• Info Terkini

    Sunday, May 3, 2015

    Hilangnya Kedamaian

    Judul: Sepucuk Surat Beku di Jendela
    Penulis: Aliya Nurlela
    Penerbit: FAM Publishing
    Terbit: Februari 2015
    Tebal: 152 halaman; 14 x 20 cm
    ISBN: 978-602-335-008-7
    Peresensi: Deski Ramanda

    Buku kumpulan cerpen ini adalah bentuk sumbangsih penulis terhadap generasi muda. Kisah yang terdapat di dalamnya banyak bercerita tentang realita kehidupan generasi muda. Betapa banyak pemuda yang terlena oleh kecanggihan ilmu dan teknologi. Mereka lebih tertarik dengan dunia maya yang akhirnya membawa mereka ke lembah kehancuran. Seperti halnya facebook penyebab kehancuran sebagian orang.

    Salah satu kisah dalam buku ini tentang seorang gadis yang dipermainkan oleh lelaki kenalannya lewat facebook. Lelaki tersebut adalah Bayu. Gadis yang bernama Nirna tidak pernah bertemu dengan Bayu sekalipun. Namun, karena kebodohan Nirna dia mau saja diperas oleh Bayu yang selalu dijanjikannya dengan sesuatu yang menarik hati Nirna. Seiring berjalannya waktu, lelaki yang bernama Bayu meninggalkan Nina begitu saja. Tentu saja hati Nirna terluka.

    Sebagai seorang kakak, Yanto tidak terima atas perlakuan Bayu pada adiknya. Akhirnya dia juga membalas perlakuan Bayu dengan hal yang sama. Cara yang dilakukan Yanto adalah dengan menyamar sebagai seorang perempuan. Dia memperlakukan Bayu persis seperti apa yang dilakukan Bayu pada adiknya. Yaitu mempermainkan Bayu dengan menjanjikan sesuatu yang menarik hati Bayu. Dan akhirnya uang Nirna dapat terkembalikan. Ternyata cara yang dilakukan oleh Yanto tidaklah ampuh untuk mengobati hati adiknya. Justru membuat Nirrna marah pada kakaknya. Nirna menganggap kakaknya sama kejamnya dengan Bayu. (hal. 23).

    Lain lagi ceritanya dengan gadis desa yang lugu. Seorang gadis yang hobi bernyanyi dan bersenandung di mana saja. Karena hobinya itu belum tersalurkan dengan baik maka ia bergabung dengan grup musik sesuai saran orang di sekitarnya. Setelah mengikuti latihan beberapa kali, kemampuan dalam bernyanyi gadis tersebut sudah mulai ada peningkatan. Sekarang ia sudah bisa manggung. Awalnya ia masih manggung dengan busananya seperti sediakala. Namun, semakin hari penggemarnya semakin banyak. Maka Liz seorang penyanyi senior di grup tersebut menyarankan untuk mengganti busana dengan busana yang tren saat ini. Dia pun mengikuti saran Liz. Ternyata apa yang terjadi? Akhirnya Liz menyuruh gadis tersebut untuk menghibur penonton kelas khusus dengan manggung tanpa busana. Nauzhubillah. Untung saja iman masih ada di dadanya sehingga ia meninggalkan pekerjaan tersebut karena bertentangan dengan nuraninya. (hal. 49).

    Dalam kehidupan para remaja banyak kita temukan kasus di antara mereka yang terjatuh ke lembah kehancuran. Semua itu berawal dari teknologi yang semakin hari semakin maju dan canggih. Jangan salahkan teknologi yang semakin berkembang tapi kitalah penyebabnya. Banyak hal positif  yang dapat kita ambil dari teknologi seperti facebook jika kita pandai  menggunakannya.

    Buku ini tak hanya berkisah seputar kehidupan para remaja. Masalah yang akhir-akhir ini muncul akibat pergolakan politik juga ada di dalamnya. Di antara masalah tersebut ialah menepisnya kerukunan akibat demokrasi. Kedamaian mulai diketepikan karena mengagung-agungkan kelompok tertentu. Hanya gara-gara dalam menentukan pilihan perceraian kerap terjadi. Kerukunan antar bertetangga mulai renggang. Semuanya karena terlalu fanatik terhadap pilihan masing-masing. Hanya kita saja yang benar sedangkan yang  lainnya salah menurut pandangan kita.

    Persepsi yang seperti adalah persepsi yang salah. Boleh saja kita menentukan pilihan masing-masing. Tapi jangan pernah menyalahkan pilihan orang lain. Setiap orang punya hak dalam menentukan pilihannya. Satu hal yang perlu kita perhatikan dalam memilih calon pemimpin ialah sikap yang selektif. Belum tentu pilihan itu baik. Oleh karena itu dibutuhkan kecerdasan dalam memilih calon pemimpin. Kasus ini semakin bertambah saja setiap perhelatan demokrasi digelar.

    Penulis buku ini berusaha untuk memecahkan masalah yang seperti ini. Dengan cara menuangkan idenya ke dalam bentuk cerita. Agar pembaca bisa mengambil hikmahnya. Sangat disayangkan jika kerukunan hilang akibat demokrasi. Padahal tujuan demokrasi tersebut bukanlah itu. Justru dengan adanya demokrasi kerukunan semakin meningkat.  

    Kisah-kisah di dalam buku ini cukup membangun dan mendidik sehingga buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja terutama para remaja. Dengan membaca buku ini akan membuat pembaca terbuai oleh permainan estetika, tetapi banyak-banyak pesan-pesan yang mengandung hikmah di setiap ceritanya. (*)

    Diterbitkan di Harian Singgalang edisi Minggu, 3 Mei 2015


    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Hilangnya Kedamaian Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top