• Info Terkini

    Wednesday, June 3, 2015

    Denni Meilizon: “Saya Sibuk, Tapi Saya Berusaha Terus Menulis Puisi”

    Denni Meilizon
    Pengantar Redaksi:
    Rabu, 27 Mei 2015, pukul 20.00-22.00 WIB, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia mengadakan Seminar Online bertajuk “Proses Kreatif dan Memahami Puisi” bersama Denni Meilizon (Penyair & Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat). Seminar ini diikuti seluruh anggota FAM dan simpatisan di grup “Forum Aishiteru Menulis”, grup FAM Indonesia di facebook. berikut kesimpulan seminar tersebut. Selamat membaca.

    ***

    PROFIL NARA SUMBER:

    Denni Meilizon lahir tanggal 6 Mei 1983 di Silaping, Pasaman Barat, Sumatera Barat. Untuk pertamakali, puisinya dimuat Koran Harian Singgalang pada tahun 2005. Bertemu dengan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia pada pertengahan 2012. Menerbitkan buku antologi puisi tunggal berjudul “Kidung Pengelana Hujan” (FAM Publishing,2012) yang kemudian disusul buku puisi “Siluet Tarian Indang” (FAM Publishing, 2012). Pada akhir 2013 terbit pula buku puisinya berjudul ‘Rembang Dendang” (AG Litera, 2013) dan antologi puisi duet dengan Bambang Irianto bertajuk “Daun-Daun Surga” (AG Litera, 2014).

    Saat ini, sajak dan puisinya sudah tersebar di berbagai buku antologi antara lain: Pijar Heroik (Harfeey, 2012) Kejora Yang Setia Berpijar (FAM Publishing, 2013) Bukittinggi, Ambo di Siko (FAM Publishing, 2013), Lerak (FAM Publishing, 2013), Terpenjara di Negeri Sendiri (Alif Gemilang Pressindo, 2013), Simphoni Secangkir Cinta (Diyandra, 2013), Puisi Menolak Korupsi 1 & 2 (Forum Sastra Surakarta, 2013), 135 Puisi Romantis: Cinta Dalam Empat Dimensi (Pedas Publishing, 2013), …dan Akupun Menjadi Penulis (FAM Publishing, 2013), Fly Over Merah Putih (D3Mkail Jakarta, 2014), Jejak Pertama (Pedas Publishing, 2014), dll.

    Di samping itu, puisi-puisinya dipublikasikan di berbagai media antara lain: Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Riau Hari Ini, Buletin Jejak serta beberapa media massa online seperti: horisononline, jejaksastra.com, dll. Saat ini sedang mempersiapkan buku kumpulan puisi berjudul “Peta Ababil” dan buku kumpulan cerita pendek berjudul “Penanak Batu”.

    Deni juga menulis cerpen dan esai dan dimuat media massa dan menyunting beberapa buku puisi dan novel. Ia merupakan alumni Workshop Cerpen Kompas 2015. Terakhir sebagai Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat. Mengikuti berbagai even sastra daerah dan nasional.

    “Membaca dan menulis bagaikan dua sisi matauang yang berkaitan erat”, itulah kalimat motivasi yang selalu diusung oleh Deni dalam forum-forum diskusi kepenulisan. Membaca dan menulis, itulah yang dilaluinya sejak mengenal baca dan tulis.

    Denni Meilizon menemukan gairah kehidupan melalui sastra, menemukan dirinya melalui sajak dan puisi, dan menemukan Tuhannya dari ketiadaan yang menyambanginya setiap menulis sajak.

    Ia dapat dihubungi melalui akun Facebook: Denni Meilizon, twitter: @dennimeilizon, email: dennimailizon@ymail.com.

    ***

    Moderator: Assalamu'alaikum, Mas Denni Meilizon. Apa kabar Anda malam ini?

    Denni Meilizon: Waalaikumsalam. Kabar baik, Alhamdulillah. Terima kasih sudah menaja acara Seminar ini.

    Moderator: Alhamdulillah. Selamat datang di grup FAM Indonesia. Apakah Anda sudah siap berdiskusi?

    Denni Meilizon: Insya Allah, saya siap. Senang sekali bisa berdiskusi dengan seluruh FAMili di mana saja berada. Semoga diskusi kita dapat memberi manfaat nantinya, aamiin.

