• Info Terkini

    Saturday, August 1, 2015

    Yakinlah, Kamu Tidak Keliru Memilih Jadi Penulis

    NET
    Sekali lagi, soal kurangnya support dari keluarga, terutama orangtua, terkait bukumu yang baru terbit, jangan ambil pusing. Sebab, kalau kamu pusing, maka semangatmu akan luntur. Tekad dan mimpimu akan terkubur. Kalau itu terus berlarut, kamu bisa dihinggapi penyakit ‘3S’; Stres, Stroke, Stop!

    ‘Stres’ membuat pikiranmu rusak. Bawaannya marah saja. Wajah cemberut. Umur baru 20 tahun tapi wajah sudah seperti orang umur 50 tahun. ‘Stroke’ sudah pasti membuat dirimu tidak bisa melakukan apa-apa. Bergerak susah, bicara payah. Terbaring kaku-beku di ranjang. Malah menyusahkan keluargamu. ‘Stop’, ini yang lebih parah. Kamu sudah tidak ada di dunia lagi. Menjadi warga alam baka. Kamu tidak akan pernah menikmati hasil suksesmu menerbitkan buku; dikenal, mendapat finansial, berkesempatan keliling dunia, dan berbagi manfaat kepada banyak orang di panggung-panggung publik.

    Pendeknya, segala ujian dan cobaan tak perlu kamu ambil pusing. Nikmati saja sambil makan bakso. So, mereka yang mengujimu hanya ingin tahu seberapa kuat kamu menghadapi ujian itu. 

    Kamu anak sekolahan bukan? Tentu kamu pernah mengikuti ujian kenaikan kelas. Kalau kamu tidak sungguh-sungguh belajar, bermain-main, atau malah ‘cabut’ di saat kawan-kawanmu ujian, alamat nilaimu nol, bahkan kamu bisa tinggal kelas. Kalau sudah tinggal kelas, baru kamu menyesal, minder, malu, dan memutuskan keluar sekolah lalu mencari sekolah baru. Untung-untung di sekolah baru itu kamu bisa naik kelas, itu pun sambil memelas.

    Soal ujian yang sumbernya dari keluarga, saya juga pernah mengalaminya—tentu banyak penulis lain yang juga mengalaminya. Ketika itu saya masih kelas 2 SMA, sedangkan menulis sudah saya lakoni sejak kelas 1 SMP. Ujian datang dari Ibu saya. Suara mesin tik pinjaman yang berisik ‘tak-tik-tuk’ membuat telinga Ibu terusik. Sekali-dua Ibu menghardik, ‘berhentilah mengetik-ngetik itu. Apa gunanya? Ada dapat uang?” Kalimat itu berulang kali dikatakan Ibu kepada saya dengan wajah tidak suka. Tapi saya terus saja mengetik, sebab di zaman saya hanya ada mesin tik (kamu lebih untung hidup di zaman sekarang, ada laptop yang suaranya tak berisik). Suatu hari, takdir Allah terjadi. Ayah saya sakit lalu meninggal dunia. Disusul ujian berikutnya; Ibu sakit parah, tidak bisa berbuat apa-apa. Dampaknya, ekonomi keluarga lumpuh. Kami terpuruk di dasar jurang kemiskinan. Saya anak tertua, punya adik kecil-kecil; tiga orang.

    Apa akal? Mau tidak mau saya harus berjuang sendirian, menyelamatkan keluarga yang tersisa, jika tidak ingin tinggal nama.

    Setelah keputusan menjadi penulis yang sungguh-sungguh saya jalani—diawali menjadi wartawan di banyak media massa—Ibu baru mengakui, bahwa apa yang saya kerjakan belasan tahun lalu tidak sia-sia. Buktinya, setelah berkeluarga dan sumber penghasilan full saya dapatkan dari menulis, Ibu juga menikmati hasilnya. Ibu tidak bekerja dan sakit Ibu berangsur sembuh.

    Yang pasti, ketika berhadapan dengan orangtua, kamu jangan melawan. Kalau melawan, kamu bakal jadi Malinkundang atau Sampuraga. Bisa dikutuk jadi boneka Doraemon. Jelaskan saja baik-baik, bahwa apa yang kamu tulis itu bermanfaat, ‘moga-moga’ buku kamu yang terbit juga menghasilkan sesuatu, baik materi maupun hal lain yang dapat membuat kedua orangtuamu bangga. Bukankah salah satu cita-citamu ingin membahagiakan kedua orangtua?

