• Info Terkini

    Friday, June 12, 2015

    Ulasan Cerpen "Beda" Karya Srea (FAMili Bandung)

    sumber: ifanjayadi1980.wordpress.com
    Cerpen ini berkisah tentang Sean dan Aldi yang pada akhirnya harus "berpisah" sebab perbedaan mahzab. Sean teguh, begitupun Aldi. Keduanya sama-sama meyakini apa yang dijalani selama ini paling tepat. Hanya saja, perbedaan itu tidak akan pernah berubah. Suatu waktu, keputusan berat pun diambil. Keduanya menyadari itu akan dan harus terjadi. Keduanya pasrah.

    Dalam cerpen ini banyak koreksi salah eja, di antaranya: "di simpan", "diluar", "diantara", "terelakan", "apapun", "madzhab", "ustadz (ustadzah)", "syetan", "Al-Qur'an", "menelpon", "telpon", "hidayahNya", dan "mempengaruhi" yang seharusnya ditulis: "disimpan", "di luar", "di antara", "terelakkan", "apa pun", "mahzab", "ustaz (ustazah)", "setan", "Alqur'an", "menelepon", "telepon", "hidayah-Nya", dan "memengaruhi".

    Untuk kata "kuncen" sebaiknya diketik dengan huruf miring, sebab merupakan bentuk kata serapan. Sementara itu, kesalahan ketik ditemukan lebih dari satu, yakni kata "saying", yang mestinya "sayang". Pesan untuk penulis agar ke depan mengoreksi ulang tulisan Anda sebelum mengirimnya ke media atau perlombaan. Lakukan koreksi berkali-kali.

    Perhatikan penggunaan partikel "di" sesuai fungsinya. "Di" pada keterangan tempat dan waktu seperti: "di luar", "di rumah", "di malam hari", dan sebagainya, posisinya terpisah dari kata sebelumnya. Sedangkan "di" sebagai kata kerja pasif, ditulis gabung menjadi: "disimpan", "dipukul", "diminum", dan sebagainya.

    Penggunaan tanda titik juga mesti diperhatikan. Ada beberapa kalimat yang dipisah oleh tanda koma, padahal kalimat tersebut masing-masing berdiri sendiri.

    Terus berkarya dan jangan berhenti berlatih.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIAwww.famindonesia.com
    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]
     

    BEDA Karya: Srea ID FAM2252M

    Ruang kerja yang bernuansa hitam merah itu tampak berserakan kertas dan pensil warna, serta beraroma pekat kopi khas Aceh, dibaluti musik pop dan beberapa instrumen dan tentu saja alunan suara keyboard yang dengan konsisten berirama mengikuti alur perasaan sang pengguna komputer itu. Sesekali Sean terdiam, membaca ulang tulisannya yang sudah hampir mencapai 15 lembar itu.

    “Hhhhhhh” desahan napasnya mulai menderu.

    Secangkir kopi pun dia minum yang tinggal setengahnya itu, namun matanya masih berlari-lari dalam kalimat di monitornya.

    “Cukup!” katanya kepada diri sendiri. File-nya pun segera di simpan dalam folder bernamakan ‘BEDA’.

    ***

    From: Fainaldi
    Happy Great Day

    Pesan masuk itu baru sempat dia buka. Sean tersenyum dan mulai membalasnya.

    To: Fainaldi
    Aamiin. You too :)

    Tak ada lagi balasan. Sean menyimpan ponselnya di meja. Dia sangat sadar betul balasannya hampir telat seharian. Segera dia menyantap nasi goreng yang baru dia beli waktu menuju pulang ke kostannya itu. Kostan yang cukup besar itu kini menjadi kamar, ruang tamu, ruang kerja sekaligus dapur, sudah hampir 2 tahun dia menempatinya.

    Semenjak memutuskan untuk bekerja menjadi editor di salah satu majalah itu kini dia sibuk membuka komputer, lalu mengedit, mengetik, menyimpan, mengirim ke redaktur dan begitu seterusnya. Cukup membosankan tapi dia menyukainya.

    Kesibukannya di kantor memang tidak bisa terelakan lagi. Dari pukul 07.00 WIB hingga 14.00 WIB dia menjadi kuncen di ruangan kecil ber-AC itu, selebihnya dia bisa menghirup udara segar diluar kantor ataupun di kostannya. Namun, hari ini dia bekerja lembur hingga pukul 17.00 WIB baru sampai kostan.

