• Info Terkini

    Thursday, July 30, 2015

    Jadi Penulis Harus Tahan Banting

    NET
    Banyak penulis buku (pemula) yang mundur di tengah jalan karena tidak mendapat dukungan dari orang-orang terdekat (keluarga). Muncul pesimis disertai pertanyaan yang menjadi momok, “apakah saya benar-benar berbakat jadi penulis?”

    Hal itu terjadi karena buku yang ditulis disambut dingin keluarga (orangtua, istri, suami, anak, dll). “Oh... jadi penulis ya?” “Oh, bukunya sudah terbit, bagus deh.” “Kamu jadi penulis? Gak salah?” 

    Sambutan yang benar-benar dingin. 

    Belum lagi persoalan penjualan buku setelah terbit, baik di penerbit mayor maupun indie. Jangan disangka, buku yang terbit di penerbit mayor (konvensional) dalam waktu sekejap bisa “lenyap” terjual di toko buku. Bukumu bersaing “menebar pesona” dengan ratusan bahkan ribuan buku lainnya di rak toko buku. Maka, yang terjual habis dan best seller adalah buku-buku yang promosinya bagus, isinya bagus, kovernya bagus, dan penulisnya dikenal (populer). Penulis sekaliber Andrea Hirata dan Tere Liye, apa pun buku yang ditulisnya, alamat akan dicari dan ditunggu pembaca, sebab popularitas sudah mereka dapat.

    Nah, sedangkan kamu? 

    Baru mulai menerbitkan buku semangatmu sudah dipatahin sama orang-orang terdekat, khususnya keluarga. Ditambah lagi mentalmu mental kacangan, cengeng, peiba hati, dan suka menahan-nahan perasaan sampai jerawatan. Kamu makin terpuruk di lembah kesedihan dan memilih “murtad” dari dunia kepenulisan. Oh, no!

    Kenapa harus begitu? 

    Sebenarnya hal itu tidak akan terjadi jika kamu meluruskan niat, kembali kepada tekad dan semangat semula, disertai pertanyaan, “untuk apa sih aku menulis?” Sekadar mencari uang, popularitas, biar dianggap jadi penulis hebat; sastrawan, penyair, cerpenis, novelis? Atau niatmu untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain plus menyebarkan manfaat seluas-luasnya? 

    Jika jawaban pertama yang kamu pilih, kamu salah jalan. Tersesat. Kembalilah pulang, ambil wudhu’, salat dan berdoa; tobat!

    Ingat, tidak ada jalan instan mendapat kekayaan (uang) dalam waktu sekejap. Penulis-penulis yang kamu lihat sukses hari ini, adalah mereka yang telah melalui jalan panjang dalam proses kreatif kepenulisannya; berliku, penuh onak dan duri, menguras air mata, dihimpit beban ekonomi, mental dan perasaan, bahkan menerima ancaman penghilangan nyawa dari orang-orang yang berseberangan pemikiran dengannya. Bacalah biografi penulis-penulis dunia yang meraih nobel, kamu akan dibuat takjub, ternyata menjadi penulis sukses tidak benar-benar mudah seperti yang dibayangkan.

    Nah, jika niatmu menjadi penulis karena ingin menyebarkan manfaat kepada banyak orang, lewat buku-bukumu, maupun karya-karyamu yang lain, jalan yang kamu tempuh sudah benar. Kamu tidak peduli apakah buku yang kamu terbitkan menghasilkan sesuatu secara materi atau tidak. Kamu tidak peduli apakah bukumu akan memperoleh apresiasi atau tidak. Kamu siap dikritik, siap dicaci maki, bahkan siap difitnah dan dimusuhi. Kamu tidak peduli semua itu, dan kamu akan tetap menulis, dan terus berbagi kebaikan kepada semua orang lewat kata-kata. 

    Apa dampaknya?

    Tentu, kamu menjadi penulis yang tahan banting, istiqamah, kuat, teguh pendirian, tidak cengeng apalagi sampai terpuruk dan mengangkat bendera putih sebagai tanda kekalahan. 

    Dampak lebih luas atas kekonsistenanmu itu, kamu dikenal sebagai penulis yang selalu ditunggu tulisan-tulisanmu oleh pembacamu, sekurang-kurangnya para pembaca yang menyukai karya-karyamu (yang tidak suka jangan dipikirkan), dan yakinlah setiap penulis akan memiliki pembacanya sendiri. 