    Moderator: Terima kasih. Kalau boleh tahu, sejak kapan Anda menulis (dalam hal ini puisi?)

    Denni Meilizon: Mmh.. Saya menulis puisi sejak SD. Saya suka menuliskan kembali puisi-puisi yang saya baca, kemudian dari situ saya coba-coba menulis puisi sendiri. Tetapi kalau betul-betul menulis puisi saya lakoni sejak SMA.

    Moderator: Sejak SD. Sangat luar biasa. Apakah puisi-puisi sejak SD itu masih terdokumentasi dengan baik?

    Denni Meilizon: Wah, sayangnya tidak. Moderator masih ingat dengan buku isi 18 yang kalau di Sumatera Barat di kulit luar bergambar rumah adat itu? Nah, saya menuliskannya dalam buku itu. Sayang, tidak ada lagi dokumentasinya. Kalau ada pasti asyik dan tentunya akan lucu-lucu.. he-he-he.

    Moderator: Sayang sekali ya. Sejak SMA kelas berapa Anda mulai fokus kembali menulis puisi, dan apa masih didokumentasikan?

    Denni Meilizon: Sejak kelas 2. Sebab saya mulai jatuh cinta kepada seorang perempuan. He-he-he. Ada beberapa yang terdokumentasi dan sudah saya masukkan ke dalam kumpulan puisi saya "Kidung Pengelana Hujan" yang terbit di FAM Publishing 2012.

    Moderator: Hehe. Kisah cinta di SMA, Mas? Seperti kata orang, jika ingin jadi penyair, "jatuh cintalah". Apa pendapat Anda dengan kata-kata ini?

    Denni Meilizon: Betul. Itu memang salah satu indikator orang-orang menulis puisi.

    Moderator: Puisi-puisi awal Anda bertema apa saja, selain cinta?

    Denni Meilizon: Selain cinta, sebab saya pengagum Engku Tauqik Ismail maka tema puisi awal saya tentang Indonesia. Terutama saya adalah pembaca Majalah Horison di tahun 1999 itu banyak mengangkat puisi-puisi Engku Taufiq dalam buku “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”. Kemudian tema alam juga ada.

    Muhamad KhanaFi: Saya ingin bertanya, dalam membuat puisi saya sering terkendala tugas sekolah serta tugas-tugas lainnya. Bagaimana agar saya tetap bisa menulis namun tidak meninggalkan tugas saya? Mohon tipsnya.

    Denni Meilizon: Selamat ya, Anda sudah berkeinginan meluangkan waktu untuk menulis. Yakinlah, banyak orang di luar sana yang tidak bisa meluangkan waktu untuk menulis walau mereka tahu bahwa dengan menulis pikiran akan segar dan jiwa akan tercerahkan. Saya juga sibuk, sama seperti Anda. Saya bekerja sebagai PNS di Bagian Keuangan. Alhamdulillah, sampai hari ini saya sudah menerbitkan 4 buku puisi dan menulis lebih dari 500 buah puisi. Menulis cerpen dan beberapa esai. Saya luangkan waktu untuk menulis karena saya butuh. Biasanya menulis akan saya lakukan ketika tidak ada pekerjaan atau sudah pulang ke rumah. Saya akan menulis sejak pukul 11.00 malam hingga mata mengantuk. Saya juga menyediakan waktu di hari Sabtu dan Minggu. Menulis bisa di mana saja. Tidak apa tidak tuntas. Asalkan konsisten dan lakukan terus menerus.

    Fitri Andriana: Bagaimana cara kita menangkap pesan dari penyair karena terkadang bahasa mereka sulit dimengerti?

    Denni Meilizon: Pesan puisi itu biasanya ada pada judul atau bait terakhir dari puisi. Lain penyair lain cara penyampaian pesannya.

    Dekik Yassir: Kata-kata adalah pokok dari puisi. Tehnik mencapai pemaksimalan penggunaan kata itu sendiri, Da? Atau keberagaman kata sebagai bahan adakah pola untuk menambah perbendaharaannya?

    Denni Meilizon: Polanya bisa didapat dari membaca. Banyaklah membaca.

    Abdullah Rifa'i: Puisi adalah permainan bahasa, bagaimana memilih bahasa yang tepat untuk puisi?

