• Info Terkini

    Monday, August 31, 2015

    Arafat Nur: Rahasia Nulis Novel, Timbulkan Keunikan, Ciptakan Daya Pukau

    ARAFAT NUR
    Pengantar:
    FAM Indonesia pada Senin, 24 Agustus 2015 mengadakan Seminar Online dengan narasumber Arafat Nur (Novelis). Tema seminar adalah “Rahasia Sukses Menulis Novel”. Berikut hasil jalannya seminar. Selamat membaca. 

    ***

    Profil Narasumber:

    ARAFAT NUR adalah penulis prosa yang memulai bakatnya dengan menulis puisi, lantas mengarang cerita pendek, dan terakhir lebih terpumpun pada novel. Di sela-sela kesibukannya sebagai pekerja serabutan, dia gemar membaca buku apa saja, terutama buku sejarah dan sastra asing.

    “Lampuki” (Serambi, 2011) merupakan novelnya yang terpilih sebagai pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 dan meraih Khatulistiwa Literary Award 2011. Novel lainnya adalah “Burung Terbang di Kelam Malam” (Bentang, 2014), yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “A Bird Flies in the Dark of Night”. Pembaca dapat berintereaksi langsung dengan penulis melaui twitter di @arafat_nur. 

    ***

    Aishiteru Menulis (Moderator): Assalamu'alaikum Bang Arafat Nur, apa kabar Anda malam ini?

    Arafat Nur: Waalaikumussalam wr wb. Selamat malam. Salam sejahtera. Moga semuanya dalam keadaan sehat. Senang sekali malam ini kita bisa berintereaksi di dunia maya, di group FAM Indonesia yang semakin berkembang. Semoga banyak yang sudah baca karya-karya saya sehingga semakin “nyambung” diskusi kita malam ini.

    Aishiteru Menulis: Alhamdulillah, selamat datang di FAM Indonesia, Bang Arafat Nur. Tentu, peserta seminar malam ini sudah menunggu kedatangan Bang Arafat. Apakah siap kita berdiskusi malam ini?

    Arafat Nur: Makasih, Moderator. Insya Allah siap.

    Aishiteru Menulis: Sip, terima kasih. Sejak kapan Bang Arafat Nur mulai menulis novel?

    Arafat Nur: Kira-kira sebelum tsunami, sekitar tahun 2004. Novel pertama saya "Percikan Darah di Bunga" kebetulan menang sayembara FLP Jakarta. Tapi kalau mulai menulis sudah tahun 1994.

    Aishiteru Menulis: Oke. Di awal menulis, sepertinya Bang Arafat Nur suka menulis puisi dan cerpen di koran-koran, khususnya di Aceh. Lalu, kenapa sekarang tertarik dan fokus menulis novel?

    Arafat Nur: Betul. Kesempatan menulis di koran terbatas, baik halaman maupun tulisannya dibatasi. Nulis novel bisa suka-suka. Dan media publikasinya juga tidak dibatasi.

    Aishiteru Menulis: Oke. Kemunculan Novel LAMPUKI mengejutkan publik sastra tanah Air, apalagi menang DKJ 2010. Apa yang melatarbelakangi Bang Arafat Nur menulis novel berlatar Aceh ini?

    Arafat Nur: Karena saya orang Aceh, tinggal di Aceh, dan memahami Aceh lebih baik. Selain itu ada yang perlu saya luruskan, perlu saya tunjukkan pada orang lain hal-hal yang tidak tampak dan sulit dipahami. Saya juga memunculkan nilai-nilai penting, pesan penting, dan sejarah penting yang tak tercatat sebelumnya.

    Aishiteru Menulis: Sangat inspiratif. Tentu banyak hal bisa disampaikan lewat novel ya, yang mungkin tidak tersampaikan dengan cara lain, jurnalistik misalnya, sebab Bang Arafat Nur seorang wartawan juga. Baik, langsung saja dipersilakan kepada peserta untuk bertanya ke Bang Arafat Nur. SESI TANYA JAWAB DIBUKA.

