• Info Terkini

    Wednesday, May 27, 2015

    Ulasan "Cinta dalam Doa" Karya Cintiya Melianasari (Anggota FAM Ponorogo)

    Ridwan bertemu teman lamanya yang bernama Anisa. Pertemuan itu sungguh berkesan karena kini Anisa berubah menjadi muslimah yang baik. Itu membuat Ridwan mulanya senang. Hanya saja, ternyata ia sudah dilamar pemuda lain.

    Namun suatu kejadian membuat pernikahan Anisa batal. Dan, seperti diatur oleh tangan Sang Kuasa, Ridwan-lah yang kemudian menjadi pendamping hidup Anisa. Setidaknya, meski mudah ditebak, cerpen ini memberi pesan positif. Sayangnya, membaca ini membuat kita lelah. Kenapa? Tulisan ini terlalu panjang untuk dibilang sebagai cerpen (19 halaman). Sebenarnya ada banyak karya penulis legendaris, berupa cerpen, yang lebih panjang dari ini. Namun, saran tim FAM agar lebih baik penulis menulis dengan standar panjang naskah antara 4-5 halaman, A4, spasi 1,5. Ini standar umum, khususnya cerpen koran.

    Saran berikutnya adalah jangan bergantung pada editor agar naskah Anda rapi. Kerapian penulis dalam menyuguhkan karya saat dikirim ke media atau perlombaan sangat berpengaruh pada diterima-tidaknya naskah tersebut di meja penilaian. Sayang sekali kalau tulisan kita bagus, namun disajikan tidak rapi sehingga redaktur atau juri lomba bahkan sama sekali tidak menyentuhnya, karena sudah "takut" lebih dulu melihat ketidakrapian naskah Anda. Di sini naskah diketik begitu saja; tiap paragraf tidak diatur rata kiri-kanan. Spasi 1 juga membuatnya semakin terlihat kurang rapi.

    Soal EYD dan tanda baca juga perlu diperhatikan, malah sangat penting. Diharapkan, ke depan penulis mempelajari penggunaan tanda baca, pemakaian huruf kapital dan huruf kecil, serta bentuk kata dasar, kata kerja, keterangan waktu/tempat yang benar sesuai KBBI. Tim FAM menemukan banyak kesalahan dalam hal ini.

    Saran untuk penulis, belajar dan terus belajar. Menulislah setiap hari dan tanamkan keyakinan bahwa sebuah tulisan yang baik tidak sekadar ditentukan dari pesan yang ia bawa, tetapi juga bagaimana tulisan itu disajikan.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    CINTA DALAM DOA
    Oleh Cintiya Melianasari (IDFAM3197S)

    Mendung bertumpuk bagai anak tangga menuju surga firdaus menjadi hiasan indah pagi itu. Kupercepat laju adrenalin, memompa kekuatan kaki menelusuri jalan pedesaan yang jauh lebih baik dari pada kondisi jalan 3 tahun yang lalu, desa ini jauh lebih tertata dibanding ketika aku masih di sini yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan waktu itu. Cercah mentari mulai mengintip dibalik awan tebal, memudarkan warna hitam yang membuat alam gelap. Perlahan cahaya membuat semakin jelas. Kuedarkan pandangan ketika aku berhenti di sebuah jalan menuju belokan ke rumah, jalan kenangan dan di ujung jalan ini ada sebuah rumah, rumah yang dulu begitu sederhana dengan halaman luas yang ditumbuhi pohon mangga dan jambu.

    Kukedipkan mataku beberapa kali serasa kurang percaya dengan apa yang kulihat, tak cukup mengedipkan mata, tanganku kini sudah mengucek mata sampai terasa perih.

    Sosok gadis yang tengah menyapu di halaman yang dulunya hanya tanah berdebu tapi kini sudah berubah menjadi paving merah membuatku meragukan penglihatan yang jelas-jelas masih normal.

    Benarkah gadis itu Anisa ? Gadis tomboy yang biasanya hanya memakai celana pendek selutut, kaos oblong dengan rambut yang diikat asal-asalan? Arti namanya saja perempuan tapi semua sikap dan tingkah lakunya tak seanggun perempuan. Kabar terakhir yang kudengar Anisa memutuskan untuk menjadi TKW ke Taiwan, banyak bisik-bisik yang berhembus jika pulang dari taiwan pastinya rambut Anisa akan berubah merah, celana di atas lutut malah ada yang bilang hanya akan memakai you can see tapi sekarang lihatlah gadis yang tengah menyapu dengan kain jilbab menutup sampai sebagian tubuhnya, rok panjang yang terlihat kebesaran dan wajah berseri yang terlihat begitu anggun. Benarkah itu Anisa ?

    Rasa penasaran membuat tubuhku bergerak tanpa kusadari, sekarang aku sudah berdiri di depan halaman. Wajah gadis itu semakin jelas meski sejak tadi hanya menunduk. Apakah aku salah informasi, Anisa bukan pergi ke Taiwan menjadi TKW melainkan pergi ke pondok pesantren menjadi santriwati dan sekarang bagaimana aku harus menyapanya !!

