• Info Terkini

    Selasa, 29 September 2015

    Ulasan Cerpen "Alam Takambang Jadi Guru" Karya Indah Permata Sari (FAMili Padang)

    NET
    Cerpen ini menyoroti gagasan yang sudah lama ada namun seolah terabaikan. Perantau dari tahun ke tahun seakan tak jenuh mendatangi ibu kota. Pikiran bahwa kota besar menjamin kesuksesan, membuat orang desa nekat pindah ke kota, bahkan meski tanpa bekal skill maupun ilmu. Hasilnya? Pengangguran di mana-mana, kemiskinan merajalela, pemukiman-pemukiman kumuh makin padat, dan angka kriminalitas melonjak naik.

    Dalam cerpen ini kita belajar bahwa sejatinya kehidupan sukses bisa diraih di mana saja. Tidak harus selalu di kota besar, dalam hal ini kota Jakarta. Seakan-akan jatah sukses hanya Tuhan taburkan di satu tempat saja. Padahal, rezeki ada di mana-mana. Asal manusianya berusaha, pastilah dapat.

    Beberapa koreksi mengenai EYD ada pada kata-kata berikut: "mempesona", "di aspal", "di hadang", "di sebabkan", "di dapatkan", "di jamin", "disana", "karna", "nasehat", dan "ku ambil", yang mestinya ditulis: "memesona", "diaspal", "dihadang", "disebabkan", "didapatkan", "dijamin", "di sana", "karena", "nasihat", dan "kuambil".

    Untuk kata-kata tidak baku seperti "nggak", "aja", "gitu", disarankan untuk ditulis dengan huruf miring. Masukan dari Tim FAM ke depan agar penulis kembali mengoreksi tulisan-tulisannya sebelum dipublikasikan. Terdapat beberapa typo (salah ketik), kesalahan EYD, dan peletakan tanda baca yang kurang tepat. Secara isi cerpen ini sudah baik. Pesannya juga dapat. Terus berlatih dan gali ide-ide lain di sekitarmu. Tebarkan nilai positif lewat tulisan.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    ALAM TAKAMBANG JADI GURU
    Karya: Indah Permata Sari (IDFAM3457M)

    Sang surya masih bersinar cemerlang di sore hari yang tenang di kampungku. Aku dan Citra menghabiskan waktu di sore ini untuk berkeliling melihat pemandangan pedesaan yang mempesona dengan motor. Citra membawa motornya begitu pelan sehingga kami bisa leluasa untuk menikmati asrinya pemandangan ini. Jalan-jalan di perkampungan ini belum di aspal sehingga kendaraan yang berlalu lalang sering di hadang oleh bebatuan dan penuh dengan tikungan tajam. Untunglah Citra begitu ahli membawa motornya.

    Hmhmhm…Aku menghirup udara segar yang jauh dari polusi. Kemana pun mata memandang maka akan tampak hamparan sawah yang menguning, pepohonan yang menghijau, serta sungai dengan airnya yang jernih. Kampungku sering dijuluki paru-paru dunia karna hutannya yang belum terjamah manusia sehingga keanekaragaman hayati masih terjaga disana.

    Citra memboncengku pelan sekali. Ia sengaja agar kami bisa melihat kebesaran Sang Ilahi dan bisa mensyukuri semua nikmat yang besar ini. Kami bersyukur masih bisa menghirup udara segar. Sedangkan orang-orang yang berada di perkotaan begitu sulit untuk mendapatkan nikmat ini.  Dari pagi sampai malam, mereka tak pernah lepas dari polusi udara yang di sebabkan oleh  asap kendaraan, asap pabrik, dan limbah rumah tangga lainnya. Setelah puas memandangi sekitar, kami pun memutar arah kembali ke rumah.

    Azan magrib menyambut kepulangan kami. Citra pun segera pamitan menuju rumahnya yang tak jauh dari sini. Aku lalu memasukkan motor buntut itu ke dalam rumah. Setelah itu aku  segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk berwudhu. Sayangnya ada orang di dalam. Saat ia keluar, aku sangat terkejut. Keponakanku dari Jakarta, Dee sekarang ada di rumahku. Tak terkata betapa senangnya hatiku. Biasanya kami hanya berkirim surat menceritakan tentang pengalaman masing masing.

