• Info Terkini

    Jumat, 14 Agustus 2015

    Seiring Berjalannya Waktu, Kamu Akan Temukan Gaya Menulismu Sendiri

    NET
    “Aku sedang belajar nulis cerpen dan novel, tapi kenapa ya  sulit sekali menciptakan gaya tulisan? Padahal ingin sekali seperti penulis-penulis lain yang dikenal lewat gayanya,” keluhmu hari itu. 

    Hebat, kamu sudah mulai menekuni genre yang kamu sukai. Tapi... eit, kamu bingung gaya tulisan? Kamu sudah konsisten menulis, belum? Kamu tahu, bahwa gaya tulisan ada sangkut-pautnya dengan konsistensi. Kok bisa? Bisa, bahkan keduanya sejoli yang tidak bisa dipisahkan! Seiya-sekata, keduanya lengket sekali. 

    Oke, kita buat analog untuk memudahkanmu menyimaknya. Anggap saja kamu ingin berenang dan jadi perenang profesional. Lalu kamu sibuk cari teori berbagai macam gaya berenang; gaya bebas, gaya dada, gaya punggung, gaya kupu-kupu atau gaya lainnya—tapi jangan pakai gaya batu, nanti kamu tenggelam nggak muncul-muncul lagi. Setelah membaca teori itu, kamu mengeluh, “ternyata berenang itu sulit.” 

    Siapa yang salah? Teori renangnya atau kamu sendiri?

    Kamu jangan sibuk dulu belajar gaya berenang, toh kakimu saja belum pernah menyentuh air di kolam renang. Kamu belum merasakan dingin dan suasana kolamnya. Kamu belum pernah mencoba turun ke kolam renang dan me-ngetes kemampuanmu. Apalagi kalau kamu trauma air. Jangan-jangan begitu masuk kolam renang, kamu langsung tenggelam. Gawat bukan? 

    So, jangan malu untuk belajar dari nol. Kamu lakukan secara bertahap, dari mulai mencelupkan kedua kakimu ke dalam kolam. Rasakan dulu dinginnya air kolam, seperti apa. Pasti beda dong dengan air di kamar mandimu yang bisa di-stel dingin dan hangat. Ini kolam renang, Bro!

    Lantas kamu perlu minta bantuan orang (guru) yang mengajari dan mengerti soal renang. Atau setidaknya mengawasimu, kalau-kalau tenggelam dan tidak ada yang tahu. Nah, kamu jangan jumawa dulu dengan langsung “nyebur” ke kedalaman dan sok bergaya kupu-kupu. Kalau kamu lihat perenang yang sudah ahli, memang kelihatannya mudah sekali jumpalitan di kolam renang dengan beraneka gaya. Menari pun bisa. Amazing! Sementara kamu? 

    Sekali lagi, tidak perlu malu. Malu bertanya, tenggelam di kolam. So, bertanyalah pada orang yang sudah biasa berenang. Tak apa, kamu ditertawai orang-orang yang usianya lebih muda darimu, toh kamu berbuat untuk kebaikanmu. Kamu juga yang akan merasakan hasilnya. Jangan malu, menggunakan ban karet dulu. 

    “Ow, ban karet?” Why? Itu salah satu cara agar kamu tidak tenggelam. Agar kamu belajar keseimbangan terlebih dulu. 

    Masuklah ke dalam kolam yang paling dangkal. Setidaknya kakimu bisa berdiri dan menginjak lantai kolam. Berlatihlah yang sederhana dulu, misal; belajar membuang napas di air, belajar memasukkan kepala ke dalam air, belajar meniup napas dari hidung—ketika kepalamu masih di dalam air, belajar mengapung di atas air, belajar melompat dan meluncur. So, nikmati dulu bermain-main dengan air! Sampai kamu enjoy dan terbiasa. 

    Nah, saat kamu sudah enjoy dan terbiasa, barulah belajar gaya. Mulailah dari gaya yang paling mudah dulu, misal gaya bebas. Pelajari itu. Latihlah kakimu melakukan gerakan menggunting secara bergantian, gerakan mengambil napas dan gerakan kepala yang menggeleng ke kanan-kiri. Teruslah berlatih sampai terbiasa. Kalau kamu sudah mahir, gaya lainnya bisa kamu tekuni dengan mudah. Otomatis, kamu akan menemukan gaya yang pas sesuai minatmu. Kamu juga akan terbiasa berenang di kedalaman air. Keren, bukan? Latihanmu yang tanpa malu-malu itu, tidak sia-sia. 