    Denni Meilizon: Bagi saya menulis puisi sama halnya dengan memasak makanan atau sedang bercocok tanam. Masakan kalau tidak tepat bumbunya maka akan terasa tidak enak. Begitu juga menanam. Perbanyak membaca. Jangan segan-segan membaca kamus. Dari situ Anda akan mendapatkan kata yang tepat untuk bahan menulis puisi.

    Brillian Eka Wahyudi: Saya masih bermasalah dalam menyusun metafora. Bagaimana kiat-kiatnya?

    Denni Meilizon Brillian: Metafora didapat dari pengamatan. Alam terkembang menjadi guru. Perbanyak saja membaca. Asah terus permainan katanya.

    Raja Wien: Ketika menulis puisi kita tentu juga memikirkan diksi di dalamnya, seberapa penting diksi yang dihadirkan puisi dibandingkan dengan pesan dan maknanya?

    Denni Meilizon: Sangat penting sekali, Wien. Diksi merupakan ciri khas sebuah puisi. Tanpa diksi bisa dikatakan kita belum menulis puisi.

    Netie Mujizat: Kriteria puisi yang bisa tembus di media cetak seperti apa? Minimal mengirim berapa puisi?

    Denni Meilizon: Media cetak akan menerima puisi sesuai dengan misinya. Perhatikan dan cermati puisi-puisi yang dimuat. Pengiriman biasanya minimal 10 buah puisi.

    Dekik Yassir: Judul, jadi ingat "Sebagaimana Tanah Berkalang Rindu". Bagaimana teknis pertama membuat judul ini, Uda Denni Meilizon? Terkadang saya selalu terkendala dengan bahasa yang justu mematikan atau menjerumuskan diri pada satu larik ini. Sebaiknya setelah menulis larik atau sebelum? Atau justru ruhnya?

    Denni Meilizon: Sebaiknya setelah menulis puisi. Judul bisa kita dapatkan setelah membaca ulang puisi itu.

    Fitri Andriana: Bagaimana cara agar puisi kita mudah dipahami pembaca?

    Denni Meilizon: Jangan pikirkan puisi yang kita tulis akan segera dipahami pembaca. Kalau ingin tulisan dipahami pembaca kenapa tidak menulis esai atau cerita saja?

    Moderator: Bagaimana cara Anda menemukan ide untuk puisi-puisi Anda, Mas Denni Meilizon?

    Denni Meilizon: Ide itukan ada di mana saja. Bacaan, kehidupan sehari-hari, imajinasi, dll. Ide-ide itu berserak di sekitar kita. Tinggal kita ambil dan jadilah sebuah puisi. He-he-he.

    Fitri Andriana: Kemudian apa yang seharusnya dipikirkan ketika kita membuat sebuah puisi?

    Denni Meilizon: Jangan pikirkan hal-hal lain di luar tema dan ide. Fokuslah. Puisi adalah perenungan.

    Heru Yonata: Saya berminat untuk jadi penulis puisi karena saya sering mendengarkan lagu-lagu pop dan ketika saya ingat-ingat kembali, lirik-lirik lagu yang saya sukai itu banyak memakai majas yang menunjukkan kerendahan hati. Bolehkah saya melihat, untuk sekadar contoh kata-kata dari puisi Kak Denni yang menunjukkan majas tersebut?

    Denni Meilizon: Silakan jalan-jalan ke blog saya di http://dennimlz.blogspot.com ya. Di sana banyak puisi saya yang sudah diupload.

    Anik Karima: Bagaimana cara kita untuk menghilangkan perasaan/anggapan bahwa puisi yang kita tulis bakalan sulit dipahami oleh pembaca?

    Denni Meilizon: Saya sudah menjawab pada komentar di atas. Jangan pikirkan kalau puisi kita akan dipahami pembaca. Tuliskan saja.

    Brillian Eka Wahyudi: Bang Denni Meilizon, menyinggung pertanyaan Fitri Andriana, saya malah tidak setuju kalau puisi itu mudah dipahami.

    Widya Putriwayan: Saya itu sering banget nemukan ide dalam kondisi apa pun tapi masalahnya, setiap saya mencoba untuk menjadikannya sebuah cerita yang lebih panjang, di pertengahan cerita selalu kehabisan ide untuk ngelanjutinnya. Bagaimana caranya agar saya tidak kehabisan ide, Pak?

    Denni Meilizon: Saya selalu menyuruh kawan-kawan untuk membaca. Menulis dan membaca adalah satu kesatuan. Tidak mungkin menulis kalau tidak membaca.

