• Info Terkini

    Minggu, 02 Agustus 2015

    Jangan Sekadar Nulis Status Galau di Facebook, Tapi Jadilah Penulis yang Baik

    NET
    Mungkin kamu salah seorang yang berambisi ingin jadi penulis tapi selalu ‘ngeluh’ kesulitan nulis. Alasannya macam-macam; tidak punya ide, dari mana memulai, tulisan tidak menarik, cepat bosan dan macet di tengah jalan. 

    Alasan klasik sih. Bukan kamu saja yang pernah mengalami hal semacam itu, ribuan temanmu, plus teman-temannya, pernah juga mengalami hal yang sama. 

    Lho, kok bisa sama? Bisa tidak kalau kamu buat alasan berbeda yang lebih keren? 

    Oke, mungkin masih sulit kamu buat alasan tidak klasik. Nah, ada pertanyaan untukmu, kamu suka menulis apa?

    “Segala macam genre, suka sih, tapi belum ada yang jadi. Hanya nulis status facebook saja,” begitu salah satu jawabanmu.

    Baiklah. Jawabanmu tak salah. Media sosial, salah satunya facebook, adalah keniscayaan yang ada di zamanmu. Kamu tidak bisa menolaknya, sebab nanti kamu dibilang tidak gaul oleh teman-temanmu. Maka, mulailah kamu terprovokasi oleh pertanyaan di kolom status facebook, “Apa yang Anda pikirkan?” Lalu, muncullah pikiran macam-macam, mulai dari keluhanmu di rumah, sekolah, di pasar, maupun dalam pergaulanmu sehari-hari dengan teman-temanmu. Bahkan, kamu pun berdoa di facebook. Facebook telah membuatmu “mabuk”, sehingga kadang kamu lupa, sejak awal kamu punya akun facebook kamu telah menulis jutaan kata.

    Nah, untuk menjadi penulis, kamu bisa belajar dari facebook. Kamu pasti sering mengunjungi facebookmu, bahkan hampir 24 jam sehari, update tulisan atau foto. Satu hal yang perlu kamu ingat, akun facebookmu tergantung kamu yang mengelola karena kamu pemiliknya. Apa yang kamu posting, itulah kamu, cerminan dirimu. Akun facebookmu bercitra positif atau bercitra negatif, ada di tanganmu. Pepatah klasik, mulutmu harimaumu.

    Kalau kamu sudah bertekad jadi penulis, jadikan facebookmu sebagai salah satu media untuk menampung dan mempublikasikan tulisan-tulisanmu. Kelola dengan baik dan tidak asal-asalan lagi. Anggaplah itu buku harianmu yang siap menampung cerita-ceritamu setiap hari. Bedanya, buku harian yang ini bisa dibaca publik. Begitu kamu posting status, ada banyak mata yang melihat dan membaca. Mereka tidak selalu like, komen, memuji, dan mengkritik. Tapi mereka juga ada yang diam melihat, diam-diam mengagumi, atau diam-diam juga tidak suka dengan status-statusmu.

    Jadi, kelolalah sebaik mungkin akun facebookmu, sehingga bisa menjadi media belajar untukmu dan mudah-mudahan bisa menginspirasi banyak orang, dan tentu juga bisa menjadi potensi fans-mu. Wow, keren dong kalau kamu sudah punya banyak penggemar?

    Misal saja, pertemananmu sudah mencapai 5000 orang dan dalam satu waktu mereka membuka facebook serta membaca tulisanmu. Bayangkan, hanya dalam sekejap, tulisan pendekmu sudah dibaca 5000 orang! Kalau mereka dikumpulkan dalam satu lapangan sepak bola, bisa penuh tuh lapangan. Dahsyat bukan? Pasti kamu ‘gemeter’ andai tulisan itu kamu bacakan langsung di hadapan mereka, sebab kamu bisa melihat jelas ekspresi muka setiap orang. Tak mustahil, separuh dari mereka akan mengkritik langsung tulisanmu, akibat berbeda pandangan. Dalam kondisi seperti itu, pasti kamu punya pikiran untuk tidak gegabah posting status, tidak asal-asalan dan berkali-kali mengedit sebelum diposting. 

