• Info Terkini

    Thursday, March 5, 2015

    Pengumuman 200 Puisi Dibukukan Hasil Sayembara Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema “Aku Bangga Jadi Orang Indonesia”

    Selamat malam, FAMili.

    Setelah malam kemarin FAM Indonesia mengumumkan 300 Nominator Sayembara Cipta Puisi Tingkat Nasional 2015 bertema “Aku Bangga Jadi Orang Indonesia, maka malam ini diumumkan 200 naskah terpilih yang dibukukan.

    Ke-200 naskah ini menyisihkan nominator lainnya dari total naskah 1718 puisi yang masuk ke meja dewan juri “Tim FAM Indonesia”. Berikut nama peserta dan asal kota beserta judul puisi terpilih (nama diurutkan berdasarkan abjad A-Z).

    1.    A. Rosidi, Sumenep (Hikayat Sebuah Negeri)
    2.    A. Warits Rovi, Sumenep (Di Tengah-Tengah Pengantin Sepasang Benua)
    3.    Abdul Aziz Pane, Yogyakarta (Negeri Kita, Negeri Muara Harapan)
    4.    Abdurrahman Ahmad, Karang Anyar (Bukan Longsor Abadi)
    5.    Acet Asrival, Padang (Negeri dalam Mata)
    6.    Adammif Assobirin, Jepara (Dimana Kita Bisa Sambil Melihat Lintang Kemukus)
    7.    Ade Syaputra, Medan (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
    8.    Ade Ubaidil, Cilegon (Kunang-Kunang P(e)ribumi)
    9.    Adi Prasatyo, Tangerang (Harapan)
    10.    Aditya Novitasari, Surabaya (Adalah Anak Indonesia)
    11.    Aditya Zulmi Rahmawan, Mojokerto (Indonesia Bagian dari Nyawaku)
    12.    Agung Setiawan, Banjarmasin (Dialektika Budi)
    13.    Agus Salim, Madura (Senandika Merah Putih 1)
    14.    Ahmad Ijazi, Pekanbaru (Pada Batas Tualang)
    15.    Ahmad Musabbih, Jakarta (Tembang Kampung)
    16.    Ajeng Mawaddah Puto, Gorontalo (Ini Budi)
    17.    Al-Fian Dippahatang, Makassar (Senandika)
    18.    Alfa Anisa, Blitar (Membaca Cuplikan De Javaan)
    19.    Ali Ridho, Surabaya (Negeri Indah dan Kaya)
    20.    Alias, Kendari (Mekar Menyatu)
    21.    Andi Jamaludin, Tanah Bumbu (Bah)
    22.    Angki Muttaqien, Yogyakarta (Kaya, Indonesia Raya)
    23.    Aqib Wisnu Priatmojo, Magelang (Soekarno 1930)
    24.    Arif Budiman, Sleman (Syalala Orkestra Indonesia)
    25.    Bahiyatul Musfaidah, Ciputat (Senja di Pantai Indonesia)
    26.    Beben T, Palembang (Asa dalam Bangsa)
    27.    Budi Setiawan, Temanggung (Seperti Adam yang Lahir di Negeri Ini, Indonesia)
    28.    Cempaka Lestari Arif, Depok (Negeri Ramu Jamu, Berbangga Karena Keindahan)
    29.    D.A Akhyar, Banyuasin (Semua Ada di Negeriku)
    30.    Dedi Saeful Anwar, Cianjur (Zikir Negeri Dua Per Tiga Air)
    31.    Deny Pangga, Lubuklinggau (Sejuta Hikayat)
    32.    Dewi Anggun Pratiwi, Cirebon (Kaum Macan Asia)
    33.    Doni Prasetyo, Semarang (Dibumbung ke Udara)
    34.    Drajat Adi Cahyono, Salatiga (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia)
    35.    Eni Puspita Sari, Palembang (Senandung Khatulistiwa)
    36.    Era Sofiyah, ? (Karena Namaku Bukan Malin Kundang, Mak)
    37.    Ervina Puspita Sari, Kebumen (Salmon)
    38.    Euis Sandri Meilawati, Bandung (Indonesia Surga Dunia)
    39.    Eva Nur Aprillail, Tangerang (Bangga Jadi Orang indonesia)
    40.    Eva Juli Kartina Panjaitan, Labuhan Batu (Tanah Pusaka)
    41.    Evelyn N, Surabaya (Jangan Terkoyak, Bangsaku)
    42.    Fabia Yolana Jeni, Lampung (Kaulah Negeri Atlantis)
