• Info Terkini

    Thursday, August 6, 2015

    Fasilitas Terbatas Bukan Halangan Jadi Penulis

    NET
    “Mau sih jadi penulis, tapi... nggak punya laptop!” 

    “Saya ingin menulis, tapi... gaptek!” 

    “Saya ingin menulis, tapi... tidak punya ponsel untuk merekam ide!” 

    “Mau jadi penulis, tapi...”

    Banyak “tapi” lainnya yang sering dijadikan senjata andalan penulis pemula ketika mengeluh dan beralasan di saat ditanya kenapa tidak menulis. “Tapi” itu menjadi momok dan perlahan-lahan menjadi penyakit yang susah diobati jika tidak punya kemauan “melawan” dan optimis berusaha. Sebab, setiap usaha akan membuahkan hasil.

    Memang, minimnya fasilitas sering dijadikan alasan untuk tidak menulis. Kamu menganggap  tidak mungkin (mustahil) mewujudkan mimpi hebatmu jadi seorang penulis, sementara laptop saja tidak punya. Belum lagi, masih gaptek; tidak paham yang namanya email, facebook, twitter de-el-el yang membuatmu makin ciut. Modem saja tidak punya. Lantas kamu menarik napas berat dan berujar, “ternyata jadi seorang penulis sangat sulit dan butuh modal besar!”

    Di sisi lain, kamu melihat teman-teman seusiamu yang full fasilitas. Laptop, ponsel, buku bacaan, jaringan internet, semua ada. Lengkap. Sepintas, temanmu terlihat lebih mudah mewujudkan mimpi jadi penulis. Tapi... benarkah? Coba kamu sesekali survey ke teman-temanmu itu dan tanyalah mereka, karya apa yang telah dihasilkannya dengan bejibun fasilitas yang dimiliki? Benarkah mereka lebih produktif menulis dan rajin mengirimkan tulisannya ke media? Lengkapnya fasilitas yang mendukung, bukan jaminan seseorang produktif menulis dan menghasilkan karya-karya berkualitas. Kamu bisa buktikan, setelah kamu survey pada beberapa temanmu yang memiliki fasilitas lengkap. 

    Persoalan utamanya, bukan pada fasilitas. Seminim apa pun fasilitas yang kamu miliki, jika disertai kemauan kuat, kamu akan mampu mengatasinya. Sebaliknya, selengkap apa pun fasilitas yang kamu miliki, tanpa kemauan, tidak berarti apa-apa (sia-sia). Nah, kuncinya ada pada kemauan dirimu, bukan terletak pada fasilitas. 

    Lalu, bagaimana memulainya?

    Kamu gunakan pena dan buku tulis. Menulislah dengan fasilitas itu. Buatlah buku tulis khusus yang berisi karya-karyamu. Rawat dan simpan dengan baik. Rutinlah menulis setiap hari, lalu baca ulang sekaligus mengedit hasil tulisanmu. Jangan minder dibilang “kuno” atau “ketinggalan zaman”, fokus saja pada tekad dan fasilitas yang kamu miliki. Yang penting kemauanmu kuat dan merasa enjoy dengan caramu. Jangan terlalu banyak mendengar ocehan orang lain yang menghambat proses kreatifmu. Kamu adalah kamu, bukan mereka. Disebut “kuno” atau “ketinggalan zaman” tidak masalah, yang penting cara berpikirmu maju (ingin berkembang), daripada “modern” tapi cara berpikirnya terbelakang. 

    Nanti kalau tulisanmu sudah selesai disunting dan kamu yakin tulisanmu layak dipublikasikan, kamu bisa membawanya ke jasa pengetikkan. Atau kamu ketik sendiri di warnet, atau meminjam laptop teman yang mau meminjamkannya. So, yakinlah kamu bisa! Selalu ada jalan.

