• Info Terkini

    Thursday, July 2, 2015

    Boy Candra: “Naskah Saya Pernah Ditolak Tujuh Penerbit Mayor”

    Boy Candra
    Pengantar:
    Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia pada Minggu,14 Juni 2015 lalu, mengadakan Seminar Online bertajuk “Kamu pun Bisa Jadi Penulis Buku” bersama Boy Candra (Penulis). Seminar diadakan di Grup FAM Indonesia. Berikut kesimpulannya. Selamat membaca.

    ***

    Aishiteru Menulis:  Assalamualaikum Uda Boy Candra, apa kabar Anda malam ini? (MODERATOR)

    Boy Candra: Waalaikumsalam, Kak Aishiteru Menulis. Alhamdullilah, sehat. 

    Aishiteru Menulis: Alhamdulillah. Selamat datang di grup FAM Indonesia. Senang sekali, bisa bincang-bincang dengan Anda. Apa sudah siap?

    Boy Candra: Sebelumnya, terima kasih atas kesempatan berbagi dengan teman-teman di grup FAM ini. Siap, Kak!

    Aishiteru Menulis: Sip, oke. Terima kasih. Kita buka dengan pertanyaan ringan, apakah menjadi penulis cita-cita Anda sejak kecil? 

    Boy Candra: Tidak. Waktu kecil cita-cita saya bukan penulis, tapi jadi artis hehe..., tapi memang suka menulis dari SD.

    Aishiteru Menulis: Wah, keren. Lalu kenapa Anda "tersesat" di dunia kepenulisan? 

    Boy Candra: Sehari sebelum ulang tahun saya yang ke-22, beberapa tahun lalu. Saya galau parah. Saya bingung mau jadi apa. Setelah saya ingat-ingat, apa hal yang paling saya sukai dan melakukannya tanpa rasa beban, jawabannya menulis. Sejak hari itu, saya bulatkan tekad serius mendalami dunia tulis menulis ini. Sampai hari ini, ya, sudah menerbitkan buku.

    Aishiteru Menulis: Luar biasa. Apakah Anda yakin dari dunia ini (tulis-menulis), Anda bisa mendapatkan sesuatu (materi), atau ada tujuan lain yang ingin Anda sampaikan lewat karya-karya Anda? 

    Boy Candra: Bagi saya, materi itu perlu, tapi bukan alasan utama saya menulis. Saya percaya, saat sesuatu kita tekuni sebagai pekerjaan ia akan memberi kita melebihi apa yang pernah kita bayangkan. Begitupun menulis. Tujuan saya menulis, karena saya tidak bisa bercerita kepada semua orang secara langsung.

    Aishiteru Menulis: Prinsip yang patut diteladani. Berapa kali Anda ditolak penerbit (mayor) ketika menawarkan naskah pertama kali?

    Boy Candra: Hahaha... saya selalu tertawa pada bagian ini. Kalau diingat, betapa saya bersemangat. Seingat saya, sekitar 10 kali, tidak kurang dari 7 penerbit. 

    Aishiteru Menulis: Wow, 10 kali, 7 penerbit. Artinya, untuk menjadi penulis sukses, tidak takut ditolak?

    Boy Candra: Kalau takut ditolak, ya jangan jadi penulis buku. Hehe... Harus berani dong. Itu risiko.

    Aishiteru Menulis: Super. Apa kiat Anda menyiasati penolakan-penolakan itu, sebab banyak penulis (pemula) yang balik kanan ketika 1-2 kali ditolak?

    Boy Candra: Saya tidak ambil pusing. Karena, saya tetap menulis naskah lain sembari menunggu kabar naskah yang saya kirim. Artinya, saya tidak pernah menggantungkan harapan pada satu naskah saja. Kalau kita baca, penulis dunia pun juga pengalami penolakan. Itu wajar saja. Santai aja.

    Aishiteru Menulis: Dahsyat. Oke, nanti silakan Anda berbagi kiat lainnya kepada peserta seminar malam ini, dan kita buka sesi tanya jawab. KEPADA PESERTA SEMINAR DIPERSILAKAN MENGAJUKAN PERTANYAAN KEPADA NARASUMBER. 

    Boy Candra: Baik Kak Aishiteru Menulis, saya akan mencoba menjawab pertanyaan teman-teman yang ikut seminar online malam ini.

    Rhatna D'Ch Jichink: Selamat malam Uda Boy Candra. Saya ingin menanyakan, adakah trik atau cara mengangkat buku harian menjadi sebuah buku yang layak baca atau siap dikirim ke penerbit?

