Skip to main content

Bersungguh-sungguh Dahulu Matre Kemudian

NET
Kamu mengeluh, ngirim tulisan ke surat kabar tapi tidak menerima honor ketika tulisanmu dimuat. Kamu pun mencak-mencak, ribut di media sosial, dan langsung memvonis negatif media yang menerbitkan karyamu. Padahal, kamu baru sekali itu mengirim tulisan ke media massa. 

Sebagai penulis pemula, kamu seharusnya bersyukur, tulisanmu mendapat tempat di media tersebut. Sebab, banyak penulis pemula lainnya menunggu daftar antrean di email redaktur,  tanpa kejelasan nasibnya, atau tulisannya tidak dimuat sama sekali, karena tidak layak, dan tanpa pemberitahuan apa pun. Lah, kamu? Baru ngirim langsung dimuat, hebat bukan?

Bahasan ini dalam konteks penulis pemula, bukan yang sudah senior. Dan, kamu sebagai pemula, di awal menulis, sebaiknya jangan bicara honor dulu. Mendapat kesempatan terbit  saja di surat kabar, itu sudah bagus. Prospek kepenulisanmu di masa depan akan cerah. 

“Lho, kok cerah tanpa honor? Sudah capek-capek nulis, terbit, tapi tak mendapat apa-apa. Buang-buang waktu, tenaga, uang (karena ngetik di warnet), plus capek memikirkan idenya,” protesmu suatu hari.

Lha, kalau memang kamu capek nulis, kok milih jadi penulis? Jualan saja, buka warteg (warung tegal) misalnya, untungnya lebih jelas. Dan, kamu tidak perlu mangkel-mangkel, apalagi sampai tidak ikhlas begitu.

Pertanyaannya, siapa yang salah? Media yang menerbitkan tulisanmu, atau dirimu yang tak sabar menjadi orang “berduit” karena tulisanmu yang terbit?

Pertanyaan berikutnya, apakah kamu yakin bahwa tulisanmu yang terbit di media itu adalah karya bagus, sangat bermutu, dan disukai pembaca? 

Belum tentu. Mungkin saja, redaktur melihat namamu yang baru muncul dan kegigihanmu menulis, lalu memberikan kesempatan di medianya agar tulisanmu terbit. Harapan si redaktur, kamu semakin produktif lagi menulis, bersungguh-sungguh, dan menghasilkan karya lebih baik dari tulisan yang telah terbit itu. Jangan baru terbit sekali, gayamu sudah seperti sastrawan besar, jual mahal, lalu hitung-hitungan soal honor pemuatannya. 

Hakikatnya, setiap media harus memberikan honor kepada penulis yang karyanya terbit. Tapi kamu harus paham, bahwa tidak semua media yang kamu kirim tulisan ke sana adalah media yang perusahaannya mapan secara finansial, tapi memberikan ruang dan kesempatan kepada penulis pemula untuk menerbitkan karyanya. Niat baik media itu harus kamu hargai, dan kamu jadikan batu loncatan untuk publikasi karya-karyamu. Di media itu kamu bisa secara rutin menulis, mengasah kemampuan, sehingga kamu benar-benar menjadi penulis profesional yang diperhitungkan dan dibayar dengan honor layak.

“Baiklah, lalu apa yang harus saya lakukan agar media membayar honor tulisan saya?” tanyamu suatu hari.

Begini. Pertama, kamu harus survei dulu, apakah media yang kamu kirimi tulisan itu menyediakan honor atau tidak. Kamu bisa bertanya kepada teman-temanmu yang telah mengirim tulisan ke media itu, apakah mereka menerima honor ketika naskahnya terbit? Jika ada, berapa pun jumlahnya, kamu berpeluang mendapatkan honor pula jika tulisanmu terbit. Jika tidak ada honor, kembali kepada niatmu semula, apakah kamu mau memanfaatka media itu sebagai batu loncatan untuk mengasah kreativitas menulismu atau memilih media lain yang menyediakan honor. Kamu harus gigih. Terus kirim. Jangan mudah menyerah.

Kedua, kirim tulisanmu ke media-media besar-ternama yang sudah jelas memberikan honor pemuatan. Kompas misalnya, satu cerpen bisa dihargai di atas 1 jutaan. Wow, lumayan toh? Tapi kamu jangan terbelalak dulu. Untuk mendapatkan honor sejumlah itu tidak gampang. Sebab, kamu harus menulis cerpen yang bagus, menarik, bermutu, disukai redaktur. Sebab, kalau redaktur tidak berselera membaca tulisannya jangan harap akan dimuat. Tantangan berikutnya, kamu harus bersaing dengan ratusan bahkan ribuan penulis lain, yang bukan saja pemula tapi juga senior yang nama-namanya tak asing lagi di jagat kepenulisan Tanah Air. Media-media sekaliber Kompas, Koran Tempo, Horison, Media Indonesia, Jawa Pos, dan sejenisnya tentu tidak sembarangan menerbitkan tulisan. Redakturnya akan memilih dan memilah, mana tulisan bermutu dan tidak. Media-media besar cenderung menerbitkan tulisan-tulisan penulis yang sudah punya nama daripada penulis-penulis yang baru muncul yang tulisannya masih amburadul.

Kisaran honor di media-media nasional antara 200 ribu hingga 1 jutaan. Jika orentasi kerja kepenulisanmu memang untuk “uang”, maka kamu harus mau dan berani menembus media-media besar. Tapi sudah pasti tidak semudah membalik telapak tangan. Kamu harus banyak sabar. 

Jadi, untuk tahap pemula, kamu dianjurkan untuk tidak “matre”. Jalani saja dulu prosesnya. Menulis sebanyak-banyaknya. Menulis apa saja sesuai bidangmu. Kirim tulisanmu ke berbagai media. 

Tentu, sebelum itu, kamu harus mengenal karakter dan isi media tujuanmu. Jangan asal ngirim tulisan ke media yang tidak kamu kenal. Jangan juga mengirim tulisan ke media yang tidak bisa kamu pantau. Sebab, jika tidak terpantau, bagaimana kamu tahu jika tulisanmu dimuat atau tidak? Untung-untung kalau ada temanmu yang berlangganan media itu, membaca tulisanmu, lalu memberitahu bahwa tulisanmu dimuat. Jika tidak, kalaupun tulisanmu terbit, kamu akan kehilangan momen berharga dalam hidupmu, yaitu melihat karyamu muncul di media massa. 

Nah, bersungguh-sungguhlah baru “matre” kemudian. Jika nama dan karyamu sudah cukup dikenal, kamu boleh “hitung-hitungan” secara profesional. Bahkan, kamu tak perlu capek-capek mengirim tulisan ke media massa, sebab akan banyak media menghubungimu, meminta tulisan-tulisanmu untuk mereka terbitkan, dan tentu dengan honor yang menggiurkan. (Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia)

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@yahoo.com.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…