• Info Terkini

    Sunday, June 28, 2015

    Ulasan Cerpen "Dibaok Angku (Dibawa Jin)" Karya Maryam Syarief (FAMili Bukittinggi)

    NET
    Isi cerita ini hampir tidak mengesankan apa yang dibawa oleh judulnya. "Dibawa Jin", begitulah kira-kira, menjadi semacam teror yang bagi sebagian pembaca diharap bisa mendirikan bulu kuduk dan memicu adrenalin. Sayangnya sejak awal cerita agak monoton, mengisahkan soal Amak yang memijat pasiennya dengan bantuan jin dan segala problema hidup di sekitarnya. Saran dari Tim FAM adalah agar penulis lebih memfokuskan persoalan/konflik pada salah satu hal, bukan bercabang, hingga cerita kurang fokus. Padahal, ide cerpen ini berpotensi digali lebih dalam lagi.

    Tim FAM juga menemukan banyak sekali kesalahan ketik dan ejaan. Ini hanya sebagian saja kami cantumkan (tidak semuanya). Petama, kata-kata "usia nya", "wajah nya", dan beberapa bentuk serupa (partikel "nya" dilepas dari kata sebelumnya) mestinya ditulis gabung menjadi: "usianya", "wajahnya", dan seterusnya.

    Kedua, penulisan "didahi", "dirumah", "disetiap", "di bawakan", "di panggil", dan beberapa bentuk serupa juga tidak tepat. Yang benar: "di dahi", "di rumah", "di setiap", "dibawakan", "dipanggil" dan seterusnya. Bedakan penanda waktu, tempat, dan posisi (seperti "rumah", "dahi", "malam hari", dsb) dengan kata kerja dasar (seperti "bawa", "panggil", "pukul", dsb). Partikel "di" wajib dipisah jika bertemu penanda waktu atau tempat. Sedangkan bila bertemu kata kerja dasar, maka penulisannya digabung menjadi kata kerja pasif seperti "dibawakan" dan "dipanggil".

    Contoh salah penulisan lain: "kepelipis", "kerumah", "keatas", "hanphone", "sholat", "ustad", yang harusnya ditulis: "ke pelipis", "ke rumah", "ke atas", "handphone", "salat", "ustaz". Di luar kata-kata ini sebenarnya masih banyak yang kurang tepat atau tidak sesuai EYD. Diharapkan kepada penulis ke depan agar menjadikan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai rujukan agar tulisan Anda lebih rapi. Tanda baca juga demikian; pelajari kembali fungsi dasar tanda baca titik dan koma, serta bagaimana peran kedua tanda baca tersebut dalam sebuah kalimat. Dalam cerpen ini ada beberapa tanda koma di antara kalimat yang bisa berdiri sendiri.

    Untuk isi cerpen, fokuskan konflik pada satu hal. Masukkan poin-poin penting saja, tanpa harus mengisahkan banyak hal. Jika unsur yang dimasukkan semakin memperlemah tujuan cerita, alangkah baiknya unsur-unsur yang melebar itu tidak perlu disertakan. Yang ingin ditonjolkan di sini adalah kesan mistis. Maka buatlah setiap bagian cerpen ini penuh dengan kesan mistis hingga si pembaca tidak merasa jauh dari kesan itu bahkan walau sejarak satu kalimat pun.

    Namun, FAM Indonesia tetap memberikan apresiasi atas lahirnya cerpen ini. Tetap semangat dan terus berlatih.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING

    DIBAOK ANGKU
    (DIBAWA OLEH JIN)


    Oleh Maryam Syarief (IDFAM1975M)

    Beberapa saat Diana terdiam tanpa sepatah suara selain merasakan pijatan tangan tua pada perutnya yang sudah semakin membesar. Amak  yang terlihat lebih segar saat tersenyum, berusaha menghapuskan kelelahan setelah berjalan seharian. Usia nya mendekati 60 tahun, namun amak tetap kuat berkelana kian kemari memenuhi panggilan. Tudung penutup kepala yang sudah sedikit lusuh membuat wajah nya terlihat sedikit berisi meski sebenarnya ia  kurus.

    “ndak capek mak?” Tanya Diana seraya menyapu keringat yang sudah menumpuk didahi Amak, yang kini semakin menggenang dan jatuh mengalir kepelipis matanya.

