• Info Terkini

    Saturday, August 8, 2015

    Seburuk Apa pun Naskahmu Jangan Dibuang!

    NET
    Kamu hebat, mampu menulis satu halaman. Tapi, katamu, tulisan itu belum selesai. Kamu ingin melanjutkannya menjadi beberapa halaman, namun tak bisa. 

    Tiba-tiba, pikiranmu buntu. Kedua tanganmu kaku. 

    Matamu tak berkedip memandang layar monitor. Mencari kata-kata tepat untuk melanjutkan tulisanmu. Kamu paksakan juga menulis. Tapi, sebaris dua baris, kamu berhenti lagi. Kepalamu sakit. Telingamu memerah. Kamu marah. Kamu langsung memvonis, kamu tidak berbakat nulis!

    Lalu, yang terjadi kemudian, kamu memukul meja. Andai laptop di hadapanmu tak berharga mahal, alamat kamu banting hingga berkeping-keping. Atau, jika tulisanmu kamu tulis di kertas, sudah pasti kertas itu akan remuk, atau kamu robek-robek hingga serpihannya bertebaran di bawah meja. 

    Hmm, sok emosi ni yee...

    Tapi, kamu perlu bersyukur, kamu mampu merampungkan sehalaman tulisan itu, walau buruk, amburadul, belum selesai. Temanmu mungkin tak mampu menulis selembar halaman. Mereka punya ide, tapi ide itu hanya mengendap, atau dibiarkan hilang begitu saja. Atau temanmu tak berminat jadi penulis. Sedangkan kamu punya niat, kemauan, usaha, dan sudah nulis satu halaman, kan masih lebih baik dari temanmu?

    “Apanya yang baik, nulis nggak selesai, tergantung begitu. Ah, kesal!” protesmu.

    Nah, kan. Kamu marah lagi. Marah pada dirimu sendiri. Padahal, jika kamu sedikit sabar, tulisan itu bakal selesai. Kamu hanya lagi jenuh. Atau suasana hatimu sedang buruk. Bad mood. Tak salah kamu rehat sejenak. Pergilah piknik. Jalan-jalan, ke mana saja. Nanti, sehabis piknik, pikiranmu fresh lagi. Segar. Lalu, buka kembali laptopmu, dan lanjutkan tulisan yang buntu tadi. Pasti, kamu bisa melanjutkannya, hingga ke titik paling akhir.

    Seringkali, ketika sudah jenuh, buntu, penulis pemula membuang tulisannya, walau yang ditulis separagraf dua paragraf. Jika mampu sehalaman tulisan seperti yang kamu lakukan, itu sudah bagus. Jangan sekali-kali menghapusnya, membuang ke tong sampah, atau melupakan potongan tulisan itu selama-lamanya seolah tidak pernah hadir dalam hidupmu. Sebab, di dalam tulisan tak selesai itu, ada ide bernas yang mungkin saja akan dahsyat hasilnya jika kamu mampu menuntaskan tulisan itu. Tapi, jika kamu buru-buru membuangnya, kamu berpeluang menghilangkan calon karya monumental dalam hidupmu.

    Di zaman sekarang, kamu diuntungkan dengan adanya teknologi super canggih. Kamu punya komputer atau laptop yang bisa dibawa ke mana saja. Penulis-penulis di masa lampau, mereka hanya mengandalkan mesin tik. Ukurannya besar dan berat. Suaranya berisik. Di saat mengetik terjadi kesalahan, ganti kertas, membuangnya ke tong sampah, lalu mengetik kembali dari awal. Sedangkan kamu? Jika terjadi kesalahan ketikan, tinggal delete, tanpa perlu mengetik ulang. Jika tulisanmu buntu di tengah jalan, kamu juga tak perlu membuangnya. Cukup buat file di komputer, bubuhkan nama file itu, misal “Naskah Belum Selesai”. Semua naskah tulisan yang belum selesai, simpan di situ. Buat judulnya. Sewaktu-waktu, jika mood sudah datang lagi, kamu tinggal membuka file itu. Membaca ulang, dan kamu bisa melanjutkan semua tulisan yang semula kamu pikir tidak bakal jadi. 

