• Info Terkini

    Monday, June 1, 2015

    Bunuh Diri Bukan Jalan Pintas

    Judul: Fesbuk
    Penulis: Muhammad Subhan & Aliya Nurlela
    Kategori: Kumpulan Cerpen
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: II, November 2014
    Tebal: 119 hlm; 14 x 20 cm
    ISBN: 978-602-17404-8-4
    Resensiator: Deski Ramanda

    Sejak facebook diluncurkan pertamakali pada 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Universitas Harvard, di tahun-tahun berikutnya wajah dunia berubah. Hampir semua orang memiliki akun facebook. Dengan facebook mereka bisa saling berhubungan dengan orang-orang yang mereka kenal, mulai dari teman semasa sekolah, tetangga, hingga teman masa kecil yang tidak pernah bertemu lagi sejak berpisah.

    Dengan begitu, facebook sangat berjasa dalam kehidupan sosial. Dia menjadi jembatan penghubung untuk menjalin ukhuwah antara satu orang dengan orang lainnya. Namun, tidak sedikit pula orang yang menyalahgunakan facebook untuk kepentingan sesaat yang merugikan pertemanan. Ada yang membuat akun facebook untuk menyebar teror, fitnah, paham terlarang seperti ateisme, pornografi, provokasi, dan bermacam bentuk perbuatan negatif lainnya.

    Sehingga, dengan kasus-kasus seperti itu ada orang yang berpaham bahwa menggunakan facebook adalah haram. Bagi yang berpaham demikian maklum saja mungkin mereka beralasan bahwa facebook tidaklah bermanfaat dan banyak mudharatnya. Perlu kita ketahui bahwa facebook itu ibarat pisau. Jika pisau di tangan seorang penjahat, bisa dipastikan menjadi alat untuk mendukung kejahatannya. Lain lagi jika pisau berada di tangan ibu rumah tangga, maka akan menjadi alat baginya mengerjakan tugasnya di dapur. Kesimpulannya, bila facebook berada di tangan orang yang berpikir positif maka hasilnya positif pula. Demikian juga sebaliknya.

    Buku kumpulan cerpen berjudul “Fesbuk” ini memuat 12 cerpen karya Muhammad Subhan dan Aliya Nurlela yang ditulis dengan gaya bahasa mereka masing-masing. Kumpulan cerita di dalamnya tidak hanya sekadar fiksi ada juga yang diambil dari kisah nyata. Walau demikian tidaklah mengurangi kelebihan buku ini. Setiap cerita di dalamnya memberikan pesan moral yang berbeda-beda.

    Sebagaimana sebuah cerita yang diangkat dari kisah nyata oleh Muhammad Subhan yang berjudul “Tukang Cerita”. Kisah ini berawal ketika seorang penulis berhasil menerbitkan karyanya berupa novel. Penulis novel itu bernama Abdul Hakim yang sudah dikenal banyak orang. Kemasyhurannya itu membuat dirinya dijuluki Si Tukang Cerita dan banyak orang yang meminta dituliskan kisah hidupnya menjadi sebuah novel.

    Dari sekian email yang masuk ke inbox pribadinya ada sebuah kisah seorang perempuan muda yang menarik hatinya. Perempuan tersebut ingin mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Sebelum jalan pintas tersebut diambil gadis itu, terlebih dahulu ia ingin kisahnya dibaca dan menjadi pelajaran oleh orang lain. Maka, mulailah perempuan tersebut menceritakan kisahnya lewat sebuah pesan email ke Abdul Hakim.

    Lewat pesan email tersebut perempuan itu bercerita kepada Abdul Hakim bahwa dia adalah seorang gadis yang malang. Belum sampai dua semester mengikuti perkuliahan di Kota Padang keperawanan sudah direnggut oleh pacarnya. Kemudian dia pindah ke Pekanbaru. Di sana kehidupannya semakin hancur, karena dia menganut paham seks bebas hingga hamil. Tak lama setelah itu dia menikah. Tapi sayang, pernikahannya hanya berumur sebulan saja. Setahun berselang, dia menikah lagi. Namun, usia pernikahan itu pun tidak panjang, hanya berumur tiga bulan saja.

    Setelah pindah ke Tebing Tinggi dia menikah lagi. Keadaan yang sama dengan sebelumnya, bahwa rumah tangganya hanya bertahan sebentar selama sebelas bulan. Semenjak peristiwa tersebut dia semakin terjerumus ke lembah maksiat. Dengan cobaan hidup yang silih berganti menimpa dirinya membuat perempuan tersebut ingin bunuh diri. Tapi, dia tidak sanggup melakukannya karena selalu ingat banyangan mamanya yang belum lama meninggal dunia.

    Tak menunggu lama, akhirnya novel Abdul Hakim yang diangkat dari kisah nyata perempuan tersebut terbit dan ‘booming’. Suatu ketika perempuan muda itu mengucapkan terima kasih kepada Abdul Hakim yang telah menuliskan kisah hidupnya. Dia juga mengabarkan kepada Abdul Hakim bahwa hidupnya sudah lebih baik karena sudah dapat pasangan yang membimbingnya kepada jalan kebenaran. Tentunya Abdul Hakim sangat bahagia dan bangga karena telah berusaha menyelamatkan hidup seseorang dengan tulisannya. Sebelum novel itu ditulis, Abdul Hakim juga pernah memberi nasihat kepada perempuan tersebut agar tidak jadi bunuh diri jika kisahnya sudah menjadi sebuah novel. (*)

    Diterbitkan di:HARIAN SINGGALANG EDISI MINGGU, 31 MEI 2015
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bunuh Diri Bukan Jalan Pintas Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top