    “amak ko ndak capek nak, malah capek kalau harus dirumah saja sepanjang hari” senyuman itu selalu mengiri perkataan akhir amak saat ditanya  pertanyaan yang sama. Sekian kali Diana dan adik-adik menanyakan kepada amak  pertanyaan yang nyaris sama, namun amak selalu memberikan jawaban yang juga persis sama.

    “sari, tolong ambilkan air putih untuk amak ya,  “ suara Diana terdengar setengah berteriak, tapi bagi penduduk gunung sepertinya hal ini harus dilakukan saat memanggil seseorang yang jaraknya agak jauh, suara angin terkadang juga membawa panggilan jika bernada lembut, belum lagi sahut-sahutan jangkrik hutan yang kadang kala tak mau kalah dengan suara manusia.sehingga penduduk gunung dikenal dengan orang yang bersuara keras.

    Amak meneguk air yang telah di bawakan oleh Sari anak bungsu dari 3 bersaudara, Diana sebagai si sulung merasa kasihan kepada Amak yang harus bekerja sebagai tukang urut yang selalu memenuhi panggilan pasien saat di panggil lewat dering hanphone  jadul bewarna biru tua, tombol bagian atas tampak pudar seiring usia yang sudah tak lagi baru.

    Apak hanya mampu memberikan beberapa karung beras setiap kali ia panen Padi hasil garapan sawah orang, dengan system bagi sama rata Apak selalu membagi dua hasil panen berasnya dengan sipemilik sawah. Meskipun begitu kebutuhan  pokok keluarga sudah terpenuhi, dengan hasil jerih keringat Amak lah lauk, sayur bisa melengkapi hidangan saat makan dirumah.

    Suami Diana termasuk orang yang bertipe  cukup cuek, dengan modal sebatang rokok yang terbakar ujung nya dan sembulan asap yang merusak udara ia pulang kerumah  milik orang tua Diana. Senyum simpul dan lambaian tangan keatas sebagai ucapan salam datang nya kepada keluarga Diana. Duduk di ruang keluarga yang berisi sofa tua dengan warna hijau kusam, Sutan menaikkan kaki keatas meja kayu pelengkap ruang tamu itu. Ia merebahkan badan dan menutup mata hingga waktu senja menyapa.

    Diana hanya bisa menggelengkan kepala saat menyaksikan kesekian kalinya sikap suami pilihannya itu. Penyesalan tidak bisa mengubah keadaan yang kini tengah ia alami. Sebagai seorang istri ia hanya bisa berdo’a untuk kebaikan suaminya, tanpa henti disetiap sujud sholatnya.

    ***

    Amak tak mau mendengarkan larangan Diana agar tak lagi mengurut orang dengan bantuan dari alam lain, tak jarang Angku pengiring Amak  meminta syarat yang tergolong sulit dicari oleh pasiennya. Jika syarat yang diminta tidak terpenuhi biasanya imbasnya akan mendatangi Amak, terkadang demam tinggi mendadak menyerang tubuh tua itu, suara-suara yang selalu berganti nada dan kata-kata mengiringi mulut nya dengan mata terpejam.

    Seisi rumah  hanya bisa menatap terdiam tubuh tua itu yang terkadang meraung kesakitan, apakah ia juga disakiti atau tidak, tidak ada yang tahu, hanya sang pencipta lah yang tahu kala itu. Dengan penuh air mata Diana berlari kebelakang rumah untuk tidak ingin melihat kejadian itu, kandungannya akan ikut merasakan kepedihannya jika ia terus ada di dekat Amak.

    Air mata tak cukup kuat menandingi kepedihan yang dialami Amak , tak ada yang bisa membantu amak saat ini selain Allah SWT, namun apakah Allah mau menolong hambanya yang telah menyekutukanNya, sholat yang telah Amak kerjakan, puasa, tahajjud dan sebagainya, amalan apa saja yang diperbuat oleh orang yang menyekutukan Sang Pencipta hanya akan menjadi butiran debu yang diterbangkan angin. Begitu lah ceramah Ustad  saat khuthbah Jum’at kemarin yang sempat nyaring didengar oleh Diana dirumah.

    Kokok ayam membangunkan tubuh Diana di subuh hari, saat menatap jam kedinding kamar kayu yang sering dimasuki angin lewat lorong-lorong terbuka dicelah kayu, masih jam 03.26 WIB, Diana menyilangkan tangan utuk mengusap-usap lengannya, berusaha menyapu dingin pagi hari, cuaca di pegunungan merapi ini memang selalu dingin apalagi di pagi hari, air terasa ES, saat kakinya menyentuh lantai Diana menggigil, rasa itu kini merasuk kedalam tulangnya, namun kakinya melawan rasa itu dengan mengayunkan langkah menuju dapur.

