• Info Terkini

    Tuesday, September 8, 2015

    Jadi Penulis, Seberapa Kuat Kamu Bertahan?

    NET
    Tidak ada jalan mulus menuju sukses. Begitu kata orang bijak. Kamu, sebagai penulis (pemula), akan menghadapi hal sama. Berbagai rintangan pasti kamu lalui. Ringan-berat kadar rintangan itu ditentukan seberapa kuat kamu bertahan.

    Apa saja rintangan itu? Banyak. Jika dirunut satu persatu, bisa kuliah satu SKS. 

    Rintangan paling umum adalah melawan malas. Malas tak ada obatnya. Jika kamu malas menulis jangan ‘ngimpi’ bakal menjadi penulis sukses. Penulis-penulis yang kamu lihat sukses hari ini, adalah mereka yang sukses melawan malas. Tak ada di antara mereka yang bersantai-santai di saat berkarya. Disiplin kunci utama. Mereka rela menggadai waktu tidur hanya untuk berjaga merampungkan tulisan. Mereka tak sungkan bangun sepagi mungkin guna mengejar target selesainya sebuah naskah. Mereka juga tak enggan melakukan survei berbulan-bulan untuk memperkuat data dan fakta agar ‘jempol’ kualitas tulisannya.

    Tak ada orang sukses karena malas!

    Rintangan berikutnya, kamu dituntut sabar. Sabar salah satu pintu sukses. Kalau tak sabar, apa pun yang kamu kerjakan—tidak hanya menulis—hasilnya kurang baik, terburu-buru. Biasanya, sesuatu yang yang dikerjakan terburu-buru, banyak lemah dan kurangnya. Jadi sabarlah selama proses menulis. 

    Dan, bukan saja di saat menulis kamu harus sabar. Ketika tulisanmu rampung, kamu dituntut sabar melakukan editing, berkali-kali. Sabar menunggu naskahmu dipinang redaktur lalu nongol di surat kabar. Sabar menanti terbitnya bukumu, baik kamu terbitkan secara indie maupun di penerbit mayor. Selain itu, kamu juga harus sabar bukumu dibeli dan dibaca orang atau tidak sama sekali.

    Jika kamu lulus menghadapi rintangan kesabaran ini, kamu akan menjadi penulis yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan kualitas karya-karyamu dari waktu ke waktu akan semakin teruji.

    Rintangan lain, kamu bakal dihadapkan kenyataan, bahwa dalam hidupmu tidak selalu kamu temukan orang-orang baik di sekitarmu, yang secara jujur memberikan apresiasi atas karya yang kamu tulis. Kamu akan menemukan orang-orang yang bakal menguji mentalmu, mengkritik karyamu habis-habisan, menguliti dan membantai tulisanmu, dicari-cari kelemahannya, mengabaikan kelebihan dan manfaat karyamu. Bisa jadi kamu dicemooh, nama baikmu dicemarkan, kamu menjadi gunjingan mereka, dan segala hal keburukanmu menjadi menu gosip kelompok mereka. Bukan saja bersumber dari luar, rintangan satu ini juga bisa datang dari orang-orang terdekatmu, yaitu keluarga.

    Seandainya kamu lemah, satu-dua kali dikritik merah muka, kamu bakal spontan mengibarkan bendera putih sebagai lambang kekalahan. Kamu langsung balik kanan dari dunia kepenulisan, mencari karir lain yang minus kritikan dan untung-untung diberikan pujian.

    Lumrahnya, setiap orang ingin dipuji dan diapresiasi karya-karyanya. Tapi kamu lupa, di bawah matahari tidak ada yang benar-benar sempurna. Setiap karya punya kekurangan, sehebat apa pun karya itu. 

    Menulis begitu pula, tidak ada tulisan yang betul-betul mengagumkan dan diaminkan semua orang yang membacanya, pasti ada saja orang (pembaca) yang menganggap tulisan itu mempunyai kelemahan atau tidak disukai. Nah, di saat kamu dikritik seperti itu, tulisanmu dianggap tidak bagus, kurang bermutu, dan bermacam sebutan lain yang menjatuhkan namamu, jangan bersedih. Terima saja dengan senyum. Buktikan pada orang-orang yang tidak menyukai karyamu—bahkan mungkin tidak menyukai dirimu—bahwa kamu tidak akan berhenti menulis. Bisa jadi, kritikan mereka benar, walau mungkin cara menyampaikannya salah sehingga membuat kamu berkecil hati. Seandainya yang mereka sampaikan tidak benar, kamu sudah tahu siapa kawan dan siapa lawan. Kawan akan memotivasimu dengan masukan-masukan yang bersifat membangun, sementara lawan akan menjatuhkanmu. Ketika kamu benar-benar sudah jatuh, bahkan sampai hilang dari peredaran, di situlah lawanmu menang dan bertepuk tangan. Jika itu terjadi, sangat kasihan dirimu.

    Jadi, jangan pernah lemah menghadapi rintangan-rintangan itu. Nikmati saja. Di balik rintangan pasti ada hikmah. Seperti makan nasi, tak enak jika tanpa lauk-pauknya. (Muhammad Subhan, Pegiat FAM Indonesia)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Jadi Penulis, Seberapa Kuat Kamu Bertahan? Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top