2011). Bergerak di Forum Lingkar Pena (FLP Sumbar) dan komunitas Kedaikopi, sekarang lagi diamanahkan sebagai Sekretaris Umum FLP SUmbar (2010-sekarang). Dia juga diamanahkan sebagai redaktur sastra Majalah Tasbih (2009). Di kampus dipercaya sebagai tim redaksi jurnal Cerdas Fakultas Tarbiyah, IAIN IB Padang (2009-sekarang). Redaktur sastra koran Suara Kampus (2010). Redaktur Pelaksana koran Suara Kampus (2011). Teater Nan Tumpah (2011). Dia juga aktif dalam keorganisasian Forum Studi Islam Khairul Ummah, Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang.

    Jenjang Pendidikan:
    1. SD di SD 33 Inpress, Kampung Dalam, Kabupaten Solok (2001).
    2. MTSN Durian Tarung Padang (2004)
    3. Man 2 Padang (2007)
    4. IAIN Imam Bonjol Padang Program S 1 (2007- 2011)
    5. S2 Paska Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang (Sedang berjalan)
    Organisasi yang pernah diikuti:
    1. Forum Lingkar Pena Sumbar (2008-2012)
    2. LPM Suara Kampus (2009-2011) dan sekarang Alumni Suara Kampus
    3. SMF Fakultas Tarbiyah
    4. Redaktur Majalah Tasbih
    5. Tim Redaksi Jurnal Cerdas Fakultas Tarbiyah (2009-2011)
    6. Redaktur Majalah Saga (2012-2013)
    7. Teater Nan Tumpuah (2011-2013)
    8. Lembaga Rumahkayu Group)

    Karya-karya (cerpen/puisi/artikel/resensi) dipublikasikan di: Harian Kompas, Tempo, Horison, Indopos, Sindo (koransindo), Jurnal Nasional, Suara Pembaharuan, Suara Merdeka, Suara Karya, Story, Global Medan, Sumut Pos, Analisa, Haluan Riau, Riau Pos, Pewarta Indonesia, Berita Pagi (Palembang), Linggau Post, Singgalang, Padang Ekspress, Haluan, Majalah Tasbih, Majalah Mayara, Sumbar Raya, Suara Kampus, Jurnal Medan, Majalah Sagang.

    Antologi buku:
    1. Rendezvous di Tepi Serayu (Grafindo Litera Media, 2009)
    2. Bukan Perempuan (Grafindo Litera Media, 2010)
    3. Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Triwulan 2010 (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Oktober 2010)
    4. Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Triwulan 2010 (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Oktober 2010)
    5. Puisi Menolak Lupa (Unggun Religi, 2010)
    6. Kerdam Cinta Palestina (Felipenol, 2010)
    7. Lelaki yang Dibeli (Grafindo, 2011)
    8. Cinta Putih Abu-abu (Leutika Prio, 2011)
    9. Akulah Musi (Dewan Kesenian Palembang, 2011)
    10. TSI Ternate (Dewan Kesenian Ternate, 2011)
    11. Narasi Tembuni (Komunitas Sastra Indonesia, 2012)
    12. Akar Anak Tebu (Pusakata, 2012)
    13. Saok Seloko (PPN Jambi 2012)
    14. Jurnal (Sajak, Edisi 3, 2012)

    Salam aktif!
    FAM INDONESIA
    Aishiteru Menulis (Moderator): Assalamualaikum Mas Alizar Tanjung, apa kabar Anda malam ini?

    Alizar Tanjung: Waalaikumussalam. Kabar baik, kabar sehat, kabar bahagia, kabar bijaksana, dan tentunya kabar semakin sukses kerja kepengarangan.

    Aishiteru Menulis: Alhamdulillah. Selamat datang di grup FAM Indonesia. Malam ini kita akan berbincang seputar proses kreatif kepenulisan. Apakah sudah siap?

    Alizar Tanjung: Boleh. Insya Allah siap berbagi. Tentunya salam kreatif buat FAM yang semakin hari semakin berkembang dengan baik. Saya termasuk yang terus memantau perkembangan FAM Indonesia.

    Aishiteru Menulis:  Alhamdulillah. Terima kasih doa dan dukungannya. Oh ya, sejak kapan Anda mulai menulis, dan apa yang memotivasi Anda tertarik jadi penulis?

