• Info Terkini

    Thursday, May 7, 2015

    Hakikat Kejujuran dalam Sepucuk Surat Beku di Jendela

    Harian Singgalang, Minggu, 2 Mei 2015
    Oleh Acet Asrival

    Membaca  cerita-cerita yang termaktub dalam kumcer Sepucuk Surat Beku di Jendela (SSBJ) membawa kita pada realita kehidupan yang sebenarnya. Dimana dalam kehidupan ini seringkali terjadi kecurangan-kecurangan, kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh banyak orang. Kecurangan yang dilakukan untuk kepentingan pribadi, kebohongan yang dilakukan untuk memperdayai orang lain, untuk suatu tujuan agar bisa dicapai dengan mudah. Minimnya sikap jujur yang kita temui dalam kehidupan ini, adalah menjadi salahsatu penyebab kemundurannya suatu peradaban (baca; diri sendiri). Menjadi pemicu kemerosotannya kemajuan dalam kehidupan ini. Dimana kejujuran sudah terasa asing di tengah masyarakat. Kejujuran seolah-olah menjadi barang rongsokan yang hanya segelintir orang yang masih menyukainya.

    Perihal itu digambarkan dalam beberapa cerita yang termaktub dalam kumcer SSBJ karya Aliya Nurlela- penulis kelahiran Ciamis Jawa Barat ini. Aliya menggambar realita tentang minimnya sikap jujur yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Banyaknya kecurangan dan kebohongan yang dilakukan oleh manusia saat ini. Kecurangan dan kebohongan sudah menjadi tradisi turun-temurun pada. Kecurangan yang dilakukan untuk menjatuhkan orang lain, kebohongan yang diciptakan untuk mengelabui orang lain agar apa yang direncanakannya berjalan dengan mulus.

    Bila ada manusia yang menerapkan kejujuran dalam kehidupannya, maka seiring itulah orang lain akan menjatuhkannya kembali. Orang tidak lagi menyukai kejujuran yang ditampilkan ke permukaan. Kejujuran seakan menjadi penghalang bagi tujuan-tujuan yang tidak baik dalam kehidupan manusia. Cerpen yang berjudul “Tumbal” (hal 7) dalam cerita ini Aliya menggambarkan tentang kejujuran yang tidak disenangi lagi oleh orang lain. Tokoh yang bernama Man (baca; Rahman) adalah seorang pemuda pekerja keras. Ia bekerja di sebuah perusahaan sebagai cleaning servis. Man menjadi tulang punggung keluarganya. Ayahnya menderita kelumpuhan sehingga tidak dapat lagi untuk bekerja. Ibunya mengurus ayah dan dua orang adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Man berusaha untuk mencintai pekerjaannya. Ia bekerja dengan giat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Meskipun di perusahaan tempat ia bekerja, ia mendapatkan perlakuan yang kurang baik; dari teman seprofesi maupun dari karyawan di perusahaan itu.

    Dalam dunia pekerjaan, seringkali terjadi kecurangan dan kebohongan. Untuk menyelamatkan diri sendiri, banyak orang yang melakukan perbuatan tercela itu. Orang tidak lagi memikirkan dampak dari perbuatan tersebut. Tidak lagi memikirkan dosa yang akan dipertanggung-jawabkan di akhirat kelak. Ketika Man bekerja di perusahaan itu, ia seringkali melihat kecurangan dan kebohongan tersebut. Rekan kerjanya contohnya, mereka akan bekerja dengan sungguh-sungguh apabila ada atasan mereka di kantor. Ketika atasan sudah tidak ada, maka mereka kembali berleha-leha bekerja sambil main handphone; facebook, twitter, dan lain sebagainya. Kecurangan yang diperbuat teman-temannya itu ditanggung Man. Man bekerja dari hati dan tidak ingin berlaku curang dalam pekerjaan itu. Akibat dari kecurangan yang dilakukan rekan kerjanya, Man menanggung pekerjaan itu sendiri.

    Ketika pekerjaan itu menguntungkan bagi mereka, rekan kerja Man berusaha untuk bekerja secara profesional. Seakan-akan betul-betul profesional dalam bekerja. Umpama, ketika atasan memberikan iming-iming untuk menaikkan honor jika mereka bekerja dengan efektif dan efisien.

    Suatu hari Man dihadapi ujian dari sikap jujurnya selama bekerja. Sewaktu jam kerja di kantor itu berakhir, Man membersihkan ruangan karyawan. Ketika itu Man menemukan sebuah HP canggih. Dalam ruangan itu tidak ada seorang pun. Kemudian ia membawa HP itu pulang ke rumah dengan perasaan gelisah.