    Begitu pun dalam menulis. Gaya tulisan adalah langkah lanjutan dari kebiasaanmu praktik menulis (bukan ujug-ujug). Jadi, jangan terburu-buru belajar gaya, sebelum kamu konsisten menulis. Sama seperti analog perenang tadi, perlu tahapan-tahapan. 

    Memang sih gaya bawaan tiap orang berbeda-beda; cara bicara, berjalan, tertawa dan lainnya. Namun, ada gaya yang bisa dibentuk dan dipelajari, seperti; cara menjual, menarik minat pembaca, menawar harga, de el el. Nah, gaya dalam menulis adalah gaya yang bisa dibentuk dan dipelajari. Caranya?

    Oke, ini ada tips sederhana yang mungkin cocok untuk kamu. Pertama, banyak membaca. Tips ini sering diulang-ulang, karena memang penting. Seorang penulis yang baik, adalah pembaca yang baik. Tanpa mau membaca, wawasan kurang luas, hingga terbawa dalam tulisan yang temanya itu-itu saja. So, tips ini tidak bisa ditawar, kamu harus membaca!

    Kedua, buat perbandingan. Kamu lihat tulisan dari beberapa penulis yang kamu baca itu. Berilah catatan-catatan kecil yang menurutmu beda. Bagaimana cara setiap penulis memperlakukan tema, pemilihan kata, gaya bahasa, hingga kamu bisa membedakan cara tiap penulis mengungkapkannya. Tema yang sama, tidak menjamin gaya menulis juga sama. Pasti ada yang beda. Nah, yang beda itulah yang kamu catat. 

    Ketiga, konsisten menulis. Wawasan luas, tidak menjamin pandai menulis—kalau kamu tidak mulai menulis dan membiasakannya. Biasakan dulu menulis, hingga kamu enjoy dan menikmati. Sesuatu menjadi mahir karena terbiasa. Kebiasaan-kebiasaan itu yang harus kamu bangun dulu. Terserah tema tulisan apa yang kamu angkat—suka-suka kamu—yang penting kamu senang menggarap tema tersebut. Efeknya, kamu lancar menulis. 

    Keempat, jadi diri sendiri. Masukkan kepribadian kamu dalam tulisan. Awal-awal menulis, terpengaruh gaya penulis lain, itu wajar. Dimaklumi, sebab kamu belum memiliki gaya yang sah. Masih mencari bentuk, masih mempelajari. Tapi seiring konsistennya menulis, gaya itu akan kamu temukan. Jreng! Orang akan mengenal karakter tulisanmu. Wih, gaya menulismu sudah khas dan berkarakter. Asyik, bukan? 

    Nah, jadi kuncinya kembali kepada kamu. Sejauh mana kamu mau “nyebur” langsung dalam tulis-menulis. Jangan belenggu imajinasimu, tuliskan saja sesuai kesukaanmu. Kamu yang senang menulis dengan bahasa metafora dan cenderung romantis, tuliskan saja. Tenggelamkan dirimu dalam imajinasi dan kesukaanmu. Abaikan komentar negatif atau sindiran; “Aih, cinta melulu yang dibahas.” “Rangkaian kalimatmu bikin aku melambung, dan membuatku lupa kalau harga beras juga melambung.” “Ada yang lain, tidak?” “Ah, bosenin deh!”

    Hmm... kamu tidak perlu meradang mendapat komentar seperti itu. Biasa saja. Enjoy saja. Tersenyum saja, dan lanjutkan menulis! Katakan pada dirimu, bahwa kamu sedang belajar berenang dalam tulisan. Belajar nulis yang paling asyik, memang harus berawal dari yang disukai terlebih dulu. Ingat, kamu tidak sedang membangun citra. Kamu sedang belajar menulis dan mencari bentuk. Daripada kamu maksa nulis tema-tema sosial—padahal kamu belum menguasainya—dengan bahasa yang kaku dan serius (sementara hatimu tidak suka) itu menyedihkan. Kamu akan setengah-setengah menjalani. So, jadilah diri sendiri. 

    Gaya menulismu adalah hasil proses pembelajaran, perbaikan dan penyempurnaanmu yang tiada henti selama sekian waktu. So, bertekun-tekunlah! (Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 comments:

    1. Tulisan yang bagus. Inspiratif.

      BalasHapus
    2. Bagi teman - teman mahasiswa yang suka menulis, boleh dong berkontribusi untuk ke ruangmahasiswa.com, caranya klik profil kami ini. Terimakasih.

      BalasHapus

    Item Reviewed: Seiring Berjalannya Waktu, Kamu Akan Temukan Gaya Menulismu Sendiri Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top