    " Mas Ridwan !" Suara halus nan lembut itu menyebut namaku.

    Aku sampai tergagap mendengarnya. Bukan saja penampilan yang berubah tapi gaya bicara yang dulu suka berteriak-teriak saat pulang sekolah semasa SMP SMA pun sudah berubah jika dulu mendengarnya membuat telinga sakit tapi sekarang rasanya ingin berpura-pura tuli agar namaku diucap kembali menggunakan suaranya yang merdu itu. Secara refleks, aku mengulurkan tangan tapi Anisa hanya tersenyum. Ah pasti benar Anisa pergi ke pondok pesantren dan bersalaman pun harus bergaya islamiyah dengan cara mendekap tangan di dada.

    " Jika sudah mengenal kenapa harus berjabat tangan lagi !" Suara itu lagi-lagi membuatku salah tingkah. Kenapa jadi terlihat konyol di depan gadis yang masih tetap tenang itu.

    " Apa kamu beneran Anisa ?"

    Dan lagi-lagi pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutku.

    Anisa tersenyum. " Butuh berapa menit untuk Mas Ridwan menyakinkan diri kalau yang mas Ridwan lihat sekarang ini Anisa ? Semoga saja tak selama Bang Toyib meninggalkan anak istrinya."

    Aku terkekeh pelan mendengar ucapannya. " Tidak hanya saja kamu terlihat berbeda sekali. Kudengar kamu menjadi TKW di Taiwan ? Tapi sepertinya berita itu salah pasti kamu pergi ke pondok pesantren ya ?"

    " Memang jika sepulang dari Taiwan lantas berubah seperti ini apakah salah ? Apakah hanya pondok pesantren yang mampu mengubah seseorang ?" Ucapnya masih disertai senyum tipis.

    Beberapa menit aku diam, tak bisa menjawab pertanyaan Anisa, aku merasa bersalah karna telah menghakimi perubahan Anisa, perubahan yang sebenarnya mengarah ke arah yang jauh lebih baik lantas kenapa masih dipertanyakan ?

    " Justru di saat kita berada di tempat yang mayoritas tidak mengenal agama Allah, itu adalah waktu untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Mas Ridwan sendiri bagaimana ? Bukankah mas Ridwan pergi ke korea ?" Lanjut Anisa.

    " iya baru beberapa hari yang lalu pulang. Ya sudah nis, aku pulang dulu tidak enak pagi-pagi sudah mengganggu anak gadis menyapu." selorohku yang ditanggapi senyum tak berlebihan tapi juga tak mengecewakan oleh Anisa.

    Aku berlari menjauh dari sosok itu, melewati jalan kenangan, jalan di mana dulu aku sering menunggu gadis itu pulang sekolah, di mana ia akan berteriak keras "sayonara" kepada teman-temannya, atau sore hari dengan lincahnya ia akan memanjat pohon anggur di pinggir jalan terlalu lincah tetapi daridulu aku suka sekali memperhatikannya. Aku tersenyum mengingat masa remaja gadis itu, gadis yang jauh dari kata anggun tapi sekarang.....

    ***

    Deretan rumah mewah dengan 3 lampu dalam setiap rumah sedang menjadi objek pandangku, finansial penduduk desa ini pun semakin melesat tajam. Dollar memang bentuk uang yang sangat menggiurkan sampai seorang ibu rela meninggalkan anaknya yang masih bayi untuk memburu dollar karna memang faktanya lebih mudah memburu dollar yang jauh daripada rupiah yang dekat. Sah-sah saja jika bekerja di luar negeri yang penting tak melupakan jati diri dan tak melupakan iman seperti yang diucapkan gadis tadi " berada di tempat yang mayoritas tidak mengenal agama Allah, itu adalah waktu untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya ".

    3 tahun lalu aku masih melihatnya saat kelulusan SMA. Berseragam putih dengan coret-coretan pilox memenuhi seragamnya, melihatnya berjingkrak-jingkrak riang. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan sembari membawa ember berisi lumpur, ingin mengucap selamat pun malu karna tangan penuh lumpur hitam. Untuk mengubah hidup dengan cepat tak ada jalan lain selain menjadi TKI ke Korea itu pun kalau beruntung karna jalan yang ditempuh juga tak mudah, harus bersaing dengan ratusan orang, menghafal bahasa yang nanti akan diujikan dan lulus atau tidaknya tergantung nasib karna belajar menghafal seminggu pun tak menjadikan jaminan akan lulus, semua itu masih kalah dengan kata " untung-untungan, bejo-bejoan ".

    " Melamun apa ?" Ucap perempuan yang umurnya hampir kepala 6, semua nasihat halus yang keluar dari hatinya merupakan penyemangat sampai aku bisa berdiri di kedua kakiku dewasa ini.

    " Ndak kok bu. Ridwan cuma lagi mikir orang di desa ini sudah jadi orang kaya semua dulu saja pagarnya dari daun-daunan sekarang sudah pagar besi dengan gembok baja bukannya itu malah jadi pemisah di antara tetangga untuk kehidupan desa Ridwan rasa kurang pas."

