Skip to main content

Di Bawah Langit Pangkalan Bun

Judul: Di Bawah Langit Pangkalan Bun
Penulis: Sasha Lina Saputri
Kategori: Novel
Terbit: Juni 2015
Tebal: x + 548 hal; 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-602-335-043-8
Harga: Rp65.000,-

“Cinta yang melayang-layang di langit itu menakutkan, dan cinta yang terkubur di bumi itu menyedihkan.” Itulah ungkapan yang paling pas untuk novel yang berjudul Di Bawah Langit Pangkalan Bun. Cerita fiksi ini diangkat dari tragedi jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 yang mampu menguras air mata pembaca.

Jane adalah wanita yang selalu terlihat tegar. Meski hatinya rapuh tetaplah jiwanya teguh. Cintanya utuh, walau kenyataan yang ia hadapi adalah cinta yang telah runtuh. Itulah nasib yang harus Jane terima, mengikhlaskan kekasihnya untuk seorang Zora yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Namun kehendak takdir siapa yang mampu melawan-Nya? Pada puncaknya cinta Bawae dan Zora yang indah harus berakhir melewati belenggu dan nestapa.

Di bawah langit senja Pangkalan Bun, Bawae menemukan Zora yang sudah tak bernyawa. Jane menyaksikan bagaimana pilunya Bawae yang menangisi kekasihnya. Ia juga melihat bagaimana air mata itu jatuh ke wajah Zora yang sudah seputih kertas. Sambil memeluk kekasihnya, Bawae menghapus air matanya, lalu menengadahkan wajahnya ke langit senja, lelaki itu pun berdoa: “Ya Allah, Tuhanku yang Maha Rahim. Jika wanita ini jodohku yang sebenarnya, maka satukanlah kami di surga nantinya…”

Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…