Skip to main content

Perkuat Amunisi Menulismu

NET
Kamu yang suka nulis sudah pasti harus suka membaca. Saya sering mendengar curhat para penulis (pemula) yang merasa enggan bahkan ogah-ogahan membaca. Padahal, “vitamin” seorang penulis adalah bahan bacaan. Tak bisa dipungkiri, penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Dari mana mereka (para penulis) mendapatkan bahan untuk tulisannya kalau bukan dari membaca?

Oke, misalnya kamu bersikeras menyatakan tidak suka membaca tapi mengaku bisa menghasilkan tulisan, bahkan terbilang produktif menulis. Saya percaya. Tapi yakin tulisanmu lebih banyak berkutat pada tema yang sama, kosakata yang kurang berkembang dan wawasan yang tidak bertambah. Mengapa? Sebab, tidak ada asupan “vitamin” baru yang terserap otakmu. Terlalu banyak menulis—dalam waktu yang singkat—akan membuat nilai tulisanmu berkurang dan kehilangan rasa. So, kalau kamu serius jadi penulis, jangan pernah alergi melahap bahan bacaan.

Apa sih manfaat membaca untuk seorang penulis?

Manfaatnya banyak sekali. Pertama, kamu sedang melatih otakmu. Membaca buku berbeda dengan mendengarkan musik atau menonton televisi. Lewat membaca buku, kamu sedang merangsang kekuatan otakmu hingga mampu berimajinasi dan sangat baik untuk perkembangan otakmu. Kedua, tingkat stresmu berkurang. Kamu pasti mengalami kejenuhan dengan aktivitas sehari-harimu yang memerlukan perhatian lebih. Dalam kondisi tertentu, rasa stres pun melanda. Membaca buku bisa jadi solusi mengurangi tingkat stresmu itu. Kamu akan menemukan hal baru; entah itu yang bersifat menghibur, solusi masalahmu, kisah orang lain yang inspiratif, de-el-el. Penelitian saja membuktikan; membaca buku dapat mengurangi tingkat kortisol dalam tubuh, menurunkan detak jantung, serta dapat mengurangi ketegangan pada otot. Termasuk menurunkan tekanan darah dan meningkatkan mood. Keren bukan? Ternyata membaca buku membuat kita sehat.

Ketiga, memorimu terasah (meningkat). Otakmu akan terbiasa memahami alur cerita yang sedang dibaca dan berusaha mengingatnya. Membaca buku secara konsisten, otomatis membuat otakmu terlatih memahami dan mengingat. Apa yang kamu baca sudah tersimpan dengan baik dalam memorimu dan itu bekal yang sangat bagus buatmu ketika sedang menulis. Keempat, kosakatamu bertambah. Ingat, beragam bahan bacaan yang kamu lahap akan membuat perbendaharaan kata yang kamu miliki bertambah. Tiap penulis yang kamu baca bukunya, pasti menyuguhkan beragam kosakata di dalam tulisannya. Bisa jadi banyak sekali kata yang masih asing bagimu, hingga mendorongmu berusaha mencari definisi dari setiap kata yang kamu anggap asing tersebut. Luar biasa, bukan? Kamu telah memiliki bekal kosakata baru untuk bahan tulisanmu.

Kelima, sensitivitas dan konsentrasimu akan meningkat. Rajin membaca membuatmu terlatih konsentrasi hingga membuatmu fokus. Kamu juga akan memiliki empati dan bersikap bijak, termasuk bersikap lebih menghargai  pendapat orang lain. Keenam, kamu akan terinspirasi. Tak bisa dipungkiri, membaca buku bisa menyumbang inspirasi yang begitu besar. Berkat membaca buku para penulis ternama, kamu akan termotivasi sekaligus terinspirasi dari caranya menulis, kisah hidupnya, dan perjuangannya menjadi seorang penulis hingga terkenal dan sukses. Secara tidak langsung, kamu akan terdorong  membenahi tekadmu untuk lebih sungguh-sungguh lagi menjadi penulis.

Masih banyak manfaat membaca yang tidak bisa dituliskan lebih rinci di sini. Kalau kamu sudah rajin membaca, kamu akan merasakan sendiri manfaatnya, termasuk bisa melihat karya-karyamu yang lebih berisi setelah itu. So, percayalah!