    Dekik Yassir: Saya menikmati puisi Uda Denni Meilizon rata-rata berpola bunyi. Musik dalam bunyi ini sulit sekali, jadi kembali saya tanyakan kata terpenting setiap bait, apakah selama membuat puisi mengalir saja, atau memang ada cara memetakannya?

    Nyanyian segala cinta
    Telah lepas dibusurkan jiwa
    Pada engkau, duhai, ladang amalku
    Seluas tanah surga tentu milikmu

    Sebait petikan Uda punya, nih. Jelas kental sekali rasa bunyi-bunyian vokal dalam tiap kata. Ini menghitung-hitung atau bagaimana, Da?

    Denni Meilizon: Kalau saya mengalir saja. Usahakan bunyi larik pertama senada dengan larik selanjutnya, minimal mendekati. Latihan dan latihan. Nanti akan ketemu sendiri bunyi khasnya.

    Dekik Yassir: Artinya ada hitungan tiap bait saja dari awal lariknya ya Uda Denni Meilizon? Ah, perasaan saya juga latihan tiap hari. Hehehe tetapi tidak ketemu-ketemu.

    Denni Meilizon: Ya. Salah satu teknik menulis puisi seperti yang Anda sebutkan di atas. Saya juga melakukannya. Malah terhadap beberapa puisi saya, hitungan kata, hitungan bait, larik dan bunyi menjadi semacam penanda kalau itu puisi saya sekiranya ada yang memplagiat.

    Dekik Yassir: Uda Pinto Janir, nah, tiap kali membaca dan mendengar tuh, senada dengan aliran Uda Denni Meilizon, apa karena faktor lokalitas juga memengaruhi gaya berpuisi ya, Da? Seberapa penting faktor pengendapannya, Da?

    Denni Meilizon: Pinto Janir adalah guru saya dalam menulis. Faktor lokalitas juga menentukan. Alhamdulillah saya terlahir di Minangkabau yang kaya akan ungkapan-ungkapan puitis.

    Abdullah Rifa'i: Kadang-kadang puisi yang dibuat adakalanya antara bait 3 dan 4 kadang-kadang kurang nyambung. Kata kunci apa yang harus kita pakai agar puisi kita tetap padu?

    Denni Meilizon: Kuncinya adalah bait pertama.

    Widya Putriwayan: Menurut Pak Denni, seperti apa cerita yang banyak diminati para pembaca?

    Denni Meilizon Widya: Cerita yang mengungkapkan penderitaan. Bukankah setiap orang suka "bergunjing" perkara penderitaan orang lain? Hhmm... grin emotikon

    Moderator: Uda Denni Meilizon, ketika Anda mengirim puisi-puisi Anda ke media, berapa jumlah puisi yang Anda kirim sekali pengiriman?

    Denni Meilizon: Saya diajari oleh Bang Muhammad Subhan untuk mengirimkan puisi minimal 10 buah per media. Itu yang saya lakukan sampai sekarang.

    Dekik Yassir: Ungkapan puitik ke pengalaman puitik. Adakah cara bercermin terbaik hingga membuahkan hasil puisi yang berkesan, Da Denni? Terus jika memilah-milah penyalurannya ke media adakah tips memperkirakan cepat, tepat untuk termuat?

    Denni Meilizon: Biasanya media akan memilih bahan pemuatan hari Rabu dan Kamis. Kirimkan sebelum hari itu. Cara menghasilkan puisi yang berkesan kalau saya tetap memakai ritual membaca dan membaca, Dekik.

    Priskila Silvia: Selama ini saya masih kesulitan menulis puisi dengan bahasa kiasan, bagaimana mengatasinya?

    Denni Meilizon: Tulislah dengan sederhana saja. Tulis sesuai kemampuan kita. Jangan dipaksakan.

    Mawardi Taman: Sejak saya belajar nulis puisi sampai sakarang sangat jarang dimuat di media-media koran. Misal yang sering saya baca Jawa Pos. Saya beberapa kali ngirim. Tapi tak pernah dimuat-muat. Lalu apa yang bisa saya lakukan? Justru yang sering saya baca malah tulisan-tulisan puisi senior yang terbit.

    Denni Meilizon: Saran saya, baca ulang puisi-puisi yang Anda kirimkan. Coba bandingkan dengan puisi-puisi yang dimuat.

