• Info Terkini

    Senin, 10 Agustus 2015

    Tidak Semua Orang Punya Selera Sama

    NET
    Galau. Itu lagi kamu rasakan. Sumbernya, kamu ragu, jika tulisanmu terbit tapi tak mendapat sambutan pembaca. Kamu takut tulisanmu dikatakan jelek, tidak bermutu. 

    Tubuhmu berkeringat. Dingin. Lalu, kamu pun mengurung diri. Padahal, tulisanmu sudah jadi, kamu telah melakukan editing berkali-kali, tapi phobia itu tak hilang juga. 

    Sebenarnya, kamu aneh. Tulisan belum terbit sudah takut duluan. Seharusnya, ketakutan itu muncul setelah tulisanmu terbit. Jika terbit, bolehlah agak was-was sedikit. Ini terbit saja belum, kamu sudah nggak pe-de. 

    Berjuanglah dulu. Tembus media atau penerbit. Tak perlu risau publik menilai negatif. Sebanyak-banyak orang menilai buruk, pasti ada sebagian orang yang menilai baik. Itulah hidup, serba berimbang. Wujud keadilan Tuhan.

    Apa kamu tahu, buku-buku yang bertengger di rak toko buku itu pasti terjual semua? Tidak selalu. Jangan kamu sangka, tulisan-tulisan yang terbit di koran itu dibaca seluruhnya oleh pembaca. Tidak. Semua akan disambut plus-minus. Atau bahkan tidak dipedulikan sama sekali. Begitupun jika tulisanmu terbit nanti.

    Yang perlu kamu pahami, tidak semua orang punya selera sama. Masing-masing seleranya berbeda. Ibarat makanan, tidak semua orang suka. Si A suka makanan ini, Si B suka makanan itu. Si C suka makanan lainnya. Yang pasti, tidak boleh memaksakan kehendak untuk menyukai satu makanan kepada orang lain yang tidak suka. Dipaksakan juga, muntah dia.

    Begitupun menulis. Jika tulisanmu yang terbit nanti dikritik orang, santai saja. Tak perlu risau apalagi galau. Sebab, tidak semua pembaca suka dengan bacaannya. Wajar. Isi kepala orang beda-beda. Tergantung tingkat pemahamannya. Tergantung pula latar belakangnya. Motif orang bermacam-macam.

    “Tapi, bagaimana kalau tulisan saya yang terbit itu benar-benar dianggap orang tidak bagus? Tidak bermutu?” Sanggahmu suatu hari.

    Lagi-lagi, kamu mendengar kata orang. Kamu terlalu banyak memikirkan orang lain. Hmm, kamu baik sekali. Padahal, orang lain belum tentu memikirkan kamu. 

    “Maksudnya?” Kamu bingung.

    Ya, mungkin saja orang itu mengatakan tulisanmu tidak bagus karena dia ingin menjatuhkan namamu. Atau dia takut kamu menjadi saingannya. Atau dia iri melihat produktivitasmu. Dan, bermacam motif lain. Tahu tidak, kritik positif itu adalah kritik yang membangun, bukan menjatuhkan. Jika temanmu mengkritik tulisanmu, dia akan menunjukkan kelemahan-kelemahan tulisanmu. Tapi, selain itu, dia juga memberi tahu bagian-bagian mana yang harus kamu perbaiki untuk penyempurnaan tulisanmu di masa mendatang. Dia menyampaikannya dengan bahasa santun, ibarat seorang kakak kepada adiknya, atau ibarat orangtua kepada anaknya. Bukan full kritik saja, tanpa solusi. Apalagi sampai menyalah-nyalahkan kamu dengan bahasa kasar, mencaci maki. Seolah dia saja yang benar.

    Jadi, jangan takut tulisanmu dikatakan tidak bagus atau tidak bermutu. Jangan pusingkan itu. Tugasmu telah selesai; menulis. Dan terus saja kamu menulis. Lalu kirim ke media massa atau penerbit.

    Mutu hanya soal proses. Dan, proses itu sedang kamu jalani. Jika tulisan pertamamu belum dianggap bermutu, kamu masih punya kesempatan menciptakan mutu lebih baik pada tulisan kedua, begitu seterusnya. Jangan sekali orang bilang tulisanmu nggak mutu, lalu kamu galau tulisan-tulisanmu berikutnya akan menjadi tidak bermutu juga. Ya tidak begitu. Apakah setelah kamu tamat TK lalu masuk SD kamu masih dikatakan orang murid TK juga? Tentu tidak bukan? Kamu sudah naik kelas, bacaanmu sudah beda. Gaya tulisanmu juga pasti beda.

    Seiring bertambah usia akan bertambah pula ilmu dan pengalaman. Kalau dulu tulisanmu masih banyak kesalahan ketik, sekarang kamu sudah berhati-hati dan sangat teliti terhadap naskahmu. Jika dulu bahasamu alay, sekarang kamu sudah terbiasa menulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kamu semakin peduli kamus. Itulah yang namanya proses. Proses itu akan menyempurnakan mutu tulisanmu. 

    Jadi, menulislah, lalu terbitkan. Sebab, bagaimana bicara mutu kalau tulisanmu tak pernah terbit? (Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Tidak Semua Orang Punya Selera Sama Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top