Sejak kecil, saya termasuk orang yang suka membaca. Saat itu, orangtua memiliki bahan bacaan yang sangat banyak. Setiap bulan berlangganan 6 koran dan majalah, serta rutin membeli buku-buku baru—baik fiksi maupun nonfiksi. Rumah orangtua saya dipenuhi buku dan itulah kekayaan terbesar keluarga kami. Persis perpustakaan, yang di setiap sudut ada buku. Tak heran kalau semua anggota keluarga (sembilan bersaudara) suka membaca buku dan merasa nyaman dengan buku. Seminggu saja, tidak ada bahan bacaan baru, rasanya gelisah dan ada yang kurang. Efek lainnya, semua anggota keluarga suka menulis dan memiliki prestasi menulis di sekolah masing-masing.

Saya sendiri termotivasi menulis, berkat buku-buku menarik yang pernah saya baca. Waktu kecil, saya suka sekali membaca buku dongeng, fabel, cerpen anak atau kisah-kisah inspiratif yang ada di majalah. Akibat seringnya membaca bacaan seperti itu, saya mengagumi tulisan orang lain dan berulang-ulang dibaca, bahkan diceritakan pada teman. Berikutnya, saya termotivasi untuk membuat tulisan seperti para penulis itu, dan mulailah saya berimajinasi. Saya mulai dengan menulis dongeng dan fabel di buku tulis, hingga beberapa buku tulis menjadi penuh dengan tulisan dongeng yang saya buat. Teman-teman sering meminjam buku-buku tersebut, bahkan salah seorang mahasiswa (sepupu) menjadi pembaca tetap. Wah, bangga sekali ada mahasiswa yang menyukai tulisan saya, padahal saya masih duduk di sekolah dasar dan tulisan tangan pun masih acak-acakan. Tentu saja, itu motivasi bagi saya. Saya makin “membabi-buta” menulis.

Meskipun sebagian besar tulisan di masa kecil ini raib—akibat pada waktu itu belum pandai merawatnya—namun setelah saya mengerti pentingnya mengirim karya ke media, sebagian dongeng, fabel dan cerpen anak berhasil diterbitkan oleh majalah anak.

Satu hal lagi, saya terbiasa menumpuk beberapa buku (terutama novel) saat sedang menulis karya fiksi. Tentu saja, novel-novel tersebut adalah novel yang sudah saya baca dan saya anggap menarik. Tips ini saya terapkan sebagai motivasi, sekaligus menyerap inspirasi. Jadi ketika di tengah-tengah menulis, mengalami buntu ide dan kesulitan merangkai kata, saya berhenti sejenak. Kemudian membuka novel-novel tersebut, setidaknya membaca 1-2 paragraf dari setiap novel, setelah itu ditutup kembali dan menulis lagi. Dengan teknik seperti itu, biasanya saya menemukan ide tambahan, termasuk bisa lancar lagi menulis.

Nah, kalau kamu serius ingin jadi penulis, bekali dirimu dengan amunisi yang tepat. Amunisi untuk penulis tak lain adalah buku hasil karya penulis lain. Jangan pernah malas membaca, bukalah diri untuk terus memperkaya referensi bacaan. Bukankah sebelum menghadapi pertandingan besar, seorang perenang akan latihan berbulan-bulan demi mempersiapkan staminanya? Si perenang akan rutin latihan demi menyempurnakan teknik, dan memperbaiki gaya dan pernapasan. Begitu pun kamu. Sebelum masuk arena menulis, kamu harus membekali diri terlebih dulu dengan terus-menerus membaca. Kalau ingin menghasilkan tulisan yang bagus, maka kamu harus ‘rakus’ melahap buku-buku bagus. So pasti gaya bertutur dan plot ceritamu akan makin kaya.

Kalau kamu suka nulis novel, banyak-banyaklah membaca karya novelis terkenal, minimal lima novel. Kalau kamu suka menulis cerpen, banyak-banyaklah membaca karya para cerpenis—terutama yang sudah terbit di media—minimal sepuluh cerpen. Kalau kamu suka nulis puisi, banyak-banyaklah membaca puisi para penyair ternama, tak terbatas, silakan membaca sebanyak-banyaknya. Teruslah membaca! (Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia)

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…