• Info Terkini

    Monday, August 17, 2015

    Ciptakan Latar Cerita Sesuai Pilihanmu!

    NET
    “Tokoh cerita sudah ada. Alur sudah mantap. Tapi di mana ya lokasi cerita ini?” tanyamu bimbang.  

    Menurutmu, soal lokasi cerita sangat melelahkan dan rumit; harus datang ke tempat aslinya, banyak survey, banyak baca dan wawancara. Capek deh!

    Hmm... baru mulai nulis sudah angkat tangan. Ayo semangat, seorang penulis harus tangguh, tidak boleh cengeng! 

    Sulit atau tidak, tergantung cara pandang kamu. Kalau kamu orang kreatif, pasti akan bilang, “di balik kesulitan sesungguhnya ada peluang.” Tapi... kalau kamu orang yang mudah patah semangat, akan berujar “di balik peluang ada kesulitan.” Hampir mirip sih, tapi artinya bertolak belakang. Jauh sekali. Nah, kamu tipe yang mana? Semoga kamu orang yang kreatif. 

    Tidak perlu sulit-sulit amat menentukan latar ceritamu, apalagi di awal-awal nulis. Rutin nulis saja sudah luar biasa. Itu sebuah pencapaianmu yang sebelumnya (mungkin) tidak kamu lakukan. 

    Coba deh kita urai untuk latihan nulis latar cerita. 

    Pertama, kamu tentukan latar tempat dari daerah yang kamu tinggali (atau pernah kamu tinggal di sana). Pasti kamu hapal betul dengan daerah itu, setidaknya lingkungan rumah dan tetangga terdekat. Apalagi kalau kamu tinggal di daerah itu dalam waktu cukup lama. Bukan hanya tempatnya saja yang kamu kenal, tetapi termasuk suasana, kebiasaan, agama, masyarakat dan budaya, termasuk masyarakatnya. Sudah komplit menjadi bahan ceritamu yang mencakup latar tempat, latar agama, latar sosial, latar budaya, de el el. Keren bukan? So,tuliskan dan angkat nama daerahmu!

    “Tapi, sudah banyak penulis yang memakai latar di daerahku, bagaimana dong?”

    Why? Apa hanya penulis pendahulumu saja yang boleh nulis latar daerah itu? Tidak benar itu, kamu pun boleh. Justru bagus kalau kamu ikut mengangkat dan mengharumkan nama daerahmu melalui tulisan. Semakin banyak yang mengangkat nama daerahmu, semakin banyak pula peluang nama daerahmu dikenal. Siapa tahu, pembaca bukumu nanti bukan orang Indonesia saja, tapi orang luar juga. 

    Bayangkan, desamu yang terpencil itu bisa dikenal pembaca buku di Jerman, Belanda, Inggris, Spanyol, Italia, dan negara-negara lainnya. Wow, bisa-bisa nama desamu jadi salah satu tujuan wisata. Lalu, pemerintah daerah bangga padamu dan mempercantik jalan menuju desamu. Hmm, secara tidak langsung kamu sudah berjasa menjadi ‘pahlawan’ yang memberi manfaat bagi banyak orang. Luar biasa!

    Latar tempat yang sama, tidak akan menghasilkan cerita yang sama. Tiap penulis punya sudut pandang sendiri dan gaya pengungkapan yang berbeda. Jadi, kamu tidak perlu khawatir cerita yang kamu angkat terkesan basi, gara-gara sudah ada penulis yang mengangkat cerita dengan latar tempat yang sama. So, jangan ragu!

    Jika penulis lain mengangkat daerahmu dengan ironi-ironi kejadian yang dilukiskan pada karakter tokoh-tokohnya, nah... tugasmu menulis dari sisi yang berbeda. Misal, mengangkat keindahan lanskap (suasana). Tulis dengan sudut pandangmu, bahasamu, kosakata yang kamu kuasai dan permanis dengan sentuhan gaya bahasa. Hingga seolah-olah pembaca bisa melihat keindahan desamu secara nyata. Sangat menarik, bukan? 