    Ujian Man sangat berat sekali. Ayahnya sakit parah. Harus dibawa ke rumah sakit untuk di operasi. Orangtua Man tidak memiliki uang untuk biaya pengobatan itu. HP yang ditemukan Man bila dijual bisa untuk membawa ayahnya ke rumah sakit. Dalam dilema seperti itu, Man menceritakan pada ibunya tentang barang yang ditemukannya itu. Ibunya menasehatinya dalam keadaan apapun kita harus menanamkan kejujuran dalam kehidupan.

    Keesok harinya Man mengembalikan HP itu. Akan tetapi Man menitipkan-nya pada seorang karyawan di kantor itu. Man tidak menyangka kalau karyawan itu akan mencelakai dirinya. HP itu tidak dikembalikan pada pemiliknya. Akibat dari itu Man dituduh telah mencuri HP tersebut sehingga ia dipecat secara tidak hormat dari perusahaan.

    Begitulah fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Kejujuran dipertentangkan bahkan dilawan dengan kebohongan. Kejujuran tidak mendapatkan tempat yang baik untuk berkembang. Aliya Nurlela melukiskan fenomena itu dengan cerita yang mengharukan dan membuat pembaca tersadar akan pentingnya kejujuran dalam kehidupan ini. Tidak jauh berbeda dengan kisah cerita yang lain dalam buku ini. Dalam cerita “Tulah” (hal 17). Seorang laki-laki yang ingin membalas dendam pada laki-laki lain yang telah memanfaatkan adik perempuannya. Yanto merasa tak tega melihat perlakuan Bayu pada adiknya. Ia berusaha untuk membalas perlakuan licik yang diperbuat Bayu pada adiknya itu.

    Misi balas dendam Yanto pun terlaksana dengan baik. Ia telah bisa membalas dan mengembalikan uang adiknya yang telah dimanfaatkan Bayu. Namun apa yang dilakukannya mendapatkan pertentangan dari adiknya. Adiknya mengatakan kalau Yanto sama halnya dengan bayu; Penipu. Seharusnya Yanto tidak membalas kecurangan dan kebohongan Bayu dengan kebohongan pula.

    Nilai kejujuran dalam cerita ini sangat ditekankan. Bahkan ketika kita merasa terzalimi pun, harus berlaku baik terhadap pelaku. Dalam ajaran Islam dianjurkan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Setiap kesalahan bisa dimaafkan. Meskipun orang yang berbuat salah itu tidak meminta maaf pada kita. Kita harus tetap menjaga hakikat kejujuran, jangan digantikan dengan dendam, sehingga kita sama halnya dengan melakukan perbuatan tercela yang dilakukan orang lain pada kita.

    Di cerita lain, Aliya juga menggambarkan dampak dari prilaku tercela itu. Dalam cerita “Kabar Kematian” (hal 33), diceritakan bahwa seorang lelaki yang suka berkata bohong dan berlaku curang terhadap orang lain. Suka memakan harta orang lain. Suka membuat orang lain menderita. Sarno seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan mantan wanita penghibur. Dalam kehidupannya, Sarno mencari rezeki dengan cara yang tidak baik; haram. Ia suka mencuri dan menipu orang lain. Sehingga nasib naas pun ia terima. Sarno dikeroyok pemuda-pemuda desa akibat perbuatan yang dilakukannya berulangkali itu.

    Dalam cerita Kabar kematian ini, Aliya juga dengan jelas menggambarkan bagaimana ketika prilaku tidak terpuji itu seringkali dilakukan dalam kehidupan. Setiap perbuatan akan mendapatkan balasan. Cepat atau lambat, setiap perbuatan akan terbalaskan juga. Tidak di dunia di akhirat kelak pasti.

    Dan pada akhirnya, kejujuran-lah yang sejati. Kejujuran akan membawa kebaikan dan keberkahan dalam kehidupan. Seperti cerita “Suara Hati Sarta” (hal 115). Sarta melihat kecurangan dan kebohongan sudah merajalela di desa tempat tinggalnya. Desa yang dulu makmur berubah menjadi kericuhan karena pemilihan Kepala Desa yang tidak sehat. Masyarakat yang dulunya rukun dan damai sudah terpecah karena mendukung calon kandidat masing-masing. Sarta tak sanggup melihat kenyataan itu, sehingga ia memilih pergi meninggalkan desa hanya untuk mempertahankan prinsip dan kejujurannya sebagai seorang manusia. Sarta mempertahankan kejujurannya dengan cara menjauhi orang-orang yang berbuat curang dalam urusan dunia mereka.

    *) Penulis Mahasiwa STAI-PIQ Sumbar. Bergiat di Komunitas Rumahkayu
    DITERBITKAN HARIAN SINGGALANG, 2 MEI 2015
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Hakikat Kejujuran dalam Sepucuk Surat Beku di Jendela Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top