    Lalu, tanyamu, bagaimana cara mengirim tulisan ke media, sementara akun email saja tidak punya, tidak bisa ‘email-emailan’, dan tidak memiliki fasilitas internet? 

    Hmm, kamu masih bisa mengirim karyamu. Caranya? Kamu datang ke warnet, minta bantuan petugas warnet agar mau mengajarimu membuat email, mengirim pesan, melampirkan tulisan, melampirkan foto dan membuka pesan yang masuk ke inboxmu. Tapi, kalau harus kenal dekat dengan si empunya warnet, agar akun emailmu tidak disalahgunakan. 

    Sederhana bukan? Kamu cukup belajar itu dulu, karena itu yang kamu perlukan untuk mengirim karya ke media massa. Bisa juga minta bantuan temanmu yang sudah bisa. Pasti ada 1-2 temanmu yang mau berbagi dan sukarela mengajari. Pahamilah, bahwa kamu sedang berjuang menjadi seorang penulis. Kamu tidak bisa membiarkan kegaptekanmu bercokol terus-menerus, tanpa upaya belajar. Di zaman serba canggih dan serba cepat ini, kamu harus menyesuai diri dan mau belajar otodidak. Fasilitas minim bukan halangan, kamu bisa belajar pada teman-temanmu yang lebih dulu bisa. Andai teman-temanmu menolak, masih banyak tempat belajar yang bisa kamu datangi; warnet tadi salah satunya. Kamu cukup merogoh sedikit uang saku untuk membayar jasanya. Tidak mahal, dengan 2000 rupiah saja, kamu bisa menggunakan fasilitas internet selama 1 jam. Waktu tersebut sudah cukup bagimu belajar email. ‘Semati-mati angin’, jika operator warnet tidak mau juga mengajarimu dengan alasan sibuk, kamu bisa buka google dan bertanya kepada Mbah Google yang tidak pernah pelit ilmu.

    Cara-cara di atas adalah upaya menyederhanakan persoalanmu, bahwa tidak ada yang sulit untuk menjadi penulis. Zaman dulu—sebelum ada komputer, apalagi internet—para penulis memanfaatkan media tulisan tangan dan jasa pos untuk mengirim karya mereka ke media. Namun kenyataannya, setiap generasi selalu ada penulis-penulis yang produktif melahirkan karya. Bahkan karya-karya mereka dicetak ulang dan dikagumi hingga sekarang. Mengapa mereka bisa seperti itu? Sebab punya kemauan. Ada misi yang diemban. Ada motivasi yang menjadi latar belakang. Ada perjuangan yang tak kenal lelah. Berkat perjuangan itulah mereka menyingkirkan segala kendala, termasuk minimnya fasilitas.

    Ingat, kisah penulis ternama Stephen King yang sejak kecil hidup dalam kemiskinan, sakit-sakitan, kecanduan alkohol, hampir mati ditabrak mobil, tapi punya kemauan kuat mengubah keterbatasannya menjadi kelebihan. Menulis adalah pilihannya. Ketika memutuskan jadi seorang penulis, jangan dianggap King langsung terkenal dan mendapat materi dari hasil menulisnya, perjuangannya sangat panjang. Naskah-naskah King yang dikirim ke media berkali-kali ditolak dan dikembalikan, hingga King menyimpan arsip pengembalian tersebut di paku yang dia tempelkan di dinding kamar, sampai paku yang ditancapkan di dinding tidak mampu lagi menampung. Itu artinya, naskah King yang dikembalikan jumlahnya sangat banyak. 

    Apakah King berhenti menulis, ngirim naskah dan putus asa? 

    Tidak samasekali. Penolakan demi penolakan itu menjadi motivasi baginya untuk terus berusaha. 