    Arafat Nur: Menulis bagi saya adalah tanggung jawab moral, sebagai wujud rasa cinta saya kepada manusia, kepada bangsa. Paling tidak saya bisa menyumbangkan buah pikir bagi orang yang punya minat membaca.

    Yus Rusmanasudia: Mohon sedikit tentang proses kreatifnya?

    Farihatun Nafiah: Salam aktif. Saya mau bertanya, Bang Arafat Nur berapa lama waktu untuk merampungkan satu novel? Apakah pernah mengalami 'hilang fokus' saat proses penulisan?

    Agung Gunawan: Bang Arafat Nur, saya memang belum pernah membaca karya-karya Anda, tapi saya yakin dengan Anda meraih beberapa penghargaan untuk karya Anda tentunya Anda tidak diragukan lagi dalam hal menulis dan mengolah kata. Pertanyaan saya Bang, sebagai penulis novel tentu Anda pernah merasa jenuh dan kehilangan ide untuk tulisan Anda. Kira-kira tips rahasia apa yang membuat Anda tetap konsisten menulis?

    Ghea Mirrela: Bang Arafat Nur, langsung saja kepada pertanyaan. Bagaimana cara memunculkan atau melahirkan ide-ide penting tersebut. Dan ide-ide kita bisa diterima oleh pembaca.

    Asmalinda Sy: Bang Arafat Nur, dalam menulis, terkadang saya selalu bimbang untuk menfokuskan ending yang sudah saya buatkan outlinenya. Sehingga, banyak cerita cerita saya yang tak berujung. Bagaimana kiat untuk mengatasi hal itu Bang? 

    Arafat Nur: Awalnya saya tidak bakal berharap menjadi penulis. Saya hanya membaca. Membaca menjadi sebuah kebutuhan.

    Nurul Fadilah Mustari: Kak gimana sih caranya menumpahkan ide itu ke dalam coretan, apakah ada cara yang lebih mudah yang dapat dilakukan oleh seseorang pemula dalam menuliskan sesuatu?

    Arafat Nur: Sejak dari SMP saya rajin membaca, baik dari buku-buku yang saya beli maupun yang saya pinjam di perpustakaan sekolah. Setamat SMA saya menulis puisi dan mengirimkannya ke koran. Langsung dimuat. Kemudian saya menulis cerpen, artikel, juga dimuat. Sampai akhirnya, pada 2004, saya menulis novel, dan menang lomba.

    Dirgantara Maulana: Kak, pada waktu tsunami di Aceh, apa yang Anda pikirkan pada waktu itu. Apakah semakin berkeinginan untuk membuat novel, atau sempat putus harapan?

    Nisrina Nafisah: Berhubung saya belum membaca novel Bang Arafat, Lampuki. Jadi saya begitu penasaran, Lampuki mengisahkan tentang apa? Apa yang membuatnya begitu berbeda dan unggul dibandingkan novel-novel yang lain saat sayembara novel DKJ?

    Nurul Fadilah Mustari: Yang terpenting adalah konsisten yah Kak? Kata mereka yang sukses menjalani profesi sebagai penulis adalah berani dan tidak pernah bosan untuk selalu menulis.

    Arafat Nur: Nurul Fadilah Mustari, salam. Bisa tidak bisa menumpahkan ide dalam tulisan sangat tergantung dari penguasaan bahan. Kalau bahan sudah dikuasai dengan baik, tentu saja mudah. Seperti teko yang berisi air, tinggal tuang ke gelas saja. Kalau mulut tekonya tidak sumbat, pasti akan keluar airnya.

    Renata Angel: Apa rahasia sukses menulis novel? Bagaimana cara membuat konflik yang menarik dan bagaimana pula membuat karakter terlihat hidup? Apa yang menginspirasi Kakak sehingga bisa menerbitkan banyak buku? Bagaimana mendapat inspirasi untuk novel bertema fantasi?

