• Info Terkini

    Tuesday, May 12, 2015

    Sulaiman Juned: “Inspirasi Itu Harus Direbut, Bukan Ditunggu”

    Sulaiman Juned
    Pengantar Redaksi:Minggu, 15 Maret 2015, FAM Indonesia mengadakan Seminar Online bersama Penyair Aceh, Sulaiman Juned, di grup FAM Indonesia. Tema seminar seputar proses kreatif. Berikut rangkuman seminar tersebut.

    ***

    Moderator: Assalamualaikum, Pak Sulaiman Juned, apa kabar Anda malam ini? Selamat datang di Seminar Online FAM Indonesia.

    Sulaiman Juned: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah kabar baik. Terima kasih telah berkenan mengundang saya. Salam kreatif.

    Moderator: Alhamdulillah. Terima kasih kembali sudah berkenan menjadi narasumber FAM Indonesia. Cerita pembuka, sejak kapan Anda berminat jadi penulis (penyair)?

    Sulaiman Juned; Alhamdulillah. Sama-sama. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun karya mulai dimuat media sejak kelas 1 SMP.

    Moderator: Kabarnya, Anda terinspirasi jadi penulis karena motivasi dari seorang guru di sekolah. Benarkah?

    Sulaiman Juned: Benar. Seorang Guru bernama Siti Aisyah di SMP Negeri 3 Takengon, Aceh Tengah.

    Moderator: Motivasi seperti apa yang diberikan guru tersebut sehingga Anda tertarik di dunia tulis menulis?

    Sulaiman Juned: Ibu guru sering berdiskusi dengan saya tentang puisi setelah beliau tahu saya suka menulis puisi. Saya diberikan alamat koran dan majalah yang memiliki ruang sastra dan budaya, beliau meminta saya mengirim puisi terssbut ke media.

    Moderator: Motivasi yang luar biasa. Apakah setelah itu Anda bersemangat menulis puisi dan langsung mengirim ke koran? Berapa kali pengiriman puisi itu baru dimuat dan berapa kali mengalami penolakan?

    Sulaiman Juned: Tentu. Puisi sudah sejak SD saya tulis. Lalu saya kirim puisi tersebut ke koran. Hahaha. Lama sekali baru dimuat, setahun lebih saya menunggu.

    Moderator: Wah, lama sekali pemuatannya. Apakah sempat terpikir untuk mundur menulis puisi?

    Sulaiman Juned: Lima puluh kali kurang lebih saya mengirim terus. Hahaha... lama ya lama. Setelah setahun lebih tidak dimuat memang pernah berkekeinginan tidak melanjutkan untuk menulis. Sepertinya saya tidak tepat jadi penulis.

    Moderator: Luar biasa. 50 kali mengirim ke koran. Baru terbit. Betul-betul dibutuhkan kesabaran ya untuk jadi penulis? Apa kiat yang Anda lakukan untuk terus istiqamah menulis (puisi)?

    Sulaiman Juned: Guru ikut menyakinkan saya, puisimu bagus, saya yakin dimuat. Sabar saja. Itu yang menguatkan saya ditambah ibu dan abi saya mendukung.

    Rahmy Kurniawaty D'slow: Pak Sulaiman Juned, saya pengen nanya, bagaimana cara memulai lagi menulis setelah lama tidak menulis. Setiap saya akan menulis selalu buntu di sana saya merasa kesulitan.

    Sulaiman Juned: Ide/gagasan selalu ada dalam diri kita, lingkungan kita maka rebutlah ide yang berserakan di realitas sosial itu. Lalu tulis.

    Firdaus Abie: Kanda Sulaiman Juned, gimana cara menjaga motivasi, sekalipun sudah sering mengirimkan naskah (50 naskah) baru dimuat setelah setahun.

    Sulaiman Juned: Setelah 50 naskah baru dimuat secara berturut-turut hampir tiap minggu, jadi saya semakin termotivasi.

    Andi Hajar Bismillah: Menurut Bapak, selain semangat hal apa lagi yang dibutuhkan seseorang untuk menulis?

    Sulaiman Juned: Slain semangat, ya kemauan serta rajin membaca karya orang lain. Namun ketika menulis jangan ada karya orang lain di pikiran kita.

    Moderator: Di awal-awal menulis, tema-tema seperti apa yang Anda tulis dalam puisi-puisi Anda?