    Analoginya begini deh! Sudah banyak yang jualan pecel lele, bukan berarti kamu tidak boleh jualan pecel lele juga. Siapa yang melarang? Tidak ada. Tinggal kamu kreatif saja mengolah masakanmu dan membidik pasar. 

    Oke, sama-sama pecel lele, tetapi rasa dan aroma bisa beda. Pecel lele yang diracik koki profesional, dikerjakan sepenuh hati, penuh ketenangan, disertai ilmu memasak yang memadai dan bahan yang lengkap, akan menghasilkan olahan yang bercitarasa tinggi. Harga boleh sekelas pedagang kaki lima, tapi kualitas pecel lelemu sekelas masakan resto. Wih, pembeli bisa antre! Belum lagi, kalau ditopang dengan kepiawaianmu yang lihai jualan. Nilai plus-plus deh untuk kamu. 

    Kedua, koleksi foto. Coba bongkar-bongkar deh koleksi fotomu. Imajinasi mengarang bisa muncul lewat koleksi foto, lho! Perhatikan setiap detil latar belakang di balik posemu yang penuh gaya itu. Buka lagi memorimu; ada di mana, kapan, sedang apa, seperti apa suasana saat itu? Yakin deh, kamu akan memperoleh gambaran yang fantastik tentang lokasi tempat di tulisanmu. 

    Bagaimana kalau koleksi fotomu sangat minim?

    Gampang! Tinggal ambil kamera, berjalanlah ke luar ruangan dan arahkan kamera itu ke setiap sudut. Ambil foto ngawur, tidak masalah. Termasuk boleh mengambil foto yang tidak penting-penting. Lanjutkan saja memotret. Tidak peduli, apakah itu sawah, sungai, pohon yang meranggas, kelapa yang hanyut, kucing yang kedinginan, penyapu jalan, ban kempes, rambut adik yang awut-awutan, de el el. Suka-suka kamu memotret. 

    Di zaman yang serba canggih ini, sangat mudah. Kamu tidak perlu menenteng kamera gede ke mana-mana, tinggal bawa HP yang berkamera. Lalu jepret, jepret sesukamu. Jangan lewatkan momen yang baik di depan matamu. Nah, setelah di rumah, kamu rapikan foto itu. Pilih yang tidak buram dan menurutmu layak disimpan. 

    Kamu tahu? Koleksi foto adalah harta berharga bagi kamu yang ingin jadi penulis. 

    Ketiga, koleksi majalah. Jangan buang majalah-majalah lawas di rumahmu, jadikan koleksi untuk memudahkan kamu menulis. Kamu bisa melihat-lihat gambar di majalah itu, terutama tentang tempat-tempat yang memikat di seluruh pelosok negeri—termasuk luar negeri. Gambar hutan, asap di perapian, sulaman kain, masyarakat pedalaman dan lainnya. Liarkan imajinasimu. Sama seperti mengamati koleksi fotomu tadi. Kamu harus kreatif melihat latar belakang foto itu dan membaca artikel yang mengulas gambar tersebut. 

    Kalau kamu kurang puas melihat dan membaca lewat majalah—dianggap belum menggiring imajinasimu—coba deh buka google. Klik nama tempat yang ingin kamu ketahui. Bacalah sepuasnya dan catatkan point-point penting yang mendukung untuk latar tempat di karanganmu. Pasti deh, wawasanmu bertambah. Kamu jadi rajin membaca, mencari dan mengamati. Keren sekali ya jadi penulis, uff!

    Keempat, nonton film. Kamu tidak harus jauh-jauh ke bioskop untuk menonton film, cukup menonton di rumahmu. Bisa melalui televisi, DVD, atau lainnya. Sekarang sangat mudah, kamu tidak akan kesulitan menontonnya. 