    Nisrina Nafisah: Ide atau tema-tema seperti apa yang disukai pada sayembara-sayembara seperti novel DKJ?

    Arafat Nur: Lama menyelesaikan 1 novel, saya butuh 2- 3 tahun.

    Fathur Rohim Syuhadi: Saya ucapkan selamat dan sukses atas kreatifitas dan prestasi Mas Arafat Nur. Semoga tetap terjaga.

    Aishiteru Menulis: Bang Arafat Nur, setiap jawaban yang diberikan mohon menyebutkan nama penanya ya, biar nyambung dengan pertanyaan si penanya. Mohon menjawab singkat dan to the point saja. MODERATOR

    Dirgantara Maulana: Dan diisi oleh apakah 2-3 tahun itu? Apakah diisi oleh ide-ide yang luar biasa?

    Nurul Fadilah Mustari: Salah satu yang menurut saya adalah kendala yang dapat memperlambat di saat saya menulis adalah menghubungkan paragraf satu ke paragraf yang lain.

    Arafat Nur: Nisrina, untuk tahu apa yang ada dalam novel Lampuki, monggo dibaca. Karena tidak mungkin dijelaskan di sini. Novel ditulis memang untuk dibaca.

    Yooni D'zminie: Om arafat. Apakah menulis novel harus mengandung pesan moral? Bagaimana dengan novel remaja yang biasanya identik dengan kisah percintaan? Kan jarang tuh ada pesan moralnya.

    Dirgantara Maulana: Seringkali ketika menulis novel itu kita sering terjatuh dan berhenti di tengah jalan, alasannya karena kehabisan ide dan takut nggak enak dibaca. Hal apakah yang harus kita lakukan agar kita bangkit lagi ketika kita terjatuh?

    Aishiteru Menulis: SEMENTARA PENANYA CUKUP, KITA BERI KESEMPATAN BANG ARAFAT NUR MENJAWAB PERTANYAAN SEBELUMNYA DI ATAS. (Moderator)

    Arafat Nur: Dirgantara Maulana, waktu itu yang saya pikirkan hanya utk menyelamatkan diri. Tidak ada kepikiran nulis novel.

    Agung Gunawan: Pertanyaan saya paling pertama tadi belum dijawab Bang. Saya ingin mengajukan pertanyaan lain. Sampai saat ini saya yakin bahwa latar budaya dan kearifan lokal menjadi kekuatan tersendiri dalam sebuah karya sastra, seperti yang Anda lakukan. Pertanyaannya, bagaimana cara menuangkan unsur budaya tersebut ke dalam sebuah karya?

    Farihatun Nafiah: Bang Arafat Nur, bagaimana bila menemui satu keunikan ide cerita namun ternyata telah dipakai dalam cerita pengarang lain? Apakah sebaiknya tetap mempertahannya atau sebaliknya?

    Arafat Nur: Fathur Rohim Syuhadi, terima kasih. Memang saya selalu berusaha untuk terus menulis dengan baik. Novel terakhir "Tempat Paling Sunyi (Gramedia)—Alhamdulillah mendapatkan sambutan positif dari pembaca, dan masuk dalam deretan buku laris.

    Hersia Puteri: Meskipun saya belum pernah membaca karya Anda, saya ingin bertanya. Hal apa yang memotivasi Bang Arafat Nur untuk terjun ke dunia kepenulisan? Dan menurut Anda, hal apakah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembaca untuk membaca karya kita para penulis?

    Arafat Nur: Agung Gunawan, pertama kita harus memahami dan mendalami unsur-unsur budaya. Harus bisa menjiwainya. Masing-masing tempat punya kearifan lokal sendiri. Jadi bila unsur ini telah mendarah, dengan sendirinya akan terbentuk salam tulisan.

    Arafat Nur: Farihatun Nafiah, sebaiknya kita menggali yang baru. Ada banyak lain yang baru, yang belum dituliskan. Kenapa kita harus menulis yang sudah ditulis?