    Setelah selesai makan. Tubuhnya seperti tidak mengenal lelah, Sean segera membereskan kamarnya yang dari tadi pagi tidak sempat dia bereskan. Lalu pergi untuk mandi. Kemudian, membuka komputernya dan mulai pergi ke ruang imajinasinya untuk menuliskan beberapa tulisan yang hingga kini hampir 10 file dengan judul berbeda dan tema yang sama yaitu ‘BEDA’.

    Sejenak dilihat recent update di Blackberry Messager-nya, terlihat personal message  milik Aldi; “Tuhan memang satu, kita yang tak sama!”. Tertegun lama Sean memandang pesan tersebut, walau entah untuk siapa PM tersebut diajukan sang penulis, tapi dia yakin betul bahwa antara dia dan Aldi sedang tidak baik-baik saja.

    Setelah cukup lama dia dekat dengan Aldi, setahun pertama dia jalani begitu indah sebagai seorang teman dekat (bukan pacaran). Keduanya cukup anti dengan kata pacaran, mereka memang sedang belajar mengkaji ilmu islam, sejak SMK, kuliah hingga sekarang masing-masing sudah bekerja, mereka rutin mengikuti kajian islam di kelompok liqo masing-masing.

    Hanya saja memasuki tahun kedua, setelah mereka sering berdiskusi tentang apapun terutama tentang kajian islam, mereka sering berdebat dan saling menguatkan pendapat dengan sumber yang sama-sama kuat yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    Hingga akhirnya terpecahlah masalahnya, bahwa mereka menganut madzhab yang berbeda. Yang secara hakikat (kebenaran) mereka menyembah Allah dan Rasul Muhammad SAW, namun secara syariat (peraturan/fiqih) dan tarekat (aliran/jalan) mereka berbeda.

    Mereka pernah membahas soal ini bahkan bertanya kepada ustadz/ustadzahnya masing-masing, dan jawabannya cukup beragam dengan hujjah yang kuat.

    “Sejarah memang sudah mencatatnya seperti itu.”

    “Dan kita harus begitu saja mempercayai sejarah sebagai penerimaan takdir bahwa kita hidup di zaman sekarang?”

    “Tak perlu kita perdebatkan soal sejarah. Wallahu’alam bishawab.”

    “Tapi bagaimana dengan sejarah yang berbeda dengan sumber yang sama-sama kuat? Kita harus mempercayai yang mana? Sedangkan isi sejarahnya hampir bertolak belakang?”

    “Setiap manusia memiliki hati nurani. Ketika sampai kepadanya ilmu pengetahuan yang harus didasari keimanan, maka hati nuraninya akan menolak jika itu salah, dan akan menerima (ada ketenangan) jika itu benar.”

    “Bagaimana dengan hati yang sudah dipenuhi atau dikuasai syetan? Bagaimana jika hati nuraninya sama sekali tidak bisa memilih?”

    “Manusia juga diberi akal pikiran. Logika dapat membantunya untuk menentukan pilihan.”

    “Bagaimana jika pikirannya sudah tercuci. Bagi orang awam sepertiku, yang baru 2 jam belajar Al-Qur’an, yang baru saja mau mengetahui tentang islam, bisa saja pikiranku dicuci dan dipengaruhi oleh oknum tidak bertanggungjawab dengan hujjah-hujjah kuat mereka untuk meyakini ilmu dan mengkaji tanpa dasar iman yang kuat. Bagaimana?”

    ***

    From: Fainaldi
    Assalamu’alaikuum.
    Apa kabar, Sean?
    Sudah tidur?

    Reply To: Fainaldi
    Waalaikumussalam.
    Alhamdulillah baik hari ini. Kabarmu?
    Belum tidur, masih ngetik.

    From: Fainaldi
    Hmm. Syukurlah.
    Alhamdulillah kabarku baik.
    Oh, lagi sibuk? Aku ganggu?

    Reply To: Fainaldi
    Engga. Santai aja.
    Ada apa?
    Tumben SMS malem2?

    From: Fainaldi
    Hehehe. Gak boleh?

    Reply To: Fainaldi
    Boleh lah. Aneh aja.
    Setelah kejadian kemarin2, kamu baru SMS.

    From: Fainaldi
    Aku nunggu kamu hubungin aku sebenarnya.
    Tapi tak ada kabar apapun darimu.
    BBM juga jarang update PM dan DP.

    Reply To: Fainaldi
    Iya. Males aja.
    Lagi banyak kerjaan juga.

    From: Fainaldi
    Oh, oke.
    Sean, sepertinya kita perlu bicara.

    Reply To: Fainaldi
    Tentang?