    Memang, belum banyak orangtua paham apa manfaat menulis yang dilakukan anak-anaknya, apalagi jika orantuamu bukan penulis. Niat mereka baik juga, agar kamu tidak lalai belajar, kelak mendapatkan pekerjaan seperti mereka harapkan; menjadi dokter, insinyur, pegawai kantor pemerintah, pegawai bank, guru, dosen, pejabat, dan lainnya. Kamu pun dimasukkan ke sekolah-sekolah berbasis eksakta, karena katanya jurusan eksakta itu keren, mencerminkan anak-anak pintar, anak-anak serius yang selalu berkutat dengan rumus. Padahal, jurusan lain juga tak kalah bagus. Itu soal pilihan saja. Tapi yang pasti, apa pun pekerjaanmu nanti, di mana pun kamu sekolah, jika tidak dibarengi dengan aktivitas menulis, agaknya ada yang kurang lengkap dalam hidupmu. Jika kelak kamu menjadi dokter, lalu menulis buku tentang dunia kedokteran, betapa banyak orang lain yang mendapatkan manfaat dari ilmu dan pengalaman yang kamu bagikan tentang dunia medis itu. Misalnya, kamu menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit tertentu yang belum pernah ditulis orang lain. Dampaknya, industri obat baru hasil temuanmu akan tumbuh, pasien-pasien yang menderita sakit itu menjadi sehat kembali. Secara spiritual, kamu sudah menabung amal dan ‘mendapat tiket ke surga’, sebab sudah membantu banyak orang. Bukankah doktrin agama, orang baik kelak akan mendapat tempat yang baik di sisi-Nya?

    Dan contoh lain, jika kamu seorang bidan kandungan, kamu menulis sebuah novel tentang kisah di balik kamar bersalin. Betapa banyak cerita di balik kamar bersalin itu. Ada seorang ibu muda, hamil tua, datang seorang diri ke ruang praktikmu, tanpa ditemani suami. Rupanya, sang suami sedang berada di bilik penjara karena terlibat narkoba. Kamu pun mendengar curhat si ibu muda yang bercerita dengan linangan air mata. Bayi yang dilahirkannya melihat dunia tanpa seorang ayah yang mengazankannya. Sang ibu harus menanggung sendiri biaya persalinan dan biaya kehidupannya dari bekerja sayur di pasar. Ketika dia sakit tak ada keluarga yang menjenguk. Jika itu kamu tulis menjadi novel, orang yang membacanya bisa menangis, apalagi jika si pembaca memiliki kesamaan pengalaman hidup dengan si ibu muda tadi.

    Begitu pula, jika kamu menjadi guru kelak, kamu bisa menulis buku tentang dunia pendidikan. Di ruang kelas, kamu menghadapi banyak murid dengan beragam latar kehidupan keluarganya. Ada yang miskin, ada yang kaya. Dari mereka kamu mendapat banyak inspirasi untuk menulis cerita. Ada anak yang masih berjalan belasan kilometer dari rumahnya ke sekolah, miskin tapi keinginan belajarnya tinggi. Ia tak punya uang jajan, jarang sarapan pagi, bajunya lusuh, hanya satu-satunya di badan. Tak pernah bolos sekolah. Tapi temannya, anak seorang kaya, memiliki semua fasilitas; ke sekolah diantar sedan mewah sang ayah, tapi prestasi belajarnya rendah. Perangainya nakal dan suka bolos di saat jam belajar. Nongkrong di belakang sekolah, merokok, dan narkoba. 

    Kamu bisa membandingkan kisah kehidupan dua muridmu itu, lalu kamu tulis menjadi buku yang menginspirasi semua orangtua di dunia agar mereka memerhatikan kehidupan anak-anaknya. Bahwa, anak-anak tidak sekadar disejahterakan lewat uang, tapi mereka juga butuh perhatian dan kasih sayang, sehingga tidak menjadi anak brokenhome. Kadang, kesibukan orangtua mengabaikan perhatian mereka terhadap anak-anaknya. Lewat bukumu itu, kamu juga bisa mengetuk pintu hati banyak orang, bahwa masih banyak anak-anak kurang mampu yang membutuhkan uluran tangan para dermawan agar pendidikan mereka tidak putus di tengah jalan.

    Pendek kata lagi, kamu tidak akan kekeringan ide untuk membuat buku-buku yang menginspirasi dan dibutuhkan pembaca. Tinggal keahlianmu mengasah kreativitas dan tetap menjaga stabilitas ekonomi, eh, maksudnya menjaga ‘semangat’ agar tak mudah menyerah apalagi sampai meletakkan pena.

    Jadi, teruslah menulis. Jika kamu belum berani menunjukkan karyamu secara terang-terangan kepada mereka (keluarga), tunjukkan saja secara gelap-gelapan—maksudnya, bukumu itu kamu tulis dengan tidak menggunakan nama asli, melainkan memakai nama  pena (samaran). Sampai suatu hari kelak ada televisi nasional yang mengundang kamu tampil di studio mereka, dan di rumah kedua orangtuamu sedang menontonmu di layar kaca. Di saat itu, kedua orangtuamu takjub tidak percaya; mata mereka berkaca-kaca, haru dan bangga. Ternyata, apa yang mereka larang selama ini keliru, dan kamu berhasil membuktikan bahwa hobi menulismu dapat mengharumkan nama keluarga.

    Masih ada kendala lain yang membuatmu risau? (Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Konsultasikan naskah bukumu ke call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Yakinlah, Kamu Tidak Keliru Memilih Jadi Penulis Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top