    Kepulan asap mulai menyebar dari tungku yang membakar daun kelapa kering bercampur kayu bakar hutan, Diana mulai memasak air untuk menyeduh teh panas pembuka sarapan pagi, air yang telah mendidih pun dipindahkan ke dalam teko dan termos, kini gilliran nasi yang harus dimasak, bergantian hingga sahutan suara mengaji dari masjid di sebelah sawah Apak , sambil menunggu nasi Diana berwudhu dan membangunkan Amak yang terkapar di atas kasur Palembang diruang tengah, tangannya masih memegang HP, “Amak ini sudah dibilang kalau tidur hapenya disimpan dulu, kenapa tidak mau mendengarkan aku” celetukan Diana itu membawa dirinya menghampiri Amak yang tampak tertidur pulas, Hp ditangan Amak pun diambilnya.

    “Ting tong” hp nya berdering, niat untuk meletakkan hp ke atas rak TV pun diurungkan Diana, ia mencoba melihat kelayar Hp yang ada ditangannya itu, ada pesan masuk dari nomor yang belum bernama, pelan-pelan ia buka pesan itu, “masyaAllah Amak kan besok hari senin, katanya mau puasa, kenapa masih menerima panggilan, kekota lagi” Diana  kini menggerutu kuat, ada setetes air yang jatuh kelayar hp, itu air mata nya yang mengkhawatirkan Amak nya, balasan pesan itu mengucapkan terima kasih kepada Amak sekaligus mengirimkan alamat yang akan didatanginya besok.

    Seusai sholat subuh Diana menghampiri Amak, ia memijat kaki ibu nya dengan penuh kelembutan, sambil menatap wajah ibunya ia memberikan senyuman, “kini Amak mau pergi kemana mak?, mak sekali-kali boleh lah Amak mau menemani Diana dirumah, kenapa harus setiap hari pergi keluar, Amak juga perluu istirahat, ganti-ganti menemani calon cucu ini mak”.

    “Amak mau nak, Cuma panggilan ini perlu, kalaupun Amak tidak keluar setiap harinya bagaimana kita bisa makan nak,”.

    “tapi beras kita kan sudah cukup mak, untuk lauk bisa kita manfaatkan saja apa yang ada dipekarangan rumah, terong, pucuak ubi, dengan sambal lado saja sudah bisa makan mak, tidak perlu lah harus yang mahal-mahal sambalnya mak”

    Kali ini ungkapan itu dibalas dengan senyuman dan usapan lembut tangan tua ke kepala Diana, matanya dalam sekali menatap kesudut terdalam bola mata Diana. Tanpa kata kini ia memeluk anak sulungnya itu dengan erat, entah sudah berapa lama ia tak merasakan pelukan hangat seorang ibu, untuk 2 tahun setelah pernikahannya dengan lelaki desa sebelah itu rupanya, pelukan itu sangat hangat, mampu mengalahkan dingin udara pagi ini.

    Diana kini menyuapkan sepotong roti dan menyodorkan segelas teh panas hasil dari perjuangannya menghidupkan tungku pagi hari. Terlihat wajah tua itu tersenyum dan bersemangat menyantap sarapan, ayah dan suaminya pun terbangun dari tidur lelapnya, sudah jam 06.30 begini lah para lelaki dirumah ini bangun, kalah jauh dengan ayam peliharaan suamiku, yang sedari tadi sudah mengais tanah untuk mencari sesuap makanan untuk anak-anak dan dirinya.

    Suami dan ayahnyasangat jarang sholat subuh, untuk zuhur, ashar, magrib dan isya pun masih tergolong susah, mereka beralasan belum bisa khusuk dan ikhlas dalam sholat, maka mereka akan menunggu saat yang pas untuk khusuk dan ikhlas untuk sholat, ntah apalah yang harus ia jawab kelak anaknya lahir dan bertanya kenapa ayah dan kakeknya tidak sholat.

