• Info Terkini

    Thursday, July 30, 2015

    Ulasan Esai "Aku, Gunung, dan Facebook" Karya Guy Le Fleur (FAMili Riau)

    NET
    Esai ini menyoroti 'pakem' dan 'jargon' lama dunia pendidikan kita dalam bentuk "gambar gunung" dan kalimat pembukaan "pada suatu hari" di pelajaran menggambar dan bahasa Indonesia. Secara tidak langsung, dua hal tersebut menjadi stigma hingga disangkutpautkan pada sebagian besar atau keseluruhan metode pengajaran yang ada dari dulu hingga kini.

    Hal tersebut, menurut penulis, justru membuat kita stagnan, jalan di tempat, dan sulit berkembang secara mindset atau pola pikir. Pendidikan yang baik tentunya dimulai dari mindset yang baik pula di kepala anak-anak penerus bangsa. Mindset yang baik adalah awal mula lahirnya manusia berkarakter unggulan di masa mendatang.

    Perkembangan teknologi, dalam hal ini media sosial Facebook, menurut penulis, bisa menjadi sarana belajar yang tidak mengikat sebagaimana kedua stigma yang disebut di atas. Penulis mengupas sisi positif keberadaan Facebook untuk mengubah cara pandang dan mindset anak-anak agar sifat stagnan dunia pendidikan tidak terus menerus diwariskan.

    Beberapa yang perlu dikoreksi dari esai ini adalah salah ejaan dan typo pada kata-kata: "kreatifitas", "diaggap", "menelorkan", "iliterasi", "mengambar", yang harusnya ditulis: "kreativitas", "dianggap", "menelurkan", "literasi", dan "menggambar". 

    Secara keseluruhan, esai ini menarik. Meski tema yang diangkat sudah banyak dibahas, solusi yang disajikan unik dan cukup bisa diterima. Tentunya dengan turun tangannya pihak orangtua dan guru untuk mengontrol peran internet (dalam hal ini media sosial) agar tidak memberi pengaruh buruk bagi mental sang anak, dirasa apa yang dimaksudkan oleh penulis dapat terlaksana.

    Saran dari Tim FAM untuk penulis adalah koreksi kembali tulisan Anda sebelum dipublikasikan. Beberapa kata ditemukan typo atau salah ketik. Sayang sekali jika tulisan yang bagus jadi kurang enak dibaca ketika beberapa kata tidak sesuai ejaan, bukan? Selebihnya, dapat menggali tema-tema lain yang lebih aktual, segar, dan tahan lama (dapat dibaca kapan saja). 

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    AKU, GUNUNG DAN FACEBOOK
    Karya: Guy Le Fleur (IDFAM1300U)

    Dulu, sewaktu belajar mengambar maupun mengarang (menulis) di sekolah, kita tak bisa lepas dari pakem ‘gunung’ dan jargon ‘pada ‘suatu hari’. Ianya begitu akrab di mata dan telinga anak-anak kita. Laksana dogma atau dalil yang tak bisa hilang. Bahkan ianya seperti  rumus mate-matika saja. Pokoknya, semua pekerjaan di sekolah yang berhubungan dengan mengambar dan mengarang selalu saja berkaitan dengan kedua stigma tersebut. Sehingga, ada anggapan bahwa dengan mengunakan pakem tersebut, dianggap oleh banyak pihak bahwa kreatfitas anak-anak didik kita pada waktu itu sudah maksimal. Namun, setelah kita pelajari lebih lanjut, itu semacam upaya merampungkan tugas sekolah saja. Agar tidak dimarahi guru di kelas.  

    Dari situasi ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa  anak-anak sekolahan kita tempo dulu (juga sekarang masih terlihat) sering kehilangan akal untuk mengembangkan kemampuan diri dalam mengaktualisasikan daya kreasi (cipta) untuk mengembangkan ide  kreatif.  Padahal, mereka punya itu. Akhirnya, anak-anak menjadi lemah berimprovisasi dalam pelajaran seni dan sastra di sekolah. Di mata mereka, kedua pelajaran itu diaggap sulit dan susah.  

    Pendidikan masa lalu yang berfokus pada buku teks serta kreatifitas siswa yang dirancang dalam satu wadah kebersamaan visi, membuat dunia kreatif  anak-anak sekolaha kita anak jadi stagnan. Mereka tak mampu  bereksprimen untuk menelorkan ide-ide kreatif yang baru di dalam pikiran mereka. Dalam konteks pembelajaran, anak-anak kita jadi mesin waktu yang tak bisa menerobos ruang kosong kreatifitas. Di luar itu semua ternyata mereka menjadi sebuah produk gagal dalam dunia pendidikan itu sendiri. 