    Boy Candra: Halo Rhatna D'Ch Jichink, yang pasti kamu harus merapikan naskah buku harian kamu. Kalau memang kamu yakin itu menarik tidak ada salahnya dikirimkan. Banyak kok buku yang personal literatur seperti itu. Raditya dika, salah satunya.

    Rahma Boniez:  Saya pernah mengutip perkataan wartawati senior "Tulisan itu harus punya jiwa. Harus ada karakter. Bukan mentok pada 5W1H (what, where, when, who, why, dan how ). Nah, yang ingin saya tanyakan bagaimana agar tulisan kita memiliki jiwa, karakter? Ada trik dan tips khusus kah?

    Boy Candra: Halo Rahma Boniez, saya percaya apa yang dilakukan dengan hati akan sampai ke hati. Jadi, menulislah karena itu membuat hatimu bahagia melakukannya. Tulis saja.

    Windy Oktaviani: Malam Kak, saya mau tanya. Bagaimana ketika ingin menuangkan suatu ide dalam suatu cerita bisa tertata sesuai alur yang diinginkan? terkadang ada bagian yang terlupa padahal bagian tersebut adalah hal yang penting atau pesan yang ingin disampaikan penulis. Bagaimana Kak?

    Boy Candra: Halo Windy Oktaviani: cobalah buat outline (kerangka cerita) di awal, sebelum kamu mulai menulis, agar kamu tidak lupa alurnya.

    Abdurrahman Al Biaro: Selamat malam Bang Boy Candra! Maaf Bang, mau nanya. Bagaimana cara Bang Boy mengembangkan ide cerita yang masih umum dan mentah? Lalu jika Bang Boy sudah mendapatkan sebuah ide cerita, bagaimana cara Bang Boy agar tetap konsisten dengan ide tersebut? Terima kasih Bang!

    Boy Candra: Halo Abdurrahman Al Biaro. Ide umum itu biasa saja. boleh diangkat kok. yang membedakan kita dengan yang lain adalah cara bercerita. Nah, cara bercerita ini bisa kita peroleh dengan rajin latihan. Karakter tulisan, kita.

    Windy Oktaviani: Bagaimana cara meneruskan cerita yang sedang kita tulis namun karena kurangnya waktu luang sehingga bingung untuk menggarapnya lagi?

    Boy Candra: Halo Windy Oktaviani penulis yang baik tidak pernah merasa kekurangan waktu untuk tulisannya. Dan tidak suka mencari alasan untuk itu.

    Kurnia Fadila: Saya ingin bertanya, sejauh ini adakah kendala yang uda alami saat menulis ? beberapa waktu yang lalu saya pernah mencoba untuk menulis, setelah separoh jalan mengalami kendala, kehilangan mood untuk melanjutkan tulisan.

    Boy Candra: Halo Kurnia Fadila: Kendala pasti ada. Semisal kehabisan materi, caranya bisa baca-baca lagi, bisa gali referensi lagi. Terus, jenuh dengan tulisan, caranya ingat lagi niat kenapa nulis. Tanamkan dalam diri, apa yang sudah dimulai harus diselesaikan, kalau mulai naskah, ya selesaikanlah!

    Heru Yonata: Kalau kita menulis buku seperti buku "Pelajaran", menurut Kakak, apakah kita harus menjadi ahli terlebih dahulu dalam bidang pelajaran itu? Maksudnya, kita harus benar-benar sudah menjadi ahlinya ?

    Boy Candra: Halo Heru Yonata, kalau ahli yang kamu maksud adalah bidang akademis, beberapa buku pelajaran sepertinya mutlak. misalkan buku pelajaran tentang dunia kedokteran, namun kalau bidang ilmu umum, saya pikir, kamu harus memahami dengan baik apa yang ingin kamu tulis. Ilmu umum, semisal buku pelajaran ipa dasar, kalau kamu paham, ya kamu bisa menulisnya, meski kamu bukan pendidikan formal bidang IPA.

    Syifa C. Regrey: Halo kak Boy Candra. Apakah selama menulis novel kakak menetapkan target menulis setiap hari? Jika ya, berapa jam biasanya kakak menulis tiap harinya?

    Boy Candra: Halo, Syifa C. Regrey. Iya, saya punya deadline. Itu penting untuk membuat kita disiplin dan bertanggung jawab. Biasanya, saya menentukan target menulis satu naskah novel 1-2 bulan saja.

    Fitri Andriana: Bagaimana cara mengatasi (malas) dalam hal menulis?

    Boy Candra: Halo Fitri Andriana: Saya tidak tahu cara mengatasi malas seseorang. Bagi saya, malas tidak bisa diterima oleh penulis. Apa pun alasannya, kalau kamu mau jadi penulis, malas itu tidak berlaku.

