• Info Terkini

    Thursday, April 9, 2015

    Belajar Kehidupan dari Seorang Gadis Desa

    Harian Galamedia Bandung, edisi Rabu, 8 April 2015
    Oleh Deffy Ruspiyandy
    Peminat Buku di Bandung
    Sebuah novel hadir dengan mengambil seting Pasundan, tepatnya di Kabupaten Ciamis. Tokoh Amila merupakan tokoh sentral yang menjadi daya pikat novel ini hadir dengan segala bentuk perjuangan hidup dari sejak kecil sampai mendapatkan pasangan hidup. Ia wanita yang selalu diliputi kegalauan tatkala rasa cinta berkecamuk dalam hatinya. Dia berusaha mendapatkan cinta sejati yang diharapkannya, namun takdir Tuhan pulalah yang menentukan siapa jodoh terbaik bagi dirinya.

    Amila, adalah sosok wanita yang lahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama serta menghindari nilai-nilai negatif dalam kehidupan yang dapat merusak kepribadian tokoh utama dari novel setebal 502 halaman ini. Pergulatan batin harus dialami Amila, bahkan ia cenderung menjadi “pemberontak” untuk lepas dari kemapanan yang ada, dalam arti positif. Walau seorang gadis desa namun ia memiliki pemikiran yang maju demi merenda cita-citanya. Hanya ia pun tetap menyerukan semangat emansipasi tetapi masih dalam koridor kodratnya sebagai wanita yang memeluk agama Islam. Ia terus berjuang namun mampu pula memfilter sesuatu yang bisa merusak kepribadian dirinya.

    Sang tokoh akhirnya sadar ketika berbagai episode kehidupan mampu menempa dirinya untuk menjadi wanita yang bijak di dalam memahami sesuatu yang terjadi di saat menimpa dirinya. Namun tetap saja sebagai seorang wanita, Amila memiliki kelemahan yang nyata, di mana ia kadang terjebak oleh perasaannya sendiri, bahkan inilah yang sesungguhnya menjadi penyebab tercerabutnya impian yang ingin diraihnya. Pada satu sisi ia berhasil mewujudkan dirinya sebagai penulis yang sukses menulis novel. Hanya saja untuk mendapatkan dambaan hati ia seringkali mendapatkan kekecewaan.

    Penulis memaparkan kisah wanita ini memilih alur maju atau mirip dengan sebuah kisah biografi yang ditulis dalam sebuah novel. Sosok Amila kecil, remaja sampai menjadi wanita yang siap berumahtangga dihadirkan sesuai perjalanan berliku yang dilaluinya. Penulis mampu mengatur ritme, antara kisah satu dengan kisah lainnya sehingga pembaca sulit melepaskan diri dari perangkap untuk terus membaca kisah ini. Tiga perempat ketebalan novel ini menghadirkan pergulatan batin Amila dan seperempat ketebalan lainnya dipenuhi dengan kejutan yang tak terduga dan mampu mengaduk-aduk perasaan pembaca.

    Novel ini tidak sekadar menghadirkan sisi hitam putih kehidupan. Lebih dari itu, novel ini bagaimana seharusnya kita semua belajar untuk memahami kehidupan. Semua itu dapat ditemukan pada realita yang dijalani oleh siapa pun.

    Amila sendiri adalah gadis yang dibesarkan di sebuah desa di Kabupaten Ciamis, namun berpikiran maju dan tidak ketinggalan zaman. Akan tetapi, ia masih memerhatikan tentang norma dan agama yang dianutnya. Itu semata-mata dilakukan sebagai konsekuensi menjadi seorang muslimah yang berkewajiban menyelaraskan hidupnya agar tak salah jalan.

    Keunggulan novel ini sendiri dikuatkan oleh kepiawaian sang penulis di dalam memilih kata-kata atau diksi, di mana yang membaca pun merasakan kerenyahan kalimat yang disusun secara rapi. Juga yang tak kalah menariknya, bagaimana penulis mampu menghadirkan tentang kondisi Kabupaten Ciamis dengan sebenar-benarnya berdasarkan fakta yang ada karena memang penulis kelahiran Kota Manis ini yang saat sekarang tinggal di Kediri. Kehidupan daerah tersebut digambarkan pada saat sekitar tahun sembilan puluhan. Itu terlihat dari pengungkapan nama-nama daerah seperti Cilimus, Panawangan, Kawali, Ceker Kidang dan nama desa lainnya.

    Tak dapat disangkal pula, penulis pun memiliki misi yang cukup jelas. Selain menghadirkan kisah dalam sebuah novel, ia mampu pula dalam novelnya mengemas pentingnya budaya literasi dalam kehidupan. Tidak hanya di Kota Kembang tetapi Kabupaten Ciamis pun perlu mengajaknya untuk melek baca. Dalam novel itu bagaimana ia mampu menyelipkan tentang perjuangan Amila, Zahda Amir, Mirna dan Yan yang membangun Taman Bacaan Galuh sebagai bentuk kepedulian penulis membangun budaya literasi. Juga pada taman bacaan itulah, kisah novel itu ditutup.

    Memang pada akhirnya penulis mengajak pembaca untuk menentukan sikap di dalam menilai sebuah kehidupan. Namun penulis begitu jelas memaparkan, bila kisah dalam novel ini adalah rekaan tetapi penulis mengajak pembaca untuk merenung tentang sebuah ketidakpastian dan kenyataan itu bagian tak terpisahkan dari kehidupan yang dijalani manusia seperti yang telah dialami Amila. (*)

    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Belajar Kehidupan dari Seorang Gadis Desa Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top