• Info Terkini

    Sunday, March 8, 2015

    Ulasan Cerpen "Rumahku, Surgaku?" Karya Dinda Lindia Cahyani (FAMili Cianjur)

    Pernikahan May dan Ray pada awalnya berjalan harmonis. Annie, anak pertama mereka, menggenapi kebahagiaan itu. Namun suatu waktu keluarga mereka terbelit masalah. Utang yang menumpuk pelan-pelan membuat mereka jatuh.

    Sebagai istri yang selama ini duduk diam di rumah, May merasa tak enak. Ray sebelumnya seorang pebisnis. Akibat masalah ekonomi ini, sekarang dia menganggur. Maka May nekat bekerja jadi buruh di pabrik, untuk menutup kebutuhan hidup mereka.

    Sayang, di kala kondisi sulit seperti itu, Ray mulai bermain api; berselingkuh dengan seorang perempuan muda. May tak tahan hingga akhirnya mereka pun cerai. Rumah yang tadinya bagaikan surga, kini tersulap bak neraka di mata May. Masalah demi masalah membuatnya bertahan hanya dengan satu alasan: Annie.

    Ada beberapa koreksi soal EYD. Penulisan kata "hutang", "ijinkan", "apapun", ""Ridho-Nya", dan "perduli" yang benar adalah: "utang" (tanpa 'h'), "izinkan", "apa pun" (pisah), "ridha-Nya", dan "peduli". Sedang penulisan kata benda (obyek yang dimiliki) hendaknya dibedakan dengan penulisan kata panggilan (subyek/seseorang). Dalam cerpen ditemukan penulisan "Bapakku" dan "Adikku" yang diawali huruf kapital. Padahal seharusnya yang benar "bapakku" dan "adikku", sebab keduanya merupakan bentuk kata obyek (sesuatu yang dimiliki). Beda dengan penulisan kata panggilan langsung untuk subyek, yang diawali huruf kapital seperti: "Bapak", "Adik", "Ibu", "Abang", dan lain sebagainya. Sementara, untuk penulisan "aku", "kamu", "dia", atau "mereka", tidak bisa diawali huruf kapital, kecuali berada di depan kalimat.

    Dari segi ide, pesan moral, dan pengemasan, cerpen ini sudah baik. Untuk penulis teruslah berkarya. Gali ide-ide lain yang lebih berwarna dan tuangkan inspirasi lewat tulisan Anda.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Rumahku, Surgaku?Oleh Dinda Lindia Cahyani (IDFAM3210U)
    Namaku May, istri dari seorang lelaki yang bernama Ray. Tidak mudah melupakan perjuangan Ray untuk menikahiku. Yang Dia miliki hanyalah modal nekat. Yah, Ray memang nekat, karena dahulu Ayahku tidak pernah setuju dengan pernikahan kami. Namun, pada akhirnya Ayah memberikan restu sehingga Aku dan Ray pun bisa menjadi kekasih halal.

    Kehidupan rumah tanggaku, awalnya berjalan lancar. Perekonomian keluarga pun mendukung lajunya bahtera rumah tangga. Ah, rumahku surgaku. Meski saat itu kami belum dikaruniai anak.

    Saat aku mengalami keguguran, betapa sakit hatiku untuk menyadari kenyataan itu. Namun, suami dan keluargaku menguatkanku bahwa itu semua ujian Allah. Aku harus kuat dan sabar. Begitulah mereka meyakinkan. Sampai waktunya tiba, kesabaranku membuahkan hasil dengan lahirnya Annie. Ah, rumahku surgaku.

    Bahagia ternyata tidak selamanya menghampiri rumah tanggaku. Ray terlilit hutang dengan Bank yang mengharuskan dia menjual sawah warisan bapaknya. Pinjaman Bank itu bukan untuk digunakan dalam urusan bisnis keluarga. Sebelumnya Adikku yang seorang santri pernah bilang bahwa pinjaman di Bank itu termasuk riba dan aku harus menjauhi riba. Namun, apa mau dikata ketika Ray tidak bisa berbuat apa-apa karena ibu mertuaku membutuhkan uang itu untuk menutupi hutang pada lubang lain. Ah, apa rumahku masih menjadi surgaku? Ekonomi keluargaku pun mulai menurun. Dan Ray tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia bukanlah seorang pekerja karena sebelumnya Ray terbiasa melakukan bisnis untuk dijadikan sebagai jalan mendapatkan penghasilan keluarga.

    Pada suatu hari aku memunculkan ide untuk bekerja, “Ray, ijinkan aku bekerja untuk membantumu.”