    " Yah semakin maju jaman memang membuat tali silaturahmi semakin renggang, dulu saja bisa lihat tetangga sebelah nawarin masakan tapi sekarang lihat samping kanan kiri pada tembok tinggi."

    Rumah Anisa pun juga sudah berbeda, halaman yang dulu penuh tanah debu sudah menjadi paving merah, gaya rumah khas jawa pun sudah hilang berganti rumah dengan dinding berlapis semen di cat warna cream, dinding keramik dan genting berwarna merah. Rumahku sendiri pun seperti itu hasil kerja keras di korea tapi tak sampai berpagar besi, semua itu tak lepas untuk membuat nyaman tidur wanita yang sedang duduk di sampingku, yang telah berjuang keras membesarkanku seorang diri tanpa ada campur tangan seorang ayah. Ayah yang bahkan sudahku lupa garis wajahnya.

    " Yah berpikir positif saja mungkin orang-orang kaya itu takut rumahnya kedatangan maling jadi pagar rumahnya dibuat setinggi mungkin." Ucap ibu sembari menarik kain jarik yang menyelimuti kakinya sampai ke telapak kaki. Malam ini kurasakan angin membawa sedikit rasa yang berbeda.

    " O iya bu tadi Ridwan ketemu Anisa. Anisa anak perempuannya Pak Kharim, dia masuk pesantren ya bu ?" Tanyaku.

    " Anisa anak Pak Kharim ?" Ucap ibu mengulangi pertanyaanku. Aku mengangguk, membenarkan ucapan ibu.

    " Anisa juga baru pulang dari Taiwan kata siapa pulang dari pesantren ?" Tanya ibu balik.

    " Anisa sekarang pakai jilbab, Ridwan pikir baru pulang dari pesantren. Memang baru pulang dari Taiwan langsung pakai jilbab ya bu ?"

    Ibu mengangguk. " Lantas beberapa hari di rumah langsung dilamar sama anaknya Pak Udin." Ucap ibu yang membuatku terkejut.

    " Hah dilamar bu ? Anak Pak Udin yang mana si Rizky yang dari kecil sudah masuk pesantren di Jombang ?" Tanyaku beruntun dan disambut tatapan tak enak oleh ibu.

    " Kamu kenapa ngomongin Anisa terus ? Kamu suka ya sama Anisa dah telat kalau suka, habis lebaran pernikahan akan dilangsungkan." Ucap ibu langsung menembak duduk perkara.

    Aku mengusap tengkukku. Apa memang perasaan kuharus berakhir sampai di sini.

    " Cari wanita lain. Itu anaknya Pak Darso yang daridulu naksir kamu, dari kemarin nanyain kamu tapi kamu cuek aja." Ucapan ibu bagai kepastian bahwa perasaanku dengan gadis itu memang hanya akan berakhir di sini, hanya cukup mengintip dari jauh, menunggu pulang saat sekolah dan terakhir melihat wajah sholehahnya tadi pagi.

    " Sudah ayo masuk. Sudah malam nanti malah ketemu sama mbak kunti gara-gara melamun soal Anisa terus." Ucap ibu lantas beranjak dari tempat duduknya.

    Aku hanya tersenyum masam, tentang perasaanku untuk gadis itu memang sebaiknya dilupakan, angin malam ini memberi rasa berbeda karna pertanda aku akan patah hati, mengakhiri cinta masa remajaku.

    ***

    Bulan ramadhan tiba, hari pertama seluruh masyarakat desa berbondong-bondong melangkah ke arah Masjid Darul Al-Falah, bukan kah selalu begitu di hari pertama, seminggu kemudian akan berkurang shafnya dan di hari ke 20 hanya akan tinggal beberapa makmum. Kusandarkan tubuh di tepian pembatas sungai yang terletak di samping masjid, menikmati lantunan pujian asma Allah sembari memandangi masjid yang juga sudah banyak berubah, banyak renovasi yang dilakukan tapi tetap saja aku memilih tempat favorit di sini untuk mendengar pujian sebelum memasuki masjid, suara yang indah......

    " Iya, nanti aku kasih kamu semua ta'jilnya."

    Dan suara merdu itu, aku menoleh melihat Anisa beserta teman-temannya memasuki latar masjid. Jilbab segitiga berwarna merah yang dipeniti pada bagian leher dan dibiarkan memanjang menutupi bagian tubuh depannya tanpa harus dikreasi diikat, diputar seperti hijab jaman sekarang Anisa tetap cantik dan menawan.

    " Subhanallah !" Lirihku betapa Tuhan telah menciptakan manusia seindah itu.

    " Assalamualaikum !" Ucap seseorang di belakang Anisa.

    Kulihat Rizky dan ayahnya berjalan di belakang Anisa, Rizky berhenti di depan Anisa sedang ayahnya berjalan memasuki masjid.

