• Info Terkini

    Friday, May 1, 2015

    Ulasan Cerpen "Choco Papa" Karya Brillian Eka Wahyudi (FAMili Jakarta)

    ilustrasi: pixabay.com
    Siapa tidak suka cokelat? Hampir semua orang di dunia ini suka cokelat. Setuju? Begitupun Danial, tokoh dalam cerpen ini. Ayahnya yang menjadi single parent pintar memasak. Setiap pagi, ketika berangkat kerja ke bandara (sebagai staf salah satu maskapai penerbangan). Danial selalu dibekali makanan, salah satunya adalah Choco Papa, yakni roti bakar cokelat buatan ayahnya. Di satu kesempatan, ia berkenalan dengan seorang ketua kru kabin bernama Cik Shazana. Mereka menjadi dekat berkat Danial membagi Choco Papa untuk dimakan berdua.

    Cerpen ini sederhana. Dan hanya menyampaikan satu pesan: bahwa cokelat dapat menghilangkan stress. Siapa tidak setuju? Namun ada beberapa koreksi dari Tim FAM menyoal EYD. Penulisan "nggak", "kok", "gini", serta kata-kata yang bukan bahasa baku, sebaiknya diketik dengan huruf miring. Kemudian "kan", "lagipula", "shalat", "mushola", "coklat", yang benar: "'kan" (dengan apostrof ( ' )--karena bukan merupakan kata dasar, jadi tidak bisa berdiri sendiri), "lagi pula", "salat", "mushala", "cokelat".

    Penggunaan tanda baca, terutama tanda titik dan koma, dalam tulisan ini masih banyak yang kurang tepat. Beberapa kalimat yang seharusnya disudahi dengan tanda titik, namun tidak. Sebaliknya, ada beberapa bagian yang mestinya dibubuhi tanda koma (misal sebelum kata "meskipun", atau sesudah kalimat yang dimulai dengan kata "meskipun"), nyatanya malah tidak. Ke depan diharap penulis lebih memerhatikan ini.

    Terakhir, penulisan kata panggilan "ayah" sebagai subjek yang benar diawali dengan huruf kapital, yakni "Ayah". Beda dengan kata panggilan objek atau yang menunjukkan kepemilikan (baik pada benda mati atau menyebut posisi/kedudukan seseorang dalam hubungan dengan narator), boleh diawali dengan huruf kecil, seperti "ayahku", "ayah Budi", dan sebagainya.

    Salam santun, salam karya!

    Tim FAM Indonesia

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    CHOCO PAPA

    Oleh Brillian Eka Wahyudi (IDFAM3341U)

    Tik…tok…tik…tok…

    Jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam. Aku bersiap untuk tidur setelah merapikan perlengkapanku untuk bekerja esok hari. Sebenarnya aku masih merasa kurang puas dengan libur dua hari yang telah berlalu itu. Namun, demi menyambung hidup, aku memaksakan diri untuk selalu siap sedia bila esok hari sudah waktunya masuk kerja.

    Sebenarnya aku sudah diingatkan oleh ayahku, Idzhar Wahyudi, untuk tidur sejak pukul delapan tadi seusai makan malam. Hanya saja mata ini sepertinya belum bisa terpejam meskipun sudah berbaring sambil menghitung domba seperti yang masyhur dikatakan itu.

    Namaku Danial Brillianov. Kata banyak orang namaku unik seperti nama orang Rusia. Ayah dan ibuku yang bersepakat menamaiku seperti itu karena aku lahir di kota Saint Petersburg, Rusia, tepat pada dua puluh satu tahun silam. Pada masa itu, ayah masih bertugas sebagai staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia di kota itu. Kini ayahku sudah pensiun dan memutuskan untuk mengurus putra putrinya selepas wafatnya ibuku dua tahun silam.