    Heru Yonata: Lalu jika kita menulis buku-buku inspiratif, apakah seorang penulisnya selalu dituntut untuk dapat berbicara lantang di depan umum ? sementara kadang kita mengamati kehidupan masyarakat sehari-hari, tapi kita merasa sulit untuk menyampaikannya dengan berbicara.

    Boy Candra: Halo Heru Yonata, penulis itu hakikatnya menulis.

    Fitri Andriana: Selamat malam bang Boy, motifasi apakah yang membuat anda untuk tetap menulis secara dilihat dari riwayat anda, kegagalan bukan hanya menghampiri anda sekali saja dan bagaimana cara mengatasi rasa MALAS ketika menulis apa yang ingin kita tulis?

    Boy Candra: Halo Fitri Andriana: Menulis itu butuh pekerja keras, kalau malas, saran saya kamu jadi yang lain saja.

    Theza Hilda: Di mana letak terbaik konflik dikeluarkan? Dan bagaimana cara membuat sebuah konflik yang benar-benar bisa membuat pembaca terbawa pada emosinya?

    Boy Candra: Halo Theza Hilda, Secara umum. Elemen cerita: Pembukaan, isi, klimak. Konflik bisa disesuaikan dengan alur.

    Arikato Chiki Adp: Berapa lama proses penulisan buku “Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai”? Seberapa pentingkah outline dalam proses pembuatan/penulisan di dalam sebuah novel?

    Boy Candra: Halo Arikato Chiki Adp: Proses penulisan buku #SHDCYTU hanya satu bulan pas. Kebetulan, saya bukan type penulis yang memakai outline. Tapi bagi pemula, outline itu penting.

    Ratika Wuelandz Dhary: Selamat malam, Kak Boy. Kak, bagaimanakah cara mengubah buku diary menjadi novel? Mohon jawabannya. Terima kasih.

    Boy Candra: Halo Ratika Wuelandz Dhary, kamu sudah baca buku saya "Catatan Pendek Untuk Cinta Yang Panjang" ? Itu lebih kurang konsepnya seperti diary. Kalau tidak salah sudah saya jawab tadi pertanyaan yang sama. Silahkan dibaca ya.

    Muhammad Rizky Ramadhon: Melanjuti pertanyaan tadi Uda Boy. Tapi kan setiap penulis pasti mempunyai tujuan yaitu untuk membuat karyanya tersebar dan terkenal . Sebagai karya yang berkualitas pasti setiap penulis tersebut menggunakan cara baik itu gaya penulisan, dan kosa kata yang digunakan terhadap karyanya. Tapi akhirnya membuat pembaca menjadi sedikit karena kurang pahamnya masyarakat terhadap karya itu . Bagaimana caranya agar menciptakan karya yang berkualitas namun diminati banyak orang?

    Boy Candra: Halo Muhammad Rizky Ramadhon, menurut saya setiap penulis atau tulisan punya pembacanya sendiri. Tidak ada yang salah dengan hal seperti itu. Namun, pemilihan diksi itu penting. Itu bisa menjadi kekuatan tulisan.

    Suci Rizka: Apa langkah yang kakak lakukan pertama kali saat menyadari passion di bidang menulis?

    Boy Candra: Halo Suci Rizka meluruskan niat, dan konsisten pada niat itu.

    Theza Hilda: Di mana letak terbaik memunculkan konflik dalam sebuah cerita?

    Boy Candra: Halo Theza Hilda, caranya rajinlah berlatih menulis.

    Rizky Ardhilawati II: Apa yang harus dilakukan ketika merasa tidak ada ide untuk ditulis dan kehabisan ide di tengah jalan ketika sedang menulis?

    Boy Candra: Halo Rizky Ardhilawati II: membacalah. membacalah, membacalah!

    Ristika Yolanda: Oh ya kak satu lagi pertanyaan, kan kita udah punya skenario apa yg mau ditulis, nah gimana caranya agar menlisnya itu tidak membosankan kak?

    Boy Candra: Halo Ristika Yolanda: Tentukan deadline, konsisten menjalankannya. Untuk judul, kamu bisa ambil dari kata atau kalimat yang menjadi gambaran naskahmu.

    Fitri Andriana: Motivasi apakah yang membuat Anda untuk tetap menulis secara dilihat dari riwayat anda, kegagalan bukan hanya menghampiri Anda?

    Boy Candra: Halo Fitri Andriana: Saya mendedikasikan hidup saya untuk menulis. Saat saya memilih sesuatu, saya paham akan selalu ada risiko dari pilihan itu. Namun, saya harus bertanggung jawab atas pilihan saya. Itulah kenapa saya menulis terus. Ini pilihan saya. Tidak ada yang memaksa saya untuk jadi penulis.