    " Assalamualaikum ukhti !" Ucap Rizky kepada Anisa tapi dapat kudengar teman-teman Anisa yang bersemangat menjawab " wa'alaikum salam ".

    " Besok jam 11 aku datang ke rumahmu ya." Ucap Rizky disambut senyum hangat oleh Anisa setelah mengucap kata itu, kulihat Rizky meninggalkan Anisa yang mendapat godaan dari teman-temannya.

    Benarkah mereka akan menikah ? Hubungan mereka serasa canggung meski dapat kutangkap senyum malu di wajah Anisa dan sepertinya cinta juga sudah terpecik di mata Anisa atau mungkin aku saja yang sok pintar menebak tapi yang jelas pasti ada cinta jika tidak mengapa Anisa menerima lamaran Rizky ?

    Rizky pria yang notabene memang anak pesantren dulu sekali masih kuingat ucapannya bahwa ia tak akan menikah dengan wanita seperti Anisa tapi sekarang Rizky malah bertindak paling cepat melamar bunga yang sedang bermekaran wangi itu.

    Aku terkesiap saat mataku bertemu dengan mata Anisa. Apakah gadis itu menyadari aku sedang memperhatikannya !

    Aku tersenyum, Anisa juga tersenyum lantas menundukkan wajahnya dan berjalan masuk ke dalam masjid. Aku pun juga harus segera masuk karna pujian akan segera usai dan akan berkumandang iqamat.

    ***

    Lantunan ayat Al-Quran itu begitu indah nan merdu, membuat mata mengantuk kembali terjaga. Aku duduk di atas pembaringan melirik ke arah jam kecil yang kuletakkan di atas meja, sudah hampir jam 12 tapi masih ada yang tadarus, suara seorang perempuan. Malam ini cuaca begitu panas sampai aku berkeringat, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi niat untuk membasuh muka agar segar tapi mendengat tadarus ini membuatku berpikir kenapa tak sekalian saja aku shalat tahajud dan membaca al-quran ! Bukankah doa di bulan suci akan lebih mustajab dan membaca al-quran di bulan ramadhan sungguh akan mendapat pahala yang tak terkira akhirnya kuambil air wudhu dan melaksanakan shalat tahajud meminta ketenangan hati dan sedikit menyebut makhluk ciptaan Engkau yang begitu indah itu Tuhan. Gadis bernama Anisa. Apakah boleh hamba menjadi jodohnya !

    ***

    Setelah 30 hari berpuasa dan menjalankan amalan di bulan ramadhan akhirnya hari ini kami umat muslim merayakan kemenangan. Semalaman tiada hentinya kebesaran Allah diserukan, takbir keliling memenuhi jalanan beraspal maupun jalanan berdebu, pagi harinya dapat kulihat halaman Masjid Darul Al-Falah penuh perempuan muslimah berseragam putih karna memang aula di dalam masjid lebih luas untuk jemaah pria.

    Aku duduk di barisan paling depan mendengarkan khatib menyuarakan takbir, berulang kali di dalam hati bertakbir memuji Tuhan penguasa alam semesta. Setelah melaksanakan sholat ied, aku pulang bertemu ibu melakukan sujud bakti minta maaf atas segala kesalahan yang aku lakukan selama ini, sebagai seorang anak aku belum bisa membalas jasa ibu yang telah mendidik anak lelaki yang biasanya butuh figur seorang ayah menjadi lelaki yang disiplin dan bertanggungjawab meski anak lelaki itu melihat kelakuan ayahnya pergi bersama wanita lain tapi ibu, ibu tak hentinya mendidik agar aku tetap berjalan lurus dalam kehidupan beragama dan sekali waktu berubah menjadi malaikat tanpa sayap yang begitu lembut membujukku melihat pria itu di ranjang pesakitan sebelum ajal menjemputnya. Aku memaafkan ayahku sebelum dia menghembuskan nafas terakhir itu semua karena kelembutan ibu.

    Setelah melakukan itu semua, sesuai adat desa ini, rombongan pemuda desa akan melakukan silaturahmi kepada para tetangga berkeliling desa dari satu rumah ke satu rumah yang lainnya dengan berbagai suguhan makanan dan kini rombonganku sampai pada rumah Anisa dari luar dapat kudengar tawa dan canda. Apakah sedang ada pertemuan dua keluarga ?

    " Rumah Pak Kharim dilewati dulu saja Mas !" Ucap abdul kepada Mas Rozak selaku ketua rombongan.

    " Kenapa dilewati ? Ada keluarga Pak Udin sekalian silahturahmi." Balas Mas Rozak lantas masuk ke dalam rumah sembari mengucapkan salam.

    Aku melangkah masuk tanpa berani mengangkat wajah, rasanya aku salah jika masuk dalam pertemuan ini, mendengarkan kedua obrolan keluarga ini saja sudah menyakitkan betapa serius kenyataannya itu bahwa Anisa akan benar-benar menikah dengan Rizky !

    " Jadi kapan pak ini pernikahannya ?" Kudengar Mas Rozak mengucap pertanyaan itu, jantungku berdegup kencang takut mendengar jawaban yang akan diberikan.