    Murji Ni'am ES-sunurryi: Saya mau bertanya, sekurangnya puisi itu berapa bait? Dan apa harus sesuai irama dan rimanya?

    Denni Meilizon Murji: Bebas saja. Sekurang-kurangnya, 1 larik. Itu sudah puisi. Walau ada kriteria lain.

    Mawardi Taman: Apa selalu seperti itu kak Denni? Atau punya tips bagaimana bisa dimuat juga?

    Denni Meilizon: Ya seperti itu. Atau cara yang lebih ekstrem dekati redakturnya. Ajak redakturnya diskusi. Tawarkan puisi Anda. Pesan saya, jangan putus asa.

    Dekik Yassir: Sekarang ke kata yang disebut imajinatif. Hehehe... sudut pandang puisi kan bebas. Seberapa bebas ini bisa membawa hal yang justru baik tetapi tidak menutup kemungkinan menjadi lebih buruk. Adakah cara untuk membawa imanjinasi pembaca mengikuti pola memancar makna, Da Denni Meilizon. Kebanyakan saya punya bluur dalam satu makna tuh! Hehe jangan dijawab membaca lagi, bloggernya sudah khatam aku baca, Da.

    Denni Meilizon: Hahaha... Jaga alur puisi sesuai ide awal dan tema. Jangan lari ke mana-mana. Makin singkat pola pemadatan katanya, puisi akan semakin baik.

    Murji Ni'am ES-sunurryi: Satu larik itu satu bait ya kak Denni. Menyampaikan pesan dalam puisi itu bagaimana caranya kak?

    Denni Meilizon: Satu larik itu seperti satu kalimat. Sebab puisi tidak memakai pola SPO (K) maka disebut larik bukan kalimat. Menyampaikan pesan dalam puisi itu ya dengan membuat ungkapan dalam puisi sesederhana mungkin. Tidak usah ditulis berbelit-belit.

    Netie Mujizat: Bang Denni Meilizon, cara untuk mengatasi ide yang lari dari ide awal bagaimana?

    Denni Meilizon: Kalau itu terjadi maka Anda punya bahan untuk menuliskan dua buah puisi. He-he. Hentikan menulis puisi pertama. Segera menulis puisi dengan ide yang kedua.

    Dekik Yassir: Artinya dalam menulis anggap saja pembaca itu super pintar dan pasti mengerti, gitukah, Da Denni Meilizon?

    Denni Meilizon: Anggap saja pembaca akan tahu apa yang kita sampaikan. Biarkan nanti pembaca yang membicarakan.

    Murji Ni'am ES-sunurryi: Jadi setiap puisi baiknya mempunyai falsafah ya kak Denni?

    Denni Meilizon: Sebaiknya ada pesan yang disampaikan. Falsafah, filosofi atau ideologi dll.

    Theza Hilda: Bagaimana cara memilih lirik majas yang baik untuk dipahami tapi juga tidak terlalu pasaran untuk dimengerti ?

    Denni Meilizon: Baca kamus dan dengarkan percakapan orang lain. Biasanya ada beberapa ungkapan kata yang tidak biasa, misalnya dialog dengan bahasa daerah/asing.

    Dekik Yassir: Ini pertanyaan ending. Apa penting sebuah susunan puisi itu berdasar seperti bercerita [pembukaan, puncak, dan ending]? Atau hanya pengalaman puitik yang dibenturkan dengan bahasa perumpaan/kiasan/figuratif untuk mencapai makna tersirat dan tersurat? Lalu ide dan tema justru ada setelah jadi puisi?

    Denni Meilizon: Pertama, ide dan tema harus ada sebelum menulis puisi. Judul boleh dipilih setelah menulis puisi. Susunan puisi sebaiknya memakai pola demikian walau dalam puisi itu tidak terlalu penting. Puisi sastra bebas. Silakan bereksplorasi dengan kata-kata.

    Mawardi Taman: Mana lebih kakak Denni sukai dari puisi realis dan absurditas? Karena selama ini banyak di antara pemula yang terjebak di situ. Artinya dalam pemilihan diksi dan lainnya.

    Denni Meilizon Mawardi: Saya lebih suka yang realis. Puisi yang sederhana. Mengalir apa adanya.