    Alizar Tanjung: Saya sebenarnya dalam menulis itu fokus ketika sudah semester 2 kelas 3 jurusan IPA di MAN 2 Padang. Di sinilah awal saya memutuskan untuk menulis intens. Kalau sebelumnya sebenarnya mulai pekerjaan kepangarangan ini sudah dimulai ketika pertama kali membuat surat cinta buat si pacar waktu kelas lima SD. Ya, begitulah. Di sanalah saya belajar pertama mengarang, bikin pantun cinta. Terus krim buat si dia. Saat itu bikin surat membuat hati berbunga-bunga. Apalagi yang membuatnya kita sendiri. Kalau motivasi ya bermacam-macam. Motivasi saya sendiri ya datang dari diri saya sendiri waktu di MAN itu. Saya baca novel, cerpen, saya katakan ke diri saya, "saya juga bisa menulis". Buktinya sekarang memang bisa.

    Aishiteru Menulis: Oke, apa yang memotivasi Anda tertarik jadi penulis?

    Alizar Tanjung: Ingin terkenal barangkali ya. Ha ha ha. Maklum saya suka tampil di depan umum. Tetapi sebenarnya bukan hanya itu. Saya sekali jadi manusia, sayang kalau waktu yang sekali jadi manusia itu tidak dipergunakan untuk memperbaiki hidup orang lain, berbagi dengan orang lain. Dan pilihan berbagi itu adalah dengan menulis. Ini mungkin yang menjadi motivasi terbesar saya.

    Aishiteru Menulis: Ingin berbagi kepada orang lain. Sangat mulia cita-cita Anda. Apakah Anda merasakan bahagia dengan itu?

    Alizar Tanjung: Sebenarnya bukan hanya persoalan bahagia. Kalau bahagia so itu pasti. Hal terpenting dari itu saya ingin memberikan kontribusi kepada banyak orang dengan lewat tulisan. Menyuarakan pikiran dengan tulisan. Berbagi lebih investasi saya untuk dunia dan akhirat. Saya selalu berpikir kalau kita bisa menjadi orang international kenapa kita harus menjadi orang lokal. Apalagi saya berasal dari orang kecil. Keluarga, keluarga yang pendidikannya tidak menamatkan sekolah dasar. Kondisi keluarga saya bukan dari keluarga berpendidikan dalam arti formal, membuat saya berpikir tentang perubahan diri saya dan orang-orang di sekeliling saya. Barangkali juga inilah bakti cinta saya untuk diri saya, keluarga saya, orang-orang terdekat saya, para fans, dan orang-orang yang membutuhkan perubahan ke arah hidup yang lebih baik. Kalau kita bisa melakukan perubahan, kenapa tidak kita lakukan, dan saya melakukannya dengan tulisan dan dunia training yang saya dalami.

    Aishiteru Menulis: Super. Di media massa nasional, beberapa waktu terakhir, cerpen dan puisi Anda bercerita tentang ladang, kol, kentang, cabai, dan sejenisnya. Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca lewat tema-tema itu?

    Alizar Tanjung: Pesan, apa ya? Ini sebenarnya cerpen, puisi, dan juga ada garapan novel yang belum diterbitkan yang masih berhubungan dengan tema demikian, adalah hal-hal sederhana. Sebagai seorang anak petani saya merasa terpanggil untuk menyuarakan penderitaan hidup mereka sebagai petani. Mereka hanya bisa bersuara lewat lapau, kadai. Tulisan-tulisan saya tentu akan menyusarakan suara hati mereka kepada orang-orang Indonesia. Terutama pemerintahan. Sebagai seorang pengarang, hal itu adalah hal-hal yang paling dekat dengan hidup saya. Saya bisa menyuarakan sampai sedetail-detailnya. Tentunya ini akan memudahkan saya dalam mengarang. Nah mungkin demikian, Moderator.

    Aishiteru Menulis: Luar biasa. "Hal-hal paling dekat dalam hidup Anda". Artinya, diri kita dan lingkungan terdekat kita adalah sumber ide yang paling besar ya?

    Alizar Tanjung: Benar sekali. Hal-hal terdekat yang selama ini tidak kita sadari adalah ide.

    Ryan P. Putra:  Mas Alizar Tanjung, saya Ryan P. Putra, FAM Surabaya. Saya mau tanya ini Mas. Bagaimana caranya untuk menyelesaikan 1 naskah yang akan dijadikan sebuah buku? Mungkin ada tips-tips dan kiat-kiat dari Mas Alizar untuk konsisten dengan naskah yang akan dijadikan sebuah buku?