    " Insya Allah seminggu lagi mas." Suara Rizky yang kudengar. " Datang ya mas bantu-bantu bikin itu kreasi dari daun kelapa." Ucap Rizky lagi.

    " Yah kalau anak-anak bahagia orang tua juga senang jadi dipanggil kapan pun juga sudah siap."

    " Hust bapak ngomong apa sih."

    Kali ini kurasakan debaran jantungku lebih kencang, suara ini kuyakin suara anisa yang melarang Pak Khasim berbicara tentang kematian yang kapan saja bisa datang menjemput.

    " Maut itu memang dekat malah maut yang paling dekat dengan manusia jadi segeralah menikah karena menikah merupakan ladang amal jika kita berniat baik akan sangat mudah mengeruk pahala." Sahut sebuah suara yang kuyakini suara Pak Udin yang sangat berbobot jika sudah berbicara tentang agama.

    " Di sini siapa ya yang seumur rizky ? Nak Ridwan ya yang seumur Rizky ?" Sahut Pak Kharim.

    Aku gelagapan ketika namaku disebut, mendongak menatap ke arah Pak Kharim dan tak sengaja pandanganku mengarah pada Anisa yang duduk di sebelah Pak Kharim. Mataku menatap lekat wajah Anisa seakan enggan berpaling, Anisa begitu manis hari itu, jilbab motif bunga dipadukan busana muslim cerah.

    " Hei bengong !" Ucap Mas Rozak sembari menyenggol tanganku. " Kalau Ridwan masih mau cari dollar pak belum kepengen nikah." Lanjut Mas Rozak.

    " Lho memangnya Nak Ridwan masih mau pergi ke Korea lagi ?" Tanya Pak Kharim.

    " Insya Allah nambah 2 tahun lagi pak." Jawabku berusaha menormalkan suara yang keluar dari tenggorokanku.

    " Kalau sudah cukup segera cari pendamping hidup, uang itu jika dicari ya tidak akan pernah cukup ingin itu ingin ini tapi jangan lupa hidup di dunia ini tidak lama ada kehidupan lain yang menunggu jadi jika sudah cukup umur maka segeralah menikah tapi sudah punya calon belum ?" Tanya Pak Udin.

    Sekilas aku melirik Anisa melihat wajah gadis itu dan yang kutemui hanya wajah yang menunduk sembari memainkan ujung jilbabnya.

    " Belum ketemu calonnya pak, nanti kalau sudah ketemu Insya Allah pulang dari Korea langsung datang ke rumah gadis itu." Jawabku.

    " Kalau begitu mari kita doakan Ridwan segera mendapatkan jodohnya. Alfatihah......." dan disambut bacaan basmalah dengan yang lainnya.

    Aku hanya tersenyum dalam hati. Bisakah jodohku itu berada di dalam ruangan ini

    ***

    Sepulang dari masjid, aku melewati jalan berputar melewati rumah Anisa, malam itu aku ingin sekali melihatnya, jika ada kesempatan aku ingin mengobrol lagi dengannya. Di depan toko Mak Ijah dekat rumah Anisa, kulihat Anisa sedang berdiri.

    " Menunggu siapa, nis ?" Sapaku.

    Anisa sepertinya kaget dengan sapaanku tiba-tiba, dia menarik menghembuskan nafasnya secara gusar. " Mas Ridwan kok tiba-tiba muncul ?" Tanya Anisa.

    " Pulang dari masjid pengen jalan-jalan saja lewat sini." Jawabku.

    Kami membicarakan semua hal dan hanya beberapa menit, Anisa yang sedang menunggu ibunya berbelanja harus pergi karena ibunya memanggil untuk segera pulang. Malamnya aku sama sekali tak bisa tidur, berbantal tangan aku menatap langi-langit kamar ada perasaan gelisah yang tak terkira. Aku menyesali pertanyaan yang kulontarkan apakah Anisa mencintai Rizky sehingga Anisa menerima lamaran Rizky pertanyaan yang begitu bodoh dan gadis itu menjawab " Rizky adalah sosok yang mampu menjadi imam dunia dan akhirat Insya Allah, sebagai seorang gadis yang sudah berumur tak ada alasan menolak lamaran jika yang datang itu seorang pria dewasa yang baik akhlaknya meski belum ada cinta, sama-sama mencintai Allah terlebih dulu sudah cukup maka nanti akan mencintai satu sama lain".

    Aku duduk menggaruk kepala yang tak gatal, jika saja aku yang terlebih dulu melamar. Apakah Anisa akan menerimaku ? Aku terlalu lambat menunda-nunda waktu mencari tahu tentang gadis itu dan setelah kutahu tentangnya hal yang kutahu ialah kabar pernikahannya.

    Aku bangkit dari tempat tidur mengambil air wudhu setelah itu shalat tahajud dan shalat hajat, membaca ayat kursi, mengucap shalawat berulang kali menganggungkan Asmaul Husna dan membaca beberapa surat pendek setelah itu aku bersimpuh di hadapan Tuhan mencurahkan perasaan yang tak sanggup lagi aku bendung.

