• Info Terkini

    Wednesday, September 9, 2015

    Kelingking yang Saling Mengait

    Harian Singgalang, Minggu, 6 September 2015
    Judul: Kelingking Persahabatan
    Penulis: 23 Penulis Indonesia
    Penerbit: FAM Publishing
    Jumlah halaman: 164 hal
    Ukuran: 14 x 20 cm
    Terbit: Maret 2015
    ISBN: 978-602-7956-92-6
    Harga: Rp32.000,-
    Resensiator: Aliya Nurlela

    Persahabatan di masa kanak-kanak begitu indah, menyenangkan dan membekas diingatan. Saat bersama-sama berangkat ke sekolah—yang terkadang perjalanan itu perlu perjuangan—harus melewati jembatan gantung yang sudah rapuh, menyeberang sungai yang berair deras, menuruni lembah serta jalanan berbatu. Namun satu hal yang menguatkan tekad, adalah semangat meraih cita-cita yang terus membara. 

    Seperti persahabatan antara Ratna dan ratih yang sudah terjalin sejak umur dua tahun, dalam cerpen “Kelingking Persahabatan” karya Anggraini Hilda Contezha. Keduanya tumbuh bersama. Ratih anak buruh tani yang sudah tua. Dia selalu merasa iba, setiap kali melihat ayahnya bekerja di sawah. Ratih ingin sekali membantu, namun ayahnya selalu melarang. Ayah Ratih begitu sayang pada anaknya, tidak ingin sang anak ikut merasakan kesulitan. Sementara Ratna, ia sahabat baik Ratih. Meski Ratih seorang anak buruh tani, Ratna tidak pernah mengejeknya. Ratna sangat menyayangi Ratih, selalu bahu-membahu dalam kesulitan dan menjadi sahabat yang selalu menghibur. Keduanya pun berikrar untuk bersahabat sampai kapan pun dalam suka dan duka. Jari kelingking keduanya saling mengait.

    Lain halnya cerpen berjudul “Karena Kita Sama” yang ditulis Eko Prasetyo. Tema yang diangkat soal bully di sekolah, yang faktanya sering terjadi. Tokoh Dodo yang berkulit hitam (gelap), sering menjadi bahan ejekan teman-temannya, dengan sebutan “Si Item”. Panggilan itu membuat Dodo sedih dan minder, bahkan pernah berniat mogok sekolah. Namun ibu dan kedua sahabatnya selalu meyakinkan Dodo untuk mengabaikan ejekan tersebut. Dodo makin sedih, ketika kekalahan timnya dalam bermain bola ditimpakan padanya.  

    “Ini gara-gara Si Item!” Begitulah ungkapan kekesalan salah satu teman Dodo. Kekalahan itu dianggap kesialan Dodo yang berkulit hitam. Otomatis hal ini membuat Dodo terpuruk, bahkan menyesali penciptaan kulitnya, “mengapa harus berkulit hitam?”

    Ribut dan Waidi teman baiknya, tak lelah menghibur. Keduanya mengajak Dodo menunaikan salat asar. Ribut berujar, ”Di deretan saf salat tadi, banyak jamaahnya. Jika kita sudah menghadap kiblat dan berdoa kepada Allah, semua sama di hadapan-Nya. Allah tidak memandang jabatan dan pangkat seseorang. Allah juga tidak melihat warna kulit seseorang. Sebab, manusia yang paling mulia di hadapan-Nya adalah orang yang paling bertakwa,” tegas Ribut lagi. Berkat nasihat dari kedua sahabatnya, Dodo merasa tenang dan merasa tidak sendiri. Ternyata, masih ada sahabat yang tulus dan berhati mulia. Inilah sahabat sejati, sahabat yang sesungguhnya. 

    Cerpen ini inspiratif dan sarat pesan moral. Cerpen-cerpen lainnya tak kalah menarik untuk dibaca, serta bernilai tuntunan. 23 penulis di buku ini mencatatkan persahabatan mereka di masa kecil, termasuk cita-cita, kesukaan, masa-masa sekolah dan suka-duka yang mewarnai kehidupan anak-anak.

    Di media cetak porsi cerita anak sedikit sekali, padahal anak-anak memerlukan bacaan sesuai dunia mereka. Terbitnya buku ini setidaknya melepaskan dahaga anak-anak Indonesia akan sumber bacaan yang berkualitas. Buku ini layak dibaca oleh anak-anak dan para orangtua. Sangat inspiratif dan mendidik.[]

    *) Aliya Nurlela, novelis dan pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kelingking yang Saling Mengait Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top