• Info Terkini

    Jumat, 28 Agustus 2015

    Pesan Apa yang Kamu Sisipkan di Buku Fiksimu?

    NET
    Kamu yang suka nulis cerpen atau novel, pasti pernah galau soal cerita yang dibuat. Apakah harus berangkat dari kenyataan atau murni imajinasi? Atau cukup berkhayal, sekadar bersenang-senang sekaligus mengisi waktu luang? 

    “Bukankah tulisan fiksi hanya rekaan?” tanyamu dalam bimbang. 

    Benar, fiksi adalah karangan yang ditulis berdasarkan imajinasi pengarangnya. Bisa disebut rekaan semata. Penulis fiksi bebas menuliskan cerita sesuai kehendaknya dengan gaya yang bebas pula. Tidak perlu takut ada tuntutan ketika menuliskan tokoh jahat yang suka membunuh, merampok, korupsi, menjilat rakyat kecil dan lainnya. Toh, rekaan semata, tidak benar-benar terjadi. 

    Apa yang kamu tulis, berada di dunia fiksi, bukan dunia nyata. Kamu penulis fiksi, bukan wartawan. Tokoh, setting, alur cerita dan konflik yang kamu buat adalah imajinasimu yang diramu sedemikian rupa. Sekali lagi, bukan reportase seorang wartawan yang menulis sesuai fakta (persis peristiwa yang terjadi). 

    Walaupun terinspirasi peristiwa nyata, karya fiksi sudah diolah, dibumbui, tidak persis peristiwa aslinya dan tokoh-tokoh sudah disamarkan. Itulah bedanya. Kalau persis dengan fakta, lalu apa beda tulisanmu dengan tulisan reportase wartawan?

    Oke, kamu catat dulu itu ya!

    Kamu tahu kan Filsuf besar Aristoteles? Menurutnya, “berusaha dan berkarya demi kesenangan saja adalah bodoh dan kekanak-kanakan.” Itu kata Aristoteles, lho. Pernyataannya cukup keras, namun menohok kesadaran. Kalau dipikir-pikir benar juga. Berkarya hanya sekadar untuk kesenangan diri sendiri adalah sebuah kesia-siaan. Tak ada manfaat dan karya itu pun akan ditulis serampangan, tanpa rambu-rambu. Alias mengabaikan etika. 

    Coba deh kamu bayangkan, kalau karanganmu murni berasal dari imajinasi semata—tanpa diramu dan mengabaikan norma-norma yang berlaku—bisa-bisa imajinasi liarmu itu sulit dikendalikan dan menimbulkan kontroversi. 

    “Ow, bisa sejauh itu ya dampaknya?”

    Ya, tentu. Itulah pentingnya visi, tujuan, landasan, cara pandang, de-el-el bagi seorang penulis. Meskipun yang ditulis adalah karya fiksi tapi landasannya dunia fakta. Fiksi tidak sekadar mengagungkan estetika, tapi juga etika. 

    Kamu pernah baca novel “Siti Nurbaya”? Itu lho yang ditulis pengarang prosa zaman Balai Pustaka. Cerita dalam novel ini benar-benar menghanyutkan. Seolah-olah nyata dan tokoh-tokoh itu seolah pernah hidup pada zamannya. Kepiawaian pengarang dalam meramu cerita, sangat luar biasa. Bahkan, menyertakan tanggal, bulan dan tahun pada bagian cerita nisan Siti Nurbaya dan Samsul Bahri. 

    Pengarang berusaha mendekatkan cerita seakrab mungkin dengan pembaca atau memberikan sugesti. Ada landasan jelas, serta sarat dengan nilai-nilai moral. Nyata-nyata tidak sekadar tulisan untuk bersenang-senang atau mengisi waktu luang. 

    So, kamu juga bisa! 

    Sah-sah saja kamu nulis karya fiksi yang tanpa pesan apa pun, alias hanya berekspresi lewat tulisan. Sah saja, tak ada yang melarang. Toh, itu pilihanmu. Tapi, jika kamu ingin jadi penulis yang serius, kamu harus punya tujuan; untuk apa cerita itu dibuat? Pesan positif apa yang terkandung di dalamnya? 

    Seperti halnya karya sastra, seimajinatif apa pun, posisi pengarangnya pasti memiliki pijakan. Sebab, karya sastra tidak berangkat dari kekosongan tapi berangkat dari fakta, analisis dan pergulatan pemikiran. Itu artinya diperlukan wawasan. Wawasan didapat, salah satunya dari membaca. Berkat membaca itulah, karya fiksimu akan lebih berbobot. 

    Nah, jadi meskipun cerpen dan novel yang kamu tulis termasuk karya fiksi, tapi harus tampak sungguhan. Bukan sekadar imajinasi kosong yang dilebih-lebihkan, sekadar mengikut selera pasar, atau hiburan semata. Tapi, ada pesan positif yang bernilai manfaat. 

    Pesan positif apa? Itu terserah kamu. Pandai-pandai kamu saja memasukkan pesan positif tersebut dalam cerita yang sedang kamu tulis. So, dengan begitu isi tulisanmu akan lebih ciamik. Percaya deh! (Aliya Nurlela, Pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Pesan Apa yang Kamu Sisipkan di Buku Fiksimu? Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top