    Aku tak bisa menafikan bahwa aku pernah meresakan stigma tersebut. Meski kualitas pengaruhnya tidak begitu buruk. Sebab, upaya untuk lari dari pakem tersebut  ternyata lahir  setelah dunia iliterasiku  muncul. Kesenanganku terhadap dunia seni, terutama mengambar dan menulis membuat aku belajar sendiri agar bisa lepas dari pakem tersebut. Meski tak mudah. Sampai pada satu titik aku benar-benar meninggalkan pakem itu menjelang sekolah menengah tingkat pertama. 

    Pendidikan tak bisa lepas dari sejarah bangsa dan sistem pemerintahan.  Kekuatannya  memengaruhi anak-anak dalam bersikap. Baik secara motorik, afektif maupun psikomotor. Aku menyakini hal ini mengingat aku ada di dalam dunia itu sendiri.   

    Aku menyadari perkembangan dunia. Teknologi memungkinkan untuk mengatakan bahwa tiada yang tak mungkin. Kita tak lagi bisa  mengatakan  tidak  untuk sebuah penemuan baru. Kemajuan teknologi komunikasi yang terwakili oleh media sosial seperti facebook maupun  twitter, membuat dunia kita berubah total saat ini. Facebook, adalah salah-satu ledakan produk massa yang begitu fantatis menarik perhatian masyarakat hari ini. Aku mungkin salah-satu korban terpentingnya (sisi positif).

    Segi positif, menurutku, facebook  membawa anak-anak kita mampu bebas  berlayar untuk merangkaikan kebebasann yang selama ini hilang. Dalam rangka usaha mengekspresikan idenya, facebook membantu untuk itu. Mereka berusaha meninggalkan pakem lama untuk merebut kursi kekuasaan ide ke arah yang lebih tinggi dan bonafit.  Sebagai masyarakat konsumen, kita menyadari sepenuhnya bahwa anak-anak kita belum sepenuhnya  mampu  menanggung atau mengatasi terhadap efek akibat sebuah perubahan. Tingkat penerimaan masyarakat yang masih lugu, membuat anak-anak kita kini mengalami sebuah kegoncangan. Atau seperti culture shock, kejutan budaya. Sehingga mau tak mau kita harus mendengar begitu banyak  kasus yang lahir diakibatkan oleh kemunculan media sosial ini. Kita berharap ke depan kejadian seperti ini akan berkurang seiring pengalaman kita terhadap perubahan itu terus meningkat.

    Kemampuan facebook yang besar serta jangkauannya yang tak terbatas itu membuat dunia literasi kita hari ini berubah. Kita bisa menjadi apa yang kita inginkan. Seni menulis mendapat tempatnya. Banyak penulis-penulis baru yang muncul di media sosial ini. Walau  sebagian besar para Netizen, cuma berkasak-kusuk tentang kehidupan harian mereka lewat curahan kata-kata sederhana dan spontan.

    Aku termasuk orang yang tak mudah menerima perubahan tanpa lebih dulu  kukaji secara detil. Kelahiran facebook, memang sangat membantuku mengembangkan kesenanganku. Segala keluhan dan unek-unekku yang tersimpan selama ini bisa aku tuangkan dalam sebuah tulisan di facebook. Ini membantuku untuk mengenal sampai sejauh mana kelebihan atau kekuranganku dalam   melahirkan ide-ide itu. Aku berusaha lepas dari ‘pakem’ dan ‘jargon’ lama berkat adanya facebook.  Karena interaksi yang terjadi di sini (facebook) lebih dari  yang selama ini tak aku pikirkan. Sebab, semua bisa diolah  dalam hitungan detik dan dengan satu kata ajaib, yakni click!

    Barangkali, aku termasuk salah-satu yang mengunakan media sosial ini sebagai dunia belajar untuk menulis. Meski agak terlambat untuk mengejar impian menjadi penulis. Tapi paling tidak keinginanku bisa terpenuhi. Aku berusaha untuk melakukannya sebisaku. Sedang hasil akhirnya, hanya kuserahkan pada Maha Pencipta, bumi dan langit!

    Dan sekarang aku benar-benar meninggalkan gunung-gunung dan jargon itu. Dalam upaya mereka mengeluarkan ide-ide kreasi yang imajiner itu,  aku berharap kedua pakem ini tak lagi  muncul dalam dunia anak-anak kita . Semoga harapanku sama dengan harapan orang lain.  Dunia kita hari ini adalah dunia tanpa batas (borderless). Dunia baru yang telah melahirkan sebuah konsekwensi, sebab dan akibat. Dan kita harus terus mawas terhadap hal itu bagi pertumbuhan dan perkembangan minda anak-anak besok hari!  

    Bengkalis, 23 Juni 2015

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Kontak call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Esai "Aku, Gunung, dan Facebook" Karya Guy Le Fleur (FAMili Riau) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top