• Info Terkini

    Saturday, August 8, 2015

    Terbitkan Tulisanmu, Percaya Dirilah!

    NET
    Nah, tulisanmu sudah jadi, tapi kamu malu mempublikasikannya. Kamu takut dikritik. Takut dibilang jelek. Takut dianggap narsis. Takut... dan segala phobia lainnya. Lalu, kamu pun menyimpan tulisanmu bertahun-tahun di laci meja atau di file laptopmu. 

    Hmm, mengenaskan sekali!

    Andai naskahmu bernyawa, ia pasti meronta ingin cepat-cepat lahir dan dilihat orang. Sayang sekali, kamu tidak mengerti “bahasa komunikasi” naskahmu, hingga kamu anteng saja dengan rasa tidak pede itu. 

    Sampai kapan kamu akan bertahan dengan tidak pede-mu itu? Sementara tulisan yang kamu hasilkan sudah menumpuk dan usiamu terus merangkak, tidak muda lagi?

    Tak ada yang bisa menyingkirkannya, kecuali kamu sendiri. Sehebat apa pun motivasi dari luar, selama kamu tidak ada niat berubah, tidak akan mengubah apa pun. Kamulah yang harus mendobraknya. Jadikan motivasi dari luar itu dorongan bagimu untuk segera berbuat. So, mulailah dari dirimu!

    Percaya diri bagi seorang penulis, bukan saja dalam mempublikasikan tulisan yang dihasilkan, tapi termasuk ‘pede’ untuk mulai menulis. Jangan buang banyak waktu dengan pertanyaan, “saya bisa atau tidak ya?” Jangan merendahkan diri sendiri dengan menganggap kamu tidak mampu. Hilangkan label (cap) negatif yang menghambat rasa percaya dirimu tumbuh. Yakinlah kamu bisa!

    Lalu katamu, “bagaimana kalau saya dianggap sombong atau pamer tulisan?”

    Ingat, percaya diri dengan sombong, sangat jauh berbeda. percaya diri (self-confidence) adalah sejauh mana kamu memiliki keyakinan atas kemampuanmu disertai aksi nyata. Sementara sombong atau pamer (over confidence) adalah dorongan negatif dari dalam diri untuk melebih-lebihkan dirimu atau karyamu tanpa disertai aksi nyata atau melampaui yang sesungguhnya, dengan mengecilkan pihak lain dan menunjukkan kamulah yang paling hebat. 

    Jadi penulis jangan sombong, tapi harus percaya diri! 

    Dalam dunia kepenulisan, mentalitas menentukan kemampuan diri. Mentalitas yang bagus sangat penting bagi ketahanan seorang penulis, lho! Itu diperlukan saat kamu menemui hambatan, sekaligus untuk menunjukkan kemampuan diri ketika menjalani proses menulis. Selain percaya diri, kamu juga perlu punya mental gemar belajar, sportif, punya kepribadian terbuka, punya ketertarikan pada banyak hal, jeli/peka dalam melihat sesuatu, tidak mudah berpuas diri, serta penuh penghargaan pada karya tulis siapa pun.

    Katamu lagi, “lalu bagaimana caranya agar saya pede menunjukkan karya saya?”

    Oke, pertama, kamu bangun dulu kemauan dalam diri untuk mengeluarkan naskah-naskahmu dari “gua penyimpanan”. Ingat, kamu tidak akan tahu indahnya suara seruling tanpa ditiup. Kamu tidak akan tahu berdentingnya suara gitar tanpa dipetik. Kamu pun tidak akan tahu baik-buruknya naskahmu tanpa pernah dipublikasikan. 

    Kedua, kamu minta penilaian orang terdekat dulu; keluarga atau teman. Biarkan orang tersebut membaca naskahmu hingga tuntas. Setelah itu, kamu minta pendapatnya. Kamu dengarkan penilaiannya dan jangan sibuk protes, apalagi sampai nangis tersedu-sedu gara-gara naskahmu dianggap “tidak mutu”, “bikin ngantuk” dan “nyampah”.

    Pahamilah bahwa kamu sedang ‘mengetes’ rasa percaya dirimu. Dengan kamu berani mengeluarkan naskahmu dan menunjukkannya pada orang tersebut, itu sudah sebuah tindakan nyata yang patut mendapat apresiasi. Kemajuan langkahmu. Ternyata, kamu bisa, berani dan percaya diri!

    Sementara penilaian dari orang tersebut, jangan kamu jadikan standar, hingga membuatmu sombong dan berpuas diri ketika dipuji. Atau membuatmu terpuruk hingga jurang terdalam ketika dikritik. Cukuplah kamu anggap sebagai cambuk sekaligus penyemangat untuk lebih percaya diri lagi. 

    Ketiga, coba deh minta penilaian penulis yang kamu kenal. Lebih bagus lagi kepada penulis yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan agar penilaian yang diberikan padamu benar-benar obyektif. Penulis yang sudah matang, akan menilai karyamu secara matang pula (disertai ilmu), bukan asal-asalan. Biarkan naskahmu dibedah hingga isi “perutnya” terburai dan “berdarah-darah”. Pejamkan saja matamu, tapi buka lebar telingamu. Kamu dengarkan baik-baik penilaiannya dan jadikan bahan perbaikan tulisanmu selanjutnya. 

    So, satu hal yang perlu kamu ingat. Sedekat apa pun hubungan secara personal dengan penulis yang sudah pengalaman tadi, jangan pernah jumawa dan berpuas diri. Apalagi terpaku pada penulis itu saja—meskipun dia sukarela mengedit naskah pertamamu dan mengorbitkannya. Kamu adalah kamu. Yang dinilai orang, bukan seberapa dekat kamu dengan penulis terkenal, tapi yang dilihat adalah produktifitas dan kualitas karyamu. Ada ribuan penulis di luar sana yang bisa kamu serap ilmunya dan mintai penilaian. Tingkat kemampuan para penulis itu pasti berbeda dan hasil penilaian terhadap karyamu juga pasti berbeda. Itu yang membuat ilmu menulismu berkembang dan tingkat kepercayaan dirimu bertambah!