    43.    Faidi Rizal Alief, Sumenep (Sebuah Negeri Bernama Indonesia Raya)
    44.    Fajrus Shiddiq, Malang (Wajah-Wajah Negeri di Pemukiman)
    45.    Fania Handiyani S, Surabaya (Aku Panggil Kau Negeri Surga, Indonesia)
    46.    Faradiba Desy Aulia, Semarang (Asam Manis Indonesia)
    47.    Farihatun Nafiah, Jombang (Seribu Warna pada Tanah Beta)
    48.    Faruk Abdurrahman, Jakarta (Indonesia Sampai Mati)
    49.    Fatah Abdul Wahab, Jakarta (Hanya di Indonesia)
    50.    Febry Salsinha, Yogyakarta (Rahim Pertiwi)
    51.    Fina Lanahdiana, Kendal (Melukis Perihal Ikhtisar)
    52.    Firda Rastia, Banten (Kelabu)
    53.    Fita Setiyawan, Mojokerto (Pada Negeri Sanskerta)
    54.    Fitri Wijaya, Padang (Sajak Seorang Petani)
    55.    Grace Sianturi, Jakarta (Si Gale-Gale)
    56.    Guy Le Fleur, Bengkalis (Rindu dalam Selimut Khatulistiwa)
    57.    Henydria Dwi Adiningtyas, Sidoarjo (Gadis Kecil Simpang Siur)
    58.    Herdian Armandhani, Denpasar (Negeri Warisan)
    59.    Herdiansyah Amran, Maroko (Kisah Negeri Bertuah di Negeri Senja)
    60.    Hermawan, Martapura (Apakah Ini Indonesia)
    61.    Heru Patria, Blitar (Lagu Kita Masih Sama)
    62.    Herwit Daya Tani, Jakarta (Wasiat Kepada Putri Seorang Pejuang)
    63.    Hilman Mulya Nugraha, Bandung (Tak Menyerah untuk Bangsa)
    64.    Hisam Rosidin, Surakarta (Pengabdian Diri)
    65.    Hotmazmuloh, Sibolga (Segumpal Tanah Surga)
    66.    Husna Qurrota Ayunina, Surakarta (Merdeka)
    67.    Ibe S. Palogai, Makassar (Negara yang Televisi)
    68.    Ichwanussofa, Mataram (Makrifat Sang Saka)
    69.    Iin Muawanah, Pasuruan (Menyulam Wajah Garuda)
    70.    Imam Solikhi, Ponorogo (Seorang Bapak yang Mengajari Anaknya )
    71.    Inasshabihah, Tangerang (Buddy, Ini Indonesia)
    72.    Intan Puspita Dewi, Jakarta (Jiwa-Jiwa Penuh Rahmat)
    73.    Irfan Adman Deppaindo, Mamuju (Indonesiaku Tersenyum)
    74.    Irfan Fauzi, Tegal (Ayat-Ayat Negeriku)
    75.    Irfan Firman, Bandung (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia 1)
    76.    Istiqomah Sari Kumarawati, Yogyakarta (Namaku Indonesia)
    77.    Ivone Prayogo, Jakarta (Dari dalam Selimut Ruang Bawah Tanah)
    78.    Iyaii Syafrie, Deli Serdang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
    79.    Jaka Dwi Cahyo, Kerinci (Pelangi Pertiwi)
    80.    Joni Iskandar, Bogor (Banggaku dalam Indonesia)
    81.    Kaletus Marselinus, Lembata (Kita Tercabik Karena Keakuan)
    82.    Kamil Dayasawa, Yogyakarta (Hikayat Pohon)
    83.    Kazuhana El Ratna Mida, Jepara (Rasa Bangga)
    84.    Ken Hanggara, Surabaya (Kembali Indonesia)
    85.    Khodijah, Tangerang (Aku Cinta Produk Indonesia)
    86.    Kinanthi Anggraini, Garut (Perihal Runcingnya Kebanggaan pada Sebilah Tombak Kesatuan)
    87.    Komang Sora Riyanti, Ciamis (Lantunan Sunyi)
    88.    Kukuh Septio Aji, Kudus (Pukul 06.09 WIB)
    89.    Lasinta Ari Nendra Wibawa, Garut (Kepada Negeri yang Menawarkan Segala Kemungkinan)
    90.    Lia Zaenab Zee, Makassar (Kisah Degup Tersetia)
    91.    Lina Latifah, Bandung (Keajaiban di Negeri Biji)
    92.    Luqyana Dahlia, Cirebon (Negeri Merdeka, Kataku)
    93.    M. Ikhsan, Medan (Doa untuknya)
    94.    M. Nadhirin, Riau (Kalian yang Bertanya)