    Alizar Tanjung: Salam buat FAM Surabaya, Ryan. Gampang sekali. Dirimu targetkan saja menulis 4 halaman sehari. Sebulan selesai itu bukunya satu. Kita memang harus menyediakan waktu kita. Yang terpenting bangun keyakinan dalam dirimu. Yakinkan dirimu bisa menyelesaikan buku.

    Riana Ratno Juwita: Mas Alizar Tanjung, saya Riana dari Purwakarta Jawa Barat. Saya sangat mencintai dunia menulis sejak saya duduk di bangku kelas 2 SD. Saat ini saya memiliki target untuk membuat buku sebelum saya berusia 20 tahun. Yang ingin saya tanyakan bagaimana agar alur cerita yang saya buat semakin hari tidak semakin monoton dan membosankan. Saya ingin buku ini isi ceritanya tidak familiar di hadapan pembaca.

    Alizar Tanjung: Salam Riana Ratno Juwita Purwakarta. Kalau boleh tahu jenis yang ditulis apakah novel, atau cerpen, atau buku?

    Sapu Lidi Bertopi: Terima kasih sebelumnya kepada moderator. Salam kenal, kepada Mas Alizar. Pertanyaan saya bagaimana Mas Alijar Tanjung menggunakan majaz dalam puisi agar maknanya sesuai dengan hakikatnya?

    Alizar Tanjung: Majaz, sekarang sebenarnya tidak pada majaz lagi. Sekarang lebih ke filosofi segala sesuatu. Jadi fokus saya dalam puisi maupun cerpen terletak di filosofi, Sapu Lidi Bertopi

    Alizar Tanjung: Novel... Untuk novel... coba bangun masalah demi masalah si tokoh, Riana Setyo Ningrum. Bikin tokoh yang mempunyai banyak masalah. Terus selesaikan masalahnya. Nah ini salah satu nasihat dari sahabat saya Maya Lestari Gf. Riana juga mesti banyak baca novel, saya sarankan novel-novel terjemahan. Ide-idenya lebih kreatif.

    Aishiteru Menulis: Mas Alizar Tanjung, bagaimana kiat Anda menembus koran-koran nasional, dan berapa lama proses pemuatan karya itu? Apakah naskah Anda sering ditolak?

    Alizar Tanjung: Tergantung medianya Moderator. Ditolak itu adalah resiko dari mengirimkan. Hanya ada dua keputusan redaktur, menolak dan menerima. Memang itu kerjaannya. Proses ada yang cepat ada yang lambat. Bahkan ada yang empat tahun baru diterima.

    Aishiteru Menulis: Empat tahun baru diterima? Apakah Anda cukup sabar menunggu selama itu?

    Alizar Tanjung: Kita tidak harus menunggu. Media bertebaran di Indonesia. Saya mengirimkan ke media di awal-awal kepenulisan terkadang seminggu itu ada 10 media.

    Annie Wulandari:  Saya dari Jakarta. Saya ingin bertanya, bagaimana caranya agar kita bisa tetap terus beristiqamah dalam hal kepenulisan? Mungkin Mas bisa berbagi tips, mengingat Mas sudah sejak lama sekali menggeluti dunia tulis menulis.

    Alizar Tanjung: Salam Annie Wulandari . Bangun keyakinan tertinggi Anda dalam menulis, Annie. Barangkali keyakinan Annie Wulandari dalam menulis masih setengah-setengah. Saya mempunyai keyakinan full dalam menulis, Annie. Tanya apa tujuan terdalam yang ingin Annie inginkan dari menulis.

    Rija Kamala: Saya Rija Kamala, anggota baru di sini, dan saya juga baru mau menggiatkan untuk menulis lagi, kata orang-orang menulis itu menyenangkan. Nah, supaya aku lebih giat lagi dalam menulis sebuah karya, yang ingin saya tanyakan adalah 1) menulis itu apa sih?; 2) Sebenarnya menulis itu menyenangkan apa membosankan apa mungkin bakat?; 3) Menulis yang baik dan benar itu kaya gimana?; 4) Aku suka puisi, tapi aku masih bingung bikin kata-kata yang menarik dan pantas dibaca; 5) Aku pengen banget bikin cerpen, tapi yang jadi masalah buatku ketika aku menulis awal-awal terus sudah sampai pertengahan itu sudah mentok sampai situ, sudah nggak ada pembahasan yang menarik, nah gimana caranya supaya aku bisa ngelanjutin sampai akhir itu?

