• Info Terkini

    Jumat, 11 September 2015

    ‘Senjata’ Ampuh Versi Bahasa Surat

    NET
    Bagi kamu generasi tahun 2000-an, bahasa surat mungkin sedikit terkesan asing. Maklum, kamu lahir di zaman teknologi yang sudah berkembang pesat dan surat-menyurat sudah mulai ditinggalkan. Orang sudah beralih ke media lain, seperti; email dan facebook. Tapi, bukan berarti surat-menyurat menjadi punah dari muka bumi alias tidak dipakai lagi. Surat-menyurat masih tetap dipakai lho!

    Dulu, generasi sebelum kamu yang pernah merasakan masa bersurat-suratan sangat paham betul, seperti apa berkesannya bahasa surat. Sangat berbeda dengan bahasa komunikasi yang menggunakan media digital—yang lebih cenderung to the point. Misal saja, bahasa komunikasi di facebook atau lewat sms. Kamu pasti tahu, betapa mudahnya seseorang menghubungi kamu, berkenalan, berkirim pesan—baik pesan serius atau tidak—dengan tidak memerhatikan detail setiap kata yang ditulisnya. Banyak kata yang ditulis tidak utuh (alias disingkat) atau tanda baca yang ganda, serta EYD yang berantakan. Yup, pasti kamu tahu itu deh! Pastinya kamu juga melakukan hal yang sama ketika berkirim pesan ke temanmu melalui media digital. 

    Bahasa surat mengajarkan kita cara menulis yang baik dan benar, lebih berhati-hati, lebih santun, dan cenderung untuk urusan yang serius. Kamu bisa baca deh surat-surat yang kamu terima dan bandingkan dengan bahasa pesan yang kamu terima melalui media digital. Pasti beda! 

    Generasi sebelum kamu, menjadikan surat sebagai media komunikasi jarak jauh; saling berkirim pesan dengan orangtua, saudara, sahabat atau kenalan. Pesan melalui surat lebih cenderung santun, diawali pembukaan—yang berupa doa atau bertanya kabar—lalu masuk inti pesan dan terakhir penutup. Di bawah surat tertulis nama dan tandatangan pengirim. Jelas pengirimnya, jelas isinya. Pada masa itu, surat dikirim melalui jasa pos. Tak heran kalau generasi dulu yang seumuranmu (waktu itu) sangat suka mengoleksi prangko dan menanti-nanti Pak Pos datang. Maklum, hanya lewat Pak Pos surat itu dibawa. 

    Kamu bisa bayangkan deh, betapa sabarnya generasi muda di masa itu (he...he). Untuk menunggu satu balasan pesan saja, perlu waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Nah, tapi ada kelebihannya lho, mereka berhati-hati dalam menulis dan kalau tidak penting-penting amat, tidak nulis surat. Jangan heran, kalau banyak anak muda yang tiba-tiba menjelma jadi ‘pujangga’ dan ‘berlomba’ menulis rangkaian kalimat memikat demi mendapatkan tambatan hati. 

    Kenapa begitu? Karena rangkaian kalimat dalam bahasa surat, sangat berpengaruh. Sekali lagi, belum ada media lain untuk mengirim pesan lewat tulisan. Jadi, ‘mau-tidak mau’ harus bisa menulis surat. Otomatis, tulisan tangan pun akan dijaga agar tidak amburadul alias acak-acakan dan mengecewakan si penerima surat. Yup, berkat kebiasaan menulis surat yang baik atau membaca surat-surat itu, banyak kelebihan yang didapat. Salah satunya, kamu jadi terbiasa nulis yang baik (tidak asal); memerhatikan EYD, bahasa yang digunakan, serta isi pesan yang bisa dipahami maksudnya. Secara tidak langsung, bahasa surat bisa dijadikan ‘senjata’ untuk berkirim pesan. 

    Cerita sedikit ya, dulu waktu saya masih remaja pernah di’kejar-kejar’ preman kampung yang jatuh cinta. Sayang sekali, ketika cinta ditolak anjing pun menyalak. Berbagai cara ia lakukan, termasuk memanfaatkan anjing peliharaannya untuk mengejar saya sepulang sekolah. Wih--saya gadis belia yang tidak pandai berlari apalagi beladiri--terpaksa waktu itu lari terbirit-birit mengerahkan segenap kekuatan hingga terkapar pinggir selokan dalam keadaan sekujur tubuh yang terasa ‘remuk.’ Tapi untungnya selamat, tak terjadi apa pun. Untuk menghentikan ulah sang preman itu, saya berkirim surat. Intinya, saya tidak memiliki kekuatan lain untuk menghentikan aksinya dan tulisanlah wakilnya. Eh, ternyata surat saya dibaca dan singkat cerita si preman itu datang meminta maaf. Saya makin yakin, kalau tulisan bisa dijadikan ‘senjata.’ 