    Aku sendiri sudah bekerja sebagai staf di suatu maskapai penerbangan asing asal negeri Jiran sejak tiga tahun lalu. Sehari-harinya aku bertugas sebagai koordinator penerbangan (flight coordinator) yang bertugas mengatur dan mengawasi persiapan keberangkatan pesawat. Maka hari-hariku sekarang diisi dengan bekerja membantu keuangan keluarga dan berusaha hidup mandiri. Sesekali bila ada waktu senggang, aku biasa menulis dan mengembangkan kemampuanku itu yang kini telah berhasil menerbitkan tiga buah judul buku.

    Waktu terus berjalan dan kini sudah berlalu tiga puluh menit. Aku masih merasa malas untuk memulai pekerjaan esok hari. Aku mengerti perasaan ini kurang baik namun mengalahkan rasa malas itu sepertinya lebih sulit daripada menyelesaikan soal Matematika seratus soal. Meskipun belum sepenuhnya ingin tidur, namun rasa kantuk kian menggelayut sampai akhirnya kelopak mata mengendurkan dirinya. Aku tenggelam dalam buaian mimpi.

    Krrriiiinnggg… Alarm dari ponselku berbunyi nyaring ketika angka jam sudah menyatakan pukul 01:00. Sambil mengucek mata, aku terbangun dan merapikan tempat tidurku. Sambil mengucek mata, aku bersiap untuk mandi. Jadwal kerja hari ini dimulai pukul tiga pagi sebab penerbangan pertama ke Kuala Lumpur yang aku tangani berangkat pukul 04:40 WIB.

    Batinku menelisik kenapa pada pagi buta seperti ini sudah terdengar suara bising dari dapur. Ternyata ayahku yang berada di sana dan mempersiapkan sarapan pagi untukku. Ayahku memang pandai memasak. Dari yang digoreng sampai yang dibakar, juga dari yang berkuah sampai bermacam-macam kue, ayahku bisa membuatnya dan rasanya enak. Dari dapur, ayah melihatku menuju kamar mandi.

    “Nak, kamu sudah bangun? Ayah mengira kamu belum bangun sebab kamu tidurnya lambat. Tak baik begitu, nanti di tempat kerja mengantuk,” ujar ayah.

    “Nggak apa apa, yah. Tidurnya cukup kok. Lagipula kan ada alarm, yah,” jawabku.

    “Ya sudah, mandi sana. Ayah sudah menyiapkan sarapan untuk kamu.”

    “Baik, yah.” Aku menjawab sambil memasuki kamar mandi.

    Selesai mandi dan berpakaian, aku bersegera untuk sarapan. Aku terbiasa makan dahulu sebelum pergi meskipun masih pagi buta dan ketika sudah di tempat kerja, aku tidak lapar dan bisa bekerja dengan baik. Pagi ini ayah memasak nasi goreng untukku. Sedapnya sehingga aku makan dengan lahap sekali. Ketika aku akan berangkat kerja, ayah memberikanku bekal makanan dalam kotak makan berwarna hijau toska.

    “Ini bekalnya. Tadi ayah coba membuat roti isi cokelat tapi bentuknya jadi kayak combro gini. Nggak apa apa ya? Enak kok,” kata ayah sembari meyakinkanku.

    “Iya nggak apa apa yah. Makasih ya yah. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum,” pamitku pada ayah sambil memasukkan bekal itu ke dalam tas. Sejenak kemudian, aku memarkirkan sepeda motor kesayanganku.

    “Wa alaikumussalam. Hati-hati Danial, jangan terburu-buru,”sahut ayah.

    Aku melingkarkan jari telunjuk dan  ibu jari pertanda oke lalu kemudian memacu gas di tengah dinginnya malam yang menggigit.

    Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, aku cepat mempersiapkan peralatan kerjaku dan berkoordinasi dengan unit-unit kerja yang lain. Segalanya kupersiapkan dengan baik untuk meminimalisir komplain.

