• Info Terkini

    Saturday, July 4, 2015

    Ken Hanggara: “Saya Menulis Cerpen untuk Kesenangan dan Cinta”

    Ken Hanggara
    Pengantar:
    Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, pada Minggu, 7 Juni 2015, pukul 19.30-21.30, mengadakan Seminar Online di grup FAM Indonesia. Kali ini, mengundang nara sumber Ken Hanggara (Surabaya) dengan tajuk “Menulis Cerpen Itu Gampang”. 

    Berikut Profil Singkat Narasumber:

    Ken Hanggara (lahir 21 Juni 1991) menulis cerpen, puisi, review, artikel, novel yang terbit di puluhan antologi, koran lokal, media online, blog  kenhanggara.blogspot.com , dan beberapa buku solo. Menulis berbagai macam genre fiksi, kecuali komedi, yang kemungkinan akan dicobanya tahun ini. Meraih berbagai penghargaan menulis fiksi tingkat nasional sejak 2012. Pada 2014 mendapat juara 2 cerpen kategori bahasa Indonesia di ASEAN Young Writers Award 2014 yang diadakan SEA Write Award Organizing Committee, Bangkok Metropolitan Administration, dan Mahidol University-Thailand lewat cerpen "Robot-robotan di Rahim Ibu". Ia juga terpilih menjadi Juara UNSA Ambassador 2015. Buku solonya yang sudah terbit: Dermaga Batu (puisi, 2013), Jalan Setapak Aisyah (kumcer, 2013), Minus Menangis (kumcer, 2014), dan "Menulis Cerpen Itu Gampang (nonfiksi, 2015). Novel "Matahari yang Setia" sedang proses terbit di salah satu penerbit mayor. Menyukai alam dan suasana desa. Arek Suroboyo asli ini sudah berteman dengan buku sejak kecil. Ia bisa disapa melalui Facebook "Ken Hanggara" atau Twitter @kenzohang.

    Mari kita simak kesimpulan seminar online berikut:

    Aishiteru Menulis: Assalamualaikum, Mas Ken Hanggara, apa kabar Anda malam ini? (MODERATOR)

    Ken Hanggara: Wa'alaikumsalam. Kabar baik, alhamdulillah.

    Aishiteru Menulis: Alhamdulillah. Selamat datang di grup FAM Indonesia. Apakah Anda sudah siap berbincang-bincang?

    Ken Hanggara:  Insya Allah siap.

    Aishiteru Menulis: Sip, terima kasih. Kita akan bincang seputar proses kreatif menulis Mas Ken dan Menulis Cerpen Itu Gampang seperti buku Silabus yang Mas Ken buat. Sebagai pertanyaan pembuka, sejak kapan Mas Ken mulai menekuni tulis menulis?

    Ken Hanggara: Saya mulai menulis sejak 2007. Namun, saat itu lebih fokus ke puisi. Baru mencoba menulis prosa pada 2010. Dan makin rutin sejak masuk pertengahan 2012 hingga kini.

    Aishiteru Menulis:  Oke. Tentu Anda sudah mempunyai pertimbangan untuk fokus menulis prosa, dalam hal ini cerpen. Bisa berbagi alasannya?

    Ken Hanggara: Saya suka membaca sejak kecil. Saya rasa ada banyak ide dan gagasan yang ingin saya ungkap. Dan itu tidak semua bisa saya lakukan lewat puisi. Cerpen lebih "membumi" dan tentunya lebih "mudah" mengantar pesan tanpa harus si pembaca kesulitan menangkap makna, sebagaimana pada puisi.

    Ken Hanggara: Sebab menurut saya tidak semua orang pula suka puisi.

    Aishiteru Menulis: Oke. FAM mencermati, Anda sering memenangkan kompetisi penulisan cerpen, apa ini tujuan rutin Anda menulis cerpen atau sekadar upaya Anda untuk mengasah kemampuan menulis?