    Nah, bagaimana agar bukumu tetap diminati publik walau orang-orang terdekatmu bersikap dingin, acuh tak acuh, dan tidak mau ikut mempromosikan bukumu? 

    Banyak caranya, dan itu bisa kamu lakukan sendiri. Anggaplah buku yang kamu tulis dan kamu terbitkan itu (baik di penerbit mayor maupun indie) adalah “bayi” yang kamu lahirkan. Jangan kamu buang “bayi” itu jika ia tidak mendapat sambutan di hari kelahirannya. Sebagai orangtua yang baik dan penyayang, kamulah yang menyambutnya, merawat dan membesarkannya, dan mengantarkannya ke puncak sukses.

    Jika “bayi” buku itu cacat, buruk rupa, tidak sempurna, “rawat” ia dengan cara sempurna. Lakukan editing kembali, baca ulang berkali-kali, perhatikan kesalahan ketik, tata bahasa, EYD, amanat dan hal-hal lain yang dapat menyempurnakannya—walau sesungguhnya tidak ada karya yang benar-benar sempurna. Kemahasempurnaan hanya milik Tuhan (Allah SWT).

    Setelah bukumu lahir, jangan sungkan mempromosikannya; buat kartu nama yang berisi namamu, nomor telepon, alamat email, plus memuat kover bukumu. Bagikan kartu nama itu ke teman-temanmu, termasuk orang-orang yang baru kamu kenal. Sampaikan kepada mereka dengan senyum yang mengembang, “ini buku baru saya, semoga berkenan membeli dan membacanya.” Semakin banyak kartu nama yang kamu bagikan, semakin besar peluang namamu dan bukumu dikenal. Kalaupun mereka tidak membelinya, setidaknya mereka tahu kamu adalah seorang penulis, dan sewaktu mereka membutuhkan narasumber untuk mengisi pelatihan kepenulisan, namamu bisa masuk dalam bursa rekomendasi mereka. 

    Selanjutnya, gagaslah acara peluncuran (launching) buku. Jika bukumu terbit di penerbit mayor, ajaklah penerbitmu bekerja sama agar menyediakan stok buku minimal 100-200 eksemplar. Tentu kamu harus pandai melobi dan meyakinkan penerbitmu bahwa buku itu akan terjual habis dan uangnya segera kamu setorkan. Untung-untung pihak penerbit mau membantu cuma-cuma 100-200 eksemplar buku itu, sehingga kamu tidak perlu merogoh uang untuk membelinya walau mendapat diskon. Kalaupun tidak, kamu bisa mencari sponsor untuk membeli buku itu atau langkah paling akhir kamu bisa mengeluarkan jurus “memelas” agar penerbitmu memberikan buku tersebut dengan perjanjian royaltimu dipotong. Yang pasti, kamu dapat melakukan bermacam cara agar buku barumu itu bisa diluncurkan, lalu diliput media massa, dan untung-untung ada teman-temanmu sesama penulis yang mau mengulasnya di media, baik berupa esai maupun resensi buku.

    Di saat peluncuran buku itu, undanglah seorang pejabat yang berkenan membuka acara dan meluncurkan bukumu. Semakin tinggi jabatan pejabat itu, semakin besar dan berkibar acara peluncuran buku yang kamu buat. Berita di media akan besar nilainya jika yang bicara adalah seorang gubernur daripada seorang camat. Tentu dibutuhkan lagi keahlianmu melakukan lobi-lobi agar pejabat-pejabat yang memiliki posisi strategis di masyarakat itu mau menghadiri dan meluncurkan bukumu.

    Selain itu, kamu juga harus mengundang narasumber yang berkompeten di bidangnya, dan mampu mengulas (membedah) isi bukumu secara berimbang. Kamu bisa mengundang seorang sastrawan atau penulis yang sudah cukup dikenal publik dan mampu “menghipnotis” peserta acaramu untuk betah lama-lama duduk di kursi mereka. Tentu, narasumbermu bukanlah orang yang pandai mengkritik saja, tetapi juga mau memberikan apresiasi positif atas karyamu. Jika isinya hanya kritik, alamat bukumu tidak akan laku, tidak ada yang mau membeli, sebab kelemahannya sudah dibeberkan lebih dulu daripada kelebihan dan manfaatnya.