    Fitri Afriani: Berapa banyak buku yang uda baca untuk menulis satu novel?

    Boy Candra: Halo Fitri Afriani: saya tidak membatasi bacaan. jumlah ataupun genrenya.

    Syifa C. Regrey: Dalam membuat novel fiksi, apakah nama latar tempat (seperti: sekolah/jalan) harus spesifik atau boleh dengan nama lain?

    Boy Candra: Halo Syifa C. Regrey: kalau kamu nulis fiksi, bebas saja kok. Nggak harus sama. Yang penting kamu bisa bikin orang percaya sama cerita yang kamu tulis, bisa dilogikakan.

    Suci Rizka: Kak Boy Candra, bagaimana mengirim naskah ke penerbit mayor? Apa ada prosedur tertentu yang dilakukan?

    Boy Candra: Halo Suci Rizka kamu bisa baca panduannya di website penerbit yang kamu tuju (silakan dibrowsing), dan penuhi semua ketentuan mereka.

    Uni Murni: Bagaimana sih untuk bisa menjadi penulis yang profesional. Apakah dalam menulis sebuah karya kita perlu berlatih? Dan apakah orang yang memiliki keterbatasan fasilitas,bahkan gaptek pula bisa menjadi seorang penulis.

    Boy Candra: Halo Uni Murni: Berlatih itu adalah sebuah keharusan. Fasilitas, sepertinya tidaklah etis dijadikan alasan. Kamu bisa menulis dengan kertas dan pena kok.

    Sarifatul Ngadiah: Kak Boy kalau membaca riwayat kepenulisannya, kak Boy memerlukan waktu yang relatif singkat menuai sukses dibanding penulis-penulis lain, dengan siapa dan bagaimana kak boy belajar untuk kepenulisan?

    Boy Candra: Terakhir dari Sarifatul Ngadiah: Saya belajar sendiri, dan kalau singkat, sepertinya tidak juga, saya mulai menulis dari 2011, dan menulis setiap hari. Buku pertama saya terbit 2013. Cukup lamalah.

    Aishiteru Menulis: Uda Boy Candra, pertanyaan terakhir, apa kiat Anda menembus penerbit (mayor)?

    Boy Candra: Kiat saya menembus penerbit mayor adalah sabar. Sabar kalau ditolak, dan terus perbaiki karya. 

    Aishiteru Menulis: Oke, sepertinya sudah semua. Silakan memberikan pesan dan saran untuk penulis-penulis pemula yang ingin menjadi penulis buku, Uda Boy Candra. 

    Boy Candra: Kepada teman-teman penulis pemula (sebenarnya saya juga penulis pemula), jangan pernah menyerah, tetap tekun menulis. Pada akhirnya, karya kita akan memberikan kejutan pada kita. Percayalah.

    Aishiteru Menulis: Baik, kita sudah berada di ujung sesi terakhir. Jika ada pertanyaan yang belum terjawab, nanti bisa berkomunikasi secara langsung dengan Uda Boy Candra. Dan, saatnya Moderator mengumumkan pemenang doorprize, siapakah dia? Pemenangnya adalah: Muhammad Rizky Ramadhon. SELAMAT! Anda akan mendapatkan 1 eks buku terbitan FAM Publishing, Divisi Penerbitan FAM Indonesia. #MODERATOR

    SEMINAR ONLINE DITUTUP!

    Alhamdulillah, Seminar Online bertajuk “Kamu pun Bisa Jadi Penulis Buku” dengan Pembicara Boy Candra (Padang) telah berakhir. Seminar yang seru, berlangsung selama dua jam. Namun sayang, dengan berat hati Moderator harus menutup sesi ini serta Admin FAM Indonesia akan menghapus hasil seminar 15 menit kemudian untuk dirapikan dan diarsipkan. Namun, bagi anggota FAM Indonesia dapat meminta copy-annya via email dengan menyebutkan nomor IDFAM.

    FAM Indonesia mengucapkan terima kasih kepada pembicara, para peserta yang bertanya serta para penyimak lainnya. Seminar ini akan menjadi “menu wajib” FAM Indonesia dengan mengundang para pembicara yang berkompeten di bidangnya. Tunggu sesi seminar berikutnya. Sampai jumpa dan salam santun, salam karya, salam aishiteru!

    MODERATOR
    www.famindonesia.com

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Boy Candra: “Naskah Saya Pernah Ditolak Tujuh Penerbit Mayor” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top