    Cerita lainnya, tentang bundel surat cinta. Dulu masa remaja, saya pernah mengoleksi surat cinta, lalu dibundel dengan sampul buku tulis yang sudah tidak terpakai. Dari luar kelihatan buku pelajaran, tapi isinya surat-surat cinta lho (he..he). Sebelumnya saya tidak menghargai surat-surat yang datang, maklumlah surat pertama diterima waktu kelas 3 sekolah dasar. Bayangkan, anak yang baru lahir kemarin sore sudah dapat surat cinta! Bukannya bahagia, saya malah tersinggung, merasa terhina dan ujung-ujungnya menangis. Surat-surat itu secara ‘ekstrem’, dihanyutkan di selokan, dikubur di kebun singkong atau dilempar ke perapian. Jangankan dibalas, dikoleksi pun tidak!

    Namun, seiring bertambahnya usia, saya belajar menghargai surat. Saya kira, surat adalah sebuah karya yang patut diapresiasi. Mungkin saja si penulisnya ‘semedi’ berminggu-minggu demi menyelesaikan satu surat. Harapannya, surat itu dibaca, bukan dimusnahkan. Oke, saya punya ide membundelnya agar rapi dan bisa dibaca sewaktu-waktu. Meskipun tidak semua surat saya balas, apalagi ‘diamini’ permintaannya. Berkat surat-surat yang berasal dari orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, gaya tulisan berbeda, bentuk tulisan tangan yang berbeda, saya belajar, mencermati dan memahami sebuah tulisan. Ada surat yang renyah, enak dibaca, mudah dipahami maksudnya, tapi tulisan tangannya sulit dibaca. Ada juga yang sebaliknya, tulisan tangannya bagus, rapi, menarik tapi isinya berbelit dan sulit dimengerti. Banyak juga yang pandai menuliskan maksud hatinya diimbangi dengan  tulisan tangan yang rapi. Dari keragaman surat tersebut, saya belajar menulis. Waktu itu saya merasa jadi seorang editor sekaligus redaktur sebuah majalah yang sedang menyeleksi surat pembaca (he...he). 

    Masih banyak sih cerita saya lainnya tentang surat yang dijadikan media belajar menulis, sekaligus ‘senjata’ tapi...kalau nulis panjang-panjang, nanti kamu bosan deh! Intinya, kamu yang hidup di zaman kiwari bisa juga mengasah kemampuan menulis dan menjadikan tulisan sebagai ‘senjata’ lewat media yang berkembang sekarang ini. Ya, akun facebookmu bisa menjadi salah satu media yang potensial. Berawal dari nulis status-status pendek, perlahan kamu bisa terlatih mengembangkannya. Yang mulanya satu kalimat, lama-lama satu paragraf. Asal kamu nulisnya tidak asal-asalan. Seorang penulis yang baik, dia akan memerhatikan aturan dalam penulisan-- meski itu sekadar tulisan pendek di akun facebook. EYD--tata bahasa dan isi pesan, akan melalui proses editing sebelum diposting. Kamulah yang menjadi editornya. 

    Mulailah mengurangi status-status alaymu—sesekali boleh sekadar hiburan—tapi tidak menjadi kebiasaan. Jadi, kelolalah sebaik mungkin media yang kamu punya, sehingga bisa menjadi media belajar untukmu dan mudah-mudahan bisa menginspirasi banyak orang. Mulailah berkirim pesan dengan memerhatikan aturan-aturan penulisan di atas, terutama pesan yang dikirim via email serta gunakan bahasa yang santun. Berkat tulisan-tulisan yang baik itu, kamu memiliki ‘senjata’ ampuh yang bisa kamu pakai untuk; bersilaturahim, bertukar pikiran, memberi motivasi, menyelesaikan perselisihan, menjauhkan permusuhan, mempublikasikan karya-karyamu dan banyak kegunaan lainnya. 

    Generasi dulu, punya senjata lewat bahasa surat manual. Nah, generasi kamu, punya senjata lewat bahasa surat elektronik. Sama-sama memiliki ‘senjata’ ampuh. So, kamu bisa! (Aliya Nurlela, Pegiat FAM Indonesia)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: ‘Senjata’ Ampuh Versi Bahasa Surat Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top