Skip to main content

Segenggam Kisah Rumah di Tengah Sawah

Singgalang, Minggu (23/8/2015)
Judul Buku: Rumah di Tengah Sawah
Pengarang: Muhammad Subhan
Penerbit: FAM Publishing
Terbit : Agustus 2015
Cetakan: I (Pertama)
Tebal Buku: 157 halaman, 13 x 9 cm
Resensiator: Lili Asnita

ANAK laki-laki itu menikmati hari-hari indah bersama teman-temannya. Namanya Agam, lahir di sebuah kampung yang sejuk. Bapaknya seorang penjahit dan Ibunya hanya ibu rumah tangga. Agam lahir di Tembung, Medan, di saat Bapaknya pergi ke Aceh mencari pekerjaan. Setelah Agam berumur tiga tahun Bapaknya baru kembali ke Tembung. Untuk bertahan hidup Ibunya bekerja dengan Toke yang diam-diam menyukai Ibu Agam. Ternyata Ibunya seorang wanita tegar dan rela berhenti bekerja demi mempertahankan harga dirinya.

Masa kecil Agam tidaklah mengembirakan bahkan prihatin. Agam menjalani kehidupan dengan apa adanya. Agam kadang-kadang makan nasi atau makanan lain untuk bisa mengganjal perutnya. Di saat sakit Agam dibawa berobat oleh Ibunya ke dukun kampung, tapi Bapaknya mau membawa Agam berobat ke Puskesmas. Padahal ketika itu mereka tidak ada biaya untuk berobat. 

Orangtua Agam selalu memerhatikan kegiatan anaknya setiap hari. Setelah umur bocah itu tujuh tahun Bapaknya mendaftarkan masuk SD. Tetapi panitia penerimaan tidak mau menerima bocah itu karena tangan Agam tidak sampai menyentuh kupingnya. Berkat bantuan seorang guru, akhirnya Agam diterima masuk Sekolah Dasar.

Di kampung Tembung itu terdapat empat buah rumah petak yang berada di tengah sawah. Rumah itu dibeli Bapak Agam dari penghasilannya bekerja di Aceh. Di sebelah rumah Agam tinggal keluarga pemulung. Mereka memiliki bocah tambun dan pemberani. Dia memperkenalkan dirinya pada Agam. Agam malu-malu menerima perkenalan itu namun setelah disuruh  Bapaknya baru Agam menyambut perkenalan itu. Sejak itu Agam bersahabat dengan Bondan yang usianya setahun lebih tua darinya. 

Banyak pengalaman yang didapatkan Agam bersama anak laki-laki pemberani itu. Bondan mengajak Agam bemain mencari belut, memanjat pohon petai untuk obat cacing karena Agam cacingan. Kedua anak itu ikut pula mengejar maling kolor yang bersembunyi di perkuburan Cina. Kebersamaan mereka tidak itu saja bahkan anak kecil itu mengumpulkan uang bersama Anton. Uang itu dikumpulkan untuk mengganti pot milik ayah Anton yang tersenggol oleh sepeda Bapak Agam.  

Rumah di Tengah Sawah adalah harta yang dibanggakan oleh keluarga Agam. Tapi sayang  sebuah pengalaman pahit terjadi, rumah di tengah sawah itu harus digusur oleh Pemerintah setempat. Penggusuran terjadi karena rumah tersebut tanpa IMB dan surat-surat jual beli tidak lengkap.

Dengan kesedihan dan kegamangan tanpa punya rumah Agam diajak orangtua ke daerah asal bapaknya, begitu juga dengan Bondan. Sebuah hal yang luar biasa dari penggusuran itu adalah buku. Kalimat yang tertera pada buku Bahasa Indonesia yang tercecer di areal penggusuran itu ditulis bapak Agam, “Nak, cintai buku, seperti aku mencintaimu.”. Artinya kata-kata indah itu adalah titik balik dari semangat seorang bocah yang sedang putus asa di tengah musibah tergusur rumahnya.

Kalimat indah itu dapat kita hadiahkan pada orang-orang yang kita cintai... “Cintailah buku sebagaimana aku mencintaimu, Nak”. Anak kelas 5 SD itu pun berniat untuk membahagiakan orangtuanya kelak.

Novel “Rumah di Tengah Sawah” sangat bagus untuk dibaca oleh pelajar, orangtua dan kita semua. Pembaca akan merasakan pengalaman pahit yang dirasakan oleh Agam dan begitu menyentuh  perasaan kita. Buku ini memberikan pesan pada kita supaya kita menjalani hidup dengan optimis dan kemiskinan bukanlah penghalang untuk maju dan jadi orang sukses di kemudian hari.

Novel “Rumah di Tengah Sawah”, menurut penulis belum lengkap karena kisah belum selesai, karena cerita beberapa teman sekelas Agam belum diungkapkan pada kita. Mungkin Muhamad Subhan ingin melanjutkan lagi pada novel berikutnya. Mungkin juga novel  “Rumah di Tengah Sawah” menjadi Trilogi bahkan Tetralogi seperti novel hebat karya Andrea Hirata, Anwar Fuadi, dan lainnya. Mudah-mudahan. (*)

*) Dra. Lili Asnita, Guru SMA Negeri 4 Bukittinggi, penulis Novel “Mengukir Cinta”

Diterbitkan di:
HARIAN SINGGALANG EDISI MINGGU, 23 AGUSTUS 2015

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…