    Sulaiman Juned: Masa itu cenderung tema alam, dan kasih sayang. Terbawa usia masa remaja.

    Andi Hajar: Bisa Bapak kasih sedikit saran bagaimana caranya untuk kita bisa menulis dengan gaya kita sendiri? Karena saya terkadang menulis sesuatu terpaku dengan apa yang baru saya baca.

    Sulaiman Juned: Pilihan diksi dalam menulis puisi menjadi khas kita. Jadi kuasailah kosa kata agar kita dapat menuangkan pikiran dengan gaya kita menulis.

    Muqoddasah: Menurut bapak, kapan saja waktu yang mudah untuk menulis?

    Sulaiman Juned: Waktu yang paling nyaman menulis seusai shalat subuh. Sampai sekarang masih saya lakukan setiap hari. Ya setiap hari, rutin. Buat saya menulis adalah pekerjaan. Saya menjadi PNS sebagai dosen boleh saja pensiun jika sudah sampai masanya. Namun jadi penulis tidak ada kata pensiun. Pensiun jika sudah almarhum. Itu salah satu motivasinya.

    Moderator: Anda lebih suka disebut "Penyair", sementara Anda adalah dosen teater di sebuah kampus seni di Padangpanjang dan juga seorang PNS. Apakah ada "kepuasan" tersendiri bagi Anda ketika menjadi "Penyair"? Apakah puisi menjadi media ekspresi diri Anda, khususnya dalam menyikapi berbagai keadaan yang sedang terjadi?

    Sulaiman Juned: Ya. Saya mulai dikenal sebagai penulis karena saya penyair. Puisilah yang mengantar saya keliling Indonesia dan Nusantara, termasuk ke luar negeri. Puisi juga mampu menjadi media transformasi moral selain teater. Puisi dapat memerdekakan ruang berpikir saya.

    Lestari: Lalu jika kita merasa patah semangat di tengah jalan ketika sudah membuat karya bagaimana mengatasinya?

    Sulaiman Juned: Kenapa mesti patah semangat. Kenapa? Teruslah menulis menuangkan pikir.

    Santy Sanjaya: Bbagaimana cara jitu untuk mendapat kan inspirasi ketika menulis?

    Sulaiman Juned: Inspirasi itu harus kita rebut bukan kita tunggu. Inspirasi itu ada dalam diri kita, lingkungan. Kita memiliki pengalaman pribadi, pengalaman pahit, senang, sakit, sedih dan lain-lain adalah realitas sosial yang ada dalam diri dan itulah yang kita jadikan realitas sastra ketika jadi karya sastra.

    Firdaus Abie: Ada pameo; menulis puisi lebih sulit darioasa menulis cerpen. Kenapa?

    Sulaiman Juned: Barangkali dalam memilih diksi dan merangkainya serta mengekonomiskan kata itu yang bagi pemula sering merasa sulit. Makanya kauasailah kosa kata agar pilihan diksi dalam menulis puisi menjadi tepat dan berkualitas.

    Win Ansar: Bagaimana cara kita menulis yang baik menyusun kata-katanya, sehingga saat kita atau orang yang membaca dapat masuk dalam suasana tulisan kita?

    Sulaiman Juned: Biasanya untuk pemula mulailah dengan jembatan keledai: pilih tema, point of view, alurnya seperti apa? Konfliknya, klimaks, memilih setting dan karakter penokohan yang telah kita susun. Lalu tulislah apa yang sedang kita pikirkan. Lalu jika sudah selesai minta rekan, teman untuk membacanya dan mintai untuk memberi masukan. Lalu baca ulang lakukan revisi. Untuk cerpen dan novel seimbangkanlah antara narasi dengan dialog agar terasa menarik.


    Moderator: Selain menulis puisi, Anda juga dikenal sebagai pembaca puisi yang baik dan cukup menghayati puisi-puisi yang Anda baca. Apa kiatnya?

    Sulaiman Juned: Membaca puisi butuh latihan. Ada latihan olah vokal, latihan olah tubuh agar antara tubuh dan vokal menyatu. Penguasan pentas dan mampu menganalisis teks puisi melalui analisis strutural minimal sehingga kita paham benar makna dari yang ingin disampaikan penyairnya. Jika itu semua telah kita padukan barulah dapat menjadi pembaca puisi yang baik.

