• Info Terkini

    Tuesday, August 25, 2015

    Menyoal Deskripsi dan Logika Bahasa pada Antologi “Ode Kampung Halaman”

    Oleh: Suheri Simoen

    “Ode Kampung Halaman” adalah kumpulan puisi dari 52 penyair nusantara. Seperti judulnya maka ‘Kampung Halaman’ menjadi sentral tuturan dari para penyair tersebut. Sehingga dengan membaca puisi itu, pembaca dari kampung/ daerah yang sama, akan merasa rindu, kangen, untuk pulang kampung, setidaknya mengenang tempatnya dilahirkan atau dibesarkan. 

    Tulisan kecil ini menyoal deskripsi yang digunakan penyair dalam menggambarkan keunikan kampung halamannya tersebut. Tetapi sayangnya, banyak penyair yang kurang berhasil memberikan deskripsi, sehingga pembaca tidak merasa melihat, dan berada di kampung yang dilukiskannya itu. 

    Sebagai contoh, puisi-puisi berikut ini:

    Fajriyasa Perdana dalam Rinduku menulis, ... Rindu.. rindu akan kehadiranmu/ rindu akan parasmu yang sempurna/ suaramu menggema sampai di ujung dunia/ kampung halamanku tercinta, bisakah aku bersua/ Tanah hijau subur dan makmur/ kekayaan alam yang melimpah ruah adanya/ ramai dikata dimana-mana/begitu masyur kampung halamanku. (Ode Kampung Halaman; hlm 72)

    Nur Wahidatul Fadhilah dalam Kerinduanku menulis, ...Kampungku tersayang yang penuh kenangan/ kampungku tercinta penuh nuansa bahagia/ kini tiap saat, aku bisa merasakan kerinduan/ akan polosnya wajah-wajah penuh cinta itu/ sambutan hangat yang begitu menyentuh kalbu. (Ode Kampung Halaman, hlm. 151)

    Zuniaty Zahara dalam Indahnya Bersama Orang Tua di Rumahku Istanaku menulis, ...Memberi sebuah rasa yang begitu besar/ rasa itu bernama rindu/ rindu akan istana indah itu/ bersma orang tua tercinta/ dan beberapa saudara kandung/ di kampung halaman yang indah/penuh kenangan yang memberi kerinduan/ dan mengajk kaki melangkah ke sana/menemui rindu itu (Ode Kampung Halaman, hlm. 198).

    Pada puisi pertama, bila saja penyair lebih detail dan aktual mendeskipsikan ‘paras, tanah subur, kekayaan alam, dengan realita yang ada, puisi tersebut akan lebih berisi. Begitu pula puisi kedua, penyair tak memberi detail unik ‘kampungku’ sehingga miskin dengan gambaran objek, benda, tentang kampungnya, kecuali larik wajah-wajah polos penuh cinta. Hal yang sama pada puisi ketiga, ‘istana indah dan kampungku’, tidak dilukiskan dengan terperinci, sehingga tidak muncul gambaran utuh tentang kampung yang dimaksudkan.

    Bandingkan dengan puisi Badaruddin Amir dalam “Bagaimana Aku Tak Mencintaimu Rumpiah”, ... Bagaimana aku tak mencintaimu Rumpiah: di musim hujan halimun yang merendah bagaikan salju/menuntun jalan pulang dan bau tanah yang basah merindu/ jika putik-putik kemiri yang memutih di hamparan bukit Coppo Baramming hingga Baenangnge adalah lukisan yang sakit. (Ode Kampung Halaman; hlm 37).

    Atau Puisi Rindu Pugung karya Edi Purwanto,... rinduku pada Pugung/adalah rindu aroma pasir pantai yang menguap kala kaki menapakinya/ rinduku pada Pugung/adalah rindu memandang/lelaki membawa ambon, patil, dan sempalung. (Ode Kampung Halaman, hlm,61).

    Lebih tegas apa yang ditulis John Mamun Sabaleku dalam Lepan Bata, .. seperti apakah gerangan engkau saat ini/ masih ranumkan jeruk kedang yang mempesona/ masih adakah asap ile ape yang menjulang hampa/ atau ikan temi yang membaui kotamu (Ode Kampung Halaman, hlm. 109). Begitu pula yang ditulis Kaletus Marselinus Lako Udak dalam “Memoar Abadi dari Selatan Lembata”, hlm. 113, dan Rezqie M Alfajar Atmanegara dalam “Kota Angin Mamiri”, ketika Phinisi Berangkat, hlm. 163.