    Satu hal yang perlu kamu catat, perhatian terbesarmu jangan tertuju pada kegantengan dan kecantikan para pemainnya. Ingat, kamu sedang menyerap inspirasi untuk tulisanmu, bukan mencari jodoh (he-he). Kagum, boleh. Asal tidak melenakanmu, hingga lupa tujuan utamamu. 

    Perhatian terbesarmu harus ditujukan pada detil lokasi tempat film itu dibuat. Coba deh kamu perhatikan latar tempatnya dan tuliskan pada catatan kecil, bagian-bagian yang menarik. 

    Kamu tahu film “Kingkong” yang produksi Hollywood itu? Bagi kamu yang pernah menontonnya, pasti terpesona deh dengan latar tempatnya. Terutama hutan dan keindahan belantara. Eit, tunggu dulu! Ternyata sebagian lokasi film ini berada di negara kita lho. Yang indah-indah itu, ternyata ada di Indonesia. Tepatnya di Pulau Mursala, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Kabarnya, orang Indonesia sendiri belum banyak yang tahu keindahan hutan dan air terjun Pulau Mursala. Kok orang luar negeri bisa tahu sih? Nah, pasti mereka rajin survey atau baca-baca di internet. 

    Tidak hanya Pulau Mursala, masih banyak tempat-tempat menarik di Indonesia yang pernah dijadikan lokasi syuting film Hollywood. 

    Kamu bisa menggabungkan beberapa lokasi dari beberapa film. Jadikan film itu sebagai alat bantu untuk melukiskan lokasi dalam karanganmu. So, kamu pasti bisa!

    “Tapi, saya belum pernah berkunjung ke tempat itu?” 

    Kamu tidak perlu berkunjung ke suatu tempat untuk mengangkat tempat tersebut sebagai latar ceritamu. Para penulis pendahulumu banyak yang melakukannya, kok. Seperti yang disebutkan tadi, koleksi foto, majalah, film, bisa menjadi sumber inspirasimu. Bukan hanya foto kamu, termasuk dari foto teman-temanmu. Hanya saja, kamu perlu menguasai betul tentang tempat tersebut, hingga tidak menimbulkan kejanggalan dalam cerita. 

    Contoh paragraf ini: 

    Musim semi telah tiba. Bunga sakura bermekaran dengan indahnya. Aku dan Romi jalan bergandengan, sesekali saling menoleh. Pandangan pun beradu. Kulihat cinta di bola matanya. Aku yakin Romi pun melihat cinta di bola mataku. Aku tersipu, wajahku merona. Tak terasa, kami berdua sudah sampai di pusat Kota Ciamis. Monas tampak kokoh, tinggi menjulang. Makin cantik saja kota ini. Romi melepaskan pegangan tangannya dan berlari ke arah rimbunnya bunga sakura. Satu bunga dipetiknya, lalu... disematkan di balik rambutku. Aku terkagum, hingga melonjak kegirangan saking bahagianya. 

    Romantis euy! Namun sayang, banyak kejanggalan. Kamu tahu kejanggalannya di mana? Coba deh kamu amati! Sejak kapan di negeri tropis ini ada musim semi? Sejak kapan bunga Sakura tumbuh subur di Kota Ciamis? Lebih parahnya lagi, sejak kapan Tugu Monas pindah ke kota ini? Nah, deskripsi latar di atas sangat janggal! Romantisnya sih oke, tapi jangan abaikan rasionalitas. 

    Kalau kamu kesulitan mengangkat latar di luar daerahmu—meskipun sudah bongkar foto, majalah, nonton film—lebih baik, tuliskan lokasi tempat tinggalmu. Tentu lebih mudah. Siapa tahu, salah satu film Hollywood mendatang lokasi syutingnya ditempatkan di desamu—hanya gara-gara kamu nulis novel berlatar desamu itu. Amazing! You are the best inspirator. 

    So, rajin-rajinlah membaca dan mengamati agar latar dalam ceritamu tidak janggal dan lemah. Selamat menulis! (Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ciptakan Latar Cerita Sesuai Pilihanmu! Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top