    Penerbangan yang dijadwalkan berangkat pukul 04:40 pagi ini agak terkendala karena gangguan sistem jaringan komputer sehingga proses pendataan penumpang menjadi sedikit terkendala. Akhirnya penerbangan ini berangkat terlambat alias delay selama dua puluh menit. Hal ini cukup membuat emosiku menjadi tidak terkendali dan rasa kesal begitu membuncah.

    Dalam diam, aku mengeluh, kenapa baru pagi-pagi sudah dapat sial.

    Selepas menyelesaikan pengiriman laporan penerbangan ke Kuala Lumpur, aku menunaikan shalat subuh di mushola lalu bergegas menuju ruang rehat untuk sekadar mengendurkan otot-otot yang tegang. Penerbangan kedua berangkat pada pukul 09:55 pagi dan baru mulai siap-siap pada pukul 07:00. Alhamdulillah satu jam cukup untuk beristirahat.

    Penerbangan hari ini lumayan ramai. Dengan menggunakan pesawat Boeing 737-800 berkapasitas 166 orang, jumlah penumpang dari penerbangan pertama sampai penerbangan keempat diperkirakan sekitar 140-150 orang. Itu artinya pesawat hampir penuh. Kalau keadaannya demikian, sudah pasti kalau pesawat terlambat, komplain penumpang juga pasti banyak.

    Alhamdulillah penerbangan kedua berangkat dengan awal pada pukul 09:50 WIB. Meskipun penerbangan kedua ini berangkat awal namun kalau penumpang penuh tentu kami jadi bekerja ekstra dan aku sendiri juga bekerja semakin berat misalnya mengarahkan penumpang untuk duduk dan membantu mereka meletakkan barang bawaan mereka di tempat penyimpanan. Oleh karena itu, aku merasa sangat lelah dan dalam kondisi seperti ini, aku menjadi mudah marah dan segalanya terasa tidak menyenangkan.

    Belum sempat aku duduk, penerbangan berikutnya dari Kuala Lumpur sudah mendarat. Dengan demikian, aku tidak sempat beristirahat. Meskipun aku sudah merasa lelah, namun aku berusaha untuk tetap bersemangat dan berusaha menangani pesawat dengan sebaik-baiknya. Penerbangan ini merupakan penerbangan ketiga yang berangkat menuju Kuala Lumpur pada pukul 11:10 WIB.

    Rasa lelahku semakin menjadi-jadi ketika Pak Indra, teknisi pesawat, mengabarkan kepadaku bahwa pesawat mengalami gangguan teknis dan perbaikannya memerlukan waktu sekitar satu jam. Dengan demikian, dapat dipastikan penerbangan akan mengalami keterlambatan. Dalam hati, aku hanya bisa mengeluh kenapa hari ini penerbangan begitu berantakan

    Sembari menunggu pengecekan kondisi dan perbaikan pesawat oleh Pak Indra dan Captain Roslan bin Hussin, aku mengabarkan kepada kru kabin pesawat mengenai kerusakan ini. Aku mencoba menyampaikannya secara hati-hati karena sepertinya ketua kru kabin yang namanya LSS Shazana Nurhani binti Shahuzir itu sedang bermuram durja dan sesekali bersungut-sungut. Aku pun baru mengenalnya sebab dia tak banyak datang untuk sektor Kuala Lumpur-Jakarta-Kuala Lumpur. Oh ya, LSS itu singkatan dari Leading Stewardess yang artinya pramugari ketua.

    “Permisi, encik. Saya nak khabarkan kepada encik bahwa kapal ini rosak dan perbaikannya mengambil masa satu jam,” kataku kepada LSS Shazana dengan dialek khas Melayu Malaysia.

    “Alamak, jadi kapal ini delay la ya?” tanyanya memastikan.

    “Iya, betul, encik.” jawabku singkat.