    Fathur Rohim Syuhadi: Salut dengan Mas Arafat Nur. Terus berkarya dan menginspirasi anak-anak Indonesia secara khusus yang tergabung di FAM Indonesia. Muslim terbaik itu adalah yang paling bermanfaat bagi umat manusia. "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

    Ryan P. Putra: Bang Arafat Nur, apa yang mendasari paling utama agar tulisan kita dimuat di media cetak?

    Arafat Nur: Ghea Mirrela, ide datang dengan banyak cara, bisa datang, dan bisa dijemput. Cara mencari ide adalah dengan banyak membaca, jalan-jalan, nonton, dll.

    Arafat Nur: Hersia Puteri, sudah saya jawab di atas, karena cinta saya pada hidup, pada manusia dan cinta pada bangsa.

    Dirgantara Maulana: Maaf kak satu lagi. Apakah ada kendala pada saat menulis novel yang kakak rasakan?

    Faisal Hidayat: Siapa penulis yang menjadi idola Anda di Indonesia?

    Chanif Hanafie: Bang Arafat Nur, membuat novel apakah butuh waktu yang lama? Jika sudah membuat beberapa lembar terus berhenti, apakah tidak deadlock?

    Arafat Nur: Faisal Hidayat, saya tidak punya idola khusus. Saya menyukai semua jenis buku, baik sejarah, puisi, cerpen, novel, bahkan buku kedokteran.

    Aishiteru Menulis: Satu pertanyaan buat Bang Arafat Nur, "Kenapa Anda suka membaca novel-novel terjemahan dari penulis-penulis luar negeri? Apa keunggulan novel-novel itu? Apakah Anda menganjurkan kepada penulis pemula untuk membaca novel-novel terjemahan dari luar negeri juga? Jika iya, kenapa?

    Ryan P. Putra: Bang Arafat Nur, apa yang mendasari Abang menulis novel? Mungkin ada kiat-kiat tersendiri.

    Arafat Nur: Chanif Hanafie, kalau mandeg, berhenti saja. Tak usah dipaksakan. Nanti ketika sudah fress, bisa lanjut lagi. Jangan paksakan dalam menulis, hasilnya jelek.

    Dirgantara Maulana: Mungkin menulis juga seperti hidup. Kadang semangat dan kadang malas-malasnya. Apakah Kakak bisa menjadi sukses seperti sekarang ini karena bisa membagi waktu kapan waktu untuk menulis dan kapan waktu istirahat?

    Arafat Nur: Aisiteru Menulis, biasanya tulisannya lebih mengalir, kaya humor, dan lebih dalam. Ini mungkin karena karya-karya mereka (penulis luar negeri) sudah melalui seleksi yang ketat. Karena ada juga karya mereka yang berkualitas buruk. Demikianpun, banyak juga karya Indonesia yang berkualitas. Saya cinta karya sastra Indonesia.

    Dirgantara Maulana: Dan mungkin kelebihan penulis novel luar negeri itu lebih berani dalam memunculkan ide yang begitu hebat dan tidak disangka-sangka akan seperti itu.

    Ghea Mirrela: Bang Arafat Nur, bagaimana trik agar tulisan kita bisa dilirik oleh penerbit luar negeri. Apakah kiat bagi penulis pemula untuk bisa menembus batas ini.

    Ana Nasir: Kak Arafat Nur, saya belum baca novel kakak. Saya boleh nanya itu temanya apa ya? Soalnya saya pernah baca katanya dunia internasional itu lebih suka novel yang jenis fantasi, apa novel kak juga jenis fantasi?

    Uni Murni: Mas Arafat Nur. Ada tips khusus buat menulis novel? Bagaimana sih untuk menulis supaya pembaca biar tertarik? Saya sering yah baca-baca novel yang halamannya sampai beratus ratus lembar tipsnya apa yah, saya yang nulis novel sampai seratus lembar saja kadang pusing-pusingnya pada pemilihan diksi dan gaya bahasa, karena menurut saya diksi dan gaya bahasa itu penting dalam sebuah novel agar pembaca merasa tertarik tidak mungkin kan novel di tulis dengan bahasa baku yang ada pembaca merasa bosan?

