• Info Terkini

    Wednesday, July 29, 2015

    Ulasan Cerita Mini "Maafkan Aku untuk Satu Malam Ini" Karya Nely Istiqomah (FAMili Brebes)

    ilustrasi: bangaziem.wordpress.com
    Tokoh "aku" terbenam dalam penyesalan karena ia harus menentang nasihat emaknya sendiri. Di sisi lain, penentangan ini justru ia lakukan demi kebaikan emaknya. "Aku" menjual dirinya. Masa lalu yang buruk, kehidupan yang tidak mau memihak, memaksanya memilih jalan gelap ini.

    Cerita ini amat klise jika dilihat dari ide dasarnya. Seorang anak dengan masa lalu buruk, yang memilih menjual diri demi ibunya. Namun keklisean itu tidak akan menjadi masalah kalau kita mampu membawa bentuk baru sebuah cerita. Dalam hal ini, penulis disarankan untuk terus berlatih dan berlatih menguak bentuk-bentuk unik dari ide-ide klise yang sering dipakai dalam penulisan fiksi.

    Tanda baca (terutama tanda titik dan koma) beberapa kurang tepat. Diharapkan ke depan agar penulis lebih teliti memerhatikan fungsi tiap tanda baca. 

    Dalam cerita ini ada satu paragraf terlalu panjang sehingga pembaca bisa jenuh. Lakukan pembagian paragraf berdasarkan ide pokok; dengan kata lain: satu paragraf punya satu titik fokus. Dalam cerpen ini satu paragraf yang dimaksud punya titik fokus lebih dari satu.

    Gunakan huruf kapital di setiap awal kalimat; entah itu kalimat narasi maupun dialog. Penulis menulis beberapa kalimat dialog dengan diawali huruf-huruf kecil. Ini kurang tepat. Kemudian kata panggilan "emak" dan "bapak" sebagai subjek, mestinya diawali huruf kapital menjadi: "Emak" dan "Bapak". Kecuali kata panggilan untuk objek, penulisan "emak" atau "bapak" sudah tepat. 

    Contoh kata panggilan untuk subjek: "Aku dan Emak makan bersama malam ini."

    Bedakan dengan contoh kata panggilan untuk objek berikut: "Aku punya seorang emak yang tangguh." 

    Perbedaan kedua bentuk ini adalah: "subjek" sebagai orang yang terlibat dalam suatu percakapan atau adegan, sementara "objek" sebagai sesuatu yang "dimiliki" atau sebagai sebutan/pangkat bagi seseorang.

    Terakhir penulisan kata "dibalik" sebagai keterangan tempat yang benar: "di balik". Sementara untuk judul, hendaknya setiap katanya ditulis dengan diawali huruf kapital, kecuali beberapa kata penghubung seperti "untuk", "sebagai", "ke", "dan", dan sebagainya. 

    Saran untuk penulis, teruslah berlatih. Gali tema-tema lain dan temukan bentuk-bentuk baru dari ide yang sederhana. Jangan takut bereksperimen. Imbangi pula kegiatan menulis dengan membaca.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING

    Maafkan aku untuk satu malam ini….
    Oleh Nely Istiqomah (IDFAM3430)

    Langkahku gontai. Lemas tak bertenaga. Kurasa ada seseorang yang menyihirku menjadi nenek bertubuh sintal. Malam ini terasa panjang. Mungkin sepanjang jembatan ampera yang gambarnya sering kulihat di kalender rumahku. Atau mungkin lebih. Tubuhku letih. Aku masih ingat peristiwa dua jam yang lalu. Nistakah aku? Aku hanya ingin emak makan enak di hari ulang tahunnya. Aku hanya merasa sedih jika harus melihat emak menangis di tengah malam. Dalam sujudnya. Pernah suatu hari aku memergoki emak menangis dan berdoa. Ada aku dalam doanya. Aku hanya bisa menguping dibalik pintu kamar emak. 