    Awalnya Ray menolak keras. Dia tidak mau istrinya bersusah payah bekerja untuk mendapatkan uang. Selain itu kewajibanku mengurus anak akan terbengkalai. Tapi aku terus meyakinkannya. Aku tahu diri untuk tidak hanya diam di rumah saat suamiku sendiri mengalami kesusahan. Aku hanya ingin membantu Ray. Begitu pikirku. Dengan berat hati Dia membolehkanku bekerja di pabrik yang terletak di kotaku. Dan ternyata inilah awal dari kehancuran keluargaku.

    Bekerja di sebuah pabrik mengharuskanku pergi pagi dan pulang sore hari. Aku bekerja dari senin sampai sabtu. Betapa melelahkan. Waktu malam aku gunakan untuk beristirahat. Sedikit sekali aku bercengkrama dengan keluarga. Kehangatan antara aku dan Ray perlahan mulai memudar. Annie yang masih berusia kurang dari dua tahun pun hanya sedikit mendapatkan perhatianku. Saking lelahnya, jarang sekali aku merapikan rumah.

    “Ray, sebelumnya aku minta maaf. Akhir-akhir ini aku sangat lelah. Aku minta tolong kepadamu jika aku sedang bekerja bantulah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah,” pintaku pada suatu kesempatan.

    Aku tidak pernah meminta materi lebih kepada Ray. Meskipun sudah sangat lama Ray tidak bekerja, aku tetap memakluminya. Semuanya berbalik, aku yang membanting tulang dan Ray mengurus Annie juga pekerjaan rumah. Terkadang saat aku pulang, rumah masih sangat berantakan. Rumahku surgaku?

    Drrrt..drrrrt, Hp Ray bergetar. Kebetulan Ray sedang di kamar mandi. Aku raih hp itu dan melihat ada satu pesan masuk di akun facebook Ray. Sebelum sempat membuka pesan itu, Ray keburu mengambil paksa hp-nya.

    “Ah, maaf Ray. Aku hanya ingin tahu pesan dari siapa”

    “Ini rekan bisnisku. Sudah, ayo kita tidur” ajak Ray.

    Aku pun mencoba memejamkan mata. Tubuh Ray membelakangiku. Kenapa Dia belum tidur? Masih terdengar tombol hp-nya seperti sedang mengetikan pesan. Apa Dia masih ‘chatting’ dengan rekan bisnisnya di malam yang telah larut ini? Pikiranku menggelitik. Ah, sudahlah. Aku lelah.

    ***

    “Apa maksudnya Ray? Sementara aku lelah bekerja sedang kau asyik-asyik berpacaran dengan gadis dunia maya ini?” emosiku meledak setelah mengetahui bahwa selama ini rekan bisnis yang disebutkannya adalah seorang gadis muda yang mencoba merayu suamiku. Selama ini Ray membohongiku. Air mataku keluar karena tidak sanggup menahan sakit.

    “Aku sudah bilang pada saat sebelum menikah atau berulang kali aku katakan saat kita bersama, Kau boleh mengasariku dengan kata-kata atau fisik. Tapi aku tak akan memaafkanmu jika kau berselingkuh”. Suaraku memecah keheningan rumah yang hanya ada kami berdua. Untungnya Annie sedang bersama ibu mertua.

     Aku marah. Terjadi perang dingin antara Aku dan Ray. Annie sepertinya menyadari bahwa ayah dan ibunya sedang dalam masalah. Entahlah, karena Annie sakit akhirnya aku bisa memaafkan Ray. Hatiku luluh ketika melihat Annie yang terkapar lemah. Aku tak bisa memenangkan egoku. Ray berjanji tidak akan melakukan hal yang menjijikkan itu lagi.

    Tapi, gelas yang pecah tidak akan pernah sama bentuknya. Begitu pula kepercayaan yang sudah dikhianati tidak akan sama kadarnya. Aku selalu memata-matai suamiku. Aku curiga. Setiap malam aku intip akun facebooknya. Barangkali ada gadis iblis itu lagi mencoba merebut hati suamiku.

    Rasanya lelah sekali, tubuhku dan juga hatiku. Ya Allah, cobaan seperti apa yang aku terima ini. Akankah kepercayaanku pada Ray kembali utuh? Atau akankah Ray benar-benar berpindah kelain hati? Semua pertanyaan berlomba mengambil seluruh fokusku. Pikiran-pikiran buruk terus bergentayangan menghantui kehidupan rumah tanggaku.