    " Ya Rabb penguasa hati manusia pemilik takdir di dunia ini. Apakah hamba terlambat jika hamba meminta Anisa menjadi jodoh hamba ? Gadis itu milik-Mu Ya Allah dan hamba percaya semua hal yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Mu, Anisa menerima Rizky pasti atas kuasa-Mu engkaulah pembolak-balik hati manusia. Anisa milikmu ya Allah bolehkah aku memintanya dari-Mu ?"

    Malam itu kucurahkan semua isi hatiku pada yang kuasa, tak kuasa menahan ingin hati yang menginginkan gadis itu ! Menjelang pernikahannya bayangan gadis itu semakin meresahkan pikiranku bahkan aku tak sanggup berfikir berdosakah aku meminta gadis itu menjadi jodohku sedang seminggu lagi ia akan halal menjadi milik orang lain !

    ***

    Namaku Ridwan. Aku datang dari keluarga yang kurang harmonis, ayahku tergoda dengan seorang perempuan penjual warung kopi singkatnya ibu dan ayah bercerai tapi abaikan cerita itu karna cerita itu tidak begitu penting. Terpenting aku mempunyai seorang ibu berhati malaikat yang begitu kusayangi tanpa seorang ayah, ibu berhasil mendidik anak lelakinya menjadi orang yang bertanggungjawab, bekerja keras dan Insya Allah menjadi pria yang shaleh untuk fisik nilailah sendiri setelah itu ada yang berteriak angka 8, 6 pun ada yang meneriakkannya. Aku tersenyum mesti malas mengakui wajahku dengan rahang kokoh, alis tebal hitam, hidung mancung semua ini milik ayah hanya kulit kuning milik ibu, kulit ayah cenderung kecoklatan karna rajin berolahraga tinggiku mencapai 170 lebih dan soal cinta aku baru saja patah hati.

    Perkenalan singkat saat aku tiba lagi di Korea, bekerja di pabrik baru dengan suasana baru pula. Pada hari ke 3 lebaran aku berangkat lagi ke Korea meninggalkan harapan, berharap keajaiban yang tak mungkin datang, beberapa jam lagi akad nikah akan digelar dan Anisa akan sah menjadi milik Rizky. Aku tak boleh memikirkan istri orang tapi bodohnya aku masih berharap ada keajaiban Allah mendengar doaku beberapa hari ini !

    " prangg !!" Karna terlalu banyak melamun tak sengaja aluminium yang berada di atas meja jatuh mengenai kakiku.

    " Kamu tak apa, rid ?" Tanya Farhan satu kecamatan tapi beda desa denganku yang menjadi teman seperjuangan saat sekolah Bahasa Korea.

    " Cuma kena jempol." Kulihat jempol kakiku kini sudah mengeluarkan darah.

    " Obati sana gih nanti infeksi lho." Ucap Farhan.

    Aku lantas mengambil peralatan P3K yang memang disediakan jika ada kecelakaan dalam bekerja ketika mengoleskan obat, rasa perih ini membuatku teringat pasti detik ini sudah ada teriakan sah dari para saksi pernikahan Anisa. Ya Tuhan kenapa begitu sulit untuk ikhlas menerima padahal Rizky jelas lelaki baik untuk Anisa pasti Anisa akan bahagia dan pasti ada wanita baik lainnya yang telah disediakan Tuhan untukku yang terpenting di sini aku harus berusaha menjadi orang yang lebih baik bukankah janji Tuhan pria baik akan disandingkan dengan wanita baik dan tak lupa tetap membahagiakan ibu dan seperti kata Anisa dulu " saat kita berada di tempat yang mayoritas tidak mengenal agama Allah, itu adalah waktu untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya".

    Aku akan membenahi imanku jika dulunya shalat 5 waktu masih ada yang bolong karna kelelahan sekarang aku akan berusaha menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah dan mengikuti pengajian-pengajian yang biasa diadakan anak-anak perkumpulan Indonesia di sebuah aula luas yang disewa untuk tempat shalat dan beberapa bulan sekali mengundang ulama dari Indonesia untuk siraman rohani karna terkadang kami para TKI di luar negeri haus akan pengajian ataupun ceramah agama. Aku memantapkan hati baiklah hal seperti itu yang harus aku lakukan dan bukan memikirkan Anisa yang sudah menjadi istri orang lain.

    ***

    Dua bulan berlalu sudah aku berada di negeri ginseng ini karna terlalu sibuk dengan pekerjaan dan menjadi pengurus dalam sebuah organisasi agama yang didalamnya diisi kegiatan pengajian, belajar kasidah dan qiro'ah aku sampai tak sempat menghubungi ibu.

    " Halo !" Suara yang kudengar Ketika panggilanku sudah tersambung.

    " Ibu bagaimana kabarnya ? Maaf Ridwan baru sempat menghubungi Ibu." Ucapku.

    " Kabar ibu baik. Kabar kamu sendiri bagaimana ?"