    Arafat Nur: Dirgantara Maulana, saban hari kita memang disibuki kerjaan macam-macam, belum lagi tuntutan sosial, termasuk kenduri di kampung, pesta, bahkan di FB juga banyak yang inbox, tapi memang tidak bisa dibalas, bukan karena sombong, tapi yang inbox pun puluhan. Jadi, selaku penulis memang harus komitmen, harus bagi waktu dan kadang harus mengorbankan kesenangan pribadi.

    Chanif Hanafie: Apakah dalam menulis novel perlu kerangka karangan? Dan seberapa penting kerangka karangan itu?

    Arafat Nur: Ana Nasir, saya kurang suka memilah jenis-jenis novel. Itu tugas kritikus. Saya hanya menulis novel sebaik-baiknya, yang bisa memberikan manfaat bagi orang banyak. Jadi, pembaca novel kita akan tercerahkan, terhibur, dan tidak merasa dirugikan. Itu saja yang saya pikirkan.

    Dirgantara Maulana: Karena mungkin menjadi narasumber itu tidak semudah mengetikkan sebuah jawaban. Mereka harus berpikir. Dan berikanlah mereka waktu luang untuk itu. Aku juga belum kok. 

    Mulyanti Ini Imung: Salam kenal dan bergabung. Ada kalanya saya merasakan bosan dalam menyelesaikan tulisan bagaimana cara untuk meningkatkan atau membuat semangat tidak hilang sampai tulisan saya kelar?

    Neng Rini Ristianti: Bang Arafat, bagaimana caranya mengatasi kepusingan saat sinopsis, outline, penokohan selesai tapi begitu mulai bab 1 bengong lama... sampe akhirnya masuk draf di komputer lagi. Trus bisa dilanjut lagi, udah tengah-tengah mau lanjut gak taunya alur jadi beda dari outline karena merasa outline awal kurang menarik. Baru beberapa bab berhenti mentok dan yang buat kesal, tulisan awal jadi harus rombak menyesuaikan tulisan baru dengan tambahan ide baru. Tapi tetap naskah itu jadi tidak selesai juga. Baiknya gimana ya, Bang?

    Renata Angel: Apa rahasia sukses menulis novel? Bagaimana cara membuat konflik yang menarik dan bagaimana pula membuat karakter terlihat hidup? Apa yang menginspirasi kakak sehingga bisa menerbitkan banyak buku? Bagaimana mendapat inspirasi untuk novel bertema fantasi? Bagaimana menciptakan karakter fantasi?

    Fathur Rohim Syuhadi: Mas Arafat Nur, apakah Anda pernah tergelitik atau mencoba alih profesi dari penulis ke profesi lain, mengingat menjadi penulis honornya kecil dibanding dengan profesi lainnya?

    Arafat Nur: Mulyanti Ini Imung, sayangnya semangat itu tidak bisa dibeli. Jadi kita harus bisa menyemangati diri sendiri. Atur mood dan banyaklah membaca buku. membaca dan menonton adalah cara mengusir kejenuhan.

    Wahyu Prihartini: Bagaimana caranya membuat ide biasa menjadi luar biasa?

    Arafat Nur: Fathur Rohim Syuhadi, saat ini memang tidak bisa terlalu berharap pada honor buku, apalagi minat masyarakat yang kurang terhadap membaca, tapi kalau ada waktu saya tetap menulis. Tahun ini saya memang cuti menulis, karena beralih ke pekerjaan lain.

    Aishiteru Menulis: Bisa dijelaskan "pekerjaan lain" itu Bang Arafat Nur? Apakah benar kata orang, jika menulis tak dibiasakan pena akan tumpul?