    Ken Hanggara: Tujuan saya menulis pertama ingin menyampaikan gagasan yang berdesakan di otak. Ketika pertama memulainya, saya kira tidak ada tujuan ingin memenangkan kompetisi atau semacamnya. Saya menulis untuk kesenangan dan cinta. Saya percaya, seiring waktu hadiah kemenangan akan datang dengan sendirinya tanpa perlu dikejar.

    Aishiteru Menulis: Prinsip yang bagus. Kalau boleh tahu, siapa cerpenis dunia atau Tanah Air yang paling menginspirasi Anda lewat karya-karyanya?

    Ken Hanggara: Seno Gumira Ajidarma, Ahmad Tohari, Ernest Hemingway, pada mulanya. Lalu makin ke sini saya makin banyak memiliki idola. Dari luar negeri yang pertama saya suka karya novelis Libanon, Hanan al-Shaikh. Saya juga tidak melupakan Andrea HIrata. Setelah membaca novel-novel beliau, hasrat menulis prosa makin meningkat. Itu terjadi pada 2010.

    Aishiteru Menulis: Luar biasa. Artinya, Anda seorang pembaca. Apakah Anda sepakat dengan pernyataan ini, "agar mahir menulis cerpen harus banyak-banyak membaca cerpen penulis lain?"

    Ken Hanggara: Tentu saja. Tanpa membaca kita tidak akan bisa membuat karya yang bagus. Sebab membaca akan melatih rasa dan kepekaan kita. Alam yang luas punya banyak kemungkinan untuk digali. Dengan membaca, penggalian itu akan lebih mudah.

    Aishiteru Menulis: Artinya, membaca adalah "amunisi" bagi seorang cerpenis ya? Nah, soal Buku ‘Silabus Menulis Cerpen Itu Gampang’ yang Anda tulis, jika boleh tahu, isinya tentang apa?

    Ken Hanggara: Ya. Membaca itu amunisi. Coba kita bertanya pada para penulis hebat, jawaban mereka pasti sama: Untuk menjadi penulis hebat, kamu harus banyak-banyak membaca. Buku itu berisi seputar teori dasar cerpen, serta tips-tips sederhana yang sering saya terapkan selama menulis cerpen.

    Aishiteru Menulis:  OKE, KITA BUKA SESI TANYA JAWAB. SILAKAN PESERTA SEMINAR YANG INGIN MENGAJUKAN PERTANYAAN.

    Ryan P. Putra: Saya belajar dari beberapa sumber, bahwa ada beberapa bentuk paragraf pertama pada cerpen. Di antaranya : berupa kalimat ringkasan, kalimat penggoda, kalimat pertanyaan, dan lain-lain. Pertanyaan saya, bagaimana caranya membuat paragraf pertama atau lead pada cerpen yang sempurna agar pembaca tertarik membaca cerpen tersebut sampai tuntas?

    Ken Hanggara: Caranya buat kalimat yang lugas, spontan, tidak bertele-tele, serta tidak terlalu banyak deskripsi atau kata-kata puitis. Opening yang bagus adalah yang langsung mengajak pembaca mengikuti apa yang kita mau. Satu lagi: buat opening dengan pola yang jarang dipakai. Kebanyakan kita sering mencontoh cerpen orang lain dari segi opening, misal adegan bangun pagi dengan alarm. Kalau bisa hindari yang seperti itu.

    Enggela Iskandar:  Apa Kakak pernah merasa jenuh dalam menulis cerpen atau puisi, 
    dan bagaimana cara menghilangkan rasa kejenuhan tersebut?

    Ken Hanggara: Saya pemah jenuh. Tentu saja, karena saya juga manusia hehe. Caranya liburan saja. Refreshing dengan melakukan segala yang kita suka. Saya pernah libur menulis satu hari agar otak kembali segar.

    Mawardah Lppim: Saya sangat suka dengan puisi, sehingga saya ketika menulis cerpen saya cenderung menggunakan kata-kata puisi itu di dalam cerpen saya. Sehingga cerpen itu tidak siap ceritanya. Apakah kita perlu menghilangkan bahasa puisi itu yang berlebihan, soalnya kata teman saya kalau mau buat cerpen itu jangan mengaduk bersamaan dengan puisi?