    Dan obrolan mengalir, menceritakan pekerjaanku di sini ingin hati tak menanyakan perihal gadis itu, apalagi yang mau ditanya pasti hanya berita bahagia yang akan diceritakan tapi ibu memulai topik itu dulu.

    " Kamu tak ingin mendengar kabar tentang Anisa ?" Tanya ibu terlebih dahulu memulai topik tentang gadis itu.

    " Ridwan tahu tentang Anisa jadi Ridwan tak perlu mendengarnya lagi jika ada kabar bahagia lagi pasti Anisa sedang mengandung." Ucapku.

    " Tak semua kabar itu bahagia. Anisa tak jadi menikah dengan Rizky."

    Ucapan ibu bagai kejutan listrik tegangan tingkat tinggi yang menyerang jantung dan otakku.

    " Maksud ibu apa ?" Tanyaku dengan getaran hebat di dalam dada. Apakah Anisa membatalkan pernikahan ?

    " Rizky kecelakaan saat mobilnya menuju rumah Anisa saat akan melaksanakan akad nikah, ke dua orang tua Rizky selamat tapi Rizky tak dapat ditolong."

    Ucapan ibu kali ini benar-benar mengejutkan sungguh mengejutkan sampai aku diam beberapa lamanya, ibu memanggil-memanggil pun aku sudah tak mampu menjawabnya. Pertanda apa ini Ya Allah apakah engkau merestui aku meminta gadis itu dari-Mu !!

    ***

    Setahun berlalu tinggal satu tahun lagi kontrak kerjaku di sini, setiap malam dalam shalat malamku ada dia dalam doaku kuserahkan Anisa kepada-Mu Ya Allah saat ini aku belum bisa menjaganya secara penuh maka jagalah dia melalui doaku sampai aku bisa selalu berada di sampingnya setiap saat sampai maut memisahkan kami tapi sepertinya takdir akan berkata lain Anisa akan dijodohkan dengan seorang pria, anak dari teman Pak Kharim kali ini Anisa juga mengiyakan ucapan ke dua orang tuanya rasanya saat itu aku ingin pulang sekarang itu juga dan melamar gadis itu secepatnya tapi tanggung jawabku di sini belum selesai, aku tidak bisa pergi begitu saja sekali lagi aku sudah pasrah kepada yang kuasa jika Anisa memang benar jodohku maka pernikahan itu tak akan terjadi.

    Kedua kalinya kudengar kabar yang membuat hatiku girang bukan kepalang tapi aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Anisa saat itu sudah dua kali dia gagal menikah, pria yang dijodohkan dengannya kabur bersama kekasihnya karna ia tak ingin menikah dengan Anisa rupanya pria itu dipaksa menikah dengan Anisa dan ketika hari H, pria itu melarikan diri. Tunggu aku Anisa aku akan segera pulang !

    ***

    Kurang setengah tahun aku akan pulang, selama itu kudengar kabar bahwa Anisa tak menjalin hubungan dengan siapapun ketika dijodohkan dengan pria, Anisa menolak dengan halus. Kenapa gadis itu menolak bahkan ketika seorang pria datang ke rumahnya dengan predikat pria terbaik di desanya, Anisa masih menolak bukankah dia dulu pernah bilang jika ada seorang pria berakhlak baik tak ada alasan untuk menolak lamaran tapi sekarang Anisa menolaknya. Kenapa dengan gadis itu apakah dia trauma ? Lantas bagaimana denganku nanti apakah aku juga akan ditolak ? Berbagai pikiran negatif memenuhi otakku tapi sekali lagi aku menyerahkan kepada yang maha kuasa jika aku ditolak pun tak apa terpenting aku berniat baik.

    ***

    Hari ini hari kamis aku turun dari mobil travel yang mengantarku pulang dari bandara menuju rumahku aku tak langsung belok menuju rumah tapi aku berjalan lurus menuju rumah yang berada di ujung jalan. 2 tahun lalu aku pertama kali melihatnya menyapu halaman dengan pagi yang begitu indah, langit dihiasi awan bertumpuk bagai anak tangga menuju surga dan hari itu aku datang ke rumah ini dengan rasa penasaran dan hari ini aku datang ke rumah ini dengan ransel besar yang masih tergantung di pundak mempunyai niat baik. Aku sudah mendapat restu dari ibu dan aku yakin Tuhan pun memberikan restu sekarang aku akan meminta restu dari kedua orang tua Anisa.

    Pak Kharim dan istrinya terlihat bingung dengan kedatanganku yang masih menggendong ransel, wajah pun mungkin masih berminyak karena perjalanan jauh tapi aku tak peduli. Aku sudah tak dapat menunggu lagi, aku terlalu lama menunggu.

    " Saya kaget dengan kedatangan Nak Ridwan masih membawa ransel seperti ini, raut wajah Nak Ridwan juga masih tampak kelelahan. Apa Nak Ridwan baru pulang dari Korea ?" Ucap Pak Kharim mengawali pembicaraan.