    95.    M. Rinci Taqwa, Blitar (Benih Indonesia)
    96.    M. Syamsul Khanif, Kendal (Kukibarkan Merah Putih di Puncak Merbabu)
    97.    M. Zaini, Martapura (Anak Pernikahan Pulau)
    98.    Manusia Perahu Sudianto, Sumenep (Alegori Marbot Masjid)
    99.    Mar’atul Fitriyah Annahwiyah, Madura (Teduh di Ibu Pertiwi)
    100.    Margono, Klaten (Khasanah Maha Karya)
    101.    Marlina, Jakarta (Negeriku Jiwaku)
    102.    Maulana Ihsan, Pasaman (Cerita, Harapan, Keindahan, Kebahagiaan, Kesedihan)
    103.    Maulana Ihsan Ghiffari Julistyan, Probolinggo (Sajak Secangkir Teh)
    104.    Maulida Ramadhai Khairunnisa, Bekasi (Indonesia Hidup Abadi)
    105.    Mawardah, Medan (Tanah Ini Punya Sejarah)
    106.    Mega Leoni Pane, Medan (Kudengar dan Kulihat Sebuah Rumah)
    107.    Megawati Nasehatul Aminati, Ponorogo (Coba Kulihat)
    108.    Mei Putra Daya, Gunungsitoli (Aku dan Bangsaku)
    109.    Meidy Ayu, Depok (Gebyar-Gebyar)
    110.    Melia Roza, Pasaman (Bangga dalam Cerita)
    111.    Moh. Gufron Cholid, Madura (Anugerah yang Tak Pernah Tuntas Kau Gali)
    112.    Moh. Miftahul Ainin Najib, Jember (Ladang Suburmu Malah Kau Tinggalkan)
    113.    Moh. Wahyu Syafi’ul, Lamongan (Semua Meniru Indonesia)
    114.    Miftahul Jannah, Depok (Takkan Kujual Cinta)
    115.    Mohammad Saifullah, Kediri (Cahaya Khatulistiwa)
    116.    Muchammad Miftachul Ulum, Jombang (Cinta di Balik Selimut)
    117.    Muhamad Mursyid Ashari, Klaten (Doa untuk Ibu)
    118.    Muhammad Rian Azzam Fakrullah, Sukabumi (Aku Ingin Menulis Sajak dengan Namamu)
    119.    Muhammad Shodiq, Banyuwangi (Aku Cinta Indonesia)
    120.    Musyfiq, Sumenep (Di Penghujung Tahun yang Menua)
    121.    Nada Indra Puspitasari, Bekasi (Belum Kuberi Judul Karena Bingung)
    122.    Nadya Ahda, Cilacap (Saya Pelancong Indonesia)
    123.    Nengah Okta Yuliani, Lampung (Senandung Senja untuk Indonesia)
    124.    Nia Rizqih, Bogor (Aku dan Mereka di Indonesia)
    125.    Nisa Nurjannah, Bandung (Tanah Air Beta)
    126.    Nissa Ershanti, Yogyakarta (Gelandangan di Negeri Sendiri)
    127.    Nopitri Wahyuni, Lampung (Renaisans Kedua)
    128.    Nova, Payakumbuh (Aku Mencintai Ketidak Sempurnaanmu)
    129.    Novita Sari Manurung, Medan (Kota Seribu Wajah)
    130.    Nur Salam, Sumenep (Sajak Seorang Ibu)
    131.    Nurfah Maulia Simatupang, Tangerang (Hidup dan Mati untuk Bumi Pertiwi)
    132.    Nurifa, Padang (Sedikit Ulasan Tentang Negeriku)
    133.    Nurlaila Novliza, Lampung (Indonesia In Love)
    134.    Nursita Afifah, Kediri (Kopi Bukan Mimpi)
    135.    Nurul Firdiani, Yogyakarta (Aku Hanya Rakyat Biasa)
    136.    Obi Samhudi, Pontianak (Memoar Anak Manusia)
    137.    Odi Yanuwar, Indramayu (Terima Kasih Pertiwi)
    138.    Prihatin Suryaningtyas, Surakarta (Bukan Indonesia)
    139.    Pusvita Defi, Medan (Suara Rakyat)
    140.    Putri Narita Pangestuti, Sidoarjo (Mentari di Kandungku)
    141.    Qonita Hafizhah, Bogor (Semburat Cinta Veteran)
    142.    Qurrota A’yun, Yogyakarta (Cinta dalam Cepuk)
    143.    R. Indra Gunawan, Surabaya (Bangga Negeriku)
    144.    Rahmat Iman J.E, Malang (Durhaka Anak Negeri pada Ibu Pertiwi)
    145.    Rahmi Intan Jeyhan, Padangpanjang (Selimut)