    Alizar Tanjung: Hohoho, pertanyaan Rija Kamala banyak. Kalau boleh dikumpulkan bisa bikin awet muda. Saya jawab satu persatu ya. Menyenangkan atau tidak itu kembali kepada kita masing-masing. Kalau bagi saya sendiri menulis itu menyenangkan. Bahkan benar-benar menyenangkan. Saya bisa bepergian ke tempat-tempat yang selama ini tidak saya kunjungi, sekarang dikunjungi melalui undangan untuk memberikan materi kepenulisan. Dan kita bisa juga berkelana ke tempat-tempat yang kita inginkan dalam karya kita. Apalagi kita adalah seorang yang romantis, uhhh, makin menyenangkan tentunya. Bayangkan ketika orang membaca karya kita, dengarkan suaranya, serta rasakan kebahagiaan hatinya. Itu sesuatu yang amat menyenangkan. Nah, mau cerpen, atau puisi, dirimu bisa menulis kedua-duanya. Bagi tulisan yang mentok, diamkan sejenak. Kemudian cari judul lain untuk ditulis. Mentok itu biasa dalam menulis.

    Sapu Lidi Bertopi: Mas Alizar, untuk menulis puisi yang baik kira-kira hal apa saja yang harus diperperhatikan?

    Alizar Tanjung: Tulislah puisi secara mikro, jadi kita bisa fokus. Kita tidak mesti harus bermain dengan metafor, tetapi bermainlah dengan kedetailan.

    Mohammad Saifullah: Saya mau tanya Mas Alizar. Menurut Mas kalau membuat novel lebih efektif mengambil sudut pandang aku(orang pertama) atau dia (orang ketiga)?

    Alizar Tanjung: Tergantung kita masing-masing Mohammad Saifullah. Kalau saya pribadi kedua-duanya bisa.

    Maulidan Rahman: Bang Alizar Tanjung, sejauh mana sebuah komunitas dapat menunjang ide-ide kepenulisan Abang? Apakah bergabung dalam suatu komunitas mempengaruhi tulisan-tulisan Abang? Pertanyaan selanjutnya, apakah komunitas juga dapat membantu karya-karya Abang menjadi bisa dimuat di media, lalu, berapa bulan belajar (membaca dan menulis) hingga sebuah karya Abang berhasil dimuat?

    Alizar Tanjung: Komunitas lebih untuk menjaga semangat. Komunitas tidak mempengaruhi gaya kepenulisan saya. Komunitas menjaga semangat saya dalam menulis. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, komunitas menjadi tempat saya berbagi.

    Nur Isnaini Masyithoh: Saya Isna suka menulis dari kecil tetapi konsistensi menulis semakin hari semakin diuji salah satunya karena bidang jurusan saya tidak berkaitan dengan penulisan kreatif. Apakah jadi penulis harus memilih jurusan terkait kepenulisan?

    Alizar Tanjung: Salam Isnaini Nur Khasanah. Saya juga bukan dari jurusan kepenulisan, bahkan jurusan Pendidikan Agama Islam. Nah yang paling efektif adalah bergabung dengan komunitas. Nah aktif berdiskusi setiap minggu. Bawa karya dan jangan malu-malu untuk didiskusikan. Saya dahulu karya saya juga amburadul. Saya bergabung dalam komunitas untuk menjaga semangat.

    Annie Wulandari: Baiklah,mas Alizar. saya akan mencoba membangun keyakinan diri dan kepercayaan diri. Memang semangat saya masih setengah dan selalu ada kebimbangan dalam diri saya seperti: Akankah karya saya diterima? Apakah karya tulis saya tidak dipandang sebelah mata atau malah benar-benar diabaikan? Lalu bagaimana caranya untuk membangun keyakinan dan kepercayaan diri itu? Adakah solusinya?

    Alizar Tanjung: Membangun keyakinan, lakukan perenungan, nah pikirkan apa tujuan dirmu menulis.

    Empya Charlie:  Saya dari Padang. Bangaimana sih caranya tulisan kita cepat diterima/dimuat di media? Tulisan yang bagaimana yang banyak diterima di media apakah puisi, cerpen atau apa?