    Dirgantara Maulana: Kata orang kalau sedang galau tetap menulis. Agar sang pembaca tahu apa yang sedang dipikirkan oleh si penulis. Pertanyaannya, apakah itu betul? Jika betul, kenapa?

    Yooni D'zminie: Om biasanya kriteria novel seperti apa yang diterima penerbit besar seperti Gramedia?

    Arafat Nur: Neng Rini Ristianti, maaf jawabannya tidak beraturan, kerena komputernya juga tak mampu napung kapasitas. Jawabannya: Saya tidak pernah pusing dalam menulis. Semuanya mengalir lancar. Karena saat menulis, saya hanya memikirkan konflik, setting, dan plot. Jadi tak akan mandeg, selain jenuh. Jenuh adalah musuh.

    Arafat Nur: Moderator, saya kerja bangunan. Kulit saya hitam sekarang terbakar matahari.

    Dirgantara Maulana: Oh ia. Untuk sekarang-sekarang novel apa yang laku dipasaran?

    Aishiteru Menulis: Hehe. Kerja "membangun kata-kata" Bang. Teruskan.

    Arafat Nur: Moderator, memang menulis itu seperti pisau harus diasah selalu. Kalau tidak tumpul. Kalau sudah tumpul, penulisnya cepat pikun.

    Ana Nasir: Kak, saya pernah disaranin untuk maksa nyelesaikan 1 novel dalam sebulan yang tebalnya 60 sd 80 halaman. Menurut kakak apa penulis pemula harus melakukan ini dulu?

    Arafat Nur: Dirgantara Maulana, sepertinya jenis pop dan metro-pop lebih laku. Bisa dicek novel-novel yang laku di online.

    Chanif Hanafie: Saya mau mengulangi pertanyaan saya, apakah dalam menulis novel perlu kerangka karangan? Dan satu lagi dalam novel Lampuki dan Burung Terbang di Tengah Kelam Malam gaya bahasanya mengikuti bahasa Aceh, apakah ada rencana untuk membuat novel dengan gaya bahasa yang lebih nge pop atau keluar dari zona Aceh abang?

    Fathur Rohim Syuhadi: Saya salut dengan penulis yang kerja bangunan, masih produktif di sela-sela kerjanya. Luar biasa.

    Arafat Nur: Ana Nasir, saya tidak pernah dipaksa dan saya tidak terikat dengan apa pun. Selesai nulis langsung kirim, dan biasanya langsung dapat sambutan.

    Aishiteru Menulis: Bang Arafat Nur, apakah benar salah satu novel Anda diikutkan dalam Pameran Buku Frankfurt 2015 di Jerman? Apa judul novel itu? Novel apa saja dari karya Anda yang sudah diterjemahkan ke bahasa asing? Bagaimana pendapat Anda tentang Nobel Sastra dan kenapa sampai saat ini belum ada sastrawan Indonesia yang dipilih/terpilih untuk menerima penghargaan bergengsi dunia itu?

    Nurul Fadilah Mustari: Menulis... dan menulislah, walaupun masih pemula marilah memulainya dengan permulaan yang penuh dgn kesungguhan.

    Arafat Nur: Moderator, betul. Rencananya novel “Burung Terbang di Kelam Malam” (Bentang, 2014) akan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, sebelumnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “A Bird Flies in the Dark of Night”. Seorang Agen Penerbit di Paris menghubungi saya atas keinginannya menerjemahkan novel ini ke bahasanya. Saat ini prosesnya sedang berjalan. Sedangkan novel terbaru saya “Tempat Paling Sunyi” (Gramedia, 2014) ini sudah mulai dilirik agen juga, sudah ditanya-tanya. Edisi bahasa Indonesia kedua novel ini sedang gencar-gencarnya beredar di sejumlah toko buku di Indonesia. Mohon doa dari teman-teman agar semuanya berjalan lancar. Terima kasih bagi yang sudah membaca kedua buku saya ini.

    Renata Angel: Apa rahasia sukses menulis novel?

