• Info Terkini

    Sunday, May 3, 2015

    Guru Kreatif yang Menulis

    Judul: Satu Huruf di Mesin Tik
    Penulis: Refdinal Castera
    Penerbit: FAM Publishing
    Terbit: Desember 2014
    Tebal: 322 halaman; 14 x 20 cm
    ISBN: 978-602-7956-97-1
    Peresensi: Deski Ramanda

    Keterbatasan belum tentu menjadi penghalang untuk mencapai kesuksesan. Justru dengan keterbatasanlah sesorang bisa menjadi sukses. Keterbatasan dijadikannya batu lompatan untuk meraih impian. Kebanyakan orang yang berhasil itu berawal dari kesusahan dan serba kekurangan.

    Novel yang berjudul “Satu Huruf di Mesin Tik” ini merupakan novel inspiratif yang  bisa membangkitkan semangat. Novel ini mengisahkan seorang anak muda asal Agam yang  merantau ke Kota Jambi dengan niat meraih cita-cita untuk menjadi seorang sarjana. Namun, cita-cita tersebut putus di tengah jalan ketika dia disuruh pulang ke kampung halaman oleh kedua orangtuanya. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangtua, Agus menuruti saja apa keinginan orangtuanya. Dia tidak mau menjadi anak durhaka disebabkan tidak ridhonya orangtuanya. Sebuah hadis yang menjadi pegangan olehnya ketika itu ialah ridho Allah terletak pada ridho orangtua dan murka Allah tertelak pada murka orangtua. Apa gunanya menuntut ilmu di negeri orang jika kedua orangtua tidak ridho?

    Kepulangan Agus ke kampug tentu akan menjadi pembicaraan orang sekitar karena dirinya gagal kuliah di Jambi. Untuk menghindari hal itu, Agus hanya menetap beberapa hari saja di rumah. Setelah itu, dia berangkat ke Kota Padang untuk mencari sekolah yang akan menerimanya sebagai guru honor. Atas saran ayahnya, Agus menemui eteknya Ati untuk mengadukan nasibnya. Kebetulan eteknya  juga seorang guru SD yang sudah lama mengajar. Di tempat eteknya mengajar, Agus mulai menekuni dan mengabdikan dirinya sebagai guru.

    Sebagai seorang manusia, pasti mempunyai impian untuk mendapatkan gaji yang layak sesuai dengan pekerjaannya. Namun, tidak pada Agus. Di sekolah tersebut dirinya hanya seorang guru suka rela yang tidak digaji sepersen pun. “Silahkan mengajar menjadi guru, tapi harus rela tidak menerima imbalan apa-apa, karena sekolah tidak punya dana untuk membayar honor.” Begitulah bentuk perjanjian Agus dengan kepala sekolah ketika itu.(hal 63). Pekerjaan tersebut ditekuninya selama enam bulan. Hanya dengan mengandalkan kesabaran dan keikhlasan yang membuat dirinya bertahan sebagai guru suka rela.

    Berkat kesabarannya, akhirnya Tuhan membalas semuanya. Agus mulai menerima honor di tempat mengajarnya yang baru di salah satu SD di Tabing. Namun, itu tak bertahan lama. Dia harus pindah sekolah karena nasibnya hampir berakhir di ujung golok orangtua siswa. Atas izin Allah, ada orang yang menolong dan ia selamat. Tapi, yang namanya predikat guru honor, tak kunjung berubah. Kerja dan tanggung jawabnya sama banyaknya dengan guru PNS, tapi beda dalam penerimaan hak setiap bulan. Rasa bosan yang panjang mulai menggeroti keseharian Agus sebagai guru honorer.

    Untuk menghilangkan kejenuhan dalam mengajar, Agus kembali menggali bakatnya yang  sudah lama terpendam. Dia kembali menyibukkan dirinya dengan membaca dan menulis yang sudah ditekuni semenjak kecil. Mulailah ia menuliskan diarinya ke dalam bentuk puisi, artikel, cerpen, dan pengalamannya yang berbekas. Dengan modal mesin tik manual pinjaman tetangga mulailah Agus menulis. Tulisan tersebut dikirimnya ke berbagai koran lokal dan ibu kota. Sekitar enam bulan menunggu, tulisan itu akhirnya dimuat dan terus dimuat. Sehingga mesin tik manual yang sudah tua pinjaman tetangga dikembalikannya dan akhirnya Agus bisa membeli mesin tik dengan honor tulisan yang sudah sering dimuat.

    Di samping menulis, Agus juga mulai tertarik untuk berorganisasi, belajar silat tradisional, dan karate. Tetapi, yang namanya guru honor tak kunjung berubah. Sehingga Kota Jakarta yang penuh impian juga pernah diarunginya. Di sana Agus juga pernah menjadi kondektur mikrolet, bekerja di biro iklan, dan menulis di bumi ibu kota tersebut. Tapi, semuanya tidak membawa sukses, karena setiap impian belum tentu bisa menjadi kenyataan.

    Semua yang baik menurut kita belum tentu baik menurut takdir Tuhan. Pekerjaan menjadi guru yang sudah lama ditinggalkannnya kembali ditekuni. Ternyata memang benar di sanalah kesuksesan Agus yang selama ini belum terungkap. Akhirnya nomor tes Agus keluar dan dia resmi diangkat sebagai PNS. Walau, sudah PNS menulispun tak kan pernah ditinggalkannya. Sebab menulis itu adalah suatu bentuk kekreatifan bagi seseorang guru seperti dirinya. seorang guru jangan hanya mampu menyuruh muridnya untuk menulis tapi dia sendiri tidak bisa menulis.

    Kisah yaang terapat dalam novel ini sangat cocok unutk dijadikan motivasi. Dengan keterbatasan seseorang bisa sukses. Belum tentu keterbatasan tersebut membawa kepada kegagalan. Hanya kesabaralah yang akan berbuah kebahagiaan. Novel ini sangat layak dibaca oleh siapa saja. Terutama bagi orang yang keinginannya tinggi untuk menekuni dunia kepenulisan. Bagi pembaca yang berprofesi sebagai seorang guru akan membangkitkan semangatnya untuk bisa menulis. Sebab guru yang bisa menulis adalah guru yang kreatif.

    Diterbitkan di Harian Singgalang edisi Minggu, 3 Mei 2015

    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Guru Kreatif yang Menulis Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top