    Kebiasan umum, banyak orang menyimpan arsip barang-barang yang sudah jadi, kuno, antik, dan sejenisnya di rumah mereka. Nah, tak salah kamu keluar dari kebiasaan itu, yaitu menjadi “kolektor” tulisan yang belum jadi. Tulis saja sebanyak-banyaknya ide di dalam file “Naskah Belum Selesai” di laptomu. Kan ide itu gratis, keluar dari pikiranmu sendiri. Kamu tak perlu repot-repot mengeluarkan uang. Sewaktu-waktu kamu teringat akan draf tulisan itu, kamu tinggal buka file, membaca ulang dan melanjutkannya kembali. Gampang bukan?

    Tapi, sekali lagi, tergantung keseriusan dan kesungguh-sungguhanmu. Tak ada jalan instan menuju sukses. Itu pun berlaku untukmu. Pastinya, jangan sekali-kali mengeluh jika menghadapi kebuntuan. Nikmati saja. Jika satu naskah buntu, kamu bisa menyiapkan naskah kedua. Jika naskah kedua buntu, kamu bisa merencanakan naskah ketiga, begitu seterusnya. Kelak, kamu akan memiliki ‘bank naskah’, dan kamu tidak kerepotan mencari ide naskah ketika suatu hari kamu benar-benar membutuhkannya karena ada media atau penerbit yang tertarik meminta tulisanmu.

    Sebuah kisah motivasi, konon, ada seorang penulis, yang di awal menulis ia membuat cerpen sebanyak-banyaknya. Puluhan cerpen ia tulis kemudian ia kirim ke media massa. Tapi, sebanyak cerpen yang ia kirim, tak satu pun cerpen itu terbit. Kecewa ada, tapi ia tak putus asa. Ia terus menulis, dan terus pula mengirimnya, walau hampir setiap hari ia menerima surat penolakan atau naskah yang dikembalikan. Pak Pos sampai bosan mengantar surat penolakan ke rumahnya.

    Suatu hari, tiba-tiba cerpennya terbit di sebuah media nasional. Cerpen itu bagus. Ia mendapat pujian redaktur dan pembaca. Ia senang bukan main. Lalu, teleponnya berdering. Redaktur koran lainnya menghubungi dirinya, meminta naskah cerpennya yang lain. Ia merasa senang karena “mulai dianggap” sebagai penulis. Tapi, di saat itu ia tak punya cerpen baru yang bisa dikirim ke koran-koran yang meminta naskahnya. 

    Apa akal? Ia bongkar kembali arsip cerpen-cerpen yang ditolak sebelumnya. Jumlah ratusan. Kemudian ia memilah dan membaca ulang cerpen-cerpen itu. Ia edit kembali sebaik mungkin. Ia cocokkan dengan tema yang diminta redaktur koran. Setelah yakin cerpen itu bagus, ia kirim ke alamat koran yang memintanya. 

    Apa yang terjadi kemudian? Hampir semua naskah cerpen yang ditolak diterima oleh redaktur koran yang meminta. Rezeki nomplok pun ia terima. Rekening si penulis kebanjiran uang yang merupakan honor dari cerpen-cerpen yang terbit itu.

    Hikmahnya, jangan membuang naskahmu, baik yang ditolak ataupun yang belum jadi. Simpan sebaik mungkin. Sebab, suatu hari nanti, kamu akan membutuhkannya. Jika kamu tak percaya, buang saja, dan jangan menyesal kemudian. (Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Mantap gan tulisannya, jadi ingat pas saya sudah banyak membuang naskah yang belum selesai. tapi, saat baca tulisan ini jadi di ingatkan kembali. thank for share..

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Seburuk Apa pun Naskahmu Jangan Dibuang! Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top