    Kamu perlu ingat, diarymu yang berbentuk buku dengan diary yang berupa akun facebook itu sangat berbeda. Diary yang berbentuk buku berada dalam ruang sunyi. Ia tersembunyi, hanya kamu saja yang baca, sampai-sampai kamu belikan gembok agar tak seorang pun bisa membuka dan membacanya. Sebab di sana tersimpan keluh-kesahmu yang menjadi rahasiamu. Beda lagi dengan diarymu yang berupa akun facebook, dia berada dalam dunia hingar-bingar, serba terbuka. Siapa pun bisa melihat dan membacanya. Meskipun bisa saja isinya sama dengan yang kamu tulis di dalam buku, tapi menjadi berbeda. Di sini kamu ingin keluh-kesahmu ada yang baca, syukur-syukur kalau ada yang nge-like dan komentar perhatian. Kamu tidak menutupi lagi rahasiamu; sedang di mana, sama siapa, berbuat apa, tanpa ‘tedeng aling-aling’ kamu bagikan di diary facebookmu. 

    Bukankah ini media yang bagus untuk latihan menulis? Ya, akun facebookmu bisa menjadi salah satu media yang potensial. Berawal dari nulis status-status pendek, perlahan kamu bisa terlatih mengembangkannya. Yang mulanya satu kalimat, lama-lama satu paragraf. Sekali lagi, asal kamu nulisnya tidak asal-asalan. Seorang penulis yang baik, dia akan memerhatikan aturan dalam penulisan, meski itu sekadar tulisan pendek di akun facebook. EYD, tata bahasa dan isi pesan, akan melalui proses editing sebelum diposting. Kamulah yang menjadi editornya.

    “Koq ribet sekali sih, bukankah hanya sekadar status ringan?” keluhmu lagi.

    Hmm, katanya ingin jadi penulis? Kalau kamu serius ingin jadi penulis, biasakanlah dari hal-hal yang ringan. Kalau tulisan satu kalimat saja sudah asal-asalan dan sulit dipahami, bagaimana kamu nulis satu naskah cerpen apalagi novel? Ingat, kebiasaan itu sangat berpengaruh dan akan terbawa dalam keseharian. Kalau kamu sudah terbiasa disiplin, pasti akan terbawa disiplin juga saat kamu nulis naskah-naskah selanjutnya. Hingga membawamu pada titik ‘mahir’ teori—meskipun tidak belajar khusus—karena kamu langsung praktik!

    Mulailah mengurangi status-status alaymu—sesekali boleh sekadar hiburan—tapi tidak menjadi kebiasaan. Coba nih kamu bayangkan kalau tulisan statusmu setiap hari seperti ini: “Gue bete Bro!”  “kamu udah nyakitin aku”, “kangen kamu”, “rindu mamaa”, “telpon dong...”, “sueer guanteng banget tuh cowok”, “gue terpesona, you know?”, “cucian setumpuk”, “kita putus!!!!”

    Lalu disusul dengan tulisan statusmu yang sulit dibaca (alay sekali): “aaaaargh...4ku gi c4y4nk k4mu,,,,mu44ch”, “apa ciih yg k4mu cuka drx,,, 4ku b3Nc1 loe”, “kite KeteMuaN yuuK”, “aiiichhh,,caMMuuu CARE bingitz,,cemungudzzzt!”

    Lalu disusul lagi dengan foto-fotomu yang asal posting; hanya berisi foto-foto selfie dirimu dengan berbagai pose (mulut dimonyongin, lidah dijulurin, bibir dibasah-basahin, bulu mata diletikkin, dua jari berkali-kali diangkat di samping wajah, de-el-el). Atau foto menu makan pagi, makan siang, makan malam, tiap hari kamu posting itu-itu saja tanpa narasi yang kreatif. 

    Coba deh kamu bayangkan, kalau setiap hari status facebookmu isinya seperti itu, di mana tekad seriusmu jadi penulis? Apalagi ditambah dengan nama akun facebookmu yang sama sekali tidak menunjukkan identitasmu. Misal: Gadis Patah Hati, Gerimis Tak Setia, Wanita di Lorong Senja, de-el-el. 

