• Info Terkini

    Selasa, 01 September 2015

    Ulasan Puisi "Aku Malam Aku Siang" Karya Destriyadi (FAMili Natuna)

    NET
    Kehidupan jalanan tergambar lewat pilihan diksi sederhana, namun tajam dan lugas. Penulis dinilai cukup baik dalam mengolah setiap baris puisinya sehingga kedalaman makna tercipta tidak sekadar lewat diksi-diksi yang "wah", melainkan "tepat sasaran". Seakan-akan rutinitas metropolitan yang kejam bagi penghuni jalanan tersaji di depan pembaca. Seakan-akan hidup yang pahit merupa dalam susunan aksara di setiap baitnya.

    Pada bait pertama kita melihat seolah penjaja koran berjuang dalam persaingan sengit kota besar. Bait berikutnya memperkuat kesan derita yang dijalani dengan tabah. "Berat berpisah dengan lima ribuku", tetapi memang harus terjadi karena ia tidak boleh mati. Bait-bait berikutnya menggambarkan rutinitas pahit seorang jalanan. Sebuah rutinitas yang sulit, namun terus dijalani dengan tabah. Tak peduli meski baik atau buruk yang kelak dipetik.

    Puisi ini dari segi rasa, sangat kuat. Namun pesan yang tersirat seakan menunjukkan kepasrahan total, meski tiada henti berjuang. Apakah itu siratan pesimisme? Ataukah sekadar sindiran semata agar kita tetap tegak berdiri apa pun kondisinya? Sebab pada akhirnya Tuhanlah yang tentukan?

    Ada beberapa koreksi EYD. Kata "gohet" tidak ditemukan dalam KBBI. Begitupun "daari"—yang mungkin saja maksud penulis adalah "dari". Namun bagaimanapun, kekurangan bisa diminimalkan (atau dihilangkan) dengan mengoreksi tulisan-tulisan terbaru ke depan sebelum dipublikasikan. Saran untuk penulis, terus pertajam pena Anda. Kekhasan telah nampak. Tetap tebarkan nilai-nilai positif lewat pilihan diksi yang tajam.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    Aku malam aku siang
    Oleh Destriyadi (IDFAM3445M)

    Aduh, tatap dengan metropolitan
    Siangku koran pergi dengan sesama
    Gohet sepeda roda berliku
    Uuh, berlomba menjadi pemenang dengan keringat

    Lepas penat memakan nasi
    Berat berpisah dengan lima ribu-ku
    Jadilah, segitiga tempe kuah sayur keringat
    Sambil mentari mengejek muka

    Aaahh, tenang kian akhir lagi
    Cukup setengah malam berada
    Daari bantu mandikan piringnya
    Bersih, kotor, bersih, dan lagi

    Hai malam, hai siang, kau sahabatku kan ?
    Selalu akrab mengintip aku
    Air mata, keringat senyum, ada di bisumu
    Kau saksi, aku dakwa, salam mimpi

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Aku Malam Aku Siang" Karya Destriyadi (FAMili Natuna) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top