• Info Terkini

    Friday, August 14, 2015

    Kamu pun Bisa Menjadi Editor untuk Tulisanmu

    NET
    Selamat ya, kamu sudah semakin produktif menulis. Hampir setiap hari kamu posting tulisan di blog maupun di akun jejaring sosial milikmu. Tapi, kamu mengakui kalau tulisan-tulisanmu masih minim editing. Kamu dihinggapi penyakit baru, yaitu “buru-buru” ingin mempublikasikan tulisanmu.

    Kata orang tua-tua dulu, tak baik melakukan pekerjaan terburu-buru. Banyak dampak buruk yang akan terjadi kemudian. Sebab itu lahir adagium, “biar lambat asal selamat”.

    Kamu bilang, kamu merasa puas jika tulisanmu cepat rampung lalu teman-temanmu membacanya. Kamu sangat senang jika tulisan itu dikomentari, dibubuhkan tanda jempol, mendapat pujian, atau ada yang menyebarkannya ke akun teman-temanmu lainnya. Tapi kamu lupa, editing itu penting sehingga kamu harus berhati-hati menerbitkan tulisanmu walaupun hanya kamu posting di media sosial, bukan media konvensional.

    Jika kamu terburu-buru menulis, apa yang kamu sampaikan ke publik nanti bisa disalahtafsirkan. Jika tafsirnya terkait isi pesan tulisanmu sah-sah saja, tapi jika tafsir itu sebab satu-dua huruf yang salah ketik, itu bisa berbahaya. 

    Coba kamu cerna kalimat ini, “Ibu datang ‘ketiak’ Ayah pergi”. Padahal, maksudmu ingin menulis, “Ibu datang ‘ketika’ Ayah pergi”. Awalnya kamu ingin menulis kata “ketika”, tapi karena kamu terburu-buru, akhirnya kata “ketika” itu menjelma menjadi “ketiak”. Nanti ada pembaca yang ngomong, “Wah, keren ya ‘ketiak’ Ayah?” Nah, lucu kan?

    Begitupun, ketika kamu menulis kalimat, “Ibu menyuruh Putri ke pasar membeli ‘kepala’ muda”. Maksudmu adalah, “Ibu menyuruh Putri ke pasar membeli ‘kelapa’ muda”. Karena buru-buru mengetik, eh, “kelapa” menjadi “kepala”. Kalau tiba-tiba Putri datang ke rumah dengan membawa “kepala orang” yang di lehernya berlumuran darah, kan bisa heboh tuh seisi rumah dan tetangga.

    Jadi, berhati-hatilah dalam menulis. Jangan cepat berpuas diri jika kamu berhasil merampungkan sebuah tulisan. Baca kembali berulang kali sebelum kamu terbitkan, di mana pun medianya.

    Jika kamu baca Alquran, salah tajwidnya, salah “makharijul huruf” (tempat keluar-masuk huruf), maka akan salah pula maknanya. Begitu juga menulis, salah-salah tulis, akan menciptakan “kegaduhan nasional”, khususnya bagi pembaca yang membaca tulisanmu.

    “Iya, benar. Setelah saya posting di blog, kok banyak salah ketik ya? Padahal, sewaktu nulisnya di komputer sudah rapi, dan yakin tidak ada salah ketik,” katamu mengakui.

    Nah, itu tadi, kamu masih “terburu-buru”. Mungkin, kamu hanya sekali membaca ulang, lalu mempostingnya di blog atau mengirimnya ke media.

    Tahu nggak, kalau layar monitor komputermu itu sering menipu? Sewaktu memplototi monitor kamu yakin tulisanmu sudah baik. Namun, nyatanya masih banyak terjadi kesalahan ketik ketika sudah terbit. Jika tulisan itu masuk ke media massa kamu masih beruntung sebab ada editor yang akan membantu mengeditnya. Itu pun jika si editor baik hati dan menganggap isi tulisanmu layak untuk terbit di medianya. Kalau tidak, naskahmu tak ada ampun, langsung ‘dibuang’ ke tong sampah.

    Lalu apa solusi agar tulisanmu “bersih” dari kesalahan ketik itu?

    Beberapa kiat bisa kamu praktikkan. Pertama, setelah selesai menulis, cobalah kamu cetak (print) tulisanmu. Lalu, ambil pena bertinta merah. Kamu baca dari awal tulisanmu, lalu cermati kata per kata. Jika kamu menemukan kesalahan ketik, langsung lingkari dengan pena merah. Jika kamu menemukan kata-kata yang meragukan, coba rujuk ke kamus atau jika kamu sedang online chek langsung kata-kata itu di google. Nanti kamu akan dipertemukan google dengan banyak kamus bahasa Indonesia online di internet. Bahkan, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pun sudah ada versi onlinenya.

    Baca terus tulisanmu hingga akhir. Jika masih menemukan kata-kata salah, lingkari lagi dengan pena merah. Terus begitu hingga titik paling akhir.

    Setelah itu, kamu buka kembali tulisanmu di komputer. Ambi kertas print tadi yang berisi tulisanmu dan sudah kamu temukan kata-kata yang salah. Lalu, perbaiki kata-kata yang salah itu di layar komputermu. Setelah kamu yakin bersih dan tidak ada kesalahan ketik lagi, jangan ragu untuk mencetak (print) sekali lagi tulisanmu dan baca ulang kembali. Jika kamu tidak menemukan lagi salah ketik dan tidak ada coretan merah lagi, itu tandanya tulisanmu sudah bersih. Kamu boleh menerbitkannya di blog atau mengirim tulisan itu ke media massa.

    “Wah, saya tidak punya printer. Gimana dong? Kalau nyetak di rental komputer, pemborosan, sedangkan saya anak kost. Apa solusinya?” tanyamu bingung.

    Tenang, masih ada satu kiat praktis lagi yang juga bisa kamu praktikkan tanpa harus mengeluarkan uang. Alihkan naskah yang kamu ketik di microsoft word ke file PDF. Tapi kamu harus instal dulu PDF jika di komputermu belum memiliki aplikasi PDF. Kalau sudah, syukur. 

    Nah, setelah teks tulisanmu beralih ke PDF, baca kembali dari awal tulisanmu. Pelototi kata per kata. Di PDF itu seolah-olah kamu membaca tulisan teks di lembar kertas yang sudah di-print. Sebab, layar PDF lebih “bersih” dibanding membaca teks di microsoft word. Kamu tidak perlu mengambil pena merah jika menemukan kata yang salah, cukup langsung kamu perbaiki di naskah tulisanmu di komputer. Terus baca hingga akhir sampai benar-benar tulisanmu bersih dan rapi.

    Setelah melakukan koreksi itu, jangan ragu untuk memindahkan sekali lagi tulisan yang sudah kamu edit ke PDF kembali. Baca ulang lagi. Terus baca lagi. Jika sudah benar-benar tidak kamu temukan kesalahan ketik maupun kalimat-kalimat yang mengganggu, naskahmu sudah layak untuk dipublikasikan, di mana pun kamu mau.

    Jadi, banyak cara menjadikan naskahmu naskah yang “manis” dan enak dibaca tanpa kesalahan ketik yang mengganggu mata. Tentu saja, dua kiat itu perlu kamu coba dan segera mempraktikkannya.

    Bagaimana, sudah mantap untuk menjadi “editor” untuk tulisanmu? (Muhammad Subhan,  pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kamu pun Bisa Menjadi Editor untuk Tulisanmu Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top