    Alizar Tanjung: Kirimkan ke media tulisan yang sudah diedit rapi, benar-benar rapi. Kemudian perbaiki tata letak. Nah setelah itu baru mutu.

    Rita TungGal SiPoetrie: Saya Rita asal Jambi, ingin bertanya. Bagaimana jika kita hanya hobby menulis, sedangkan sebenarnya basic kita bukan menulis. Apakah bisa menghasilkan tulisan yang bagus?

    Alizar Tanjung: Sebenarnya ada juga yang awalnya dimulai dari hobby, Rita. Nah sekarang bagaimana kita menjadikan hobby sebagai kebiasaan. Kalau tulisan kita bagus media mau saja menerbitkannya.

    Addin El-hazima: Bagaimana trik agar menghasilkan tulisan novel yang baik, yang mampu menginspirasi pembaca?

    Alizar Tanjung: Pilihan tema tentunya. Novel hari ini yang banyak digandrungi remaja itu membahas seperti komedian, kemudian roman percintaan. Nah baca peluang-peluang ini. Triknya: 1) Kenali siapa pembaca kita. 2) Tentukan kita mau menulis novel apa. 3) Tulis novel-novel yang unik, seperti tokohnya, karakter, lintas negara.

    Rita TungGal SiPoetrie: Nambah lagi pertanyaannya. Bagaimana cara mengatasi buntunya ide saat menulis. Saya banyk menulis yang terkadang tulisan saya berhenti di tengah jalan karena bingung buat ending.

    Alizar Tanjung:  Coba minum kopi atau teh hangat. Atau menulis sambil berdiri. Itu juga bisa. Terus kalau nggak bisa juga dirimu bisa makan kue. Itu bermanfaat buat refresh pikiran sebelum menulis lagi.

    Addin El-hazima: Oya satu lagi Mas, bagaimana agar kita membuat tokoh lebih hidup?

    Alizar Tanjung: Nah, kalau yang satu ini bikin tokohnya lebih hidup dengan deskripsi. Misal dirimu bisa saja membikin tokoh yang berjambang lebat, kumisnya bergulung ke atas, wajahnya semulus sutra, hidungnya besar, telingnya runcing, ada tahilalat di kening kanan atas, dan lainnya.

    Adeline Yunita: Gimana cara untuk kita tuh semangat dalam menulis. Soalnya kadang sering merasa malas dalam menulis.

    Alizar Tanjung: Bergabunglah dengan komunitas dalam wujud bertemu langsung (temu darat). Terus sering komunikasi antarpenulis. Saya memiliki anggota-anggota yang awalnya malas nulis, bahkan belum pernah terbit di media, tetapi ketika mereka bergabung di komunittas mereka tersemangati sendiri, dan sekarang mereka sudah menulis di banyak media. Dirimu tentunya kenal Acet Asrival Lijulwa, Farid Fauzi, Deski Ramanda. Inilah mereka-mereka yang berhasil mengalahkan rasa malas mereka.

    Minzy Suzy: Tips buat selalu semangat menulis gimana?

    Alizar Tanjung: Buat terus menulis. Fokusnya nulis apa Minzy Suzy?

    Sapu Lidi Bertopi: Bagai mana memahamkan orang atas makna yang ada dalam puisi kita?

    Alizar Tanjung: Bikin puisi yang sederhana. Kita tidak perlu terlalu repot dengan metafor yang kadang kita sebagai penulis sendiri merasa bingung. Bikin puisi yang sederhana, kemudian bikin detail, fokus pada satu pesan. Coba buka puisi-puisi saya di alizartanjung.com. Di sana ada postingan puisi saya yang tidak terlalu ribet-ribet.

    Minzy Suzy: Nulis apa aja semisal artikel, cerpen dan puisi kak Alizar Tanjung.

    Alizar Tanjung: Kita ambil contoh nulis cerpen. Nah kalau dirimu suka nulis cerpen remaja, biar tetap semangat banyak baca cerpen remaja, variasikan dengan gaya dirimu, seolah-olah itu adalah kamu.

    Brillian Eka Wahyudi: Saya Brillian Eka Wahyudi dari Jakarta. Saya sedang berusaha menjadi penulis yang hebat. Yang menjadi kendala saya ialah ketika menulis cerita. Bagaimanakah kiat kiatnya supaya kita dapat menyelesaikan cerita itu? Sebab seringkali di tengah cerita, tiba-tiba bingung khatimahnya gimana?

