Skip to main content

Jangan Menunggu Ide, Tapi Carilah!

NET
Katamu masih bingung soal ide. Padahal, ide bisa kamu pungut di mana saja; di rumah, di sekolah, di jalan, di pasar, di objek wisata, bahkan pada dirimu sendiri. 

Ide tidak ditunggu, tapi harus dicari. 

Jangan menunggu ide seperti orang menunggu ‘wangsit’. Tidak benar itu. Tapi, carilah ide di sekitarmu. Yang dekat-dakat saja. Tidak usah jauh-jauh. Kalau jauh, kamu akan kesulitan nanti.

Misal, kamu ingin menulis cerpen atau novel yang idenya bersumber dari pengalaman hidup temanmu yang tinggal di kota lain. Kamu hanya mengenal temanmu lewat media sosial. Tidak pernah bertatap muka. Temanmu hanya sekali-dua curhat. Lalu kamu ingin menulis cerita tentang dirinya. Bisa saja kamu menulis kisah hidupnya, tapi yang terjadi, cerita yang kamu tulis kering, kurang sentuhan rasa, sebab kamu tidak cukup merasakan apa yang dirasakan temanmu, apalagi melihat ekspresi wajahnya. Tidak menyelami perasaan dan hatinya. Kamu tidak terlalu mengenal diri temanmu. Kalaupun kamu rampung menulis, kamu baru menulis kulit masalah yang dihadapi temanmu, belum isinya. 

Akan sangat berbeda sentuhannya jika untuk tahap belajar kamu menulis kisah yang berangkat dari orang-orang terdekat dalam hidupmu, seperti; ayah, ibu, kakak, adik, nenek, kakek, atau dirimu sendiri. 

Sejak usia berapa kamu mengingat kenangan masa kecil? Lima atau enam tahun, ingat? 

Pasti ingat. Kamu ingat bagaimana pagi-pagi sekali ibumu membangunkanmu dari tempat tidur, lalu menuntunmu ke kamar mandi. Memakaikan pakaian dan memberimu sarapan. Kamu ingat ketika ayahmu mengantar kamu ke sekolah, naik sepeda onta, angkutan umum atau mobil pribadi mewah. Kamu ingat teman-teman masa kecilmu, permainan dan segala suka duka yang kamu alami. Ketika usiamu beranjak remaja, tiba-tiba ayahmu meninggal dunia sebab suatu penyakit. Setelah itu kamu melihat bagaimana ibumu berjuang seorang diri menafkahi dirimu dan kakak-kakakmu hingga tamat sekolah. Kamu merasakan penderitaan ibumu. Semua terekam jelas di benakmu. Sulit kamu lupakan. 

Memori itu kamu buka kembali. Sambil memejam mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan-pelan. Lalu, potongan-potongan cerita itu kamu catat, kamu tulis, membumbuinya dengan konflik yang didramatisir. 

Jadi, banyak ide yang bisa kamu gali dari lingkungan terdekat, tak lain adalah dirimu dan keluargamu.

Nah, tulislah itu. Buat kerangka karangan jika kamu kesulitan menulis langsung. Sebab, dengan kerangka karangan, kamu akan memiliki panduan; ide tetap berada di koridor kepenulisan, tidak menyimpang dari rencana. Jangan biarkan ide mengendap di otak, sebab otak manusia memiliki kemampuan terbatas ketika diberi beban ingatan. Alangkah baiknya jika ide-ide yang telah kamu dapat itu dicatat, ditulis di kertas, atau berupa draf cerita di folder komputermu. Kelak, ketika kamu sudah memiliki cukup waktu menulis, kembangkan ide itu mencadi cerpen atau novel yang menarik. Jari-jari tanganmu bisa melahirkan ribuan kata di komputer setelah ide-ide itu dikembangkan. Jangan biarkan ide-ide tersimpan, atau tidak tersentuh, sebab mana tahu kelak menjadi cerita yang ditunggu-tunggu pembaca, atau mungkin saja akan melejitkan namamu sebagai pengarangnya.

Andera Hirata adalah novelis yang memulai karier kepenulisannya dengan cerita-cerita yang idenya berangkat dari diri Andrea dan orang-orang terdekatnya. Kamu bisa membaca ulang novel “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi”, “Edensor”, “Maryamah Karpov”, “Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas”, dan “Sebelas Patriot”, semuanya menceritakan diri Andera dan masa kecilnya, khususnya di Belitong. Budaya Melayu Belitong begitu kental dalam novel-novel itu. Andrea baru mencoba keluar dari dirinya ketika ia menulis novel “Ayah” yang baru-baru ini diluncurkan dan ‘booming’. Andrea mengakui jika novel “Ayah” merupakan novel pertama ia tulis yang bukan novel otobiografi. Ia menceritakan kisah orang lain dalam novel itu.

Tak salah jika kamu memungut ide dari orang lain (teman-temanmu) dan menulis kisah hidup mereka. Tapi, sebelum melangkah ke tahapan itu, sebaiknya kamu memungut ide dari dirimu dan orang-orang terdekat dalam lingkungan keluargamu. Itu akan lebih memudahkan kamu menemukan ide, memungutnya, dan merangkainya menjadi cerita yang indah. Nanti, ketika kamu sudah benar-benar mahir menulis, keluarlah dari dirimu, dan tulislah persoalan-persoalan sosial lainnya yang tengah terjadi di lingkunganmu. Tentu, kamu tidak lagi sekadar mencari ide, tapi bagaimana kamu melengkapi ide itu dengat riset, sehingga menjadi tulisan yang menarik dan disukai pembaca.

Nah, setelah membaca tulisan ini, apakah kamu menemukan ide? (Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia)

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@yahoo.com.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…