    146.    Ratna Ning, Subang (Asa Kota Cinta)
    147.    Renny Putri Utami, Palembang (Antikuari)
    148.    Rezqie Muhammad Al Fajar Atmanegara, Banjarmasin (Anak-Anak Pulau, Orang Tua Nusantara)
    149.    Rian Gunawan, Tangerang (Tanah Airku)
    150.    Rinaldi Ikhsan Nasrulloh, Depok (Negeri Timur Jauh)
    151.    Rio Rinaldi, Padang (Memoar Sang Pengobar)
    152.    Rita Deswita, Padang (Bukan Negeri Dongeng)
    153.    Rita Sari, Padang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
    154.    Riyon Fidwar, Padang (Sajak Anak-Anak Indonesia)
    155.    Riska Awalia Lestari, Bulukumba (Rumahku, Indonesia)
    156.    Rizka Lalili Komariyah, Surabaya (Namanya Indonesia)
    157.    Rizkan, Padang (Cinta Indonesia yang Kekal)
    158.    Riski Angraeni, Surabaya (Bumiku Indonesia)
    159.    Rizki Febrian Aldriansyah, Bandung (Kami Rakyat Indonesia)
    160.    Roland Nooh, Manado (Indonesia yang Terbaik)
    161.    Rony Ucok Cahyadi, Bekasi (Negeri Tanpa Dongeng)
    162.    Rosmalia Nur Hidayati, Purworejo (Merah Putih Indonesia)
    163.    Rudi Hermawandi, Bandung (Aku adalah Dirimu Oh Indonesiaku)
    164.    Rudy Syalam, Turki (Bisikan Anak Nusantara)
    165.    Sahanara, Jambi (Serenada Pinisi di Tepian Losari)
    166.    Salma Fauziah A.S, Depok (Selembar Balasan)
    167.    Samuel Manurung, Medan (Tanah Air Kita Indonesia Teguh)
    168.    Sintha Harity, Cirebon (Lagu Si Tina)
    169.    Siska Wulandari, Padang (Pesan Leluhur Kami)
    170.    Siti Atitah, Magelang (Salam Hangat)
    171.    Siti Cholifah, Sidoarjo (Daun)
    172.    Siti Kholifah, Gresik (Ujung Pelosok Negeriku Indonesia)
    173.    Siti Sarah, Karawang (Surat Cinta untuk Pertiwi)
    174.    Siti Zakiyatul Khamidah, Brebes (Yang Ku Bangun di Gelap Bayangmu)
    175.    Sri Surani, Surakarta (Buktiku)
    176.    Sri Surani, Surakarta (Lihatlah Permatamu)
    177.    Suci Rizka Welza Putri, Padang (Cerita Sore Indonesia)
    178.    Sugeng Cahyadi, Purworejo (Fatwa Mulut Dunia)
    179.    Suhindro Wibisono, ? (Telanjangi Dewan Penipu Rakyat)
    180.    Syifa Diatmika, Batang (Catatan Indonesia)
    181.    Syafina Amorita Candini, Palembang (Tanah yang Kutolak Lupa)
    182.    Syarifullah, Sumenep (Kabar dari Pesisir: Doa Pelaut di Bulan Purnama)
    183.    Tri Adnan, Agam (Perjalanan)
    184.    Tri Hanita, Yogyakarta (Bunga Bangsa)
    185.    Tyas Mekar Sari, Sidoarjo (Rindu Indonesia)
    186.    Ully Krismanti, Sukoharjo (Anak Sungai)
    187.    Vingki Hardiyanti, Tangerang (Langit Indonesia)
    188.    Wenti Liana, Ogan Ilir (Cinta Beta)
    189.    Wiekerna Malibra, Bekasi (Mengenang Negeri Seribu Pelangi)
    190.    Winda Efanur FS, Yogyakarta (Sabda Sepatu Berlubang)
    191.    Wiwin SA, Kediri (Senyum Pertiwi)
    192.    Yudi Muchtar, Riau (Ceritera Merah Putih)
    193.    Yudi Rahmat, Cilegon (Indonesia Negeriku)
    194.    Yudik Wergiyanto, Situbondo (Negeri Senja)
    195.    Yuni Suryani, Bandung (Bilik Bambu Indonesiaku)
    196.    Yuniske Prastika, Gorontalo (Mereka yang Terlupa)
    197.    Yulia Erfiriza, Payakumbuh (Renungan Ibu)
    198.    Yuniske Prastika, Gorontalo (Mereka yang Terlupa)
    199.    Zahratun Nisa, Tabalong (Indonesiaku)
    200.    Zammil Hamzah, Sumenep (Orang Indonesia)