    Ken Hanggara: Masukkan porsi kata-kata puitis itu secara berimbang, Mbak. Bila dirasa tidak perlu dan hanya boros kata, sebaiknya dihapus. Edit berulang kali cerpen yang Mbak bikin. Dengan begitu akan tahu rasanya apakah porsi kata-kata puitis itu menjadikan bosan atau tidak.

    Fitri Andriana: Kata mas CERPEN ITU GAMPANG, dilihat dari mananya, kemudian bagaimana dengan ide dan alur?

    Ken Hanggara: Alur itu hanya bagaikan bungkus sebuah cerita saja. Selama kita memilih konflik dan sudut pandang yang oke, alur apa saja tak masalah menurut saya.

    Sarifatul Ngadiah: Untuk seminar online atau langsung biasanya kita lebih sering fokus membahas teori. Boleh beri contoh, agar kita bisa langsung praktik?

    Ken Hanggara: Contoh bisa dipelajari dengan banyak-banyak membaca cerpen penulis lain, Mbak?

    Imaf Al-Faiz: Saat Mas Ken Hanggara mulai menulis cerpen, mas sudah memikirkan alurnya dari awal sampai akhir, atau kadang mulai menulis cerpen sebelum terpikirkan endingnya?

    Ken Hanggara: Menulis cerpen itu tidak gampang, kecuali kita tahu triknya. Caranya agar tidak berbelok alur, buat outline saja.

    Maria Agnes Fillieta: Seperti yang telah disampaikan, Mas Ken sering memenangkan kompetisi penulisan cerpen. Pernahkah cerpen Mas Ken Hanggara ditolak pihak penyelenggara atau pihak penerbit? Jika pernah, bagaimana Mas Ken menyiasati untuk kompetisi berikut agar tak gagal lagi?

    Ken Hanggara: Saya sering mengalami kegagalan dalam lomba. Tidak hanya sekali dua kali, entah berapa banyak. Cara saya menyiasati pertama membaca ulang cerpen itu. Saya cari apa kekurangannya. Lalu saya koreksi kembali.

    Nining Ratningsih: Saya cukup sulit menemukan ide. Sudah banyak yang saya lakukan, mulai dari membawa alat tulis tiap bepergian, mengamati kehidupan sekitar, nonton drama, dan masih banyak lagi . Tapi tetap saja ide itu belum muncul. Apa saya terlalu bodoh? Mohon pencerahannya pak Ken?

    Ken Hanggara: Ide ada di mana saja. Kalau kita pergi ke suatu tempat, katakanlah melihat seorang penjual es di pinggir jalan. Dia sudah tua dan kita kasihan. Ini bisa jadi ide tulisan. Tangkap ide itu dalam bentuk satu kalimat, misal: "penjual es yang sudah tua". Catat dalam buku khusus ide. Setiap hari kita akan temukan hal yang berbeda-beda. Lakukan itu terus menerus maka kita tidak akan pernah kekurangan ide.

    Dedi Saeful Anwar: Mas Ken, dari berbagai genre fiksi yang sudah pernah ditulis, genre apa yang paling disukai?

    Ken Hanggara: Kang Dedi Saeful Anwar, saya menyukai genre surealis dan realisme sosial.

    Theza Hilda: Terkadang, penulis begitu sulit memadukan fikiran dengan tata bahasanya saat sudah menginjak ending. Tolong jelaskan, tips dan trik menanggapi permasalan tersebut.

    Ken Hanggara: Nikmati saja proses menulis sebuah cerpen. Bila ending belum ditemukan. Baca lagi dari awal hingga bagian tengah. Saya yakin ending itu akan datang dengan sendirinya, andaikata kita buntu, selama kita fokus pada konflk dan pesan yang ingin disampaikan

    Yahya Putra Pradana: Bagaimana caranya supaya tidak macet ide serta tiada pengulangan kata dalam membuat cerpen?

