Skip to main content

Tidak Semua Orang Punya Selera Sama

NET
Galau. Itu lagi kamu rasakan. Sumbernya, kamu ragu, jika tulisanmu terbit tapi tak mendapat sambutan pembaca. Kamu takut tulisanmu dikatakan jelek, tidak bermutu. 

Tubuhmu berkeringat. Dingin. Lalu, kamu pun mengurung diri. Padahal, tulisanmu sudah jadi, kamu telah melakukan editing berkali-kali, tapi phobia itu tak hilang juga. 

Sebenarnya, kamu aneh. Tulisan belum terbit sudah takut duluan. Seharusnya, ketakutan itu muncul setelah tulisanmu terbit. Jika terbit, bolehlah agak was-was sedikit. Ini terbit saja belum, kamu sudah nggak pe-de. 

Berjuanglah dulu. Tembus media atau penerbit. Tak perlu risau publik menilai negatif. Sebanyak-banyak orang menilai buruk, pasti ada sebagian orang yang menilai baik. Itulah hidup, serba berimbang. Wujud keadilan Tuhan.

Apa kamu tahu, buku-buku yang bertengger di rak toko buku itu pasti terjual semua? Tidak selalu. Jangan kamu sangka, tulisan-tulisan yang terbit di koran itu dibaca seluruhnya oleh pembaca. Tidak. Semua akan disambut plus-minus. Atau bahkan tidak dipedulikan sama sekali. Begitupun jika tulisanmu terbit nanti.

Yang perlu kamu pahami, tidak semua orang punya selera sama. Masing-masing seleranya berbeda. Ibarat makanan, tidak semua orang suka. Si A suka makanan ini, Si B suka makanan itu. Si C suka makanan lainnya. Yang pasti, tidak boleh memaksakan kehendak untuk menyukai satu makanan kepada orang lain yang tidak suka. Dipaksakan juga, muntah dia.

Begitupun menulis. Jika tulisanmu yang terbit nanti dikritik orang, santai saja. Tak perlu risau apalagi galau. Sebab, tidak semua pembaca suka dengan bacaannya. Wajar. Isi kepala orang beda-beda. Tergantung tingkat pemahamannya. Tergantung pula latar belakangnya. Motif orang bermacam-macam.

“Tapi, bagaimana kalau tulisan saya yang terbit itu benar-benar dianggap orang tidak bagus? Tidak bermutu?” Sanggahmu suatu hari.

Lagi-lagi, kamu mendengar kata orang. Kamu terlalu banyak memikirkan orang lain. Hmm, kamu baik sekali. Padahal, orang lain belum tentu memikirkan kamu. 

“Maksudnya?” Kamu bingung.

Ya, mungkin saja orang itu mengatakan tulisanmu tidak bagus karena dia ingin menjatuhkan namamu. Atau dia takut kamu menjadi saingannya. Atau dia iri melihat produktivitasmu. Dan, bermacam motif lain. Tahu tidak, kritik positif itu adalah kritik yang membangun, bukan menjatuhkan. Jika temanmu mengkritik tulisanmu, dia akan menunjukkan kelemahan-kelemahan tulisanmu. Tapi, selain itu, dia juga memberi tahu bagian-bagian mana yang harus kamu perbaiki untuk penyempurnaan tulisanmu di masa mendatang. Dia menyampaikannya dengan bahasa santun, ibarat seorang kakak kepada adiknya, atau ibarat orangtua kepada anaknya. Bukan full kritik saja, tanpa solusi. Apalagi sampai menyalah-nyalahkan kamu dengan bahasa kasar, mencaci maki. Seolah dia saja yang benar.

Jadi, jangan takut tulisanmu dikatakan tidak bagus atau tidak bermutu. Jangan pusingkan itu. Tugasmu telah selesai; menulis. Dan terus saja kamu menulis. Lalu kirim ke media massa atau penerbit.

Mutu hanya soal proses. Dan, proses itu sedang kamu jalani. Jika tulisan pertamamu belum dianggap bermutu, kamu masih punya kesempatan menciptakan mutu lebih baik pada tulisan kedua, begitu seterusnya. Jangan sekali orang bilang tulisanmu nggak mutu, lalu kamu galau tulisan-tulisanmu berikutnya akan menjadi tidak bermutu juga. Ya tidak begitu. Apakah setelah kamu tamat TK lalu masuk SD kamu masih dikatakan orang murid TK juga? Tentu tidak bukan? Kamu sudah naik kelas, bacaanmu sudah beda. Gaya tulisanmu juga pasti beda.

Seiring bertambah usia akan bertambah pula ilmu dan pengalaman. Kalau dulu tulisanmu masih banyak kesalahan ketik, sekarang kamu sudah berhati-hati dan sangat teliti terhadap naskahmu. Jika dulu bahasamu alay, sekarang kamu sudah terbiasa menulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kamu semakin peduli kamus. Itulah yang namanya proses. Proses itu akan menyempurnakan mutu tulisanmu. 

Jadi, menulislah, lalu terbitkan. Sebab, bagaimana bicara mutu kalau tulisanmu tak pernah terbit? (Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia)

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…