    SELAMAT KEPADA PARA 200 PESERTA YANG KARYANYA DIBUKUKAN FAM INDONESIA!

    Lagi-lagi, Anda jangan cepat berpuas diri dulu. Ke-200 naskah ini selanjutnya masuk ke tahapan seleksi ke-4, yaitu “10 Puisi Naskah Diunggulkan” yang berpeluang meraih juara 1, 2 dan 3. Tahapan ke-4 ini akan diumumkan pada Rabu, 4 Maret 2015, pukul 21.00 WIB di grup dan fanspage FAM Indonesia.  Pemenang 1, 2 dan 3 akan diumumkan pada Kamis, 5 Maret 2015, pukul 21.00 WIB.

    Keputusan Dewan Juri atas nama-nama peserta dan karyanya  di atas adalah mutlak, mengikat, tidak dapat diganggu-gugat, dan tidak diadakan surat menyurat dalam bentuk apa pun.

    Terima kasih atas partisipasi berbagai pihak yang ikut menyukseskan sayembara ini. Sebagai tanda apresiasi, FAM Indonesia memberikan Piagam Penghargaan kepada seluruh peserta yang akan dikirim ke email masing-masing peserta.

    Salam santun, salam karya.
    FAM INDONESIA

    Lihat buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Pengumuman 200 Puisi Dibukukan Hasil Sayembara Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema “Aku Bangga Jadi Orang Indonesia” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top