    From: Fainaldi
    Tentang semuanya.

    Reply To: Fainaldi
    Haha. Aku gak ngerti.
    Yang spesifiknya apa?

    From: Fainaldi
    Kamu jangan pura-pura engga ngerti, Sean.
    Akhir-akhir ini hubungan kita engga jelas.

    Reply To: Fainaldi
    Hubungan apa?

    From: Fainaldi
    Kedekatan kita.
    Maaf, Sean, please, jangan pura-pura bego gitu ah, hehe

    Reply To: Fainaldi
    Hehe. Oke. Jadi?

    From: Fainaldi
    Hhhhhhhh….
    Papaku jodohin aku.


    Reply To: Fainaldi
    Ohya? Selamat ya!

    From: Fainaldi
    Tolong, Sean.
    Aku butuh kita ngomong serius.

    Reply To: Fainaldi
    Aku serius, kok.

    Aldi pun menelpon Sean. Pembicaraan dingin mereka kini beralih dari SMS ke via telpon. Pembicaraan berlangsung masih dingin.

    Aldi: “Papa pikir sudah saatnya aku menikah.” Ucapnya pelan tapi seperti petir di siang bolong bagi Sean.

    Sean: “Tapi bukan denganku?” Potongnya dingin.

    Aldi: “Sean, aku berat buat jauh darimu.”

    Sean: “Aku juga.”

    Aldi: “Aku saying kamu.”

    Sean: :”Tapi lebih saying papamu? Dan itu bagus, memang seharusnya begitu.”

    Aldi: “Maafkan aku.”

    Sean: “Iya. Maafkan aku juga.”

    Aldi: “Kamu gak salah. Aku yang salah.”

    Sean: “Kamu siapa? Tuhan? Sok menghakimi.”

    Aldi: terdiam.

    Sean: “Bukankah tanpa ada perjodohan ini pun, tanpa papamu tahu kedekatan kita pun, kita memang sudah tak bisa bersatu?”

    Aldi: “Aku pusing, aku bingung dengan jalan kita.”

    Sean: “Aku juga. Tapi mau gimana lagi. Ya udah jalanin aja.”

    Aldi: “Kamu kok kayak gak sedih bakal pisah dari aku, gak jadi nikah sama aku.”

    Sean: “Aku sudah menyangka ini bakalan terjadi. Dari awal. Dari kita sering berdebat untuk hal kecil dan tidak ada yang mengalah!”

    Aldi: “Hmm”

    Sean: “Prinsip itu dasar hidup. Jika sudah beda. Cinta bukan alasan kita untuk bersama. Jika dipaksa dan kita sering berdebat, cinta itu lama-lama bisa pudar.”

    Aldi: “Kamu benar.”

    Sean: “Aku sedih, Al. Aku mau nangis. Tapi gak keluar. Hati aku sesek.”

    Aldi: “Maafin aku.”

    Sean: “Udah. Gak apa-apa.”

    Aldi: “Kamu pasti dapetin cowok yang lebih baik dari aku.”

    Sean: “Dan satu madzhab denganku.”

    Aldi: “Iya. Aamiin.”

    Sean: “Aamiin. Makasih.”

    Aldi: “Seandainya kamu….”

    Sean: “Aku pindah madzhab?”

    Aldi: “Sean, apa ini udah bener-bener gak bisa diperbaiki?”

    Sean: “Kalau di posisi kamu. Kamu mau gak pindah?”

    Aldi: “Sangat enggak!”

    Sean: “Sama!”

    ***

    Kita bagai hitam dan putih ya? Pada hakikatnya kita sama-sama warna. Seandainya kita sama-sama menyadari bahwa jika kita menyatu dan menerima warna-warna yang lain, kita akan indah, seperti pelangi. - Aldi

    Enggak. Kita ini bagai air dan api. Diantara kita beda dan bertolakbelakang, tak akan pernah bisa bersatu. Kecuali salah satu lebih dominan dan mengalah. Air yang menggenang sejuk, atau api yang panas membara. – Sean

    Kita gak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Selama pada hakikatnya kita benar. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayahNya kepada kita yang berada dalam jalan yang salah. Kita yang sama-sama merasa benar dengan hujjah yang sama-sama kuat dan akurat, tak baik saling menyalahkan, tak baik saling mengkafirkan. Kita bukan Tuhan, tak berhak menghakimi. – Aldi dan Sean

    “Kita boleh saling mempengaruhi. Tapi, tak boleh saling memaksa.” - Kutipan

    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Beda" Karya Srea (FAMili Bandung) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top