    ***

    Ulang tahun anakku yang kedua. Tidak ada yang ‘special’ yang bisa aku berikan untuk mutiara tersayangku. Hanya doa yang aku lantunkan untuk buah hatiku yang menginjak usia dua tahun. Ray pun tak bisa memberikan hadiah untuknya. Hanya kecupan kecil di kedua pipi Annie. Perekonomian kami belum juga pulih setelah setahun. Kedekatan aku dan Ray juga tidak seperti saat pertama kami menikah dan mempunyai anak.

    *** 

    Ray kembali berulah, Aku menemukan ‘private message’ pada hp-nya. Dengan berisi kata-kata yang lebih gila. Kegilaan apalagi ini Ray? Hatiku mengaduh, aku benar-benar buta mata dan hati.

    “Ceraikan aku!” luka kemarin saja belum pulih, sekarang Ray benar-benar mencoba membunuhku. Genderang perang sudah Dia tabuh. Saatnya mengeksekusi semua ini.

    Lagi-lagi Dia menolak. Dan malah menuduhku bahwa akulah yang berselingkuh. Dia menyangka aku berselingkuh dengan teman waktu SMA-ku. Aku benar-benar kalut. Menyadari bahwa Ray tak lagi percaya padaku. Ray menganggap aku ini perempuan yang tidak baik. Betapa menyakitkan tuduhan keji itu. Padahal bukti bahwa Dia lah yang berselingkuh sudah sangat jelas. Ray, apa maumu?

    ‘Rumahku surgaku’ itu hanya harapan usang. Ray menjatuhkan talak atas paksaanku. Dan pada akhirnya semua ini tidak bisa ditutupi dari keluarga kami. Ibu mertua pun ikut bersedih, apalagi ibuku. Dan apa kabar ayahku? Tentu dia marah besar. Dari semula dia tidak suka pada Ray. Tapi, mereka seakan menunjuk salah padaku. Aku yang tidak sabar menjaga keutuhan rumah tangga katanya. Tapi, apa yang bisa mereka rasakan? Mereka tak pernah mengerti yang aku alami. Mereka tidak tahu seberapa sakitnya diselingkuhi karena mereka tidak pernah mengalaminya sendiri. Ah, air mataku tidak bisa berhenti.

    Aku merindukan Annie. Aku pergi dari rumah dan menginap di kontrakan temanku, Eva. Aku masih melanjutkan pekerjaanku di pabrik. Setidaknya aku bisa bertahan hidup dengan gajiku.

    “Kak, aku tidak membela salah satu di antara kalian. Kalian berdua egois. Hanya mementingkan perasaan kalian, dan mengabaikan anak. Lihat Annie yang masih berusia dua tahun, tidakkah kalian sayang padanya. Hanya karena keegoisan, kalian telah menghancurkan masa depan Annie.” Adikku menceramahiku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku pun tak sanggup menahan air mataku. Aku menunduk seperti anak yang dimarahi ibunya.

    “Buktikan bahwa kamu bisa bertahan Kak, sebesar apapun cobaannya. Jika ada masalah selesaikan dengan komunikasi yang baik. Bukan dengan perceraian. Jangan pernah berpikir tentang itu.” Paparnya dengan pasti. “Kasihan Annie Kak”. Tambahnya.

    Ketidaksengajaan menjatuhkan talak memang tak bisa menahan putusnya ikatan pernikahan. Status kami sekarang adalah bercerai. Ray memang meminta rujuk selama dalam masa iddahku. Tapi aku masih terus berpikir dua kali. Ketakutanku masih saja menghantui. Ayahku pun tidak setuju aku rujuk dengan Ray, tapi ibu menganjurkanku untuk rujuk. Alasannya hanya satu yaitu Annie.

    “Maukah kamu kembali menjadi istriku, May? Ayo kita ulang semuanya dari awal. Maafkan aku. Aku benar-benar khilaf. Aku menyayangimu dan juga Annie. Semoga Allah mengikatkan dengan kuat kasih sayang kita dengan Ridho-Nya. Aku berjanji tidak akan ada perempuan asing lain lagi yang hadir dalam rumah tangga kita.”

    Anggukan kepala dan air mataku adalah persetujuan untuk kembali membangun rumah menjadi surga kami. Semuanya disaksikan oleh kakakku. Ray mulai mencari kerja untuk kembali menjadi tulang punggung keluarga. Aku masih tetap bekerja selama Ray belum bisa mendapatkan pekerjaan.

    Ayahku? Beliau marah besar karena aku rujuk dengan Ray. Tapi, aku tak perduli karena aku menyayangi mereka berdua. Annie dan Ray. Aku benar-benar ingin menjadikan rumahku surgaku. (*)

    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Rumahku, Surgaku?" Karya Dinda Lindia Cahyani (FAMili Cianjur) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top