    Setelah sarapan pagi Amak berangkat ke kota untuk memijat orang yang telah menghubunginya tadi malam, Diana seakan menahan sesuatu saat bersalaman dengan ibunya itu, tenggorokannya terasa ada yang menghambat, berat dan sesak. “jangan terlalu dipaksakan ya mak , ingatlah calon cucu yang sangat merindukan nenek nya untuk selalu bersamanya sebelum kelahirannnya Mak”. Diana menggenggam tangan ibunya sangat kuat, tanpa sepatah kata ibunya mengusap kepalanya dengan lembut sembari tersenyum.

    Sudah larut matahari dalam galaunya gulita, tak sebanding dengan hati Diana yang berdiri didepan jendela, melihat kesetiap angkot hijau yang lalu lalang dari kota. Belum satupun yang berhenti didepan rumahnya, fikirannya tak bisa lepas dari bayangan wajah ibu yang sangat ia cintai, azan magrib pun berkumandang merdu dari toak masjid seberang sawah, kali ini ia sangat khawatir.

    Tak ada rupanya yang merasakan hal seperti dirinya di rumah itu, bapak nya masih saja sibuk bergelak tawa menyaksikan acara TV, suami tercinta nya tak mau kalah dengan matahari, ia ikut tenggelam dalam buaian mimpi sedari senja tadi, sedangkan adik nya masih sibuk melipat dan menggosok tumpukan kain yang sudah seminggu tak disentuh. Semua tak ada yang memikirkan Amak rupanya.

    Semilir angin kini menampar wajah Diana yang terasa sangat menusuk dinginnya, ia mulai menutup jendela rumah, ia menghampiri adiknya, “apa kau tak ingat pernah punya Amak diak? “ pertanyaannya membuat adiknya terkejut dan langsung membalik badan kearahnya. “maksudmu apa kak? Ya aku punya Amak lah” jawaban itu terasa sedikit ketus dari mulut kecilnya. Namun Diana hanya ingin adiknya ikut mengkhawatirkan ibunya yang tak kunjung pulang.

    “Sari, tumben Amak belum pulang jam segini?” Diana tak henti-hentinya memikirkannya, “biasa kak,  mana tau pasien urut Amak banyak jadi sampai sore deh ngurutnya” Sari menjawab asal saja. Seperti tak puas dengan jawaban adiknya Diana pergi mengambil wudhu dan melaksanakan sholat dikamar. Dalam do’a kali ini ia mengiringi dengan deraian air mata pengharapan kepada yang Maha Pengasih, ia meminta Amak untuk di beri keselamatan.

    Tak sadar Diana terbangun dari sajadahnya, mukenah masih tertempel ditubuhnya, rupanya tangisannya semalam membuat ia tertidur diatas sajadah hingga fajar menyapa. Ia tersentak segera berlari keruang tengah, lalu ke kamar orangtuanya, terakhir ia melihat ke dapur, tak ada sosok yang sedari malam ia do’akan. Ia segera membangunkan ayahnya, ia setengah menangis menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya yang masih lelap didalam balutan selimut, “Apak mana Amak? Kenapa sampai pagi begini masih belum pulang juga? “ ia mulai terisak, dengan setengah sadar bapaknya bangkit namun tetap menarik selimut dan melilitkan ketubuhnya. “sudah lah, paling ia tidur dirumah etek kau yang dikota karena kemalaman” suara itu terasa menusuk tepat di dekat empeduku, sakit dan menyesakkan dada.

    Saat teringat Diana segera mengambil handphone milik adiknya didekat TV, ia mencari no ibunya dan segera memanggilnya, “nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi, mohon hubungi beberapa saat lagi” suara itu membuat Diana mulia panic, kenapa tidak bisadihubungi, ia pun mengulangi berkali-kali sampai pangilan itu mencapai angka 50 kali panggilan, tak satupun ada yang dijawab.

    ***

    Sudah 3 hari berlalu, Amak tak kunjung pulang, satu kampung sudah mulai menanyakan keberadaan ibu Diana, bapak dan suaminya mulai mencari bantuan kepada warga untuk mencari ibunya yang belum juga pulang. Ada yang menanyakan ibunya kepada pasien urut Amak yang dikota, namun pasien terakhir mengucapkan bahwa Amak  telah pulang sedari zuhur, dan saat ditanya mau kemana lagi setelah urut ini oleh pasiennya itu, Amak  menuturkan bahwa ia akan segera pulang, karena anaknya sedang hamil dan memerlukan dirinya saat ini.