    Heru Yonata: Kak Denni Meilizon, kalau pencipta puisi dinamakan "Pujangga"?

    Denni Meilizon Heru: Kata kamus bahasa Indonesia iya.

    Theza Hilda: Lalu dengan pemilihan judul yang baik? Terkadang, sangat sulit untuk menentukan judul yang menarik. Karena, bisa saja seseorang beranggapan, kemenarikan sebuah judul menentukan kualitas puisi itu sendiri.

    Denni Meilizon: Judul yang baik itu adalah judul yang tidak menyimpulkan apa pun. Ambil judul dari isi puisi. Anggapan itu tidak usah didengarkan. Tugas penyair adalah menyair. Kualitas puisi biarkan pembaca saja yang bicara. Theza silakan tuliskan puisi yang lain.

    Moderator: Mas Denni Meilizon, apa pentingnya sebuah komunitas bagi Anda untuk membangun semangat Anda berkarya, khususnya menulis puisi?

    Denni Meilizon: Sangat penting sekali. Dalam komunitas kita bisa saling berbagi ilmu. Tidak penting dari siapa saja, besar atau kecil, tua ataupun muda. Komunitas membentuk seorang penulis/penyair untuk menemukan ciri khasnya. Dan yang paling penting, komunitaslah pembaca dan pengkritik karya kita pertama sekali.

    Nandar Ramdani: Cara membedakan puisi yang bagus dengan yang kurang bagus itu di lihat dari apanya sih?

    Denni Meilizon Nandar: Ha-ha-ha, ini pertanyaan sulit. Sebagai Penyair terus terang saya tidak memiliki wewenang menilai puisi itu bagus atau tidak. Menurut saya, puisi yang telah dituangkan ke dalam tulisan adalah puisi yang bagus. Mungkin lain pandangannya kalau posisi saya sebagai Esais atau kritikus.

    Uzein Al Akhdan: Hal apa yang harus diperhatikan dalam menulis puisi untuk menggambarkan amanat isi puisi tersebut?

    Denni Meilizon: Ide dan tema. Juga tujuan menulis puisi. Untuk apa kita menulis puisi? Jangan lari dari tiga hal tersebut.

    Brillian Eka Wahyudi: Uda Denni Meilizon, saya sedang memprakarsai pembentukan FAM Jakarta. Bagaimana cara alokasi waktu di tengah kesibukan anda sambil menjadi koordinator FAM di wilayah anda?

    Denni Meilizon: Pertanyaan Anda tentang hal ini bisa kita lanjutkan dalam inbox saja. Intinya, luangkan waktu untuk sesuatu hal yang sepenting aktivitas menulis.

    Uzein Al Akhdan:Apa penting berkreasi kata dalam puisi?

    Denni Meilizon: Penting sekali. Bahan baku menulis puisi itu adalah kata itu sendiri. Pandai-pandailah memilih dan menyaring kata.

    Theza Hilda: Bagaimana cara menguasai kata dengan cepat. Untuk puisi yang bermajas abab atau aaaa, rasanya begtu sulit memadupadankan agar menyimpan makna tersirat dengan jelas?

    Denni Meilizon: Karena waktu singkat, ada sebuah teknik yang bisa dilakukan dengan cepat. Ambil sebuah koran di depan Anda. Robek kecil salah satu halamannya. Amati kata-kata dalam halaman tersebut, berita apa saja. Kata dalam kalimat apa saja. Tuliskan kata tersebut.

    Uzein Al Akhdan: Dalam menulis puisi salah atau tidak satu baris/larik puisi itu panjang kak.

    Denni Meilizon: Ciri khas puisi adalah pemadatan kata. Padatkan kata. Makanya puisi butuh bacaan berulang-ulang. Renungkan. Endapkan. Baca lagi. Sebelum dipublis kepada khalayak.

    MODERATOR: Mas Denni Meilizon, pertanyaan penutup, apa pesan Anda untuk penulis pemula, khususnya yang ingin belajar menulis puisi?

    Denni Meilizon: Jangan putus asa dan mengeluh. Perbanyaklah pengetahuan dengan membaca (tersirat dan tersurat). Banyak-banyaklah bertanya. Latihan dan latihan. Semoga Anda menjadi Penyair yang diperhitungkan kelak. (*)

    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Denni Meilizon: “Saya Sibuk, Tapi Saya Berusaha Terus Menulis Puisi” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top