    Ken Hanggara: Kita harus peka saja pada apa yang ada di sekitar. Semua yang kiranya bisa kita jadikan cerpen, walau belum tahu alur atau konfliknya bagaimana, tulis saja ide itu dalam satu kalimat. Dan jangan tunggu sampai sebuah ide menjadi satu cerpen tanpa Mas menangkap ide baru yang mungkin saja datang.

    Karunia Sylviany Sambas: Bagaimana proporsi narasi dan dialog? Bagaimana cara menentukan saatnya narasi dan saatnya dialog?

    Ken Hanggara: Kalau saya berimbang saja, Mbak. Tapi tidak menutup kemungkinan pula porsi salah satu lebih ditonjolkan, selama kita sudah menguasai bagaimana membuat narasi atau dialog yang efektif dan tidak memakan tempat.

    Sarifatul Ngadiah: Jadi membaca adalah syarat mutlak untuk menulis ya?

    Ken Hanggara: Ya, membaca memang syarat mutlak menulis. Dengan membaca kita bisa pelajari teknik para penulis; bagaimana membuat cerita yang bagus dan tidak membosankan. Semakin banyak membaca juga akan membuat kita makin lihai mengakali jika suatu saat kita kekurangan ide. Ide yang ada di banyak tulisan karya beberapa penulis bisa saja sama. Yang membedakan adalah bagaimana mengemasnya.

    Karunia Sylviany Sambas: Bagaimana menulis cerpen dengan sudut pandang unik kalau tema cerpen sudah ditentukan panitia lomba, Mas?

    Ken Hanggara Karunia: Sudut pandang unik? Cari pengungkapan yang beda, Mbak. Misal cerita tentang penculikan. Biasanya lebih banyak kita mengupas sisi hati si korban. Nah, agar beda sedikit, bisa juga pakai sudut pandang kejam sang penculik.

    Hanat Futuh Nihayah: Saya ingin tahu, sejarah awal mulanya kak Ken menulis. Motivasi terbesar apa yang membuat kak Ken menulis? Lalu apa arti sebuah menulis bagi Kak Ken?

    Ken Hanggara: Saya ingin menginspirasi, punya banyak teman, dan menjadikan menulis sebagai profesi. Itu mimpi saya sejak awal. 

    Yus Rusmanasudia: Mohon penjelasan struktur umum alur cerpen?

    Ken Hanggara: Struktur umum alur cerpen: opening, klimaks, ending.

    Rosida Eka Oktaviani: Bagaimana membuat deskripsi cerpen tidak bertele-tele/mubadzir kata? Terkadang saya bingung membuat kalimatnya menjadi efektif tanpa kehilangan makna.

    Ken Hanggara: Kerangka tulisan perlu bagi yang kesulitan merancang bangunan cerita di luar kepala. Bagi yang sudah biasa, cukup digambar di dalam benak saja kok.

    DeraIda Lianna Hufadza: Seorang penulis itu tentunya harus mempunyai "jiwa semangat" yang tinggi, bagaimana cara kita menjaga semangat itu sementara ada banyak keterbatasan yang melanda. Contoh dekatnya saja saya suka menulis tapi terbatas dalam sarana. Jadi bagaimana cara kita bertahan dalam melawan keterbatasan? Kemudian seringkali ada banyak inspirasi yang tiba-tiba muncul sementara cerita sebelumnya belum kita tuntaskan, nah bagaimana cara menjaga ide cerita ketika ide lain muncul? 

    Ken Hanggara: Keterbatasan, setiap orang pasti punya. Saya dulu malah menulis di warnet yang berisik. Coba kita ingat saja apa motivasi menulis kita; apakah orangtua, apakah ingin tenar, atau menginpirasi? Nah, dengan mengingat motivasi/tujuan menulis, semangat yang redup akan kembali menyala. Yakin saja bahwa ide itu ada di mana-mana. Agar tidak kurang ide, tulis setiap ide yang datang di buku catatan.

