• Info Terkini

    Thursday, May 21, 2015

    Membaca Wajah Budaya dan Realitas Sosial

    Judul buku: Fesbuk (Kumpulan Cerpen)
    Penulis: Muhammad Subhan & Aliya Nurlela
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: I, November 2014
    Tebal: 119 halaman
    Resensiator: Eko Prasetyo (Peneliti pada Bina Qolam Indonesia)


    Membaca kebudayaan berarti membaca sistem nilai dan sistem makna yang dipakai pelakunya dalam memaknai hidup. Teori-teori besar budaya membaca sebuah kebudayaan sebagai sistem makna dan pemahaman arti dalam sebuah a system of beliefs dan laku hidup para pelakunya untuk terus menghayati hidup dalam survival dan menuju good life individual maupun kolektif.

    Dalam dekade ini, kesadaran akan keberagaman kebudayaan semakin berkembang. Menurut Mudji Sutrisno (2014: 10), hal tersebut harus meliputi beberapa tahap proses membaca kebudayaan itu sendiri. Pertama, pada sumber-sumber dan oasisnya, kebudayaan diungkapkan dalam kamus yang menuliskan dan mewacanakan realitas dunia tempat manusia hidup dan merajut kebudayaannya. Tahap ini menuntut pembacaan budaya dari bahasa logis ke tulis serta simbolis, semiotis.

    Kedua, kebudayaan oleh masyarakat pendukungnya diungkapkan dan ditradisikan melalui peribahasa, tradisi dongeng kebijaksanaan, mitos, ritual, simbol, ingatan-ingatan kolektif, adat kebiasaan dan bahasa tanda, serta salam penghormatan. Membaca kebudayaan tahap kedua ini membutuhkan pemahaman dan pengenalan yang tidak hanya rasional, tapi juga intuitif untuk masuk dan mencoba memahami epistemnya (local knowledge). Ketiga, kebudayaan dimantapkan dalam sistem organisasi masyarakat yang meliputi pengaturan hidup bersama agar saling damai dan menghormati. Keempat, menuliskan gambaran kebudayaan itu melalui sastra (Sutrisno, 2014: 10).

    Buku kumpulan cerpen Fesbuk karya Muhammad Subhan dan Aliya Nurlela ini memperlihatkan tahapan teori membaca kebudayaan tersebut, terutama yang keempat. Keduanya mencoba menggambarkan dengan lugas bagaimana masyarakat menjalani sebuah era budaya yang kental akan kecanggihan teknologi digital seperti sekarang ini.

    Buku ini merangkum 12 cerpen terbaik dari kedua penulis ini. Potret sosial yang lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia amat kental dalam tiap cerpen. Dalam cerpen “Suatu Hari di Masjid Rumah Sakit”, misalnya, sang cerpenis (Aliya Nurlela) mengisahkan bagaimana tokoh utama bernama Bima yang dilanda kesulitan biaya pengobatan rumah sakit atas istrinya yang sakit. Hingga akhirnya ia bertemu seorang petugas kebersihan RS yang memberikan nasihat sangat baik tentang bagaimana semestinya menghadapi kesulitan hidup (hal. 35). Pesan moralnya, cerita sederhana yang lekat dengan kondisi realitas kaum marginal ini mencoba mendorong siapa saja untuk tetap tegar menghadapi masalah tanpa alpa meminta pertolongan-Nya.

    Nuansa adat dan kearifan lokal juga kuat dalam buku ini. Misalnya, “Cerita Tentang Senja di Pantai Padang”, “Kupu-Kupu di Ruang Tamu”, dan “Lelaki Majnun”, yang semuanya ditulis Muhammad Subhan. Sebagai seorang penulis berdarah Aceh-Minang, Muhammad Subhan dikenal akan karya-karyanya yang mengilustrasikan keindahan Sumatera melalui simbol-simbol budaya yang kuat. Hal itu tercermin dalam “Cerita Tentang Senja di Pantai Padang”, yang ingin meyakinkan pembaca akan “surga lain” yang tergambar dalam lereng Gunung Padang dan Pantai Muara Padang (hal. 41-43).

    Buku Fesbuk ini menjadi unik karena perbedaan karakter yang kuat di tiap karya kedua cerpenis. Di satu sisi, Aliya Nurlela banyak menyodorkan realitas sosial yang lebih banyak berpihak pada kaum marginal dan mereka yang tertindas oleh kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat. Di sisi lain, cerita roman, keindahan alam, dan dentum imajinasi liar tentang sebuah kondisi budaya terkemas apik dalam cerpen-cerpen Muhammad Subhan. Hal ini menjadikan pembaca dapat merasakan kepahitan, duka, sekaligus rasa syukur mendalam serta kebahagiaan dalam satu waktu secara bersamaan saat membaca lembar demi lembar cerpen di buku ini.

    Ketika bangsa kita tengah menghadapi berbagai persoalan yang berpotensi mendegradasi aspek moral, di situlah dibutuhkan fondasi yang kuat dari budaya masyarakat kita yang mengedepankan kearifan lokal. Pesan inilah yang terkandung dalam buku ini. Sebuah karya yang perlu dibaca oleh siapa pun yang peduli akan budaya dan sosial masyarakat yang ikut membangun moralitas bangsa. (*)

    Diterbitkan di:
    KORAN MADURA EDISI JUMAT, 8 MEI 2015
    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Membaca Wajah Budaya dan Realitas Sosial Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top