    Keempat, ikutkan naskahmu dalam lomba kepenulisan. Kamu perlu menguji kualitas tulisanmu melalui ajang lomba. Jangan lupa, sebelum naskahmu dikirim, perhatikan baik-baik aturan lombanya. Jangan sampai aturannya A dan kamu kirim B. Tidak nyambung. Sudah pasti naskahmu tidak masuk seleksi. Panitia bisa bertindak “kejam” dan menyingkirkan naskah yang tidak sesuai aturan lomba. Capek-capek kamu nulis dan kirim, tapi tidak masuk seleksi, sementara saat pengumuman kamu berdebar-debar menunggu. Bahkan berharap, kamulah pemenangnya. Sangat rugi bukan?

    Nah, cermati syarat lombanya. Kamu lihat syarat peserta; siapa saja yang berhak mengikuti lomba itu. Jangan karena semangatmu ikut lomba sedang menggebu, lantas semua lomba kamu ikuti tanpa melihat syarat pesertanya. Lombanya untuk siswa SD, eh... kamu mahasiswa koq ikut ngirim? Malu-maluin. “Congok”. Panitia pun pasti tertawa melihat naskahmu yang “nyasar” itu. 

    Berikutnya kamu cermati persyaratan isi karangan yang meliputi tema. Kuasai tema lomba dengan baik dan banyak membaca sebelum kamu tulis. Meskipun tema lomba tersebut sudah umum (pasaran), coba kamu olah tema itu dengan tidak biasa. Buat tulisan unik, menarik, berciri khas. Jangan mentang-mentang naskahmu bejibun di “gua penyimpanan” terus kamu asal kirim tanpa melihat tema. Misal, tema lomba tentang kekayaan alam Indonesia, eh... kamu kirim tema cinta di kalangan remaja. Tidak lucu, bukan?

    Kamu juga perlu memerhatikan syarat pengiriman; jumlah halaman, ukuran kertas, ukuran huruf, jenis huruf dan spasi. Jangan anggap sepele aturan ini dan kamu asal-asalan buat aturan sendiri. Mentang-mentang suka model huruf Arial, lantas kamu “keukeuh” pakai model huruf itu. Padahal aturan lombanya harus pakai model huruf Times New Roman. Wih, aturan lomba ke barat, eh... kamu ke timur.

    Hal lainnya, jangan lupa sertakan surat pengantar. Cukup setengah halaman atau satu halaman saja. Jangan bertele-tele! Ingat, ini surat pengantar lomba, bukan curhat. Kamu tuliskan identitasmu, tujuan mengirim naskah, dan pernyataan bahwa naskahmu asli tulisan sendiri serta belum pernah dipublikasikan di media mana pun. Surat pengantar adalah bahasa kesantunan seorang penulis. Tidak “ujug-ujug” naskah masuk meja panitia tanpa prakata. Ibarat masuk ke rumah orang, perlu tatakrama; ucap salam dulu. Begitu pun dengan mengirim karya. Surat pengantar itu adalah ucapan salammu. 

    Nah, jangan suka mengirim naskah lomba “mepet” deadline. Kalau kamu kirim lewat pos, kamu harus memperhitungkan waktu sampainya naskahmu di meja panitia. Kirim jauh-jauh hari. Andai alamat yang kamu tulis itu salah/tidak lengkap dan kirimanmu dikembalikan Pak Pos, kamu masih punya waktu memperbaiki dan kirim ulang. Kalau panitia minta naskahnya dikirim via email, minimal seminggu sebelum deadline sudah kamu kirim. Bisa jadi naskahmu tidak masuk akibat jaringan internet yang kurang bagus. Kalau jauh-jauh hari, kamu masih punya waktu kirim ulang. So, mulailah teliti dan cermat. 

    Setelah semua persyaratan lombamu sesuai dan sudah masuk meja panitia, jangan kamu pikirkan lagi. Apalagi sampai tiap hari rewel nelepon panitia. Tunggulah dengan sabar hingga pengumuman. Optimis kamu menang. Kalau toh tidak menang, tidak perlu ngambek atau mencerca juri. Tidak menang lomba bukan berarti tulisanmu jelek, hanya saja tidak sesuai kriteria juri. Tetaplah semangat dan nulis lagi. Keberanianmu mengirimkan naskah untuk lomba, itu sudah kemajuan langkahmu. Pertanda kamu makin percaya diri!

    Kelima, kirim naskahmu ke media. Sama seperti lomba, kamu harus mencermati aturannya. Jangan malas membaca aturan tiap media, sebab itu yang wajib kamu ikuti. So, media itu bukan siapa-siapamu, jangan sok minta dimaklumi dan bersikap mengentengkan. Naskahmu tidak terbit-terbit? No problem, tulis lagi dan kirim lagi. Tahan banting saja!

    Kelima jurus di atas bisa kamu terapkan untuk ‘mengetes’ rasa percaya dirimu. Mungkin temanmu punya jurus tambahan yang lebih oke, tidak ada salahnya kamu coba. Sekali saja naskahmu menang lomba, atau terbit di media, atau diterbitkan jadi buku, kamu akan ketagihan mempublikasikan karyamu. Yakin deh, tidak minder lagi. 

    Keren, bukan? So, keluarkan “harta karun” naskahmu sekarang juga! (Aliya Nurlela, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Terbitkan Tulisanmu, Percaya Dirilah! Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top