    Alizar Tanjung: Ya Brillian Eka Wahyudi. Salam kembali. Saran saya buka lakonhidup.wordpress.com. Di sana ada banyak cerpen dari banyak penulis besar. Ketika saya bingung, saya kembali mempelajari teknik-teknik mereka dalam menyelesaikan cerita. Itu cukup ampuh. Saya mempelajari mulai dari deskripsi, diksi, gaya dialog, konflik, dan cara mereka menyelesaikan konflik. Cerpen ada yang realis dan ada surealis. Kedua-duanya dapat dipelajari dan diterapkan.

    Uzein Al Akhdan: Saya bnyak bikin karya tulis cerpen, puisi itu smua saya ambil dari kisah orang lain ketika saya mau menambahkan cerita karang sediri saya takut mengubah unsur cerita aslinya. Menurut kakak saya harus gimana?

    Alizar Tanjung: Gak usah takut Uzein Al Akhdan. Yang namanya cerpen sefakta apa pun dia, dia tetap cerita fiksi. Jadi tidak bakalan ada orang yang bisa komplain.

    Iim Wachid SQ: Saya mau tanya kak Alizar, menurut kak Alizar seberapa penting sih titel seorang penulis? Lalu motivasi apa yang akan kak Alizar berikan pada mereka yang antusias ingin jadi penulis tapi mereka minder karena tidak memiliki titel pendidikan yang tinggi dan bahkan minder untuk ikut sebuah komunitas kepenulisan?

    Alizar Tanjung: Siapa pun bisa menjadi penulis. Mau tukang sapu, ataupun tidak sekolah sekalipun. Saudara Khoer Jurzani dia itu adalah pemulung yang sekarang sudah kuliah. Dan dia pede dengan pekerjaannya. Joni Ariadinata bahkan dahulu menurut cerita menarik gerobak. Ini sebenarnya bukan soal title, ini soal sejauh mana kita mau melakukan perubahan hidup ke arah yang lebih baik terhadap diri kita.

    Brillian Eka Wahyudi: Oya, menurut mas Alizar Tanjung ke depannya lebih besar keuntungannya yang mana antara penerbitan mayor dengan indie terutama bagi pribadi penulis sendiri?

    Alizar Tanjung: Mayor juga besar keuntungannya sampi miliaran. Indie juga besar. Kalau indie ya tentunya kita juga harus lebih bekerja keras untuk mempromosikannya.

    Uzein Al Akhdan: Aawal posting karya kakak di mana? Lagi mau coba ngirim karya tulis.

    Alizar Tanjung: Di Singgalang Uzein Al Akhdan. Kalau awal perorang surat cinta buat si pacar. Haha.

    Tia Lilis: Apakah penulis yang bagus harus memiliki kosakata/sastra yang baik? Jika tak punya ilmu satra bisakah menjadi penulis yang bagus?

    Alizar Tanjung: Bisa. Saya memulai dari tidak mempunyai basic sastra. Bahkan jurusan saya pun Pendidikan Agama Islam, bukan sastra.

    Aishiteru Menulis (Moderator): Pertanyaan terakhir, mas Alizar, apa pesan Anda untuk penulis-penulis pemula agar produktif berkarya dan tidak kenal menyerah?

    Alizar Tanjung:  Menulislah dari hati Anda untuk diri Anda dan orang-orang yang Anda cintai di dunia ini. Pikirkanlah tujuan jangga panjang Anda yang membuat Anda tetap hidup sebagai manusia.

    Aishiteru Menulis: Alhamdulillah, Seminar Online Proses Kreatif dengan Pembicara Alizar Tanjung (Padang) telah berakhir. Seminar yang menarik, berlangsung selama dua jam. Namun sayang, dengan berat hati Moderator harus menutup sesi ini serta Admin FAM Indonesia akan menghapus hasil diskusi 10 menit kemudian untuk diarsipkan di website FAM Indonesia.

    FAM Indonesia mengucapkan terima kasih kepada nara sumber, para peserta yang bertanya, serta para penyimak lainnya di berbagai kota dan negara. Diskusi ini akan menjadi “menu wajib” FAM Indonesia. Tunggu sesi diskusi berikutnya dengan para pembicara lainnya.

    Salam santun, salam karya!

    MODERATOR


    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Alizar Tanjung: “Aktif di Komunitas Menjaga Semangat Menulis Saya” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top