• Info Terkini

    Saturday, June 27, 2015

    Membungkus Kebaikan dalam Cinta

    Singgalang, 28 Juni 2015
    Judul: Cahaya Hidayah di Langit Senja
    Penerbit: FAM Publishing
    Penulis: 32 Penulis Indonesia
    Kategori: Antologi Cerpen
    ISBN: 978-602-335-000-1
    Terbit: Januari 2015
    Tebal: 283 hal; 14 x 20 cm
    Peresensi: Aliya Nurlela

    “Cahaya Hidayah di Langit Senja” adalah sekumpulan cerpen yang ditulis 32 Penulis Indonesia. Tema dalam cerpen-cerpen ini berupa tema cinta yang bernilai dakwah. Sesuai judulnya yang Islami, para penulis menyuguhkan cerita yang mengusung nilai-nilai Islami dan mengandung muata-muatan moral. Bukan semata-mata menyuguhkan tema cinta biasa, apalagi picisan.

    Judul utama buku ini mengambil salah satu judul cerpen karya Muhammad Firhansyah. Dalam cerpennya, penulis  menyuguhkan cerita yang membuat terharu tentang perjuangan seorang pemuda yang menjadi mualaf. Shandy nama pemuda itu. Sejak usia 13 tahun, ia suka sekali mendengar kumandang azan di senja hari. Dia akan menikmati lantunan merdu itu hingga senja beranjak. Namun kebiasaannya ini tidak disukai sang ayah yang beragama Nashrani. Bahkan ketika Shandy tamat SMA dan menyatakan keislamannya, sang ayah marah serta memukuli. Shandy pun diusir dari rumah. Shandy pergi dan menjauh dari rumah orangtuanya, hingga bertemu Pak Sadikin orang baik hati yang merawatnya. Sepuluh tahun telah berlalu, Shandy masih teguh dengan keimanannya, mendapat bimbingan keagaamaan dan belajar di Pesantren. Pemuda ini telah menjadi seorang muazin yang melantunkan suara azan dengan indah. Banyak gadis-gadis terpikat dan berharap menjadi pendamping hidup pemuda saleh ini. Namun belum juga Shandy berniat menunaikan separuh agamanya, ia mendapat kabar duka yang dititipkan ibunya pada Pak Sadikin. Ayahnya yang dulu kasar dan tega mengusirnya, telah wafat setahun lalu. Shandy merasa terpukul dengan kabar itu, sebab ia belum sempat bertemu ayahnya untuk terakhir kali. Kabar itu pula yang membuat Shandy memutuskan pulang ke rumah ibunya, tanpa sedikit pun dendam, bahkan memberikan kasih sayang sepenuhnya pada sang ibu yang sedang sakit. Sikap Shandy, membuat sang ibu trenyuh dan mengungkapkan hal yang sesungguhnya. Menurut ibunya, setelah kepergian Shandy ayahnya menyesal dan menangisi kesalahannya, mengurung diri hingga sakit-sakitan. Sang ibu pun menyatakan kekagumannya pada agama baru Shandy dan minta dibimbing untuk mengucap dua kalimat syahadah. Shandy sangat terharu, ibunya yang sedang menderita kanker stadium 4 itu akhirnya dapat mengucap kalimah syahadat di akhir hayatnya. Langit menjadi saksi atas hidayah Islam yang indah, cinta yang tulus dan bernilai ibadah. Sebuah perjuangan pahit di awal, namun berbuah manis di akhir.

    “Lelaki tua dan Penjual Buku” adalah cerpen lainnya yang ditulis apik oleh Ken Hanggara, tentang sebuah takdir yang mengajarkan si penjual buku mengenal Tuhan. Untuk mengenal Tuhan, tidak selalu datang lewat bimbingan seorang ulama atau ustad. Siapapun bisa mengajak dekat kepada Tuhan, anak kecil sekalipun. Realita inilah yang disuguhkan Ken Hanggara dalam cerpennya. Melalui seorang lelaki tua penjual padasan, si penjual buku yang masih muda itu menemukan kesadaran. Lelaki tua yang setiap hari membawa barang jualan berat, langkah terhuyung, fisik tak kuat lagi, dan dagangan yang jarang laku, masih rajin menunaikan salat. Sementara dirinya yang masih muda, fisik kuat, barang jualan tidak terlalu berat, tak peduli akan pentingnya menunaikan kewajiban salat. Bahkan buku-buku yang dijual pun tidak pernah dibaca dan tidak tahu apa isinya. Dia lebih banyak menyalahkan takdir yang dianggap pahit dan kebahagiaan tak berpihak padanya. Berkat obrolan ringan dengan lelaki tua itu, kesadarannya terbuka; orang yang memasuki usia senja saja bisa berpikir sedalam itu—selalu mendekat pada Allah—mengapa dirinya tidak? Cerpen ini ditutup dengan satu kalimat yang tepat, “Tak jauh dari keterbalikan yang kudapati di diri lelaki tua, sebuah takdir mengajariku mengenal Tuhan”. Ending yang manis.

    Cerpen selanjutnya ditulis oleh Zul Adrian Azizam berjudul “Ibulah Mataku”. Cerpen ini bercerita tentang tokoh Rian yang mengalami gangguan pada saraf mata kirinya, hingga berpotensi kebutaan. Hal ini akibat tamparan meleset saat bermain olahraga bersama teman-temannya. Hasil pemeriksaan dokter membuat sang ibu bersedih, karena Rian harus dioperasi,  apalagi biaya operasi yang harus dijalani tidaklah sedikit. Namun Rian justru menegarkan dan menenangkan sang ibu. Rian memilih tidak  dioperasi dan menerima kondisinya sekarang yang hanya bisa melihat dengan mata sebelah. Baginya, ibu adalah sumber kebahagiaannya. Dalam keterbatasannya, ia tetap semangat dan berprestasi hingga membuat ibunya tersenyum bangga. Rian membuktikan hal itu, ia mempersembahkan IPK 4,00. Baginya, ibu adalah matanya.

    Cerpen-cerpen lainnya tak kalah menarik, menyuguhkan tema cinta dengan berbagai konflik yang seru, asyik dan enak untuk dibaca. Buku cerpen ini bisa menjadi bahan perenungan di tengah banyaknya realitas kehidupan yang anomali. Lewat fiksi, anomali-anomali itu menjadi lebih menarik, setidaknya untuk tidak cepat menghakimi terhadap suatu keadaan. Kebaikan demi kebaikan pun terbungkus rapi dalam cinta, menimbulkan kesadaran yang tak terduga.  (*)

    *)Aliya Nurlela, Novelis dan Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Membungkus Kebaikan dalam Cinta Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top