    Ana Nasir: Terus gimana dengan ide yang menumpuk di kepala, sebelum selesai dituliskan sudah muncul ide yang lain yang maksa untuk dituliskan juga Kak? Ujung-ujungnya kan bisa nggak ada yang kelar tulisannya?

    Fathur Rohim Syuhadi: Saya tertarik dengan pernyataan Arafat Nur di akun fb sbb: Setiap kali menyelesaikan sebuah novel, aku merasa diriku bertambah muda. Semakin banyak novel yang kutulis, aku menjadi seperti anak remaja. Aku lupa berapa usiaku sekarang.

    Arafat Nur: Moderator, suatu saat nanti saya yakin penulis kita juga dapat Nobel Sastra.

    Arafat Nur: Ana Nasir, sebelum selesai yang satu jangan mulai yang lain. Kecuali kalau bisa jalan kedua-duanya tidak masalah. Yang penting jangan terganggu ide yang pertama.

    Monika Nabilah Meyrieska: Kak Arafat Nur, kenapa ketika saya menggarap suatu cerpen ketika setengah jalan saya merasa malas untuk melanjutkan cerpen tersebut malah muuncul ide untuk judul dan konteks cerita lain dalam otak saya. Alhasil cerpen saya banyak yang terbengkalai. Tolong beri sarannya kak Arafat Nur.

    Arafat Nur: Renata Angel, saya tidak pernah berencana untuk memenangkan lomba, karena waktu menulis Lampuki memang belum ada lomba. Saya hanya menulis sebaik-baiknya, dan kemudian pas selesai, pas diselenggarakan lomba. Setelah menang DKJ, Lampuki menang KLA, hadiah yang lebih bergengsi.

    Arafat Nur: Umi, timbulkanlah keunikan, daya pukau. Tentang teori ini ada saya tulis dalam novel "Tempat Paling Sunyi." Silakan baca ya?

    Nurul Fadilah Mustari: Diksi atau pemilihan kata adalah salah satu hal yang sangat penting diperhatikan dalam kegiatan menulis, Namun ketika diksi atau kata yg digunakan oleh seorang penulis, misalkn saja dalam novel, diksi yg digunakan adalah sangat susah untuk dipahami oleh pembaca. Bagaimana menurut kak Arafat Nur mengenai hal tersebut?

    Arafat Nur: Nurul Fadilah Mustari, justru menurut saya, karena diksi yang baguslah kalimat mudah dipahami. Diksi novel beda dengan diksi yang digunakan di puisi.

    Chanif Hanafie: Satu pertanyaan terakhir dari saya, dalam menulis novel, apa yang dibutuhkan penulis pemula untuk tidak jenuh dan bosan dalam menggarap novel pertamanya?

    Arafat Nur: Chanif Hanafie, banyaklah membaca. Biasanya penulis pemula agak malas membaca, dan biasanya tidak sabar. Itu pengalaman.

    Mas Payik: Bagaimana kiat agar tidak keluar tema awal?

    Arafat Nur: Uni Murni, untuk awal, tak usah dulu pikirkan diksi. Kalau pikir diksi tak akan jadi-jadi. Bangun aja cerita sebagus mungkin. Diksi dikerjakan belakangan.

    Arafat Nur: Monika Nabilah Meyrieska, malas melanjutkan itu karena tidak menguasai bahan dengan baik, sehingga apa yang akan dituliskan tidak bisa. Selain itu tidak menguasai kosa kata dengan baik. Itu masalahnya.

    Uni Murni: Oke terima kasih Mas Arafat Nur untuk jawabannya. Tapi untuk yang menimbulkan keunikan dan daya pukaulah itu sulit karena terkadang pasti berpikir bagaimana yah supaya tulisan ini unik, bisa diminati pembaca untuk yang menimbulkan seperti itulah yang sulit karena novel itu yah berupa ungkapan sebuah cerita bagaimana cara ngungkapin cerita itu lewat tulisan.

