• Info Terkini

    Friday, March 13, 2015

    Ulasan Puisi "Tanpamu, Tanpa Cerita" Karya Khozainah Rahmah (FAMili Indramayu)

    Agaknya puisi ini mengingatkan kita agar selalu menjalani hidup seperti adanya; tidak menyerah, optimis, dan terus maju ke depan. Tampak sejak bait pertama. "Sudahkah kau mati?" seolah menjadi sindiran bahwa diamnya kita pada peristiwa/takdir sejatinya membuat kita bagaikan benda mati yang tidak berguna. "Tak bertemu berani saat kau justru berdiri" tak lain ungkapan bahwa kita malah menyerah di saat seharusnya maju ke depan. Ibarat kata, belum mencoba sudah putus asa.

    Begitupun di bait-bait berikutnya, makin kentara pesan yang hendak disampaikan penulis. "Berlari atau gugur tanpa bunga" sudah tentu jelas artinya bahwa lebih baik mana; berani maju lalu mati sebagai pejuang atau diam di tempat dan mati sebagai pecundang?

    "Menjadi diri sendiri tanpa nama, selain 'aku'" adalah saran yang penulis sisipkan dalam puisi bahwa sebaik-baiknya kita sebagai manusia hendaknya menyadari bahwa inilah kita dan hidup kita. Kita tidak bisa menolak, apalagi menyerah. "Tangan Tuhan tak pernah salah alamat" seperti menohok ulu hati terdalam kita bahwa apa yang Tuhan tentukan kepada kita, itulah yang terbaik. Maka tetap semangat dan bersyukur adalah kunci kebahagiaan sejati.

    Ada beberapa koreksi menyoal EYD. Kata "sekedar", "diantara", dan "kawan" yang benar ditulis: "sekadar", "di antara", dan "Kawan" (dengan huruf kapital karena merupakan kata panggilan untuk obyek).

    Terus berkarya dan cerahkan dunia lewat puisi.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIAwww.famindonesia.com

    [BERIKUT NASKAH ULASAN TANPA EDITING]

    Tanpamu Tanpa CeritaOleh Khozainah Rahmah (ID FAM3212M)
    Sambil berkata aku tanpamu tanpa cerita.
    Sudahkah kau mati?
    Atau sekedar tertawa tajam pada mereka?
    Rasanya tak bertemu berani saat kau justru berdiri.
    Siapkan dirimu sebelum semua usai.
    Cepatlah meniadakan saat lagu mulai terdengar.

    Ingatlah !
    Hidup ini tak akan menunggumu menyelesaikan malam, kawan.
    Berlari atau gugur tanpa bunga.
    Pilihan ada di tangan, biarlah kebijakan mendekatimu.
    Sisanya jadikan aura diantara syair-syair.
        Hujan akan jadi badai saat waktu tiba.
        Pun juga aku dan kau.
    Ganti pakaianmu, luruhkan semua nama diantara bahu.
    Menjadikan diri sendiri tanpa nama selain “aku”.

    Tangan Tuhan tak pernah salah alamat, kawan.
    Senyumlah pada mereka ketika datang.
    Tak lupa selipkan kata “Selamat Datang!”

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Tanpamu, Tanpa Cerita" Karya Khozainah Rahmah (FAMili Indramayu) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top