    Ikhwan Fahri: Kenapa pekerjaan menulis di negara ini tidak bisa diutamakan sebagai mata pencarian hanya bisa dijadikan sampingan. Padahal kita tahu bahwa di Amerika menulis bisa jadi mata pencarian

    Sulaiman Juned: Hahaha... saya kira tidak juga. Di negara ini saya kira penulis perempuan dan laki-laki berimbang.

    Fitri Andriana: Bagaimana menyikapi naik-turunnya semangat kita untuk terus nulis pak?

    Sulaiman Juned: Dengan membaca alam, membaca diri dan membaca lingkungan juga buku. Lalu gagasan direbut agar muncul semangat baru untuk menulis.

    Mawardah: Saya kan mengambil jurusan sastra Indonesia. Namun, saya masih ragu dengan jurusan yang saya ambil, sebab lingkungan di sekitar saya tidak mendukung, baik itu teman satu jurusan maupun tidak. Saya mencoba untuk terus ingin mengembangkan kreatifitas sastra saya yang telah ada, tapi itu terus saja tidak berkembang. Jadi yang saya tanyakan, bagaiman cara untuk menerima situasi yang seperti itu, dan tetap saya berkarya?

    Sulaiman Juned: Mengapa kita harus cemaskan dengan lingkungan tidak mau menerima kita? Jika Anda yakin dengan pilihan menjadi sastrawan maka teruskanlah. Yakinlah itu pilihan terbaik, hanya kita yang mampu memahami diri kita sendiri. Berterimakasih kepada diri sendiri agar bisa berbuat lebih baik.

    Ikhwan Fahri: Bapak memang sudah profesional dalam hal menulis bagaimana
    untuk yang pemula? Kalau hanya menggantungkan hidup dengan cara menulis bagi saya itu sangat sulit Pak, apa lagi saya masih pemula pak.

    Sulaiman Juned: Sebelum profesional kan saya juga pemula. Itu semua proses. Teruslah menulis, teruslah berproses, jika memiliki keyakinan insyaallah akan tercapai.

    Suryadi Pebriyari Putra: Dengan menulis saya merasa lebih hidup. Saya tidak peduli berapa rupiah yang akan saya dapat dari menulis. Tapi ada kepuasan batin tersendiri ketika tulisan kita dibaca dan diapresiasi oleh pembaca. Saya menulis kurang lebih 100 puisi pak, tapi saya gak tau cara menerbitkannya. Semoga suatu hari akan tiba masanya ya pak?

    Sulaiman Juned: Sepakat. Awalnya saya juga seperti Anda. Tidak pernah terpikir mau diterbitkan atau tidak, namun itulah proses kreatif yang akhirnya banyak penerbit siap menerbitkan karya kita. Selamat terhadap karya puisinya, cara menerbitkannya serahkan saja kepada FAM Pubhlishing. Selesai kan? Hahaha. Karya saya ditolak lebih dari lima puluh kali. Saya menunggu setahun lebih baru puisi saya dimuat oleh koran. Hehehe... tak jadi masalah.

    Moderator: Pak Sulaiman Juned, pertanyaan terakhir dari moderator, apa pesan dan nasihat Anda untuk pemula agar mereka tidak mudah jenuh menulis dan terus menulis meski memilih profesi/pekerjaan yang bukan penulis?

    Sulaiman Juned: Baca. Baca. Baca lalu tulislah! Salam kreatif!

    Moderator: Alhamdulillah, Seminar Online Proses Kreatif dengan Pembicara Pak Sulaiman Juned (Aceh) telah berakhir. Seminar yang menarik, berlangsung selama dua jam. Namun sayang, dengan berat hati Moderator harus menutup sesi ini dan Admin FAM Indonesia akan menghapus hasil diskusi 10 menit kemudian untuk diarsipkan di website FAM Indonesia.

    FAM Indonesia mengucapkan terima kasih kepada nara sumber, para peserta yang bertanya, serta para penyimak lainnya di berbagai kota dan negara. Diskusi ini akan menjadi “menu wajib” FAM Indonesia. Tunggu sesi diskusi berikutnya dengan para pembicara lainnya.

    Salam santun, salam karya!

    MODERATOR
    www.famindonesia.com

    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sulaiman Juned: “Inspirasi Itu Harus Direbut, Bukan Ditunggu” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top