    Syifa C. Regrey: Bagaimana strategi Kakak dalam menciptakan mood yang berkepanjangan agar proses menulis bisa teratur setiap harinya? Atau mungkin ada waktu-waktu khusus yang penting untuk proses menulis?

    Ken Hanggara: Untuk mengatur mood adalah memulai menulis setiap hari. Itu cara terbaik yang saya pakai.

    Maria Agnes Fillieta: Saya sering dengar orang bilang 'saya senang menulis tapi saya tidak/kurang suka membaca' bagaimana pendapat mas Ken tentang hal ini?

    Ken Hanggara: Membaca adalah harga mati bagi penulis. Coba bedakan antara penulis yang gila baca dengan penulis yang malas baca; pasti tulisan mereka jauh berbeda, setidaknya dari segi sudut pandang. Semakin banyak baca, kita akan tahu celah-celah yang bisa dibuka dari sebuah ide agar menjadi cerpen yang istimewa dan tidak klise.

    Theza Hilda: Bagaimana cara mengatur sebuah cerita dengan menggunakan dua tokoh yang saling bercerita?

    Ken Hanggara: Untuk dua tokoh yang berbeda, bikin saja jadi semacam fragmen. Bagian satu tokoh pertama, bagian dua tokoh lainnya. Tapi agar istimewa, perhatikan betul segi narasi. sebab setiap tokoh karakternya pasti berbeda.

    Siti Khumairah M. Nur: Apa motivasi terbesar yang mendasari Kak Ken dalam menekuni dunia kepenulisan? Adakah kisah yang paling berkesan di hidup Kakak dalam menghasilkan karya termasuk cerpen hingga jadi nyaman dinikmati? Jika ada, boleh diceritakan sedikit?

    Ken Hanggara: Sesungguhnya motivasi terbesar saya adalah ingin membahagiakan semua orang dengan tulisan. Itu yang paling utama. Rasanya jika tulisan kita dibaca dan mampu memberi manfaat walau sedikit bagi yang baca, itu luar biasa.

    Dedi Saeful Anwar: Bisa dijelaskan kedua genre yang dimaksud Mas?

    Ken Hanggara: Surealis yang menyimpang dari logika tapi berangkat dari ide yang ada di sekitar kita. Sedang realisme sosialis adalah cerita sehari-hari yang berkaitan dengan hidup.

    Muhamad KhanaFi: Bagaimana cara membuat ruh dalam cerpen dan membuat si pembaca seolah ikut dalam alur cerita?

    Ken Hanggara: Membuat ruh dalam cerpen? Buat seolah itu ada di dunia nyata. Misal kita bikin dialog jangan yang monoton apalagi yang seolah tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Dialog harus alami, itu pertama. Narasi harus logis, itu kedua. Dan terakhir konflik bisa diterima (tidak memaksa).

    Sulkadri Remitas: Saya ingin bertanya tapi pertanyaan ini sangat berbeda dengan yang lain. Bagaiman duka Mas Ken jadi penulis?

    Ken Hanggara: Cerpen saya banyak ditolak, Mas. Sudah ada seratus cerpen lebih yang gagal. Itu kedukaannya. Tapi saya malah menikmati hehe.

    Zuraini Zainal: Pandangan saya tentang membuat cerpen itu sangat sulit sekali. Cara untuk menghapus pandangan tersebut bagaimana?

    Ken Hanggara: Berlatih dan berlatih terus Mbak. Itu akan melemaskan jemari kita.

    Andrean Putra: Kakak memberi judul buku Kakak "Menulis Cerpen Itu Gampang", dari segi manakah yang kakak maksud gampang? Apakah Kakak akan membuat buku nonfiksi lagi, namun tentang "Menulis Novel Itu Gampang?" Semoga saja iya. Dan apakah antara novel dan cerpen memiliki tingkat kegampangan yang berbeda? 