    Pikiranku menerawang ke saat aku masih SMP. Aku pernah liburan ke rumahnya namun aku tak betah berlama-lama di Jakarta karna udaranya panas dan penuh dengan polusi udara. Sebenarnya aku begitu berat untuk meninggalkan sepupuku karna darinya aku belajar banyak hal. Aku belajar tentang rasa peduli terhadap sesama karena belajar bisa berasal dari mana saja, tidak hanya dari bangku sekolah. Dengan mengamati setiap peristiwa yang terjadi ataupun pengalaman yang dialami bisa menjadi cara kita untuk belajar.  Bukankah adat Minang Kabau mengatakan “ Alam Takambang Jadi Guru”. 

    Nasehatnya itu selalu kuingat dan kuresapi maknanya. Aku pun tersadar kalau selama ini, anggapanku keliru. Bagiku ilmu hanya bisa di dapatkan di bangku sekolah. Dan aku pun tak ambil peduli dengan fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.  Terserahlah apa yang mereka perbuat dan pikirkan, bagiku semuanya aman. Anggapanku salah besar. Kita mesti peduli dengan lingkungan sekitar. Padahal darinyalah  kita belajar banyak hal dan menumbuhkan jiwa kemanusiaan. Ya, aku memang tinggal di kampung  namun selama ini sikapku seperti orang kota kebanyakan yang sibuk dengan urusannya sendiri dan cuek dengan sesama. Aku begitu menyesal dengan sikap egoisku. Aku pun berniat dalam hati untuk mengambil suatu peran yang berarti bagi kampungku ini. Sekarang, aku masih bingung peran apakah yang bisa ku ambil. Sewaktu aku merasa bosan pas liburan di Jakarta, Dee mengajakku jalan-jalan.

    “ Lis, kita jalan jalan yuk! Apa kamu nggak bosan di rumah aja seharian. Refreshing gitu. Refreshing” Dee terus mengajakku.

    “ Ahh, malas Dee. Jalan-jalan di siang bolong ini panasnya minta ampun. Aku nggak mau Dee. Kalau di kampungku, jam segini enakan main-main ke sungai dech atau berteduh di bawah pohon rindang” Aku berusaha menolak ajakan Dee.

    Di kampungku yang penuh dengan pohon yang rindang membuat suasana pukul satu siang ini tetap sejuk. Jika kami duduk-duduk di pelataran teras rumah, maka tak butuh waktu lama maka rasa kantuk akan menyerang karena anginnya yang bertiup sepoi- sepoi. Itu sangat berbeda dengan di Jakarta. Di dalam rumah pun terasa panas yang membuat tidur siang tidak menyenangkan. Apalagi rumah sepupuku hanyalah beratap seng tanpa dilapisi loteng.

    “ Ayolah Lis. Di jamin dech kamu tidak akan bakalan menyesal jalan-jalan keluar. Apakah kamu tidak percaya denganku? Ayolah Lis!” Akhirnya aku pun luluh dengan ajakan sepupuku.

    “ OK dech. Kali ini aku mau pergi keluar denganmu”

    “ Nah, gitu donk. Daripada mengunci diri terus di kamar. Sudah saatnya kamu tau dengan keadaan sekitar.”

    Akhirnya kami pun mengelilingi Jakarta dengan motor Dee. Ia belum mempunyai surat izin mengemudi jadi ia pun mencari jalan yang tidak ada polisi lalu lintasnya. Sedikit banyak ia tahu jalan di ibukota ini karna sejak lahir ia sudah berada disana.

    Motor melaju dengan pelan. Sekarang kami pun sudah berada di perumahan padat yang kumuh. Rumah yang satu berhimpit dengan yang lain, nyaris taka da pembatasnya. Rumah yang berukuran petak segi empat itu terbuat dari kayu-kayu yang mulai melapuk dan atapnya bolong-bolong. Toiletnya berada di luar rumah dengan pembatas dari seng seadanya. Tanahnya yang gersang dan becek saat hujan apalagi dengan selokannya yang tersumbat membuat bau yang sumpek.  Kebanyakan dari warga disana adalah para pendatang dari luar Jakarta yang tidak punya tempat tinggal yang layak. Dengan tempat tinggal seadanya dan tak ada izin kepemilikan tanah membuat rumah mereka seringkali digusur oleh pihak yang berkepentingan. Aku pun terus memperhatikan keadaan di daerah itu.