    Arafat Nur: Editor saya dan kebanyakan editor lain mengeluhkan kalau penulis biasanya kurang sabar, cepat puas, dan agak malas membaca. Jika rajin membaca, keunikan itu bisa muncul sendiri.

    Putri Habibatul Aini: Kak Arafat, dalam menulis novel, butuh yang namanya outline. Nah, karena masih pemula jadi alur. Masih labil. Suka berubah di tengah jalan. Ada aja ide baru yang ganggu, baik untuk konflik maupun ending. Bagaimana solusi menghadapi kelabilan ini?

    Arafat Nur: Inti dari menulis adalah membaca. Membaca sama artinya dengan mengisi air ke dalam teko (ceret). Kalau air sudah penuh sangat mudah dituangkan. Kalau teko tidak diisi air, bagaimanapun dihantam-hantam, teko tak akan mengeluarkan air. Demikian juga dengan menulis, bagaimana dipaksa-paksa, kepala dipukul-pukul, tulisan tidak akan keluar jika tidak ada isinya. Itulah pentingnya membaca buku.

    Monika Nabilah Meyrieska: Kak Arafat, saya sadar bahwa kosa kata saya memang belum meluas. Alhamdulillah sedang belajar dengan cara membaca koran, e-book dll. Adakah bacaan lain yang memang lebih mumpuni untuk menambah kosa kata dalam waktu singkat kak?

    Dirgantara Maulana: Terimakasih kak Arafat. Walaupun belum dijawab semua, tapi jawaban-jawabannya yang Anda berikan mewakili jawaban saya. Terima kasih juga kepada FAM.

    Arafat Nur: Monika Nabilah Meyrieska, tidak ada belajar yang singkat di dunia ini. Islam sendiri mengatakan menuntut ilmu itu sejak di ayunan dan liang kubur. Nabi saja harus belajar. Jadi belajar itu membutuhkan waktu yang lama, sedangkan hidup ini begitu singkat.

    Aishiteru Menulis: PERTANYAAN TERAKHIR, Bang Arafat Nur, di atas Anda mengatakan banyak penulis yang "kurang sabar" dan cepat merasa puas dengan tulisannya—dalam hal ini menulis novel. Apa pesan-pesan Anda untuk penulis pemula, khususnya anggota FAM Indonesia, agar mereka lebih sabar dan tekun berkarya?

    Arafat Nur: Moderator, menulis harus dilakukan dengan kesungguhan, ketekunan, dan kerja keras. Jangan cepat puas, rajinlah membaca karya orang, berlatih menulis paling tidak selembar sehari, rajin ibadah, jaga kesehatan, dan banyak-banyak berdoa. Yang paling penting jangan dengki sesama, harus menimbulkan kasih sayang, saling bantu, dan senyum selalu, biar hati lapang.

    Aishiteru Menulis: SEMINAR ONLINE DITUTUP! Alhamdulillah, Seminar Online Proses Kreatif dengan Pembicara Bang Arafat Nur (Aceh) telah berakhir. Seminar yang menarik, berlangsung selama dua jam. Namun sayang, dengan berat hati Moderator harus menutup sesi ini dan Admin FAM Indonesia akan menghapus hasil diskusi 10 menit kemudian untuk diarsipkan di website FAM Indonesia.

    Mohon maaf jika ada pertanyaan yang belum terjawab seluruhnya karena keterbatasan waktu (dan juga kemungkinan gangguan sinyal internet). Berikutnya penanya bisa komunikasi langsung ke Bang Arafat Nur lewat akunnya.

    FAM Indonesia mengucapkan terima kasih kepada narasumber, para peserta yang bertanya, serta para penyimak lainnya di berbagai kota dan negara. Diskusi ini akan menjadi “menu wajib” FAM Indonesia. Tunggu sesi diskusi berikutnya dengan para pembicara lainnya.

    Salam santun, salam karya!

    MODERATOR
    www.famindonesia.com

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Arafat Nur: Rahasia Nulis Novel, Timbulkan Keunikan, Ciptakan Daya Pukau Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top