    Ken Hanggara: Sesungguhnya yang memberi judul buku itu bukan saya, Mas. Hehe, tetapi pihak penerbit sebab saya sendiri memang menyerahkan sepenuhnya soal judul yang bagus bagi penerbit. Tapi buku itu insya Allah bisa menjawab sedikit kesulitan kita yang belajar menulis cerpen.

    Yahya Putra Pradana: Biasanya Mas menggunakan gaya bahasa seperti apa di dalam membuat cerpen dan seperti apa contohnya?

    Ken Hanggara: Saya mencoba banyak gaya, Mas. Dan tidak berhenti mengeksplore pada titik yang itu-itu saja. Tujuannya agar saya bisa berkembang dan semakin tahu gaya apa yang paling sesuai dengan saya.

    Abdul Aziz Muhammad: Saya ketika membuat cerpen sering kali terbawa pengalaman pribadi (pengalaman pribadi dijadikan cerpen). Bagaimana trik agar leluasa berimajinasi tanpa terikat pengalaman pribadi?

    Ken Hanggara: Dengan membuat cerpen yang jauh dari kondisi sekitar kita, misal cerpen berlatar negeri dongeng. Itu bisa jadi sarana latihan agar terlepas dari pengaruh pengalaman pribadi.

    Merri Asiska Lppim: Bagaimana membuat ending yang bagus? Apakah harus membuat pembaca penasaran?

    Ken Hanggara: Ending bagus tidak harus selalu menggantung ya. Sebenarnya ending yang baik itu tergantung bagaimana cerita itu ditulis dari awal hingga pertengahan. Ending ibarat kesan akhir yang didapat. Kalau ending diusahakan sebagus mungkin tapi dari awal sudah jelek, wah, ending tidak ada artinya lagi. Jadi setiap unsur cerpen saling bergantung satu sama lain.

    Rosida Eka Oktaviani: Bagaimana mengatasi mubadzir kata?

    Ken Hanggara: Mubazir kata bisa dihindari dengan membaca ulang cerpen kita. Cari saja bagian-bagian mana yang bikin panjang tapi sebenarnya tidak terlalu penting untuk dimasukkan dalam cerita.

    Zuraini Zainal: Saya suka mengumpulkan kata-kata tapi belum bisa menuangkan kata-kata tersebut dalam tulisan, bagaimana solusinya?

    Ken Hanggara: Membuat cerpen memang sulit. Agar tidak sulit, kita biasakan dengan menulisnya setiap hari. Saya bisa membuat cerpen 2-3 per hari. Masing-masing cerpen 1,5 jam. Dan itu tidak wajib bagus. Sebab dalam latihan, akan selalu ada kesalahan. Lakukan saja yang rutin. Lama-lama akan terbiasa.

    Zuraini Zainal: Bisa minta contoh alamat-alamat blog atau apa gitu contoh cerpen yang telah dimuat di koran?

    Ken Hanggara: Cerpen saya sebagian ada di www.kenhanggara.blogspot.com.

    Cici Dartia Utari: Pertanyaan yang cukup klise tapi sangat menggangu, "Bagaimana cara kita untuk menulis setiap hari dan bagaimana cara mengatur waktu?

    Ken Hanggara: Cara action adalah dengan menanamkan mindset bahwa kita harus menulis setidaknya satu halaman per hari (kalau bisa satu judul cerpen atau jenis tulisan per hari). Itu minimal. Membagi waktu? Sehari ada 24 jam. Pasti ada dong waktu 1-2 jam per hari yang senggang? Nah gunakan waktu itu untuk menulis.

    Siti Muhasonah: Ane selalu buat cerpen tapi jadinya cerpan (cerita panjang). Gimana sih cara membatasi jalan cerita biar tidak kemana-mana? Adakah trik untuk membatasi sebuah jalan cerita?

    Ken Hanggara: Agar cerita tidak ke mana-mana, fokuskan cerpen hanya pada satu konflik, karena ini cerita pendek, bukan novel. Cerpen tidak harus selalu menjelaskan semuanya. Jadi bagian-bagian yang tidak berkaitan/tidak penting, sebaiknya jangan dimasukkan.