    Ya ampun, di kota besar tempat sebagian besar orang mengadu nasibnya ini sangat memprihatinkan. Mereka rela tinggal di daerah perkumuhan ini asalkan rezekinya membaik. Tapi kenyataannya sudah berpuluh-puluh tahun mereka disana dan sudah beranak pinak, nasibnya tak pernah berubah.

    “ Dee, kasihan mereka ya. Kenapa mereka mau tinggal di daerah ini. Bukankah lebih baik mereka pulang kembali ke kampung halamannya? Kan mereka bisa bekerja menjadi petani, buka usaha kecil-kecilan atau pekerjaan lainnya. Serta, mereka juga bisa menghirup udara segar setiap hari. Daripada tinggal disini, setiap saat terjadi pertengkaran, kebakaran dan polusi udara yang begitu  menggangu ketenangan mereka! ”

    “ Lis, itu juga bukan keinginan mereka. Mereka tentunya berharap dapat hidup layak dan tinggal di rumah yang bersih atau pun ada juga yang ingin kembali ke kampungnya. Tapi nasib berkata lain. Untuk ongkos pulang kampung pun mereka tak ada. Ditambah lagi dengan biaya hidup di Jakarta yang semakin hari semakin banyak. Untuk makan sehari-hari saja mereka sudah kesusahan sehingga tak ada waktu bagi mereka untuk memikirkan hal lainnya. Yang mereka pikirkan yaitu bagaimana cara agar tetap bisa bertahan di kota metropolitan ini.”

    “ Owh gitu ya, Dee. Kasihan sekali ya, Dee. Anak-anak pun tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak.”

    “Iya Lis. Karna itu kita patut bersyukur karna masih punya kesempatan untuk mengenyam bangku pendidikan dan terutama kamu Lis. Kamu tidak akan merasakan polusi udara seperti yang kami rasakan disini.”

    “Iya juga ya. “ Dalam hati kuucapkan  puji syukur atas semua nikmat ini. Selama ini, aku selalu mengeluh  kenapa aku harus di lahirkan di desa yang membuatku merasa  terbelakang baik dalam hal pendidikan, tren dan lain-lainnya padahal setiap saat mata dan pikiranku selalu fresh setelah melihat pemandangan hijau di desaku.

    “ Iya Dee. Aku sangat bersyukur tinggal di desa. Hanya saja aku tidak mau jadi anak kampung selamanya. Walau tinggal di kampung tapi pikiran jangan kampungan.”

    “Wah, aku setuju sekali denganmu Lis. Walaupun kita tinggal di perkampungan terpencil sekalipun, selagi semangat belajar dan rasa ingin tahunya begitu besar, maka kita akan bisa memiliki potensi seperti anak-anak diperkotaan yang mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap untuk belajar.”

    Di dalam hati aku berusaha mencerna kata-kata sepupuku itu. Semangatku semakin menggebu untuk belajar baik dari bangku sekolah ataupun di kehidupan nyata sehingga bisa mengatasi permasalahan yang ada di sekitarku. 

    Pikiranku kembali ke masa sekarang yaitu pada saat giliran sepupuku, Dee yang pergi liburan ke kampungku. Ia begitu menikmati udara sejuk pedesaan dan pemandangan hijau alami yang jarang ditemukannya di perkotaan. Selain itu kebutuhan akan sayuran segar juga mudah ia peroleh disana. Ia juga rajin mempelajari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di kampungku. Ia berniat untuk membawa beberapa bibit tumbuh-tumbuhan ke kota dengan tujuan untuk ditanam di pekarangan rumahnya. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com. 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Alam Takambang Jadi Guru" Karya Indah Permata Sari (FAMili Padang) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top