    “Kamu nampak penat. Mari duduk sini,” katanya sembari mempersilakan kepadaku untuk duduk di kursi kelas bisnis di sampingnya.

    Aku berterima kasih kepadanya dan aku menawarinya bekal roti cokelat yang tadi diberikan ayahku. Aku katakan kepadanya bahwa ini buatan ayahku jadi nama makanannya yaitu Choco Papa. Dia bilang roti cokelat buatan ayahku rasanya enak sekali dan ia amat menyukainya. Dari situ, ia semakin akrab denganku. Ia bercerita bahwa putranya yang baru saja berulang tahun di usia tujuh tahun akan ikut perlombaan balap motor cilik se-Malaysia. Terlihat wajahnya berubah menjadi sedikit cerah setelah kami memakan roti cokelat sambil minum teh lemon bersama-sama. Aku pun merasakan agak rileks dan tidak setegang tadi.

    Beberapa saat kemudian, perbaikan pesawat selesai dan hanya memakan waktu sekitar lima puluh menit. Setelah dilakukan pengisian bahan bakar, penumpang dipersilakan masuk pesawat. Pada pukul 11:50 WIB, penerbangan ketiga dari Jakarta ke Lumpur ini diberangkatkan. Diam-diam aku merasa senang juga bisa bersahabat dengan kru kabin beda negara dan itu awalnya dari Choco Papa buatan ayahku.

    Beberapa hari kemudian, ketika aku menangani penerbangan kelima yang dijadwalkan berangkat pada pukul 15:45 WIB, aku bertemu kembali dengan LSS Shazana Nurhani. Dalam pertemuan kali ini, ia tampak ceria. Ia juga memberikanku oleh-oleh dari Malaysia yang ternyata isinya cokelat semua dan bubuk cokelat khas Malaysia. Kalau orang Malaysia bilang bubuk cokelat itu serbuk koko.

    “Wah, senang dapat jumpa kamu lagi, cik Shazana,” kataku dengan sumringah.

    “Ya, laaa. Saya juga. Ini saya bawakan oleh-oleh koko. Saya juga bagi kepada kamu serbuk koko ini untuk buat kek (kue dalam bahasa Melayu-pen.) coklat. Terima kasih beberapa hari lepas kamu sudah bagi saya Choco Papa itu. Sedap sangat laaa itu,” katanya panjang lebar.

    “Iya nanti bila-bila masa kamu datang sini nanti saya bawakan lagi Choco Papa.” Aku pun berusaha menyenangkan dia.

    Sesampainya di rumah, aku langsung menemui ayahku. Aku berikan oleh-oleh serba cokelat itu. Beliau pun menanyakannya dari siapa oleh-oleh itu. Aku jelaskan bahwa itu pemberian dari kawanku dari Malaysia. Aku katakan juga orang itu jadi penggemarnya roti cokelat buatan ayahku alias Choco Papa itu.

    “Wah saking enaknya roti cokelatnya ayah, penyukanya sampai dari Malaysia,” aku berseloroh.

    “Bukan hanya itu, Danial, cokelat itu kan juga bisa membuat hati seseorang menjadi senang. Begitu sih kata penelitian,” kata ayahku.

    Ternyata itulah kenapa rasa kesalku ketika pesawat delay gila-gilaan tempo hari menjadi hilang. Rupanya karena jasa cokelat juga. Cokelatnya Choco Papa. (*)

    Biodata:
    Brillian Eka Wahyudi dilahirkan pada tanggal 6 April 1994 di Kendal, Jawa Tengah. Sehari-harinya penulis bekerja sebagai staf Gapura Angkasa untuk Malaysia Airlines di Bandara Soekarno-Hatta dan sudah tiga karya yang diterbitkannya antara lain Twitopedia Islamika seri benua Asia, Cinta di Ujung Pena, dan Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 2.

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Choco Papa" Karya Brillian Eka Wahyudi (FAMili Jakarta) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top