    Untuk mempopulerkan buku barumu, kamu juga bisa menitipkan bukumu di toko-toko buku kecil yang rabatnya tidak terlalu besar. Atau menitipnya di kios fotocopy di kampusmu yang paling ramai konsumennya. 

    Buat juga banner-baner menarik tentang bukumu lalu share di media sosial yang kamu miliki. Posting setiap hari banner itu, disertai kutipan-kutipan isi bukumu yang tentu saja tidak secara utuh kamu kutip. Sebab, kalau utuh, ya orang tahu isi bukumu dan mereka tidak perlu membelinya lagi. Ambil saja satu-dua kalimat inspiratif dari bukumu lalu posting kutipan-kutipan itu disertai judul bukumu. Kalau kamu suka travelling, kamu bisa menjadikan objek-objek wisata yang kamu kunjungi sebagai latar foto bukumu lalu kamu share kembali ke media sosial. Kan keren kalau bukumu itu kamu ‘kodak’ dengan latarbelakang patung Liberty misalnya, atau menara Eiffel. Orang yang melihat pasti berdecak kagum. Dan, soal foto-foto narsis bukumu ini, kamu juga bisa meminta teman-temanmu yang ‘caem’ untuk menjadi “artis” dan mejeng memegang bukumu lalu kamu foto kembali dari berbagai sudut.

    Sarana lain yang dapat kamu manfaatkan untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya tentang buku barumu adalah blog. Buatlah blog khusus tentang bukumu, lalu kumpulkan semua tulisan yang memiliki kata kunci judul bukumu. Sekali-sekali coba kamu chek di google dengan mengetik judul bukumu, mana tahu ada orang iseng bahkan orang serius yang menulis dan mengulas isi bukumu. Kutip tulisan itu, dan dokumentasikan di blogmu, lalu share kembali ke jejaring sosial. Intinya, bukumu akan semakin dikenal jika setiap hari kamu rajin mengenalkannya. Tapi kalau kamu pelit promosi dan malu-malu kucing, jangan harap kamu menjadi penulis yang dikenal, dan jangan harap pula bukumu laris manis bak kacang goreng di pasaran.

    Intinya, jadi penulis itu harus paham marketing dan tidak mudah menyerah. Penulis hakikatnya adalah orang yang “berjualan” kata-kata. Sebagai penjual yang baik, kamu harus paham dan mengenal siapa calon pembelimu. Kamu harus pandai melobi, merayu, membujuk, dan melakukan apa pun yang dapat mengenalkan bukumu ke publik secara luas, walau tidak selalu berimbas materi. Semakin bukumu dikenal di mata dan telinga publik, alamat semakin besar peluangmu mendapat berbagai kesempatan yang mungkin saja kesempatan itu lebih menggiurkan dibanding kamu berjualan buku. Misal, tiba-tiba ada satu perusahaan di Ibu Kota yang mengundangmu menjadi motivator acara mereka, atau kamu diundang sebuah lembaga tertentu untuk menjadi pembicara dengan ratusan peserta dan segala fasilitas mereka tanggung plus kamu mendapatkan honor besar yang melebihi harga cetak bukumu. Dan, itu tidak mustahil lho!

    Menjadi penulis adalah pilihan. Kamu tinggal memilih, untuk tetap bertahan atau tidak sama sekali.

    Terakhir, kamu lihat tubuh binaragawan, berotot dan indah bukan? Enak mata memandangnya, bahkan kamu bermimpi ingin memiliki tubuh atletis seperti mereka.

    Kenapa tubuh binaragawan bisa seindah itu?

    Jawabannya, tentu, setiap hari mereka berlatih mengangkat beban, seberat apa pun, sesuai kemampuan. Dengan beban berat itu, otot-otot di tubuh mereka terbentuk, mencerminkan orang yang kuat dan bertenaga. 

    Sebagai penulis, apalagi pemula, kamu juga harus begitu. Terus berlatih, hadapi seberat apa pun beban yang menjadi rintanganmu. Jika tantangan itu datang dari keluarga, itu mah kecil dan biasa. Santai saja. Yakinkan saja bahwa buku yang kamu tulis adalah buku bagus dan akan mengharumkan nama keluargamu. Sebab, jika kamu sendiri tidak yakin bahwa bukumu bagus, bagaimana calon pembaca bukumu yakin bahwa buku di tangannya yang bertuliskan namamu itu adalah buku bagus? (Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Jadi Penulis Harus Tahan Banting Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top