    Sang Ayah dan adik Diana kini tengah tergeletak di ruang tamu beralaskan tikar daun yang tersusun rapi, mereka pingsan setelah mendengar kata-kata tetangga yang mengatakan kalau mereka melihat Amak sore hari itu berjalan beriringan dengan seseorang yang tak begitu jelas rupanya dengan kain jubah merah cerah, mereka berdua berjalan menuju keatas merapi, saksi mata juga saat itu sempat terheran saat melihat, namun karena azan magrib sudah berkumandang ia pun segera berlari sambil membawa cangkul ke rumah untuk persiapan sholat.

    Sudah sebulan semenjak Amak menghilang Diana sering bermenung di depan pintu rumahnya, mukanya terlihat lusuh, selendang hijau ituterus ia pakai semenjak kabar Amak hilang, itu selendang kesayangan Amak. Para tetangga mulai khawatir dengan Diana yang tidak mau lagi memperhatikan dirinya, tubuhnya mulai kurus dan matanya membengkak.

    Ayah Diana kini suka berteriak-teriak diarah kamar, dengan kaki di ikat kan ke kayu ranjang tidur, ia selalu memanggil nama istrinya, dan menyuruh segera pulang. Adik Diana pun tak kuasa melihat kejadian ini, ia pun segera diselamatkan oleh etek nya, ia tinggal dirumah yang berjarak 2 rumah setelah rumahnya.

    ”nak, perhatikanlah kandunganmu, ini cucu pertamaku, jadi tolong rawat ia baik-baik”. Diana seperti tak percaya melihat sesosok wanita yang telah membuat ia hilang selera makan karena selalu memikirkannya, kini ia duduk disampingnya, ia mengurut perutku untuk persiapan melahirkan, katanya agar saat persalinan nanti ia bisa melahirkan dengan lancar.

    Dengan deraian air mata kerinduan ia memeluk tubuh itu, dingin dan kurus terasa tubuhnya, “Amak kemana saja? Diana rindu lah, apa Amak tak ada makan-makan, sampai kurus begini?” tatapan Diana penuh kasih sayang sembari memijat lengan wanita itu dengan lembut.

    Wanita itu pun tersenyum dan mengusap kepala serta perut  anaknya itu, ia mencium keningnya dan menatap anaknya itu dengan mata berkaca-kaca, “Amak sebenarnya ingin pulang nak, tapi Angku yang selalu menemani Amak urut itu membawa ku pergi jauh, diatas gunung merapi dibelantara hutan yang tak terlihat oleh mata manusia, ia meminta syarat yang tak mampu Amak sanggupi, apalagi Angku yang sekarang ini jahat dibanding yang sebelumnya, ia kini menahan dan merantai tangan dan kaki Amak, bagaimana Amak akan lari”.

    “Amak kan bisa minta bantuan yang lainnya, dan mintalah bantuan pada Allah SWT yang menguasai seluruh alam dan memiliki kekuatan yang maha kuat mak”  Diana memegang erat tangan ibunya itu kini.

    “Amak malu nak, tak sepantasnya hamba seperti Amak ini meminta tolong setelah mendurhakai perintah_Nya”. Kini ia melepaskan pegangan tangan anaknya, ia kembali mengusap kepalanya dan berpesan “jaga ayah, adik dan suami mu ya nak, Amak juga titip cucu Amak tolong jaga baik-baik, nanti sekali-kali Amak akan menjenguk kalian kerumah meski sebentar” Diana kembali mencoba menggenggam tangan wanita itu, namun kembali dilepas dan wanita itu kini berdiri berjalan menuju pintu rumah sebelum ia menghilang di tangga ke dua rumah itu.

    Diana berteriak histeris langsung bangkit dan mengejar keluar dan ia terpleset ujung tikar yang tergulung, ia semakin berteriak “Amak tolong aku……”. Perutnya sakit dan “nak bangunlah… mimpi apa kau sampai begitu berteriak?” etek  yang bertugas menjaga Diana mengejutkan nya yang terlihat begitu berkeringat, Diana pun terbangun dan ia pun merasakan ada cairan yang keluar berwarna kuning, melihat itu etek pun segera memanggil kerabat lainnya untuk memanggil bidan terdekat.


    Saat nya cucu perempuan Amak nya telah lahir dengan selamat ke dunia, ia pun mennggendong bayi mungil itu dan langsung teringat pesan itu… (*)

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Dibaok Angku (Dibawa Jin)" Karya Maryam Syarief (FAMili Bukittinggi) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top