• Info Terkini

    Wednesday, September 30, 2015

    Bahagia dan Cinta dalam Serpihan Duka

    Singgalang, 27 September 2015
    Judul: Sepasang Hati di Langit Kelabu
    Penulis: 50 Cerpenis
    Penerbit: FAM Publishing
    Jumlah halaman: x + 398 hal
    Ukuran: 14 x 20 cm
    Terbit: Agustus 2015
    ISBN: 978-602-335-062-9
    Harga: Rp55.000,-

    “Sepasang Hati di Langit Kelabu” bercerita tentang seorang wanita bernama Mei yang menderita kanker hati dan divonis dokter, hidupnya tinggal 4 bulan lagi. Mei sempat terpukul dengan vonis tersebut. Kesedihannya makin menjadi ketika seluruh keluarganya jadi bersikap pendiam, ikut sedih, cemas, bahkan mencekokinya dengan berbagai macam obat. Mei merasa telah mati sebelum waktunya. 

    Kesedihan Mei berubah keceriaan ketika lelaki seusianya yang bernama Ray menjadi pasien yang sama di rumah sakit itu. Ray memiliki penyakit yang sama, kanker hati serta mendapat vonis yang sama. Usianya diprediksi tinggal 4 bulan lagi (120 hari). 

    Berangkat dari kesamaan nasib, Mei dan Ray menjadi akrab, bahkan saling menaruh hati. Keduanya saling menyemangati dan berbagi cerita tentang sakit yang diderita. Hingga keduanya memutuskan untuk menikah. Tentu saja ditentang keluarga. Bagaimana mungkin dua orang pasien yang sudah divonis kematian dan dalam perawatan medis, akan menikah? Namun, dengan keyakinan yang kuat serta optimis akan saling menjaga, Mei dan Ray meyakinkan keluarga masing-masing. Keluarga mereka pun luluh dan pernikahan digelar. 

    Setelah pesta pernikahan itu, lagi-lagi Mei dan Ray membuat keluarganya terkejut dan menentang. Mereka hanya ingin hidup berdua, tanpa siapa pun di rumah mungil berlantai dua. Berkat upaya keduanya meyakinkan keluarga masing-masing, kedua mempelai ini diizinkan hidup terpisah dari keluarga. 

    Kehidupan baru sebagai suami-istri pun dimulai, Mei dan Ray mengisi hari-harinya dengan semangat dan keceriaan. Mereka menata rumah secantik mungkin, menghias taman dengan bunga-bunga, menjelajah berbagai kota, yang dibalut dengan cinta dan kasih sayang. 

    Setiap hari, mereka menuliskan impian dan tidak takut bermimpi. Keduanya yakin, hidupnya tidak dibatasi 120 hari. Waktu 4 bulan justru dianggapnya masa bulan madu, yang harus dihabiskan dengan penuh semangat dan cinta. Keduanya hanya membahas kematian di saat semangat sedang kendor, agar semangat itu bangkit kembali. 

    Detik-detik menjelang malam ke-120 sangat menegangkan, keduanya sempat kehilangan semangat dan bersedih. Sedih bukan karena ‘kematian’ yang hampir tiba—sebab setiap makhluq pun akan mati—namun sedih akan terjadinya perpisahan di antara mereka. Meskipun sedih dan optimis akan hidup lebih lama, keduanya ‘pasrah’ dan siap menyongsong saat perpisahan itu. Tuhan masih menyayangi pasangan suami-istri tersebut, keduanya terbangun dalam kondisi masih sehat wal afiat, tersenyum lebar dan masih bisa mengucap kata cinta. 

    Cerpen ini mengandung pesan yang dalam, bahwa vonis dokter bukan akhir segalanya. Segala praduga yang bersumber dari manusia, bukanlah kepastian. Mati-hidup seorang makhluq adalah misteri dan Tuhan saja yang menggenggam catatan-Nya. Tak selayaknya, putusasa dengan sebuah vonis. Justru raga semakin sakit jika meyakini vonis tersebut dan semangat pun meredup. Ujung-ujungnya, si pasien bukan ‘mati’ akibat penyakit, tetapi akibat pikirannya sendiri. 

    Cinta dan kasih sayang yang tulus serta kalimat-kalimat positif adalah penguat dan penyemangat hidup. Sejatinya, hidup untuk dinikmati dan disyukuri. Pada ruang syukur itulah, kebahagiaan yang mendorong kesembuhan akan didapat. Selalu ada bahagia dan cinta dalam serpihan duka seorang hamba. 

    Cerpen berjudul “Mama Kenapa Aku Sendiri?” yang ditulis Ansar Salihin, bercerita tentang kehilangan mama, ayah dan adik. Akibat gempa yang terjadi di daerah itu, Dila yang tinggal terpisah dari keluarganya—karena sedang menuntut ilmu di tempat lain—harus menelan kenyataan pahit. Orang-orang yang dicintainya menjadi korban, mereka tinggal nama. Dila harus hidup sebatangkara dan mengalami kesedihan yang memuncak. Namun, berkat bantuan dan nasehat dari kerabatnya, Dila sadar tidak boleh terpuruk. Ia harus bangkit, semangat menjalani hidup dan membahagiakan orang-orang yang dicintainya melalui doa. 

    Cerpen ini menggugah perasaan. Penulis menyelipkan pesan dalam tulisannya, bahwa seburuk apa pun kejadian yang menimpa, tidak ada kata “putusasa” ataupun kehilangan semangat hidup. Tuhan menguji hamba-Nya sesuai kemampuan dan dibukakan jalan-jalan lain yang sebagai ‘pengganti’ kesedihan si hamba. 

    Cerpen-cerpen lainnya menarik pula untuk dibaca, inspiratif dan mengandung pesan-pesan bermakna. Dalam buku ini terdapat 50 cerpen yang ditulis 50 cerpenis dari berbagai tingkatan usia dan berasal dari berbagai kota. Pembaca akan dimanjakan dengan beragam tema inspiratif, menyentuh, memberikan motivasi, tentang berbagai persoalan di sekitar kita. Buku ini layak menjadi bacaan Anda. 

    Peresensi: Aliya Nurlela, pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bahagia dan Cinta dalam Serpihan Duka Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top