    Bukan soal banyak yang nge-like atau tidak. Bukan soal banyak yang komentar atau tidak. Bisa jadi status alaymu mendapat like ribuan dan komentar ratusan, bahkan foto selfiemu diserbu banyak penggemar. Tapi ini soal tekadmu yang ingin jadi penulis dan menjadikan media (facebook)mu sebagai ajang latihan nulis dan publikasi. Ada baiknya, kamu mulai perhatian pada status (diary) facebookmu. Mulailah menulis dengan baik dan benar; sesuai EYD, sekaligus belajar teori, karena sudah pasti kamu akan lebih rajin buka kamus. Awali dari status ringan, sederhana, tapi bisa dibaca dan dipahami. Syukur-syukur kalau statusmu itu berisi pesan positif yang bermanfaat bagi teman-temanmu yang membaca. Bisa juga kamu bagikan (share) berita-berita yang sedang hangat, tulisan-tulisan para motivator, tips hidup sehat. Itu lebih bermanfaat. Begitu pun dengan foto-fotomu, mulailah kreatif menuliskan narasinya. Misal, fotomu yang sedang berdiri menghadap lembah curam. Berikan pengantar dalam postingannya; bisa berupa kalimat motivasi atau deskripsi tempat itu sendiri. Dengan begitu, kamu sudah berhasil menulis sekaligus posting fotonya. 

    Nah, ternyata banyak sekali peluang menulis kreatif di akun facebookmu bukan? Setelah kamu berhasil disiplin seperti itu, mulailah menulis naskahmu dengan aturan yang sama (tidak asal-asalan). Pada saat kamu nulis, memang boleh asal nulis (tidak menoleh teori), namun ketika proses editing berjalan, kamu jadikan teori sebagai pegangan. Agar tulisanmu minim dari kesalahan EYD. Kalau bersih sempurna sih sulit, apalagi baru memulai. Jangan takut salah-salah nulis akibat tidak menguasai teori, lanjutkan saja! Kamu bisa belajar dan bertanya pada teman-temanmu yang sudah lebih dulu nulis, atau pada penulis-penulis yang kamu kenal, termasuk pada pembimbing di komunitas menulis yang kamu ikuti. 

    Besok ketika tulisanmu sudah menghiasi banyak media dan buku-bukumu sudah terbit, akun facebookmu bukan lagi tempat posting ‘keluh kesahmu’ tapi kamu sudah punya modal karya yang bisa dibagikan. Postinglah foto-foto bukumu, disertai kutipan yang positif. Siapa tahu teman-teman facebookmu tertarik, membelinya, membacanya, terinspirasi dan mengikuti jejakmu. So, keren sekali bukan?

    Kamu tahu enggak, waktu saya nulis buku cerpen “Flamboyan Senja”, satu cerpen terakhir belum nemu ide yang pas. Nah, tiba-tiba muncul ide untuk bongkar status di akun facebook—yang diposting dalam rentang waktu 4 bulan. Saya bersyukur karena status-status itu bukan status alay, sehingga bisa dirangkum menjadi bahan menulis cerpen. Saya susun status-status itu jadi sebuah cerpen dengan tambahan sedikit kalimat sebagai penyambung antar status. Cerpen itu pun selesai ditulis dan saya beri judul “Kelopak Flamboyan Itu Bertasbih.”

    Di luar dugaan, cerpen inilah justru yang banyak mendapat respon positif dari pembaca dan para resensiator. Bahkan di luar dugaan saya lagi, buku ini dijadikan bahan rujukan dalam buku ajar Bahasa Indonesia Kelas VIII Tingkat SMP/sederajat seluruh Indonesia.

    Nah, ayo, bongkar-bongkar lagi status facebookmu! Sebab, di dalamnya siapa tahu ada potongan “mutiara tulisan” bagus yang tersimpan. (Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Jangan Sekadar Nulis Status Galau di Facebook, Tapi Jadilah Penulis yang Baik Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top