    King tidak main-main menulis. Ia serius, bahkan hidupnya didedikasikan untuk menghasilkan karya-karya berkualitas. Ia disiplin mengatur jadwal menulisnya dan berani menyingkirkan segala sesuatu yang mengganggunya ketika sedang menulis. Televisi, game, telepon, disingkirkan. Menurutnya, “jika ada jendela, pasang tirainya atau tutuplah jendela itu hingga tampak seperti tembok kosong. Bagi setiap penulis—terutama penulis pemula—sangat bijaksana mengurangi setiap hal yang dapat mengalihkan perhatian.”

    Dari keteguhan dan kedisiplinan King, telah lahir puluhan karya berkualitas dan laris di pasaran. Novel pertama King berjudul “Carrie” diterbitkan tahun 1974. Novel ini diketik dengan mesin tik pinjaman, dalam kondisi hidup pas-pasan, tinggal di trailer, bahkan memutus sambungan telepon akibat tidak mampu membayar tagihan. Novel ini hampir saja berakhir di tempat sampah, seperti tiga novel lainnya yang dia tulis. Namun istrinya memungut dari tempat sampah dan mendorong King untuk mengirimnya. Naskah ini pun akhirnya dikirim ke penerbit. Namun, akibat sambungan telepon diputus, kabar penerimaan novel ini tidak bisa disampaikan kepada King dan pihak penerbit terpaksa mengirimkan pesan lewat telegram. Novel King diterbitkan! Dia mendapat uang muka pertama 2.500 dolar, yang pada masa itu jumlahnya sangat besar. 

    Novel “Carrie” laku keras dan terjual 1 juta eksemplar lebih di tahun pertama terbitnya. Hampir 40 tahun kemudian, novel “Carrie” masih dicetak ulang dan dibuatkan versi layar lebar. Luar biasa, bukan?

    Andai King berhenti menulis akibat terbatasnya fasilitas, namanya tidak akan dikenal hingga sekarang. Kini, perjuangan Stephen King, telah menjadi inspirasi generasi setelahnya. Saya salah satunya. Saya mengawali menulis dalam kondisi tidak memiliki mesin tik dan sangat gaptek. Saya hanya punya modal kemauan dan percaya diri. Usia 14 tahun, dengan percaya diri saya meminjam mesin tik saudara sepupu, padahal saya tidak bisa mengetik dan belum pernah belajar—hanya melihat cara orang dewasa saat sedang mengetik. Bermodalkan hasil ketikan amburadul, saya kirim hasil ketikan itu ke media melalui jasa pos. Saya bersyukur beberapa tulisan yang saya kirim dimuat dan tidak dikembalikan. Hal tersebut menjadi motivasi kuat bagi saya untuk terus menulis. Saya hanya meminjam mesin tik, kalau naskah di buku tulis sudah selesai ditulis. 

    Hal yang sama terjadi juga saat saya dewasa. Dua naskah buku yang diterbitkan penerbit mayor, saya tulis di buku tulis. Saat itu saya belum memiliki komputer atau laptop, cara menggunakan email pun belum tahu. Pokoknya gaptek! Bahkan saya dalam kondisi sakit parah, terbaring di tempat tidur, lumpuh (tidak bisa berjalan) selama 3 bulan. Namun dalam kondisi sakit parah itulah, saya justru menulis di buku tulis dan menghasilkan naskah buku. Ketika saya sembuh, naskah tersebut saya ketik di komputer pinjaman tanpa disertai kemampuan memadai tentang cara mengetik yang benar. 

    Saya tidak malu belajar email. Saya datang ke warnet dan minta petugas warnet untuk mengajari, hingga saya bisa. Di awal-awal menulis dan mengelola komunitas menulis, saya mengawalinya dari nol (serba terbatas). Tanpa laptop, tanpa modem, harus bolak-balik ke warnet, masih gaptek dan dalam kondisi sakit. Namun, kendala itu saya jadikan pemacu semangat untuk tidak berhenti berjuang selagi ada kemauan. 

    Yakin deh, kamu pun bisa! (Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Fasilitas Terbatas Bukan Halangan Jadi Penulis Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top