• Info Terkini

    Tuesday, June 30, 2015

    Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

    FAM Jabar-Banten Bedah Buku
    Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten)

    Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”.

    Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri.

    Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang tulisannya banyak menghiasi beberapa koran daerah dan nasional, yaitu Irwan Sandza serta penyair dan sastrawan kawakan dari Tatar Cianjur sekaligus Pendiri Komunitas NINABobo, Iwan B Setiawan.

    Diawali dengan pembukaan oleh moderator, De Minnie, kemudian kegiatan berlanjut pada sesi pemaparan nara sumber. Pada sesi ini dipaparkan tentang proses awal pengumpulan dan penyeleksian naskah hingga proses penerbitan buku.

    Buku dengan ketebalan 150 halaman dalam dimensi 13 x 20 sentimeter ini berisi tulisan-tulisan menarik tentang muhasabah. Berisi kisah-kisah yang membawa pembacanya merenung bahwa ternyata dari setiap peristiwa yang diberikan Allah SWT kepada ummatnya selalu diikuti dengan hikmah. Para penulis dalam buku tersebut mengulas peristiwa baik yang dialaminya sendiri maupun pengalaman anggota keluarga tercinta.

    Hingga keharuan yang muncul menghadirkan embun-embun bening di ujung netra. Setiap jengkal kalimat yang dituturkan penulis mampu menghentak jiwa bahwa ternyata setiap diri kita adalah makhluk lemah yang tiada daya dan upaya selain berharap pada pertolongan dan hidayah-Nya.

    De Minnie, dalam kisahnya “Tamu di Penghujung Usia” menuturkan kepedihan seorang cucu perempuan yang kehilangan kakeknya.

    Kemudian Yusrina Sri, penulis dari Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mengisahkan “Doa Orang yang Teraniaya”. Allah menjanjikan bahwa doa hamba-Nya yang teraniaya tidak memiliki sekat dan batas apa pun dengan diri-Nya. Lalu, Ade Ubaidil, penulis enerjik dari Cilegon, Banten, menuturkan tentang luka jahit di pelipis kirinya menjadi saksi bisu, dan teguran dari Allah di saat menjalani ibadah pada bulan Ramadan.

    Selain itu yang tak kalah mengharukan kisah detik-detik menantikan buah hati seperti yang dituturkan Nuryaman Emil Hamzah, penulis dari Ciamis yang sekarang bermukim di Pandeglang, Banten. Bayang-bayang kematian istri dan bayi yang berada di dalam kandungan istrinya musnah seketika saat berserah dan pasrah kepada Allah SWT. Operasi persalinan dan besarnya biaya, semuanya sirna. Istri dan anaknya selamat lahir tanpa operasi dan biaya tak sampai 10% dari biaya operasi. Dalam kisah “Kemudahan di Balik Kepasrahan”.

    Tentunya, masih banyak kisah menarik lainnya dalam buku tersebut yang mampu mendatangkan ibrah bagi setiap pembacanya.

    Selanjutnya, dalam sesi kedua yaitu diskusi menulis, acara berlangsung semakin hangat. Ditingkahi embusan angin senja yang turut hadir serta daun-daun trembesi yang berjatuhan diterpa angin, dalam sesi diskusi menulis terjadi komunikasi langsung. Moderator memberikan kesempatan kepada audiens untuk tanya-jawab. Mulai dari proses kreatif sebuah tulisan, bagaimana cara menghadapi kebuntuan ide, lalu cara membangkitkan semangat menulis yang mandeg hingga cara membuat sebuah tulisan itu mampu menghadirkan daya tarik bagi pembacanya hingga pembaca tersebut merasa puas dengan sebuah karya tulis.

    Bahwa seorang penulis itu adalah orang yang harus mampu membaca. Bukan hanya membaca sebuah buku atau tulisan di atas selembar kertas saja. Tetapi seorang penulis diharapkan mampu membaca hal-hal yang terjadi di hadapannya dan membaca alam sekitarnya. Kembali kepada “iqra”, demikian penuturan Iwan B. Setiawan.

    Kemudian, tips atau trik di saat menghadapi kebuntuan ide atau semangat menulis, kita diusahakan untuk mencari suasana baru. Bisa dengan membaca referensi buku-buku lain, mengunjungi tempat-tempat wisata atau tempat yang bisa mendatangkan ketenangan sehingga pikiran menjadi segar kembali.

    Ramadan adalah bulan yang penuh dengan peristiwa menarik untuk disimak bahkan di dalamnya bertebaran ide untuk menulis. Contohnya mulai dari suasana bangun dini hari lalu menyantap hidangan sahur, baik dengan keluarga maupun di tengah-tengah lingkungan pesantren. Kemudian saat tadarus, mengikuti kegiatan kuliah subuh, pesantren kilat, “ngabuburit” bahkan di saat berbuka puasa atau tarawih pun bisa menjadikan ide untuk menghasilkan sebuah tulisan.

    Lalu, siapkan alat tulis dan secarik kertas bila tidak ada buku kecil. Atau media handphone untuk mencatat ide yang tiba-tiba hadir. Hal itu untuk menjaga seandainya sewaktu-waktu kita lupa akan ide yang pernah terlintas. Lalu kembangkan menjadi sebuah tulisan di kesempatan lain yang lebih memungkinkan waktunya untuk menyelesaikan sebuah tulisan atas ide tersebut. Demikian nara sumber menuturkan pendapatnya dalam mengangkat tema tulisan.

    Menulis adalah proses kreatif atas apa yang didengar, dilihat, dan apa yang terjadi di sekitar kita. Sehinga muncul kekuatan menulis berdasarkan rasa empati yang muncul dalam diri.

    Demikian paparan hasil bedah buku dan diskusi menulis yang diselenggarakan oleh FAM Wilayah Jabar-Banten dan TBMA-Cianjur. Semoga bermanfaat.

    Terima kasih kepada Ketua Umum FAM Indonesia (Muhammad Subhan) dan Sekretaris (Aliya Nurlela) yang tak henti memberikan semangat serta dukungan morilnya. Pengurus TBMA (Teh Defa beserta jajarannya), Sang inspirator Ayah Iwan B. Setiawan, Irwan Sandza dan Kang Asep. Juga tak lupa De Minnie yang selalu menghadirkan suasana seru dan ceria di setiap kehadirannya serta seluruh audiens yang telah berkenan hadir dalam kegiatan tersebut. (*)

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top