• Info Terkini

    Thursday, April 2, 2015

    Merekonstruksi Potret Sosial Lewat Cerpen

    Koran Madura
    Judul buku: Sepucuk Surat Beku di Jendela
    Penulis: Aliya Nurlaela
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: I, 2015
    Tebal: 152 Halaman


    Dewasa ini karya sastra di Indonesia terus tumbuh seperti bunga-bunga yang bermekaran di taman. Demikian pula komunitas pencinta sastra yang terus bergeliat dan menjadi sendi terhadap nasib karya sastra itu sendiri. Tetapi, yang menarik disimak adalah karya sastra sebagai salah satu corong untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Selain itu, karya sastra—apa pun bentuknya—dijadikan sebagai fungsi kontrol sosial yang ada di masyarakat.

    Buku Sepucuk Surat Beku di Jendela ini tampaknya betul-betul menguatkan pandangan tersebut. Kumpulan cerita pendek yang terhimpun dalam buku karya cerpenis Aliya Nurlaela tersebut banyak menyajikan potret sosial yang lekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Dalam cerpen yang berjudul Bell’s Palsy, misalnya. Si penulis dengan jitu memberikan penggambaran yang lugas mengenai penyakit yang menyebabkan kelumpuhan saraf wajah separo itu. Namun, yang menarik di sini justru komunikasi yang dijalin oleh si pasien dan dokter. Diceritakan di situ bagaimana beratnya beban mental yang ditanggung oleh si pasien hingga ia mudah meluapkan kekesalan pada beberapa dokter yang ia datangi. (hal. 75-76). 

    Bell’s Palsy merupakan penyakit yang mampu membuat wajah menjadi tidak simetris. Urat-urat yang menegang di balik telinga akan menciptakan rasa sakit yang tak tertahankan. Penyakit ini cukup berbahaya apabila tidak tertangani secara cepat dan tepat karena dapat mengakibatkan cacat permanen. (hal. 79).

    Bagaimana sang penulis bisa menceritakan penyakit ini dengan begitu detail dan lugas seolah tanpa cela? Ternyata, dari pengakuan Aliya sendiri, dirinya memang pernah mengidap penyakit tersebut yang sempat membuatnya down. Bagi dia, amat penting memberikan pemahaman tentang penyakit ini kepada masyarakat dan jalan yang dipilih adalah cerpen tersebut. 

    Tampaknya penulis cermat menangkap kejadian sosial yang lekat dengan khalayak untuk kemudian diolah menjadi sebuah cerita pendek yang memikat. Cerpen berjudul Kolom Pekerjaan menjadi bukti sahih.

    Jamak diketahui bahwa saat tahun ajaran baru, para orangtua diberi lembaran untuk diisi. Nah, salah satu kolom yang nyaris selalu ada ialah kolom pekerjaan. Cerita ini dibuka oleh pengalaman seorang tokoh bernama Hamzah yang tinggal di Tangerang bersama istri dan anak tunggalnya. Penampilannya perlente dan suka memakai barang-barang bermerek.

    Suatu saat ia harus mengisi lembaran untuk anaknya yang akan memasuki tahun ajaran baru. Terasa menggelikan karena ada kolom tentang berapa pendapatan orangtua per bulan serta apakah rumahnya berlantai keramik, semen, atau tanah. Termasuk kolom sumbangan untuk sekolah yang sudah dilengkapi dengan nominal-nominal tertentu. Hal seperti ini biasa terjadi di mana saja saat musim tahun ajaran baru. 

    Karena ragu, Hamzah mengosongkan kolom pekerjaan lantaran ia sendiri bingung hendak menuliskannya. Sebab, pola kerjanya khas dan tidak seperti pegawai kebanyakan. Ternyata pihak sekolah justru memanggilnya dan menanyakan pekerjaannya yang sebenarnya. Hamzah lantas menjawab wiraswastawan. Namun, ternyata jawaban itu dianggap belum memuaskan. (hal. 100).

    Hamzah terusik dengan kondisi sosial seperti itu. Hingga akhirnya ia mengakui bahwa dirinya seorang penulis. Tentu saja pola kerjanya berbeda dengan karyawan atau pegawai kebanyakan. Ia lebih banyak duduk di depan komputer. Kendatipun demikian, diakui bahwa profesi penulis tidak kalah menjanjikan dibandingkan pegawai kantor atau sekadar menjadi birokrat.  

    Memang sudah menjadi pemahaman umum bahwa yang namanya bekerja itu adalah berangkat pagi-pulang sore. Meskipun tidak membawa hasil, yang penting keluar setiap hari, itu sudah dianggap bekerja. Sementara yang duduk di rumah, di depan komputer, cenderung bukan dianggap bekerja. Bahkan, kadang yang seperti itu mendapat julukan agak ekstrem: pengangguran. Meskipun, penghasilannya boleh jadi lebih tinggi daripada pekerja kantoran. Sungguh sindiran yang amat jitu!

    Buku ini berisi 17 cerpen yang semuanya mencoba membingkai alur kehidupan sehari-hari. Selain kritik sosial, tema cinta yang menjadi patronase sebuah karya sastra juga tidak ketinggalan mewarnai buku Sepucuk Surat Beku di Jendela ini. Yang istimewa, cinta tidak ditampilkan secara picisan sehingga selalu menggoda pembaca untuk menuntaskan dan mereka-reka apa yang akan terjadi selanjutnya.

    Kendatipun topik yang diangkat cukup sederhana, namun ceritanya menjadi memikat lantaran dibumbui diksi-diksi yang cerdas nan bijak. Agaknya, pengalaman penulis benar-benar menjadi keuntungan tersendiri dalam mengilustrasikan sebuah kejadian yang diangkat dalam karya sastra berupa cerpen ini. Sebuah buku sastra yang memberikan banyak pemahaman baru yang menjadikannya perlu dibaca oleh siapa saja. (*)

    Peresensi: Eko Prasetyo, Mahasiswa S-2 Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya, peneliti pada Bina Qolam Indonesia

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Merekonstruksi Potret Sosial Lewat Cerpen Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top