• Info Terkini

    Monday, August 31, 2015

    Penulis Terkenal Sehari Diberi Jatah Waktu 24 Jam, Kamu Juga, Tapi Kenapa Suksesnya Beda-Beda?

    NET
    Dan, hari itu, kamu datang dengan wajah lesu. Murung. 

    Selidik punya selidik, rupanya, kamu mengeluh karena tidak punya waktu menulis. Katamu, kamu terlalu sibuk; kerja, kuliah, ngurus rumah, dan seabrek rutinitas lainnya. Padahal, kamu ingin sekali jadi penulis sambil tetap mengerjakan kesibukanmu.

    Ingat, jadi penulis bukan sekadar “ingin”, tapi harus segera kamu “praktikkan”!

    Kamu lupa ya? Ketika kamu belum punya laptop, kamu bikin komitmen yang kamu tempel di dinding kamar tidurmu. Isi komitmenmu, andai kamu dapat uang beli laptop sendiri, kamu janji akan rajin menulis. Kamu akan mengirim tulisan sebanyak-banyaknya ke media massa, atau juga ke penerbit. Nyatanya, setelah laptop sudah di tanganmu—gratis pula karena hadiah ulang tahun dari ayahmu—tak satu pun tulisan kamu rampungkan. Alasan klasik, tidak punya waktu.

    Begitulah, kadang, fasilitas melenakan dan membuat orang lupa pada tekadnya semula. Itu sedang terjadi pada dirimu.

    Jika dirunut ke belakang, kamu mau-maunya jalan kaki ke rental komputer yang jaraknya jauh dari rumahmu hanya untuk mengetik sebuah cerpen. Cerpen itu, sebelumnya kamu tulis tangan dengan susah-payah di buku harian. Sekarang, membuka buku pun kamu enggan, apalagi memegang pena.

    Salut deh untuk kesibukanmu yang seabrek itu.

    Siapa sih di dunia ini yang tidak punya kesibukan? Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sebab sibuk, waktu sehari menjadi singkat dan terbatas. Kalau boleh ‘request’, setiap orang, mungkin, akan minta tambahan waktu sehari lebih dari 24 jam. Tapi itu mustahil bukan?

    Sebenarnya kamu tidak perlu menyalahkan waktu, tapi salahkan dirimu sendiri yang tidak pandai menghargai waktu. Amit-amit, jangan sampai deh kamu diatur waktu, tapi kamulah yang harus mengatur waktu. 

    Kamu pasti kenal mantan Presiden SBY bukan? Dulu, beliau orang nomor wahid di Indonesia yang mengurus 250 juta lebih rakyat dari Sabang sampai Papua. Kesibukannya full habis, baik urusan dalam maupun luar negeri. Waktu 24 jam tentu sangat sedikit sekali bagi beliau. Tapi, siapa sangka, SBY masih sempat-sempatnya meluangkan waktu menulis sejumlah buku. Tidak hanya itu, bahkan ia menciptakan lagu, main gitar, dan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Pergilah ke toko buku, kamu akan menjumpai sejumlah buku yang ditulis SBY. Kok bisa ya?

    Mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi juga sibuk. Tapi, dari kesibukannya, masih sempat menulis buku “Pemerintahan Tak Bertepi” yang menjadi rujukan kalangan birokrat. Penulis terkenal, sastrawan, budayawan, seniman yang punya usaha sampingan—tidak tok bekerja sebagai penulis—mereka juga sibuk, tapi tetap melahirkan karya yang mengagumkan. Begitu juga artis, pengusaha, militer, akademisi, masih ada juga di antara mereka yang menulis buku yang menambah kesuksesan karirnya.

    Seperti halnya dirimu, mereka hanya punya jatah waktu 24 jam sehari. Tapi, kenapa suksesmu dan sukses mereka berbeda?

    Tentu, dalam hidup ini, kamu jangan sering-sering melihat “ke atas”—membanding-bandingkan kesuksesan orang dengan kesuksesanmu. Sering-seringlah melihat “ke bawah”, melihat dirimu sendiri, dan selalu bertanya, “apakah aku sudah maksimal mengelola waktu untuk suksesku?” Jika belum, mulailah dari sekarang, jangan tunda-tunda lagi, hargai waktu.

    Kalau dipikir-pikir, jatah usia manusia di bumi ini, rata-rata mengikuti usia Nabi Muhammad SAW, hanya 63 tahun. Jika saat ini usiamu sudah 30 tahun tapi belum juga menghasilkan karya (tulisan), kamu hanya punya sisa waktu 33 tahun lagi untuk mewujudkan karya itu. Kalau usiamu masih 20 tahun, tentu kamu masih punya jatah 43 tahun lagi. Tapi, pertanyaannya, yakinkah kamu waktu yang tersisa itu dapat kamu tempuh dengan mulus? Atau belum sampai usia 63 tahun kamu sudah ringkih dan tak dapat berbuat apa-apa lagi, atau sebelum sampai puncak usia itu kamu sudah meninggalkan dunia ini? Jika kelak usiamu lebih dari 63 tahun, bersyukurlah, kamu dapat bonus. Tapi, bonus itu menjadi sia-sia jika tidak kamu manfaatkan untuk berkarya sejak dini.

    Ayo, jangan lagi menyalahkan waktu. Jangan pula menyalahkan kesibukanmu. Yang namanya sibuk tak akan ada habis-habisnya, selagi kamu hidup, dan selagi kamu masih diberi kesempatan melihat matahari terbit esok hari.

    Terakhir, berapa lama kamu butuhkan waktu merampungkan sebuah cerpen? Dua jam, tiga jam, satu hari, seminggu, dua minggu, sebulan, atau setahun? (Muhammad  Subhan, Pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Kalau orang sudah bakatnya menulis, maka akan terasa enjoy dan menyenangkan.... mungkin dalam sehari orang yang kayak begitu akan lebih produktif daripada orang yang gak punya bakat menulis

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Penulis Terkenal Sehari Diberi Jatah Waktu 24 Jam, Kamu Juga, Tapi Kenapa Suksesnya Beda-Beda? Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top