• Info Terkini

    Saturday, August 22, 2015

    Segenggam Kisah Rumah di Tengah Sawah

    Singgalang, Minggu (23/8/2015)
    Judul Buku: Rumah di Tengah Sawah
    Pengarang: Muhammad Subhan
    Penerbit: FAM Publishing
    Terbit : Agustus 2015
    Cetakan: I (Pertama)
    Tebal Buku: 157 halaman, 13 x 9 cm
    Resensiator: Lili Asnita

    ANAK laki-laki itu menikmati hari-hari indah bersama teman-temannya. Namanya Agam, lahir di sebuah kampung yang sejuk. Bapaknya seorang penjahit dan Ibunya hanya ibu rumah tangga. Agam lahir di Tembung, Medan, di saat Bapaknya pergi ke Aceh mencari pekerjaan. Setelah Agam berumur tiga tahun Bapaknya baru kembali ke Tembung. Untuk bertahan hidup Ibunya bekerja dengan Toke yang diam-diam menyukai Ibu Agam. Ternyata Ibunya seorang wanita tegar dan rela berhenti bekerja demi mempertahankan harga dirinya.

    Masa kecil Agam tidaklah mengembirakan bahkan prihatin. Agam menjalani kehidupan dengan apa adanya. Agam kadang-kadang makan nasi atau makanan lain untuk bisa mengganjal perutnya. Di saat sakit Agam dibawa berobat oleh Ibunya ke dukun kampung, tapi Bapaknya mau membawa Agam berobat ke Puskesmas. Padahal ketika itu mereka tidak ada biaya untuk berobat. 

    Orangtua Agam selalu memerhatikan kegiatan anaknya setiap hari. Setelah umur bocah itu tujuh tahun Bapaknya mendaftarkan masuk SD. Tetapi panitia penerimaan tidak mau menerima bocah itu karena tangan Agam tidak sampai menyentuh kupingnya. Berkat bantuan seorang guru, akhirnya Agam diterima masuk Sekolah Dasar.

    Di kampung Tembung itu terdapat empat buah rumah petak yang berada di tengah sawah. Rumah itu dibeli Bapak Agam dari penghasilannya bekerja di Aceh. Di sebelah rumah Agam tinggal keluarga pemulung. Mereka memiliki bocah tambun dan pemberani. Dia memperkenalkan dirinya pada Agam. Agam malu-malu menerima perkenalan itu namun setelah disuruh  Bapaknya baru Agam menyambut perkenalan itu. Sejak itu Agam bersahabat dengan Bondan yang usianya setahun lebih tua darinya. 

    Banyak pengalaman yang didapatkan Agam bersama anak laki-laki pemberani itu. Bondan mengajak Agam bemain mencari belut, memanjat pohon petai untuk obat cacing karena Agam cacingan. Kedua anak itu ikut pula mengejar maling kolor yang bersembunyi di perkuburan Cina. Kebersamaan mereka tidak itu saja bahkan anak kecil itu mengumpulkan uang bersama Anton. Uang itu dikumpulkan untuk mengganti pot milik ayah Anton yang tersenggol oleh sepeda Bapak Agam.  

    Rumah di Tengah Sawah adalah harta yang dibanggakan oleh keluarga Agam. Tapi sayang  sebuah pengalaman pahit terjadi, rumah di tengah sawah itu harus digusur oleh Pemerintah setempat. Penggusuran terjadi karena rumah tersebut tanpa IMB dan surat-surat jual beli tidak lengkap.

    Dengan kesedihan dan kegamangan tanpa punya rumah Agam diajak orangtua ke daerah asal bapaknya, begitu juga dengan Bondan. Sebuah hal yang luar biasa dari penggusuran itu adalah buku. Kalimat yang tertera pada buku Bahasa Indonesia yang tercecer di areal penggusuran itu ditulis bapak Agam, “Nak, cintai buku, seperti aku mencintaimu.”. Artinya kata-kata indah itu adalah titik balik dari semangat seorang bocah yang sedang putus asa di tengah musibah tergusur rumahnya.

    Kalimat indah itu dapat kita hadiahkan pada orang-orang yang kita cintai... “Cintailah buku sebagaimana aku mencintaimu, Nak”. Anak kelas 5 SD itu pun berniat untuk membahagiakan orangtuanya kelak.

    Novel “Rumah di Tengah Sawah” sangat bagus untuk dibaca oleh pelajar, orangtua dan kita semua. Pembaca akan merasakan pengalaman pahit yang dirasakan oleh Agam dan begitu menyentuh  perasaan kita. Buku ini memberikan pesan pada kita supaya kita menjalani hidup dengan optimis dan kemiskinan bukanlah penghalang untuk maju dan jadi orang sukses di kemudian hari.

    Novel “Rumah di Tengah Sawah”, menurut penulis belum lengkap karena kisah belum selesai, karena cerita beberapa teman sekelas Agam belum diungkapkan pada kita. Mungkin Muhamad Subhan ingin melanjutkan lagi pada novel berikutnya. Mungkin juga novel  “Rumah di Tengah Sawah” menjadi Trilogi bahkan Tetralogi seperti novel hebat karya Andrea Hirata, Anwar Fuadi, dan lainnya. Mudah-mudahan. (*)

    *) Dra. Lili Asnita, Guru SMA Negeri 4 Bukittinggi, penulis Novel “Mengukir Cinta”

    Diterbitkan di:
    HARIAN SINGGALANG EDISI MINGGU, 23 AGUSTUS 2015

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Segenggam Kisah Rumah di Tengah Sawah Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top