    " Iya pak saya baru saja turun dari mobil travel seperti yang saya ucapkan dulu jika saya sudah menemukan jodoh maka sepulang dari Korea saya akan langsung mendatangi rumahnya. Saya ingin meminang Anisa pak ?" Ucapku mantap tanpa ada keraguan sama sekali. Kulihat Pak Kharim dan istrinya saling pandang, Anisa yang duduk di hadapanku, menatapku lurus-lurus sama sekali tak menundukkan wajah seperti biasa, dia seperti sedang mencari kesungguhan dalam setiap kata yang kuucapkan.

    " Saya tak tahu berakhlak baik atau tidak seperti yang Anisa ucapkan dulu bahwa Anisa tak akan menolak lamaran pria dewasa yang berakhlak baik yang jelas saya mempunyai niat baik bersama Anisa saya ingin menjalani hidup sampai maut yang memisahkan kami, saya ingin menjadi imam untuk Anisa dan sama-sama melakukan kebaikan dalam pernikahan ini sehingga kami bisa tetap berjodoh di akhirat nanti mempunyai anak-anak yang shaleh dan shalehah serta......" Ucapanku terpotong oleh suara Anisa.

    " Mas Ridwan ini mau melamar seorang gadis atau mau melamar jadi perserta lomba pidato." Ucap Anisa yang membuat kedua orang tuanya tertawa.

    " Nah begini ya Nak Ridwan semua jawaban ada di tangan Anisa. Bapak yakin Nak Ridwan pria baik, Nak Ridwan mampu menjadi imam dunia akhirat untuk Anisa sekarang bagaimana jawaban Anisa ?" Ucap Pak Kharim kepada Anisa.

    Aku melihat ke arah Anisa, menunggunya memberi jawaban. Anisa tersenyum lantas mengangguk, satu anggukan tapi seperti ada kekuatan besar yang meledak di dalam tubuhku.

    " Yes !" Ucapku tanpa sadar sembari mengepalkan tangan.

    " Tapi apa tak terburu-buru bahkan Nak Ridwan belum bertemu dengan Ibu Nak Ridwan ?" Ucap Ibu Anisa.

    " Ibu sudah memberi restu jauh-jauh hari, saya hanya perlu mendapat restu ibu bapak dan anggukan dari Anisa." Ucapku sambil tersenyum dan melirik ke arah Anisa.

    ***

    Sebulan kemudian resepsi pernikahan digelar, kami berdua tak ingin terlalu mewah tapi kedua orang tua Anisa menginginkan adanya pertunjukan wayang kulit karna Anisa anak pertama dan sekalian untuk ruwatan inilah adat jawa yang masih kental akhirnya kami mengiyakan permintaan kedua orang tua Anisa. Alhamdulillah semua berjalan lancar, sekarang aku dan Anisa sudah sah menjadi sepasang suami istri.

    Malamnya kami melakukan shalat malam bersama, Anisa mencium tanganku.

    " Ingatkan mas jika mas mulai tak bisa memegang janji sebagai seorang imam karna rumah tangga ini tak kan sempurna tanpa makmum yang selalu menegur imamnya yang salah." Ucapku.

    Anisa mengangguk. " Kita sama-sama mengarahkan laju rumah tangga ini ke dalam ridha-Nya."

    " Tapi Anisa bolehkah mas bertanya kenapa Anisa dulu menolak lamaran beberapa pria dewasa yang berakhlak baik mas sempat takut Anisa juga menolak mas." Tanyaku.

    Anisa tersenyum. " Anisa sempat frustasi mas karna Anisa sudah gagal menikah 2 kali, apa dosa Anisa hingga Allah mempersulit Anisa melaksanakan perintah Rasulullah untuk menikah, setiap malam Anisa shalat malam dan pada hari ke 30 beberapa hari Anisa memimpikan Mas Ridwan." Ucap Anisa sambil menundukkan wajahnya mungkin karna malu.

    " Anisa sendiri juga tak mengerti kenapa Mas Ridwan sering datang di mimpi Anisa tapi ada keyakinan kuat Anisa harus menunggu sampai Mas Ridwan pulang akhirnya Anisa menolak setiap pria yang dikenalkan bapak." Lanjut Anisa.

    Aku ingin menangis mendengar pernyataan Anisa ternyata Tuhan mendengar setiap doaku, aku memeluk Anisa dan mencium keningnya.

    " Cinta dalam doa, doa Mas Ridwan yang selalu menyertai Anisa." Ucapku.

    Betapa bahagianya aku sekarang memeluk gadis yang aku impikan, gadis yang selalu ada dalam doaku. Alhamdulillah Ya Allah. Doa adalah jembatan penghubung dari jurang pemisah dari hal-hal yang tak dapat kita raih bahkan hal-hal yang hampir mendekati finish tapi dengan doa semua dapat berubah karna Allah lah pemilik kejadian di alam semesta ini.

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ” (QS. Albaqarah: 186). (*)

    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan "Cinta dalam Doa" Karya Cintiya Melianasari (Anggota FAM Ponorogo) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top