    Deskripsi kuat semisal larik musim hujan halimun merendah, putik-putik kemiri memutih, memberi gambaran bila Rumpiah merupakan kampung di pebukitan atau pegunungan. Membaca puisi itu, pembaca merasa berada di Rumpiah. Begitu pula pembaca mendapat gambaran bila Pugung merupakan daerah pesisir, dan Lepan Bata, suatu tempat di NTT? (catatan atau keterangan yang diberikan penyair sayangnya tidak dicantumkan oleh FAM Publishing, padahal itu sangat membantu). 

    Deskripsi yang kuat tentang objek baik benda, warna, manusia, akan membuat puisi yang ditulis tidak saja menjadi realis tetapi juga puitis. 

    Logika Bahasa Puisi 

    Logika bahasa puisi berupa diksi yang dipilih penyair sehingga diksi itu menjadi frasa, klausa, atau kalimat dalam larik puisi. Ketidaktepatan pemilihan diksi akan membuat logika bahasa puisi menjadi tidak tepat pula, sehingga puisi akan menjadi rancu, tidak sesuai logika bahasa, meskipun penyair memunyai ‘lisencia puitica’ tetapi puisi yang keren pastilah mengikuti logika bahasa puisi. 

    Mari kita telaah beberapa frasa, klausa, kalimat dalam puisi-puisi berikut ini yang kurang ‘oke’ dari segi logika bahasa. 

    Charles HL dalam “Jalan Tanpa Selimut Menulis”: Jalan setapak tanpa selimut/ matahari membakar punggungnya/ bau darah pun membahana/ memenuhi udara dengan aroma kelam/tentang pedih kegelapan malam/menjelaang awal enampuluh enam (Ode Kampung Halaman, hlm. 47).

    Dalam puisi itu Charles mendeskripsikan suasana saat-saat genting meletusnya G30S/PKI, dan logika bahasa yang agak mengganggu pada kalimat bau darah pun membahana. Membahana diartikan menggema atau berkumandang. yang berkumandang adalah bunyi sehingga bau darah (citraan bauan) tidak tepat dikaitkan dengan membahana (citraan dengaran). Akan lebih pas bila bau darah dilekatkan dengan kata yang terkait dengan citraan bauan, misalnya bau darah pun anyir menyebar atau bau darah pun busuk menusuk. Sehingga bau darah itu terasa oleh pembaca, terlebih larik berikutnya menjelaskan hal itu, memenuhi udara dengan aroma kelam.

    Ristika Yolanda dalam “Merajut Rindu Kampung Bukit” menulis: Terlintas di angan sepi ku/ berderu angin semilir berkabut/embun pagi dan riang mentari menyapa/ terkenang akan keluarga kecilku sayang/di kampung halaman tercinta/ kampung bukit, (Ode Kampung Halaman, hlm. 177). 

    Konjungsi dan digunakan untuk kalimat yang setara, tetapi dalam larik sajak embun pagi dan riang mentari menyapa, hal ini menjadi kontradiksi. Embun akan selalu pergi bila yang datang mentari, hal ini tak dapat disatukan. Mentari datang, embun berlalu. Sehingga bila menekankan pada embun paginya, maka setelah konjungsi dan, cari diksi yang setara dengan embun pagi, misal embun pagi dan kutilang bernyanyi di ranting kering. Atau menambah kata berlalu, sehingga embun pagi berlalu dan riang mentari menyapa. Bila ini dilakukan maka logika bahasa puisi terpenuhi.

    Selanjutnya Siti Rahayu dalam “Ingin Ku Cepat Pulang”, menulis: pagi menjelang disambut sang mentari/ dan embun yang bersama hamparan rumput taman/ tetapi terasa ada yang kurang/ apakah itu? (Ode Kampung Halaman, 182).

    Seperti yang ditulis Ristika, Siti juga menyandingkan embun dengan mentari untuk menyambut pagi. Akan lebih elok, embun ditentangkan dengan mentari, mentari datang embun hilang, atau mentari sembunyi embun turun. 

    Simpulan, deskripsi yang sekecil-kecilnya dan logika bahasa puisi yang benar, akan membuat puisi yang dikarang akan menjadi lebih puitis dan realistis, para penyair nusantara (yang masih muda-muda) tentunya akan terus menulis hingga mencapai kematangan berpuisi dan menemukan stilistika dari karya-karyanya. Salam Aktif FAM.

    Sukadana, 24 Agustus 2015.

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menyoal Deskripsi dan Logika Bahasa pada Antologi “Ode Kampung Halaman” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top