    Ya Tuhan, keinginanku satu menikah dengan lelaki kaya raya, tampan, baik hati layaknya pangeran. Lalu membawaku dan emak di kehidupan yang lebih layak. Ya.. aku dan emak hanya hidup berdua, bapaku sudah pergi meninggalkan emak sejak aku kelas empat SD. Masih kuingat, bapak sering pulang membawa wanita cantik dengan baju belahan dadanya terlihat. Sangat sexy. Emak yang saat itu bekerja di pabrik dan biasa lembur malam tak tahu kelakuan bejat bapak. Hingga suatu hari emak menemukan baju dalam wanita di bawah tempat tidur. sontak, bapakku marah besar. Dia malah menyalahkan emak sebagai wanita tak tau diri. Lancang. Memukul emak bertubi-tubi. Aku yang saat itu masih kecil hanya bisa mendengar suara bass bapak. Aku sembunyi di bawah tempat tidurku sembari menutup muka. Aku takut sekali. Saat suara bapak tak lagi terdengar, aku mulai berani keluar kamar. Kutemukan tubuh emak terkulai di pojokan kamar dengan lebam di sekujur tubunnya. Bapak jahat. Setahun kemudian bapak meninggalkanku dan emak bersama wanita simpanannya. Persetan dengan bapak. Aku benci tapi emak selalu bilang padaku kalau bagaimanapun buruknya sikap bapak, beliau tetaplah bapakku. Sudah kewajibanku untuk menghormatinya. Kuhampiri emak yang saat itu masih berbalut mukena lusuhnya. Emak memelukku sambari berpura-pura kalau semua baik-baik saja. Aku aman selama ada emak walau kutahu butiran air itu menetes dipipi emak. Ah.. aku memang melankolis. Mengingat emak membuatku berbulir air mata.

    Aku kembali ingat peristiwa satu jam yang lalu. Aku yang menemui laki-laki itu. Lelaki tambun dengan kumis tipis. Aku mengenalnya dari tante Vira. Teman kerjaku dulu.

    “kau minta berapa, cantik?” ucapnya sembari matanya menyusuri tiap lekuk tubuhku.

    Aku terdiam. Gamang. Tapi emak harus makan enak malam ini. Tiba-tiba aku teringat nasihat emak, jadilah wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya. Wanita itu seperti batu-bata yang nantinya menjadi bahan untuk pondasi agama.

    “aku minta 3 juta” ucapku sedikit ragu. Maafkan aku emak sudah mengabaikan nasihatmu.

    “3 juta? Jangankan 3 juta, 3 milyar pun aku beri kalau kau mau ikut aku selamanya” ucapan lelaki itu disertai gelak tawa. 

    “ayolah cantik, ikutlah denganku ke Eropa, aku akan menikahimu secara sah. Kau akan kuberikan kehidupan yang lebih layak” lanjut lelaki yang sudah kukenal dengan nama Rinto itu.

    “kalau aku ikut kamu ke Eropa, lalu bagaimana dengan emakku?” tanyaku 

    “emakmu? Jangan khawatir, aku akan tetap menafkahi emakmu. Aku sudah terlanjur tergila-gila padamu, cantik”

    Aku mengangguk. Kurasa keputusanku tidak terlalu buruk. Inikah hasil dialog kami? Dia tersenyum. Puas. Mungkin seperti anak kecil baru memenangkan game nya. Terlalu girang. Ia langsung memelukku dan menciumku. Membawaku ke ranjangnya. Aku hanya diam. Emak, maafkan aku. Jika dulu aku bermimpi untuk mendapatkan suami seperti pangeran yang tampan, kaya raya dan baik hati. Mungkin sekarang aku harus melupakannya. Tuhan, maafkan aku untuk satu malam ini.

    Patrol, 10:47 WIB
    #diiringi hujan #bintanamayyada

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerita Mini "Maafkan Aku untuk Satu Malam Ini" Karya Nely Istiqomah (FAMili Brebes) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top