• Info Terkini

    Tuesday, September 8, 2015

    Cerita yang Tak Usang Dimakan Waktu

    Harian Singgalang edisi Minggu, 6 September 2015
    Judul: Cerita dari Waktu ke Waktu
    Penulis: 32 Penulis Nusantara
    Penerbit: FAM Publishing
    Jumlah halaman: x + 268 hal
    Ukuran: 14 x 20 cm
    Terbit: Juli 2015
    ISBN: 978-602-335-053-7
    Harga: Rp35.000,-

    Dongeng merupakan bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian luar biasa,  penuh khayalan (fiksi), dan dianggap oleh masyarakat suatu hal yang tidak benar-benar terjadi. (Wikipedia.org). 

    Dongeng bisa berupa; Mite (cerita hal-hal gaib, seperti dewa, peri, dll), Sage (cerita kepahlawanan, keperkasaan, kesaktian), fabel (cerita binatang), legenda (cerita peristiwa/asal-usul tempat/benda), cerita jenaka (cerita yang menghibur), cerita pelipur lara, cerita perumpamaan ataupun cerita kedaerahan. Apa pun jenis dongengnya, yang pasti harus mengandung pesan-pesan moral karena mayoritas pembacanya adalah anak-anak.

    Setiap orang pasti pernah menyukai dongeng di masa kecil, menjadi bacaan mengasyikkan, hiburan menyegarkan dan menjadi teman pengantar tidur, sebab dongeng selalu akrab dalam kehidupan anak-anak. Namun sayang sekali, minat besar anak-anak pada dongeng tidak diimbangi dengan terbitnya buku-buku baru yang berisi kumpulan dongeng yang menyegarkan, baik dari segi ide dan jalan cerita. Buku-buku dongeng yang banyak beredar sekarang, dominan cetakan ulang dari karya-karya lama.  Jumlahnya terbatas dan sulit ditemukan di pasaran. Jika pun ada, buku-buku tersebut adalah pengulangan dari dongeng-dongeng yang sudah pernah ditulis penulis sebelumnya. Padahal tak dipungkiri, minat anak-anak terhadap dongeng sangat tinggi. 

    Buku ini salah satu yang menjawab minat anak-anak tersebut. Ada 32 cerita yang cocok sekali dibaca oleh anak-anak, atau orangtua sebagai pengantar tidur sang buah hati. Beragam cerita menarik ini diantaranya: Beki si Bebek Pemalas, Putri Bersuara Emas, Peri Bebelacc, Ayam, Musang, dan Polisi Kucing, Akhir Persahabatan Ular, Belut, dan Kadal, Tangisan si Pohon Durian, Monyet yang Rakus, Kesabaran Seekor Ulat, Kelana dan Angsa Berbulu Perak, Katak Pemanggil Hujan, dll. 

    Pesan moral dalam fabel “Beki si Bebek Pemalas” karya Ari Vidianto, mengajarkan pada anak-anak agar tidak menjadi seorang pemalas yang kerjanya hanya tidur-tiduran dan main suruh. Dalam fabel “Monyet yang Rakus” karya Henny Armilawati mengangkat sifat seorang rakus yang tidak pernah puas dengan pemberian, selalu minta dan minta lagi, akhirnya mendapat musibah atas kelakuannya itu. Dalam cerita ini Henny menyelipkan pesan moral, agar manusia selalu bersyukur dengan rezeki yang diterima, berapa pun jumlahnya. 

    Dongeng “Putri Bersuara Emas” yang ditulis Arikmah Akmal mengingatkan kita pada dongeng-dongeng masa lampau yang dominan mengangkat kisah-kisah kerajaan, putri cantik dan pangeran tampan. Jenis dongeng yang sangat disukai anak-anak, sebab cerita seperti ini membuat anak mudah berimajinasi dan negeri dongeng itu seolah nyata. Pesan moral yang disampaikan penulis, untuk tidak bersikap sombong dengan kelebihan yang dimiliki dan menjaga persahabatan yang telah terjalin. 

    Sejumlah penulis kreatif di buku ini menceritakan sendiri cerita-cerita itu dari imajinasi mereka. Mencoba membuat dongeng versi baru, menghidupkan bacaan untuk anak-anak, dan menjadi dongeng sebelum tidur yang bernilai tuntutan. Kelak diceritakan kembali pada anak-cucu. []

    *) Aliya Nurlela, pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Motivator Kepenulisan dan Novelis. Berdomisili di dua kota, Pare dan Malang.

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Cerita yang Tak Usang Dimakan Waktu Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top