    Laela Marlina: Bagaimana cara membuat tulisan kita bernyawa? Bernyawa di sini artinya memiliki gaya kepenulisan, yang kalau orang lain baca terkesan tidak menggurui dan terasa ringan dibaca. 

    Ken Hanggara: Agar tidak terkesan menggurui, kurangi memasukkan qoutes atau kutipan, apalagi kata-kata nasihat yang gamblang. Anggap saja kita sedang bercerita. Maka cerita yang kita sajikan adalah apa yang terjadi, bukan apa yang ada di baliknya. Dengan kata lain, pesan di balik cerita disampaikan secara halus. Itu cara agar cerpen tidak menggurui.

    D'wie AmeEna AnnaJa: Saya suka sekali membaca cerpen maupun karya fiksi lainnya. Terkadang saya pun ingin bisa berkarya. Tapi, saat akan memulainya sungguh terasa sulit. Banyak ide yang muncul, tapi menguap begitu saja saat akan ditulis. Solusinya bagaimana ya Mas?

    Ken Hanggara: Ide-ide yang muncul itu simpan dulu dalam buku catatan. Saat menulis sebuah cerpen, fokus saja ke satu ide. Ide itu mau kita jadikan cerita yang bagaimana, serta pesan apa yang mungkin bisa disampaikan ke pembaca. Dengan fokus ke satu persoalan, pikiran kita akan terpaku ke sana. Buat outline juga bila perlu, agar bangunan cerita sudah jelas dan tidak kesulitan mengembangkan.

    Manda Netti: Jika ditodong harus bisa menghasilkan karya dalam dua jam, dapat menyelesaikan berapa cerpen?

    Ken Hanggara: Biasanya saya satu cerpen 1,5 jam.

    Putri Chadhar Biru: Gimana cara menyiasati cerpen atau puisi itu endingnya bisa sampai? Karena kendala yang sering saya rasakan, karya saya sering mati ending, atau kehilangan konflik dan kadang malah jadi aneh.

    Ken Hanggara: Ending jangan terlalu dipikrkan. Pikirkan saja bagaimana agar cerita itu berjalan dengan baik dengan mengusung suatu misi/pesan. Biasanya kita tidak akan kesulitan membuat ending kalau pesan dan konfliknya jelas.

    Nia Dahniar: Bagaimana ya caranya menulis sebuah cerpen dengan cepat tanpa mengahabiskan banyak wktu, terutama untuk orang-orang yang sedang sibuk kerja juga. Bukannya kalau menulis cerpen butuh banyak waktu untuk konsentrasi dan imajinasi ya?

    Ken Hanggara: Kalau waktunya tidak mencukupi, simpan dulu saja Mbak cerpennya. Itu tidak akan mengganggu nuansa yang ingin kita ciptakan dalam sebuah cerita. Asal saat akan melanjutkan cerpennya, dibaca lagi dari awal. 

    Aishiteru Menulis: SESI PERTANYAAN DITUTUP. SILAKAN Mas Ken Hanggara berikan pesan Anda untuk peserta seminar yang ingin menjadi penulsi cerpen.

    Ken Hanggara: Pesan saya, terus berlatih. Itu saja. Memang tidak ada yang mudah. Selama kita mau berusaha dan terus belajar, tidak ada lagi kata sulit. Semua bermula dari "dimulai". Dan jangan lupa pula kirimkan cerpen-cerpen ke media massa dan perlombaan, untuk mengukur sampai di titik mana kita berada. Jangan cepat berpuas diri jka sukses, dan terus mencoba jika gagal.

    Aishiteru Menulis: SEMINAR ONLINE DITUTUP! Sampai jumpa di seminar berikutnya dengan nara sumber lainnya.

    Salam aktif!
    FAM INDONESIA

    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ken Hanggara: “Saya Menulis Cerpen untuk Kesenangan dan Cinta” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top