• Info Terkini

    Sunday, March 22, 2015

    Tatkala Kontemplasi Bergelut dengan Filosofi Hidup

    Judul: Sajak-Sajak Dibuang Sayang
    Penulis: Muhammad Subhan
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: I, Februari 2015
    Tebal: 163 Halaman
    Resensiator: Eko Prasetyo*)

    Para penyair selalu punya cara yang khas dalam menyampaikan keresahan dan pemikiran atas segala problematika kehidupan. Namun, bagaimana halnya bila sebuah syair atau puisi digubah oleh seorang jurnalis? Tentu yang ada di benak kita adalah gaya reportase yang kental. Benarkah demikian?

    Buku Sajak-Sajak Dibuang Sayang karya Muhammad Subhan ini tampaknya bisa menjelaskan pertanyaan di atas. Ya, Muhammad Subhan adalah seorang wartawan senior asal Sumatera Barat. Kendatipun banyak bersentuhan dengan dunia jurnalistik, ia justru lebih dikenal sebagai penggiat sastra dan banyak menghasilkan karya-karya sastra seperti novel, cerpen, dan puisi. Pernah dipercaya mengelola Rumah Puisi Taufiq Ismail cukuplah menggambarkan bagaimana kiprahnya di jagat sastra Tanah Air.

    Puisi-puisinya dalam buku Sajak-Sajak Dibuang Sayang ini merupakan hasil pengamatan dan perenungannya—baik selama aktif sebagai jurnalis maupun aktivis literasi—dalam memotret fenomena sosial di masyarakat. Terutama kearifan lokal yang dikemas dalam bingkai diksi yang indah.

    Salah satunya terlihat pada puisi berjudul “Guru”. Kultur masyarakat Minang yang begitu tinggi dalam menghormati sosok pendidik digambarkan dengan amat apik dalam puisi ini: dan/kepadamu guru/segala ilmu bermuara (hal. 133).

    Rasa penghormatan yang tinggi terhadap sosok orangtua juga digambarkan dalam puisi pendek yang berjudul “Ayah”. Diksi yang menarik tergambar dalam bait pertama puisi tersebut: dia menciptakan dua sayap di punggungku/agar aku bisa terbang (hal. 135). Dalam kontur sosio masyarakat, orangtua—dalam hal ini seorang ayah—memiliki tanggung jawab dan andil dalam mendidik dan membentuk karakter di tengah keluarganya. Ketika banyak orangtua justru membebani anak dengan obsesinya seperti ikut les ini-itu, sejatinya hal tersebut melukiskan besarnya harapan terhadap sang anak. Sayangnya, harapan itu diaplikasikan dengan cara yang kurang tepat sehingga malah membuat anak tertekan. Dalam puisi “Ayah”, asa tersebut diilustrasikan sebagai pemberian bekal hidup agar si anak kelak mampu berdikari dan bermanfaat saat terjun di tengah-tengah lingkungan sosialnya. Hal itu terlukis jelas dari kalimat “dia menciptakan dua sayap di punggungku”.

    Mungkin latar belakangnya sebagai jurnalis, Muhammad Subhan tidak bisa lepas dari gaya reportase dalam beberapa puisinya. Salah satunya adalah puisi yang bertajuk “Bau Hutan”. Berikut bunyi bait kedua puisi itu.

    hutan masa kecil yang sekarang tak ada lagi
    tanahnya telah jadi beton dan rumah bertembok tinggi

    Isu terkait kerusakan hutan di Indonesia memang hangat diperbincangkan. Bahkan, banyak aktivis lingkungan dari luar negeri yang cemas akan parahnya kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia. Faktanya, banyak hutan pohon yang dialihfungsikan menjadi kebun kelapa sawit dan permukiman penduduk. Kerisauan inilah yang menggerakkan si penyair untuk menuangkan pengamatannya dengan pas dalam puisi “Bau Hutan” tersebut.

    Yang menarik, kritik pedas akan fenomena perilaku koruptif dan penjilat diterjemahkan dengan begitu lugas dalam puisi pendek berjudul “Bermuka Dua”.

    sekali waktu kita perlu menjilat
    apa yang sudah diludahkan zaman
    sekali waktu kita perlu meludah
    apa yang sudah dijilat kemunafikan

    Diksi filosofis dalam puisi tersebut begitu kuat dalam memuntahkan keresahan yang sulit terbendung. Jamak diketahui bahwa pertikaian elite politik dan perilaku negatif sebagian kaum birokrat membuat kita jengah dan muak. Dalam politik malah dikenal istilah tak ada lawan abadi. Semua bisa berubah 180 derajat, yang salah satunya dipengaruhi pula oleh sikap kemunafikan. 

    Sisi religiusitas sang penyair juga tergambarkan pada puisi yang berjudul Kaligrafi dan Mihrab. Dalam dua sajak itu, agaknya si penyair ingin menitipkan pesan bahwa kita tidak bisa lepas dari ketergantungan kepada Sang Maha Pencipta. Keagungan-Nya melalui firman dalam ayat-ayat suci digambarkan dengan manis dalam puisi Kaligrafi. Sementara Mihrab menghamburkan kerinduan yang mendalam kepada Sang Khaliq.

    Buku Sajak-Sajak Dibuang Sayang ini berisi puisi-puisi Muhammad Subhan sejak 1998 hingga 2014. Dalam rentang waktu yang begitu lama, sajak-sajaknya yang pernah dimuat di berbagai media ini mencoba mengabadikan perenungan atas banyak peristiwa yang dipadukan dengan nilai-nilai filosofi hidup. Hasilnya? Indah!

    *) Pengelola Griya Literasi


    Diterbitkan di:
    SURAT KABAR DUTA MASYARAKAT EDISI MINGGU, 22 MARET 2015
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tatkala Kontemplasi Bergelut dengan Filosofi Hidup Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top